
[ Yang, aku udah nungguin di depan tukang es kelapa bunda Ria, cepet ya! ] pesan SMS yang masuk ke ponsel jadulku. Nokiem express music type 5310 warna merah dengan sisian hitam. favorit banget pada zaman nya.
Segera aku membalas, [ Iya, aku mau turun. ]
Tepat saat aku membuka pintu kamarku, berpapasan dengan uni, bos cewek ku.
"Uni, Erna berangkat sekarang. Sore juga balik lagi ko, " ijinku, karena memang semalam aku juga sudah ijin mau libur sehari.
"Iya, jangan pulang malem Na. Nanti siapa yang mau bukan pintu, "
"Iya uni, " bergegas aku menuruni tangga, tak sabar ingin cepat bertemu dengan kekasihku, Dani. Sampai depan, tak lupa juga aku menyapa bang Zul yang tengah sibuk dengan komputer nya.
"Bay bang, aku jalan-jalan dulu, " ledekku dengan tersenyum jenaka.
"Iye jenong, " aku tertawa mendengar jawabannya. Dasar Zulkarnaen. Suee.
Saat aku ingin menyebrang, kulihat laki-laki pujaanku sudah menunggu rapih. Ku tengok kanan kiri, dengan sedikit berlari aku menyebrang mendekati nya.
"Lama ya A? "
"Nggak ko. Ayo naik. "
Dengan bantuannya membenarkan bustep motor, lantas aku menaiki motornya dan blassss... Kita langsung otw jalan-jalan, entah mua kemana aku pun ngikut saja lah.
Entah aku mau di bawa kemana sama pria yang sibuk menyetir ini. Sudah muter-muter hampir sejam, yang akhirnya kami berbelok ke daerah kawasan pabrik di purwakarta. KIC. Dimana tempat ini menjadi salah satu tujuan anak muda untuk sekedar nongkrong. Karena tempatnya yang asri dan pepohonan yang menjulang tinggi membuat semakin adem dan tentram.
Kami berhenti disalah satu warung, untuk membeli minuman dan makanan yang akan menemani aku dan dia ngobrol, yaa begitulah...
"Disini aja yang, lumayan adem dan sepi. kagak rame, " ujarnya dengan mengerem motor yang aku dan tumpangi.
"Terserah deh. " sautku. Lantas turun dan duduk di bawah pohon besar, disusul Dani yang juga ikut duduk di sebelah ku. Setelah beberapa jam berbincang-bincang dan mengobrol kesana kemari. Tiba-tiba...
"Yang," panggil Dani. Dengan menatapku manja.
"Iya?" Aku, membalas tatapan manja Dani.
"Apa kamu benar-benar mencintai aku?" tanyanya padaku. Dengan mengembangkan senyuman tipis yang dihiasi lesung lesung indah itu.
"Iya lah, apa kamu meragukan ketulusan aku?" aku balik bertanya. Lalu menggenggam erat tangannya.
"Nggak apa-apa ko, yang. Oya, apa aku boleh minta sesuatu? "
"Apa yang kau inginkan dariku A?" Aku tersenyum manja menanggapi pertanyaan kekasihku itu.
"Aku, ingin meminta hubungan ini lebih dari ini sayang!" pinta Dani sedikit gugup. Telapak tangannya juga mulai berkeringat.
"Maksudnya? bukan nya kita emang akan menikah?"
"Iya, aku tau. Tapi aku ingin sekarang!" pinta Dani lagi sedikit memaksaku. Genggaman itu juga semakin erat melekat.
"Ingin apa? Aku tidak mengerti maksud mu A?" Sebenarnya aku tau apa yang di inginkan Dani, hanya saja aku pura-pura tidak tau dan tidak mengerti.
kenapa dia harus membahas ini lagi sih!
__ADS_1
"Aku ingin berhubungan lebih dari sekedar peluk cium sayang!"
Damn!!
Benar saja kan dugaanku.
Dengan entengnya dia berkata terang-terangan. Karena hasrat nya yang sudah tidak bisa dibendung lagi, mungkin. Atau bahkan sudah tidak tahan jika dirinya sedang berdekatan denganku.
Yaa begitulah, sejak dia bekerja. Dia selalu meminta hubungan lebih padaku.
Aku terdiam, Aku bingung. Jujur aku akui bahwa Aku memang sangat mencintai nya. Tapi, jika Dani harus meminta lebih, itu sangat berat untukku. Aku tidak mungkin menyerahkannya begitu saja.
"Kenapa diam sayang?" Tanya Dani. Hingga membuyarkan keheningan tadi yang Aku buat. "Apa, kamu ragu dengan pengorbananku selama ini?" tanyanya lagi.
Lagi, Aku masih terdiam tak bergeming. Dan dia selalu membahas tentang pengorbanan.
'Ya tuhan, apa aku harus memberikan kesucian ku pada laki-laki ini?' batinku.
Aku menatap sendu Dani yang masih setia menatapku. Dengan tatapan penuh harap.
"Aku ... aku pikirkan dulu ya, aku masih belum siap!" Jawabku sedikit gugup dan gusar, bagaimana tidak. Tatapannya seakan terus memohon padaku, agar aku mau memberikan keperawananku untuknya.
"Sayang, jika kamu nantinya akan mengandung anakku. Aku berjanji akan bertanggung jawab, sayang!" dengan mudah dia berkata janji padaku.
"Iya, aku tau. Tapi tolong beri aku waktu A. Aku tidak ingin salah langkah!" Aku membantah dan menolaknya, seraya berdiri dari dudukku. "Aku ingin pulang, ini sudah sore. Besok aku harus kerja!" dengusku.
Seketika wajahnya berubah ditekuk dan masam, dia juga mendengus kesal. Lalu berdiri mensejajarkan aku yang berada di sisinya. "Baiklah! Kita pulang!"
Setelah itu, Dani mengantarku pulang. Bukan kerumahku, tepat nya ke tempat kerjaku. Karena saat itu aku bekerja di sebuah studio Foto dan percetakan FotoCopy.
Di atas motor, Dani hanya diam. Tak bicara apa-apa. Seakan-akan dia mengunci mulutnya untuk tidak bicara padaku. Bahkan pelukanku dia lepaskan.
"A Dani!" Panggilku.
"Jangan bicara di motor, Aa sibuk menyetir!" dengus nya. Dia sangat ketus menjawab panggilanku. Aku tau dia pasti kecewa, karena aku menolak nya. Biarlah, lambat laun juga pasti dia akan membaik padaku.
Setelah beberapa saat, aku tiba di tempat kerja. Belum sempat aku bicara, dia sudah mengegas motor nya. Pria yang sangat aku cintai kini mengacuhkan ku. Hingga begitu cepat hilang dari pandangan ku.
'Semarah itukah kamu a?' lirihku.
Aku berjalan masuk, rasanya sangat malas untuk kembali bekerja.
"Woii, nape nong? Abis liburan cemberut ae?" tanya bang Zul.
"Kagak ah bang, sotoy!" Aku benar-benar malas diganggu sama bang Zul ini.
Mendengar jawabanku yang ketus. Dia pun langsung mengacuhkan ku, karena mungkin pikirnya aku lagi galau saja.
Ditempat kerja ku ini kebanyakan cowok, semuanya cowok, hanya aku wanita sendirian. Uda dan Uni mempunyai cabang di setiap desa dan kota. Dan mereka semuanya tinggal di ruko yang aku kerja saat ini. Ruko lantai 3. Jika sudah larut malam, ruko milik Uda ini pasti ramai. Sampek membuatku pusing. Semua karyawannya terus menggangguku dan menggodaku, karena memang hanya aku wanita sendiri yang berada di sini.
Aku masuk kamar, tanpa peduli dengan bang Zul. Menerawang jauh, memikirkan kekasihku yang mengacuhkanku, karena aku menolaknya. Aku tidak mau mengahcurkan ayah dan ibuku yang bekerja keras, susah payah merawat ku, dari dalam rahim, hingga sebesar ini.
Apa kata mereka jika aku sampai menyerahkan keperawanan ku untuk nya.
__ADS_1
Aku tidak ingin mengecewakan ayah dan ibu. Mereka lebih penting dari Dani. laki-laki yang baru aku kenal beberapa bulan ini.
Aku tengah berbaring di atas ranjang kamarku. Tiba-tiba suara pintu di ketuk dari luar.
TOK TOK TOK
"Na, kamu udah tidur ya?" teriak seseorang dari luar kamarku. Tak lain adalah bang Yoga, penghuni ruko yang lain. Orang nya Imut-imut gitu, mempunyai lesung pipi kanan kiri. Kalo senyum, manis banget ke gula cair. Cuman orang nya pendek, kurang tinggi.
'Kebiasaan deh, jam 12 malam bukannya tidur, malah asik menggangu orang istirahat.' Rutuku seraya beranjak bangun dan berjalan membuka pintu dengan malas.
"Apa?" tanyaku.
"Deuh, judes amat. Udah tidur ya?" jawabnya balik nanya.
"Baru aja merem, emang kenapa?"
"Abang minjem charger dong, punya abang ketinggalan di Studio Na," katanya dengan wajah memelas.
"Dipake bang, hp Erna juga lobet!"
malas sekali melihat wajah bang Yoga ini. aku juga tidak akan tertipu dengan wajah palsunya.
Uni yang mendengar perdebatan ku bersama bang Yoga, tiba-tiba menghampiri, sambil berkata, "Ga, kamu ini ganggu si Erna terus deh!"
"Oga mau pinjem charger doang ko, Ni. punya Oga ketinggalan, " katanya dengan nada manja-manja alay. Nggak banget.
"Oh, tuh ada punya gue, pake aja." timpal kak Eva tiba-tiba, dia adik nya Uni yang kuliah di Karawang juga. masih deket sini sih.
Kami bertiga menoleh ke arah suara kak Eva yang berasal dari meja makan. Terlihat dia juga asik duduk menikmati mie Rebus.
"Tuh! udah ya, Erna tutup!" langsung deh aku tutup pintunya.
Terdengar lagi dari luar, suara Uni dan bang Yoga yang membicarakan aku.
"Kenapa sama tuh anak? gak biasa nya kaya gitu?" itu yang kudengar dari Uni.
"Galau! dia lagi galau!" timpal bang Zul.
Setelah itu kembali hening. Aku tidak tau lagi apa yang mereka bicarakan tentangku.
biarlah, aku lelah.
Aku kembali merebahkan tubuhku, terus berusaha menelpon Dani. Sama sekali tidak di angkat, SMS juga gak di bales. Karena waktu itu belum ada Wa, hanya ada Facebook.
Aku tenggelam dalam lamunan hingga larut malam, waktu terus berselancar, hingga kulihat jam sudah menunjukan pukul 02:30, rasa kantukku mulai datang, aku menguap, tak terasa mataku langsung terpejam dan aku pun terlelap ke alam mimpi.
Terimakasih sudah bacaa 😊😊
Jangan lupa tinggalkan komen dan klik ❤️ agar tidak tertinggal episode selanjutnya
dan Like juga Vote nya
terimaksih 💋💋
__ADS_1