
"aku selalu memperlakukan mu begitu baik, tapi apa balasan nya ha? mengapa kau tega memperlakukan ku layak nya seperti hewan Dita".
"hewan saja begitu menyayangi anak anak nya, bahkan kata hewan aja tidak cocok untuk seseorang yang tega membunuh anak nya sendiri".
"dia bukan anak kandung ku, hanya Xean, xean lah darah daging ku". teriak seren dengan deru nafas yang tak beraturan
plakkk
secara spontan tangan halus Dita menampar pipi wanita paruh baya itu.
semua orang di sana syok melihat wanita bar bar itu berani melakukan itu terlebih lagi Bara ia belum pernah melihat istri tercinta nya melakukan kekerasan seperti ini.
tak berbeda dengan si empu ia melihat tangan nya sendiri dan seren bergantian.
berbalik menatap bara yang bersikap tersenyum manis menatap Istrinya.
"a-apa aku melakukan kesalahan bar?". tanya nya lemah
pria itu Menarik tangan lembut itu lalu menarik nya kedalam pelukan hangat nya.
"bukan tirai itu". titah Bara dengan suara tegas begitu berbeda bukan intonasi nya kepada sang istri tercinta, sangat lembut.
terbuka lah tirai hitam yang menutupi kaca yang menutupi pandangan di lain arah tersebut.
degg
detak jantung seren tak karuan melihat seseorang terbaring lemah dan di kelilingi begitu banyak suster juga dokter.
"apa kau melihat nya nyonya?,,apa kau pernah membayangkan betapa sakit betapa hancur nya kami melihat nya selama 3 tahun ini hanya tertidur lemas tanpa mau membuka mata indah itu".
hening
"kau bisa menghirup udara segar seperti saat ini hanya karena dia,, aku tidak ingin karena kesahalan ku akan membuat adik ku menangis karena telah membunuh wanita yang ia panggil dengan sebutan mama. sungguh bodoh bukan,,
"di-dia ge-gea? bagaimana bisa-". tanya nya dengan suara lemah hampir hilang, air mata itu seketika terjun membasahi pipi nan mulai keriput itu.
__ADS_1
"kenapa? apa kau merasa gagal untuk membunuh nya seren? atau kau belum merasa puas ha? di mata hati nurani sebagai perempuan ha? sedangkan tuhan yang memiliki segalanya ia tak pernah sombong atas kekuasaan nya,,, apalagi manusia yang hanya bersifat sementara,, cih sungguh hina".
"diammm!!"" teriak seren sudah tak sanggup lagi untuk menutupi kenyataan yang selama ia simpan, ini bukan rencana nya ini bukan kemauan nya lalu mengapa semua menghakimi nya lantas dalang nya bisa hidup bebas di luar sana,, tidakk adilll berengsek
"bukan aku yang bersalah bukan aku tapi Axa, dia yang mengajak ku melakukan ini,,, Axa dia Axa pria berengsek itu yang melakukan iniii!". teriak nya histeris
bak di sambar petir di sore hari, seketika tangan yang memeluk Dita mengendur.
bara menggeram ia tak percaya mengapa dirinya bisa lupa kalau pria itu selalu membuat kehidupan adik nya seperti di neraka.
"BARAA". gumam nya penuh dendam,,
"dasar berengseekkkk".
"aaaaaakhhhh". Bara membanting gelas gelas yang ada di hadapan, ia menyalahkan diri nya sendiri ia telah melepaskan pelaku sesungguhnya. cukup ini sudah cukup tidak ada toleransi dia harus menerima balasan setimpal.
"sayang,, cukup.. tenang.. tenangin diri kamu jangan seperti ini". Dita langsung masuk kedalam pelukan suaminya untuk menenangkan pria itu.
keadaan sudah sedikit tenang tapi tidak dengan seren wanita itu menangis sejadi-jadinya menyesali perbuatannya yang sudah tidak dapat di ubah lagi.
"kali ini saja aku mohon,,aku hanya ingin meminta maaf setelah itu aku akan pergi sejauh-jauhnya,, atau kalian bisa membunuh ku,,, aku begitu ikhlas....
tapi berilah dalang itu balasan setimpal dia harus bertanggung jawab".
"bawa dia pergi dari sini,, aku tak ingin melihat wajah nya". titah Bara
"aku mohon sekali ini saja,, untuk terakhir kali nya,,, hanya ucapan minta maaf setelah itu aku pasrah,,,aku mohon,, Dita sekali sajaa". seren berlutut di hadapan suami istri itu dengan penuh harap penuh linangan air mata.
muak tak dapat mengabulkan permintaan seren, ia sudah muak melihat nya berharap saja sang istri sependapat dengan nya
"sayang,, boleh ya". ucap Dita pelan
bara menatap tak percaya kepada istrinya
"kamu tahu kan keajaiban itu ada benarnya,, mana tahu setelah dia minta maaf Gea tidak merajuk lagi dan mau bangun kan sayang".
__ADS_1
"tapi dit-".
"please ".
bara menghela nafas sungguh tak bisa menolak kemauan sang istri
.......
"Gea Gea,, ma-maaf". seren tak mampu mengucapkan sepatah kata pun hanya air mata yang terus menerus mengalir.
"bangun lah nak,, bangun sayang,, aku menyesal,, hukum aku hukum aku,,, jangan biar kan aku dan Axa hidup tenang GE".
"Gea,, apa kamu tidak mau melihat anak mu yang selama ini belum aku lihat juga,, dan ini Axa lah penyebab nya".
tiba tiba tubuh ger kejang kejang membuat seluruh orang di sana mati ketakutan.
"bangun Gea bunuh Axa, jangan jadi pengecut geaa,, dasar wanita lemah".
Bara begitu murka dengan paksa menarik seren lalu melemparnya ke luar di mana ada beberapa anak buah nya di sana, Dita menyesali perbuatannya ia menangis tersedu-sedu ia menyesal.
"kalau tahu begini aku tidak mau mendengar kan kata istri ku".
setelah mengatakan itu bara langsung menutup pintu nya.
dokter begitu sibuk melakukan cek mengecek keadaan Gea,
selang beberapa menit
"bagaimana dok?". tanya bara hampir putus asa, sebab baru pertama kali dalam 3 tahun ini ia melihat ges beraksi seperti ini.
"ini lah sebuah keajaiban kata kata api seorang ibu tuan Bara". ujar dokter tua itu
"apa maksud mu jangan berbicara berbelit-belit". bara sudah tak sabaran mendengar keadaan adik nya.
"Gea sudah dapat merespon ucapan nyonya tadi, sungguh ajaib,, biar kan wanita tadi disini untuk selalu menarik nya ke alam sadar agar pasien bisa cepat sadar". jelas dokter membuat sepasang suami-isteri itu saling menatap.
__ADS_1
tanpa sepatah katapun Bara keluar untuk membawa kembali nyonya pragupta itu.