
Setelah kejadian di tepian jalan tadi dan kita pun sampai rumah, Bara memutuskan untuk menginap dirumahku. Dengan dalih ingin menjagaku, takut aku melakukan hal yang di luar dugaan karena dia tau dengan sifatku yang nekat.
Padahal aku pun tidak akan melakukan apapun yang diluar dugaan. Please aku juga masih mau hidup kali. Otakku tidak sedangkal itu. Beberapa jam berlalu, aku terjaga saat hari sudah gelap cukup lama aku tertidur, kulihat Bara juga tertidur pulas di sofa dengan TV yang masih menyala.
"Bangun woii!" teriakku dengan menggoyangkan bahunya.
"Hmmm." ia beringsut duduk mengumpulkan nyawanya, matanya masih terpejam. "Jam berapa sih? "
"Jam tengah sembilan malem.Buru mandi " titahku.
"Lu aja belum mandi."
"Lu dulu, baru gua." Tanpa menjawab lagi Bara pun masuk kamar mandi,sementara aku memasak mie instan di dapur. Selesai memasak segera ku hidangkan dua mangkok mie di meja.
Tanpa menunggu Bara yang lama di kamar mandi, aku melahap mie lebih dulu. Karena perutku yang sudah kruyukan minta jatah.
"Lu udah makan? " tanya Bara yang baru saja selesai mandi.
"Udah, lu makan aja gua mau mandi. "
"Hmm." aku beranjak mengambil handuk dan segera membersihkan badanku.
-----------
"Apa rencana lu Bar? " tanyaku. Berasa kaya penjahat yang ingin merampok rumah.
"Gua lagi mikir! " jawabnya singkat. Melihat gayanya seperti bos mafia sindikat saja.
Aku mendengus, sembari menjatuhkan pantatku di kursi dekat dengannya. Kukeringkan rambutku menggunakan handuk karena baru saja aku selesai mandi.
Banyak kejadian menyebalkan yang menimpa hidupku, apalagi kejadian tadi siang yang membuatku semakin kesal dan malas untuk hidup. Andaikan aku tak memiliki Senja, mungkin aku sudah membunuh dan mencabik diriku sendiri hingga aku lenyap dari dunia ini.
Ck!! Sialnya aku bukanlah psikopat.Mana ada nyali untuk melakukan itu semua, ketusuk jarum aja udah kremengan. Gimana mau bacok diri sendiri.
Aku sempat dan bahkan selalu menyalakan Tuhan atas semua yang terjadi dalam hidupku, tapi aku sadar, ini semua karena diriku sendiri. Karena ulahku sendiri.
Hening, Kulirik Bara yang bersandar pada kursi dengan mata terpejam dan tangan kiri memijat pelipis matanya. Dia nampak lelah. Sebagai sahabat yang baik, aku berinisiatif untuk membuatkan teh hangat untuknya.
"Mau kemana lu? Gua kagak mau teh, tapi kopi. " ucap Bara. Aku menoleh melihatnya yang masih diposisi tadi.
"Lu tau gue mau bikin teh anget buat lu? " tanyaku heran. "Sejak kapan lu jadi anak indian? "
__ADS_1
"Indihome abdul! " dengusnya, mendengar jawaban Bara aku tersenyum sinis, "Mangkanya gua bilang sebelum lu bikinin teh anget buat gua. " lanjutnya
"Kaya paranormal aja lu, denger aja derap langkah gua. " sanggahku berlalu.
Setelah selesai membuat kopi hitam ala kadarnya, aku kembali duduk ditempatku. Menaruh kopi dimeja.
"Kenapa lu nggak suruh Maya buat kesini aja, " ucap Bara memecah keheningan.
"Maya sibuk, susah buat nyuruh dia kesini. Gak segampang yang lu ucap. " kataku dengan menyisir rambut gimbalku.
"Masalah lu ini susah banget. Udah kaya nyari jarum dalam tumpukan beras. " sanggah Bara sembari merubah posisinya menjadi duduk dan menyeruput kopi yang sudah aku buatkan untuknya.
"Tau lah Bar, sampai detik ini gue masih berharap agar masalahku cepat selesai. Pengen rasanya gue tuh hidup tenang Bar, nggak kaya gini. Masalaaaaahhh terusssss." dengusku malas.
"Jalani apa yang sudah Tuhan gariskan buat lu. Gua yakin setelah ini lu akan bahagia bersama teman hidup lu. "
"Gue percaya sama berkah tuhan, Bar."
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu menggema membuat mataku dan mata Bara menoleh keasal suara itu. Kulirik jam yang menempel, pukul 21 : xx malam.
"Siapa? " tanyaku melihat Bara. Singkat, Bara mengangkat kedua bahunya. Dengan halis mengangkat keatas aku beranjak membuka pintu.
Aku menganga saat pintu terbuka dan melihat siapa yang berdiri tegak dihadapan ku. Sontak tanganku kembali menutup pintu namun dia tangkis dan menahannya.
"Please jangan dulu di tutup dan biarkan aku masuk. " pintanya memelas.
Apalah dayaku yang hanya tenaga wanita, derap langkah Bara terdengar oleh telingaku yang tajam. Seraya berkata, "Siapa Na? "
Aku diam tak menjawab, mataku tak beralih menatap seseorang itu.
"Please jangan tutup dulu," pintanya lagi.
"Oh, mau apa lagi lu? " Bara yang sudah mengetahui siapa pria yang berada dihadapanku.
"Biarkan dia masuk! " imbuhnya sembari melepaskan eratanku pada pintu yang nyaris mau aku tutup.
"Untuk apa Bar? "
"Aku ingin bicara serius dengannya. "
__ADS_1
"Thanks, gue yakin lu sahabat yang baik buat dia. " saut pria itu. Tampak santuy dia melangkah masuk melewati ku yang masih stay dengan mimik wajah tak percaya alias melongo.
"Duduk sayang, aku akan menjelaskan semuanya padamu. " ucapnya sembari menghempaskan tubuhnya duduk manis di sofa.
"Nggak tau malu! " saut Bara yang juga ikut duduk bersebelahan dengan nya.
Aku tak menyangka, selama beberapa bulan terakhir dia menghilang dari hidupku.Kini harus hadir kembali. Aku pikir kejadian itu membuat dia ilfil dan membenci ku tapi nyatanya dia masih ingat padaku dan bahkan dengan mudahnya memanggil sayang padaku.
"Aku tidak akan pernah bisa melupakan mu begitu saja. Mengingat perjuanganku padamu yang teramat sangat sulit, tidak mungkin dengan mudah aku melupakan semuanya, sayang. " ucapnya lagi sembari menatapku dan tersenyum manis padaku.
Kupalingkan wajahku kearah luar. "Apa yang mau lu bicarain sama dia, Bar?"
Hanya terdengar dengusan kasar Bara yang aku dengar. "Gua harap lu jangan membuang-buang waktu lu, buat dia, Bar. " imbuhku, karena tidak ada yang menyaut ucapanku.
"Santuy, lu bikinin aja minuman buat dia." aku memutar bolamataku malas. Berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman.
Jujur, antara senang bahagia dan kesal karena aku bisa bertemu lagi dengannya. Bisa melihat lagi senyuman jenakanya yang selama ini selalu memutari otak ku seperti kupu-kupu.
Karena aku tak bisa membohongi perasaan nyamanku terhadap nya. Nyaman saat aku berada dipelukannya, nyaman saat aku mendengarkan ocehan recehnya yang kadang tidak bermutu. Nyaman dalam hal apapun yang dia lakukan untukku.
Rasa sesal yang teramat dalam saat aku mengusirnya dulu, bahkan saat aku menyadari jika dia sama sekali tak memberi ku kabar. Okey, aku bahkan sempat, dan nyaris atau bisa juga disebut sudah negatif ting ting sama dia bahwa dia memang hanya sekedar singgah. Dan kemudian pergi.
Aku tau, memilikinya adalah hal terberat dalam hidupku dan yang bisa aku lakukan hanyalah pasrah, berdoa tiada henti agar bisa berjodoh dengannya.
Aku tersentak saat suara berat itu memanggil namaku. "Buruan, Na. Lama amat si lu. " Bara, dengan berteriak-teriak.
Dan parahnya, sedari tadi aku tak membuat minuman, aku malah melamun bersenandika yang tidak jelas. "I--Iya."
Sedari tadi gue ngapain aja? batinku saat aku melihat tak ada air minum yang harus aku hidangkan.
"Ya udahlah, air putih pun tak masalah, malah lebih sehat." gumam-gumamku sembari menaruh dua gelas diatas nampan dan di isi air putih anget setengah panas.
"Nih! " kutaruh dua gelas di atas meja, sontak membuat keduannya menatap kearahku. "Apa? " tanyaku
"Lu lama di dapur cuma bikin air putih doang? "
"Suka suka gue dong. Lagian stok jus kopi dan teh habisss. " setelah mengatakan itu aku berlalu masuk kamar, meskipun aku sangat kepo dan penasaran apa yang mau mereka bicarakan.
"Nanti aku sediain stok bahan makanan buat kamu, " timpal pria itu menatap kearahku. Aku diam tak menjawab, kututup pintu kamar, merebahkan diriku yang sudah sangat lelah sejak tadi.
Ku raih benda pipih yang teronggok di kasur, menekan nekan tombol dan entah apa yang aku cari. Tapi yang jelas telingaku Ini tak dapat mendengar obrolan mereka.
__ADS_1
Gengsi dong, kalo harus duluan ikut nimbrung. Daripada rasa kepoku membara tidak jelas, lebih baik aku tidur, lagipula hari sudah malam dan besok aku harus bersiap untuk kerja di cafe Faiz dan tidak boleh telat.
🥰🥰🥰🥰 happy Reading kaka jan lupa dukungannya terimakasih 🙏🙏🙏🙏