My Heart Brother

My Heart Brother
39. tak di anggap


__ADS_3

sembari tadi ucapan syukur tak henti-hentinya terucap di bibir mereka , di saat Xean memutuskan untuk pergi ke kantor. Gea berteriak memanggil Xean memberitahu bahwa dirinya merasakan tangan Seren bergerak di genggaman nya.


mendapat kabar bahagia itu Xean langsung menuju ke ruangan Seren tidak lupa ia memberitahu card dan Alison.


kini mereka semua telah berada di dalam Seren menanti mata itu terbuka,


ma, sadar lah, ayo bangun. setelah itu GE akan melakukan nya, tenang ma gea putri mama tidak akan ingkar janji.


(gumam Gea penuh harap menatap sang mama). Ada kesedihan yang tidak dapat Gea sampai kan hanya cukup ia rasakan sendiri.


Xean masih setia duduk di samping Seren Seraya mengenggam tangan nya.


"pa" panggil Xean merasakan gerakan di tangan Seren


"mama" ucap Xean lembut sembari mengecup tangan mama nya.


mata yang sudah 3 hari tertutup kini mulai terbuka perlahan-lahan, mengejab ngejab kan mata nya untuk menyesuaikan cahaya yang ada.


menatap seluruh insan disana, masih lengkap. Membuat nya tersenyum lega tapi tiba-tiba wajah nya berubah saat mata sayu itu menangkap salah satu orang yang ada di dalam ruangan nya.


"kenapa dia disini" ujar Seren pelan dengan wajah datar nya


"ma, dia kan anak mama adik Xean" ucap Xean penuh kelembutan seraya menatap Gea tertunduk di belakang kursi roda Alison.


"mama tidak ingin melihat nya, anak ku tidak seperti itu suruhh dia keluar" titah Seren


"Ren" panggil Al suami nya

__ADS_1


"sudah mas sudah cukup membela anak itu" tukas Seren sedikit menaikkan suara nya


akhhhh


ringis seren merasakan sakit di kepala nya


"sudah sudah kenapa ribut disini" sela card geram


Gea yang langsung paham maksud card langsung keluar.


"pa, Gea keluar dulu ya"


Xean hanya menatap punggung Gea berlalu.


.


.


.


"mama akan makan kalau mama sudah bisa jalan" teriak Seren menatap Xean.


yap, Seren wanita paruh baya itu mengalami patah tulang di bagian kaki nya membuat wanita itu tidak bisa jalan sampai kaki nya benar benar pulih. Seakan dunia begitu adil, setelah sang suami dan anak nya kini ia pun dapat merasakan duduk di kursi berjalan itu.


"gimana mau sembuh kalau mama tidak mau meminum obat"


"iya, okey mama akan minum obat tapi tidak makan itu" ujar Seren Seraya menunjuk semangkok bubur di tangan Xean

__ADS_1


"itu tandanya sama aja mama menyiksa diri, apa mama mau tiada sebelum melihat cucu mama?".


mendengar itu Seren hanya menatap sang putra dengan sorot mata kesal.


.


.


.


sudah seminggu Gadis cantik itu berada di rumah orang tua nya merawat sang mama yang selalu menolak tangan nya, seperti hari ini Xean sudah kembali ke kantor untuk bekerja tidak ada yang menemani nya atau membantu nya ini dan itu. tidak ada pilihan dengan terpaksa Seren menerima tanpa menolak bantuan Gea terhadap nya.


kalau bukan karena Xean melarang nya pergi mungkin Gea sudah meninggal negara ini karena janji nya di malam itu kepada Seren bahwasanya kalau Seren sudah sadar ia akan pergi dan tidak menampakkan dirinya nya lagi di depan mama nya, tapi siapa sangka ia mengingkari janji itu akibat ceramah Xean nan panjang lebar berhasil mengetuk hati nya kalau yang ia lakukan itu salah.


Axa, mungkin pria itu telah Gea lupa kan, bahkan kartu ponsel nya ia patah kan agar pria berstatus suami itu tidak dapat menghubungi nya lagi.


toh jadi janda kembang tak masalah kan ada mas Xean lagian Axa belum menyentuh nya, pikir Gea.


"ma, mama mau Gea buat sup. Coba deh pasti mama suka"


tawar Gea seraya melihat kan semangkuk sup yang menggiurkan


prankk


Seren menepis tangan Gea hendak menolak bukan maksud menjatuhkan sendok itu, melihat wajah Gea berubah sedih membuat Seren tak enak hati.


"aku bisa makan sendiri" ujar Seren, membuat Gea melengkung kan senyuman nya.

__ADS_1


__ADS_2