
kini Bara sudah di depan Vivi seperti yang di katakan nya ia akan memberi pelajaran kepada ponakan nya itu.
menatap tajam wajah bara yang penuh luka dan lebam dan seorang wanita di samping nya.
"kenapa kau membawa orang asing ke sini". ujar Vivi menekan kata asing saat melihat Dita di sana.
"dia bukan orang asing melainkan calon istri ku". jawab Bara mengenggam erat tangan Dita yang mulai berkeringat dingin.
Vivi hanya menanggapi perkataan bara dengan tersenyum sinis.
tak ingin berlama-lama di sana bara langsung menanyakan maksud Vivi memanggil nya kemari
"ada perlu apa Tante ingin bertemu dengan ku?" tanya Bara menatap wanita paruh baya itu
"cihh". Vivi berdecih
"udah belagu ya sekarang lupa kamu kalau—". sebelum Vivi melanjutkan kalimatnya Bara lebih dulu menyela untuk melanjutkan apa yang Vivi maksud
"kalau bukan karena Tante aku tidak bisa seperti sekarang, itu kan yang mau Tante katakan?". ucap Bara yang sudah mulai muak dengan kelakuan Vivi beberapa tahun ini semenjak adik dari mendiang papa nya meninggal dunia.
"nah sadar kan? yasudah GK usah belagu jadi anak". ujar Vivi meremehkan bara
"katakan apa yang ingin di katakan kalau ingin mengingatkan satu persatu kebaikan mu sungguh tidak akan cukup hari ini untuk mendengarkan nya". ucapan Bara berhasil memancing kemarahan Vivi yang terpendam.
kurang ajar
"kenapa kau tega membuat Axa terluka ha? lihat lah dia anak ku terbaring tak berdaya di dalam sana". Vivi menatap iba kepada putra nya yang belum sadar kan diri dari tadi.
"dialah yang memulainya Luan". sahut bara
"kau!" Vivi menunjuk bara dengan telunjuk nya
"Iyah dia lah yang memulai nya dia pula yang terbaring disana seharusnya anda dapat membedakan yang mana yang benar dan salah. dan seorang ibu seharusnya berlaku adil kepada kedua putra anda". tegas Bara begitu kecewa kepada sikap Vivi dalam hal ini
plakkk
__ADS_1
tamparan keras tepat mendarat di pipi yang lebam itu
"kau bukan putra ku, putra ku Axa hanyalah dia". ucap Vivi menggebu gebu
"ikatan darah tak bisa berbohong ma- ma, tapi tenang aku tidak akan meminta penjelasan tentang semua ini dan aku menganggap orang tua ku telah tiada saat kecelakaan waktu itu, dan aku pertegas mulai sekarang aku tidak memiliki ikatan apapun kepada kalian karena kau lah yang membuang ku Vivi Kusuma". ujar Bara, betapa perih hati nya saat mengungkapkan kata-kata yang tak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut nya
deg
deru nafas Vivi tak menentu detak jantung berdebar tak karuan saat mendengar ungkapan Bara.
...****************...
"mau makan apa tuan Bara? biar chef Dita yang seksi ini membuat kan pesanan anda". ujar Dita dengan langkah seperti model menghibur Bara yang terdiam dari pulang rumah sakit sampai saat ini tiba di apartemen milik Pria itu.
bara tersenyum seraya menopang dagunya menggunakan tangan layak nya memperhatikan model yang berlenggak lenggok di hadapan.
hahahaha
mereka tertawa bersama
"aaakk". Dita menyuapi pria di hadapannya layak nya seperti anak kecil
"ammmpp".
"bagaimana? enak gkk?". tanya Dita bersemangat
"hmm seperti biasa selalu enak tidak mengecewakan". sahut Bara seraya mengacungkan kedua jempol tangan nya ke arah Dita.
penuh canda tawa membuat Bara terharu sekaligus sedikit sedihh pasal nya ia tidak pernah merasakan sebahagia ini sejak hilang nya pelita kehidupan nya yaitu sang Daddy dan mommy nya.
"Hay jangan menangis". ujar Dita tersenyum seraya menyapu air mata Bara
"tunggu sebentar aku akan mengambil menu penutup Yang sangattttttt spesial". lanjut nya tersenyum seraya mengelus pipi lembut itu
"cepat kembali aku tidak bisa berlama-lama jauh dari mu". sahut bara melihat Dita yang beranjak dari duduk nya.
__ADS_1
hanya tersenyum mengejek
bummmm
Dita terjatuh tepat di atas tubuh Bara karena kaki nya tersandung oleh kaki pria itu.
"nah kan takdir saja tidak ingin kamu pergi dari sisi ku". kata Bara yang dapat di pastikan mulai sudah tidak aman sebab ia dapat merasakan dua benda kenyal itu menancap tepat di atas dada nya
oh ****
umpat bara dalam hati kala ia merasa denyutan di dd yang sudah terbangun.
"sayang tanggung jawab, lihat dia kata nya ingin mencelupkan ke gawang". ujar Bara memelas
membuat Dita menggemas
"bilang saja kamu yang mau malah menyalahkan dia". sahut Dita mencubit geram pipi Bara yang masih di bawah tindihan nya.
"ehhhh jangan di gerak - gerak kan". kesal Dita saat Bara mulai nakal menggerakkan dd di bawah sana membuat si cantik centil.
"bukan aku tapi dia yang memberontak sayang". kilah Bara berusaha memasang wajah se-iba mungkin agar Dita luluh.
bukan ucapan iya yang keluar dari mulut cantik itu melainkan perlakuan Dita yang tiba-tiba menyosor tepat ******* bibir Bara.
yess akhirnya hari ini kau tidak mendapatkan penolakan kekar ku.
tak menyia-nyiakan kesempatan Bara melanjutkan permainan nya dengan sebaik mungkin, perlahan tapi pasti ia merubah posisi menjadi di atas, seperti biasa Bara mendominasi permainan yang membuat Dita terbang hingga mencapai ke awan awan.
"akhh bar- raahh". leguhan Dita saat bara memainkan bukit keindahan dunia layak nya seperti bayi yang sedang menyusu.
kuat nya isapan Bara memiliki rasa yang tidak dapat di sampaikan dengan kata hanya desahann yang keluar dari mulut itu.
sudah puas menghisap madu yang tak akan mengeluarkan madu nya ia pun berubah haluan ke sungai jernih yang seperti nya sudah mulai terjun, (dah bayangin sendiri apa yang terjadi selanjutnya).
Happy reading reader,, terimakasih yang udah like dan sebagainya itu termasuk penyemangat agar author bisa terus semangat untuk up. jangan lupa jaga kesehatan yaa, muahh🥰
__ADS_1