
di ruangan super besar bernuansa cream nan begitu manis, jangan di ragukan lagi fasilitas lengkap yang ada di kamar itu termasuk peralatan medis serta beberapa dokter pun begitu lengkap untuk menangani wanita cantik yang belum jua terbangun dari tidur panjang nya.
melihat itu hati kecil Bara teriris di mana ia bisa melihat pembunuh itu masih bisa bernafas menikmati udara bebas dunia, tangan nya mengepal kuat tak sabar menanti seseorang yang akan bertanggung jawab untuk ini.
Dita menjadi takut melihat suaminya tapi ia tak berani membatah atas perlakuan Bara atas mantan nyonya besar tempat ia bekerja dulu.
sudah tiga tahun setengah ia terbaring tak berdaya menggunakan peralatan medis yang menempel di seluruh tubuh nya, tapi tenang saja walaupun begitu sang kakak tercinta membayar dua orang wanita untuk membersihkan tubuh dan memijat tubuhnya agar tak kaku.
**
3 tahun silam
mendengar kabar Gea yang telah tiada Bara tak dapat menyembunyikan kepedihan nya, setiap ucapan hati dan mulut nya hanya lah sebuah sumpah untuk balas dendam atas apa yang telah mereka lakukan kepada keluarganya.
sudah cukup kehilangan orang tua, dan kini bahkan saudari nya sendiri belum sempat mengetahui siapa orang tua kandung nya, siapa saudara yang tertinggal untuk nya saat ini.
Pria itu mengeluarkan ponsel nya lalu mengetik pesan untuk seseorang.
"mau kemana!". teriak Dita kala suaminya yang terduduk tadi kini sudah berlari menghampiri para suster yang hendak memandikan mayat nya.
"bara, jangan kesana! kamu mau apa?". dita menangis menatap wajah tampan yang kehilangan cahaya itu.
__ADS_1
"Dita,, diam dan ikut aku atau tidak sama sekali". ujar bara penuh penekanan.
"aku ikut". jawab nya tak ingin berjauhan dari sang suami saat suasana seperti ini.
di kejauhan terlihat beberapa anak buah nya dan dua orang dokter dari rumah sakit tersebut.
"cepatt!". titah nya langsung di susul mereka semua untuk masuk ke kamar jenazah itu.
"maaf tuan kami ingin memandikan jenazah". ujar salah satu dari beberapa suster tersebut.
"dia belum mati, kenapa kalian ingin memandikan layak nya jenazah ha?". ucap Bara menatap tajam penuh aura membunuh membuat mereka semua merinding.
"ta-tapi tuan ka.." belum sempat suster itu melanjutkan ucapannya dokter lebih dulu menyela
'walau sepenuhnya tidak yakin'. lanjut dokter tidak berani mengutarakan.
"kalian tukar ini dengan mayat yang tidak memiliki keluarga, dan ya satu lagi ini rahasia kita berani berbicara kalian akan menyesal, ini tidak gratis aku akan membayar mahal untuk ini". ucap Bara tanpa ekspresi walau terlihat sembab.
tak mengulur waktu semua berjalan sesuai rencana Bara,
...----------------...
__ADS_1
"mmm, mas". ucap Celsie seperti menahan sesuatu kala Axa memeluk nya dari belakang.
"ya sayang ku". gumam nya terlihat nyaman memeluk istri tercinta.
Celsi tersenyum kala tangan kekar itu mengelus lembut perut bawah nya berharap akan segera hadir baby junior.
semakin lama semakin tercium dan itu membuat Celsi Semakin pusing saat mencium aroma sabun mandi suami nya.
"kamu GK pakai sabun biasa ya?". tanya Celsie sedikit takut membuat mood suami nya rusak
"tidak kok, ini sabun biasa yang selalu aku pakai dan kamu selalu tergila gila dengan aroma ini kan?". jawab nya yang semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Celsi.
"kenapa sayang? apa kamu menginginkan aku malam ini ha?". lanjut Axa dengan menggoda istri nya
"tidak,tidak begitu". jawab nya sedikit deg deg
dengan lembut Axa membalikkan tubuhnya mungil isterinya untuk berhadapan dengan dirinya.
ia menyerngit kan dahi nya kala melihat wajah Celsi memerah bukan itu saja dahi nya susah di basahi peluh seperti menahan sesuatu.
"apa kamu benar-benar ingin sayang sehingga wajah mu seperti itu". ucap Axa menaik turun kan alis matanya menggoda nakal.
__ADS_1
"menjauh lah,, aku begitu pusing mencium aroma sabun itu mas, bau nya seperti sabun basi". ucap nya sedikit mendorong tubuh kekar itu sambil menahan tangisnya, dan itu berhasil membuat Axa terkejut.