My Heart Brother

My Heart Brother
97. Milik ku sungguh unik


__ADS_3

seren dapat merasakan mobil yang ia naiki kini sudah berhenti pertanda mereka telah sampai tujuan, terdengar suara tegas Jerry memerintahkan anak buah nya untuk membawa wanita tersebut segera ke dalam.


hanya bayangan tempat yang lebih buruk dari sebelumnya untuk dirinya, wanita tua itu seketika merinding membayangkan nya.


"jalan! kenapa berhenti". dua orang bertugas memegangi tangan sisi kanan dan kiri wanita itu ikut terhenti kala si nyonya besar pragupta berhenti.


ceklekk


"permisi tuan kami telah membawanya". ujar Jerry menunduk sopan kepada bos nya yaitu bara dan Dita bergantian.


Bara yang masih mengenggam tangan kurus Gea nan semakin putih beralih menatap kepercayaan nya.


"bawa dia masuk". titah Bara tersenyum tipis lalu beralih menatap sang istri yang ekspresi nya nan berbeda dari biasanya, ya tak ada lagi rasa cemas, takut dan memelas melain kan ekspresi datar tak peduli.


"mmmmm". seren mencoba berteriak 'di mana aku kalian mau apa'. ia menelan pertanyaan itu di dalam hati nya.


"diam, atau aku lempar ke kandang buaya". ujar salah satu anak buah mereka yang masih setia berdiri di luar pintu untuk menunggu perintah selanjutnya.


mendengar itu seren kesal lalu menginjak kaki pria tersebut


"ck itu pijakan kaki kucing yak? tak ada rasa sama sekali". ledek nya membuat seren tak henti nya melontarkan kalimat mutiara di dalam hati nya untuk mereka semua.


***


hening,, tak ada suara kala sudah memasuki ruangan yang seren sendiri tak tahu ini di mana, tangan yang di ikat di belakang kursi mulut dan mata masih tertutup rapat.


Bara melihat target sudah di hadapan nya ya walau mereka di antara mereka ada pembatas dinding kaca.


"buka mata nya". titah Bara yang kini hanya ada diri nya dan beberapa anak buah di dalam ruangan kaca di kamar rawat Gea. ya anggap saja Bara sudah merencanakan ruangan itu untuk Seren.

__ADS_1


detak jantung seren tak karuan kala mendengar suara dingin menusuk, begitu mata sayu itu terbuka ia terperanjat melihat wajah siapa di hadapan nya.


'di-dia? pria ini yang telah membuat ku semakin membenci Gea, ke-kenapa dia—apa ini ada hubungannya dengan?... akhh tidak tidak,, ini tidakk—'


"bagaimana keadaan nyonya Seren pragupta?". tanya bara dengan nada mengejek seraya memperhatikan baju wanita paruh baya itu nan kumuh.


"hmm,, seperti orang Rabun saja aku ini ya, sehingga seseorang di hadapan ku masih bisa bernafas lega seperti ini". lanjut nya menatap penuh amarah.


wanita itu meronta-ronta untuk melepaskan tangannya, ia sedikit takut dengan ruangan yang di sisi depan nya di tutupi oleh kain hitam, ada apa di balik dinding itu?.


"biar kan di bicara". mendengar titah bos nya Jerry memerintahkan anak buah nya untuk melepaskan kain penyumpal mulut nya.


seren dapat merasakan rahang nya keram sebab menganga sedari tadi.


"kenapa menatap ku seperti itu? sakit? ah itu tidak sekejam membunuh bukan?". ujar bara santai sembari duduk di atas meja di hadapan Seren.


"cihh,, Putri anda bilang? sejak kapan anda menyebut nya putri ha? apa karena anda telah berhasil membunuh nya baru mengatakan kata putri untuk nya?".


membunuh


membunuh


membunuh


kata itu terus menghantuinya sedari dulu, ia tak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang ia lakukan terhadap putri nya yang baik hati, tapi apa mau di kata nasi sudah menjadi bubur. semua telah terjadi kini hanya tinggal penyesalan.


"kenapa anda menangis? atau itu air mata bahagia karena telah membunuh nya ha?". begitu jelas raut wajah merah padam bara menahan emosi yang sudah mencapai ubun ubun.


"ti-tidak aku tidak membunuh,, aku tidak pembunuh tidakk aku tidak—". seren mengucapkan itu sambil berteriak histeris kala kejadian malam itu terbayang kembali di pikiran nya.

__ADS_1


"lalu apa kalia tidak pembunuh? pelenyap? cih anda sungguh manusia tak berhati nurani,, sungguh Malang nasib Xean memiliki ibu berhati iblis seperti mu...aku berharap tidak ada anak di dunia ini memiliki ibu seperti mu dan tidak akan merasakan di khianati seorang yang di anggap ibu". ucap Bara sambil meneguk kopi nya untuk menetralkan suasana hati nya yang mulai kacau.


hening


"a-ada hubungan apa kau dengan nya?". seren memberanikan diri untuk bertanya kepada pria tesebut.


"dia adik ku sial!!". umpat nya seraya melempar gelasnya sehingga menciptakan suasana menegang kan


brakkkk


rasanya jantung seren ingin copot kala mendengar ungkapan itu


"a-adik?". wanita itu tak bisa berkata apa-apa lidah nya kelu, diam membisu ia begitu syok bahwa anak tak pernah ia anggap itu memiliki keluarga Selain dirinya,


"ha-ha-ha tidak mungkin dia adik mu, mana ada seorang Kakak tega melecehkan adik nya". wanita itu menatap bara sinis Seraya tertawa sumbang


"hyy jaga mulut busuk mu itu". teriak geram Dita sembari tadi berdiri di belakang badan besar anak buah suaminya, awal masih bisa bertahan lama kelamaan ia engap mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut nya.


"di-dita? kenapa kau membela pria tak ada hati ini yang tega memperlakukan aku seperti ini, ingat lah aku nyonya besar di mana kamu bekerja dulu, aku memperlakukan kamu begitu baik kan". ujar Seren dengan nada khas nya.


"apa kau bilang nyonya pria tak ada hati ini? ini?,,, pertama dia ada suami terbaik ku sedunia lebih pintar dari putra mu xean yang begitu bodoh menyayangi ibu berhati iblis seperti mu". teriak Dita blak blak an, melihat itu bara tak menghalangi sang istri tercinta nya untuk melakukan itu ia mempersilahkan dengan segenap hati untuk Dita bebas melakukan apapun.


"heyyy". teriak seren juga tersulut emosi kala sudah menyebut nama putra kesayangannya


"heyyyyy heyyy heyyyyy". teriak Dita tak kalah keras membuat semua telinga orang di sana jengah


Bara menggeleng geleng kan kepala nya kala melihat tingkah absurd sang istri


'milik ku sungguh unik'

__ADS_1


__ADS_2