
Allahu Akbar Allahu Akbar
Suara adzan yang berkumandang merdu dari mushola depan membangunkan aku dari tidur panjangku.
Ahh... sudah seperti kebo saja aku ini. Perasaan semalam aku masih mencet-mencet HP kagak jelas. Tau tau udah subuh aja.
Seketika pikiranku teringat tentang semalam, aku beranjak hingga tergopoh-gopoh ingin melihat apa masih ada atau sudah pulang.
Ceklek
Pintu kubuka perlahan, setengah mengintip.
"Ternyata dia nginep to." Pikirku.
Kuraih handuk yang bergelayut di paku tembok kamarku, segera aku mandi dan menunaikan ibadah sholat subuh.
Mandi....
Pake Baju...
Wudhu...
Sholat...
Berdo'a dan...
"Bangun wooiii!!" Beginilah caraku membangunkan seseorang, siapa saja itu aku tidak peduli, kecuali ayah dan ibuku dan calon imamku.Sudah jelas aku harus menghormati nya dan membangunkan nya secara lembut.
Ah... Ckk sial! ngomong soal ibu aku jadi pingin pulang, pingin jiarah kemakam ayah, sudah lama sekali aku tidak mengunjungi mereka berdua.
Kutepis angan-angan ku. Karena aku tau ini belum saat nya aku bernostalgia bersama ayah dan ibu atau keluarga ku yang lain.Pasti ada saat nya.
"Woii bangun! Udah jam tengah enam. Sholat subuh udah mau lewat!" teriakku dengan menggoyangkan tubuh Bara, tak peduli aku dengan laki-laki disebelahnya yang meringkuk dibalik sarung kotak-kotak miliknya yang masih aku simpan di kamar bekas Maya dulu.
"Bangunin orang yang bener dong, Ay." ujarnya yang masih bersembunyi dibalik sarung itu, sementara manusia yang aku bangunkan sama sekali tak bergerak bagaikan mayat yang masih bernafas. Dengkuran nya malah semakin keras.
Huufftt. Menyebalkan.
Kulihat dia bangun duduk dan memperlihatkan wajahnya yang kusut. Mengucek matanya dan mengelap bibirnya lanjut mengusap seluruh wajahnya next membenarkan rambutnya yang acak-acakan.
"Cepat mandi dan segeralah pulang! " cetusku berlalu masuk kamar.
BRUGH
Secepatnya kupakai pakaian yang cocok buat manggung, biar agak kerenan dikit. Yaaa meskipun cuma penyanyi cafe. Semaksimal mungkin aku mengadu padankan penampilanku, berlenggak lenggok didepan kaca memantaskan diri.
Memoles sedikit bedak dan liptint, menyisir rambut gimbalku biar sedikit rapih. Sengaja aku gerai, biar lebih feminim dikit.
"Oke baik, cukup hari ini penampilan ku!" gumamku. Kupiringkan topiku dengan menaik turunkan halisku, tersenyum menyaingi wajahku dicermin. "Motherfucker. Hahaha. " gumamku dengan kelakar seoarang mafia.
"Astaga naga! Bar! Oii bangun!" makiku saat aku sudah berada di ruang tengah dan siap untuk berangkat. Ku tepak-repak pantat nya menggunakan bantal guling.
"Iya.Gue udah bangun ko, gue cuma mau ngumpulin nyawa gue doang." sautnya dengan suara berat dan posisi tubuh tengkurep. Dengan kepala tertutup bantal.
"Bar, bangun! Gue harus berangkat kerja sekarang." Aku terus membangunkannya.
__ADS_1
"Hah? Masih pagi kali! " pekiknya sembari melihatku yang berdiri di depannya. Tatapannya seketika lekat padaku yang asik berkacak pinggang seperti nyonya besar.
"Apa liat-liat? "
"Cantik. Sangat sempurna." sela pria yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aku menoleh, ahh rambutnya basah lagi. Wajahnya bersinar, ngapain aja dia selama hilang dari hidupku?Apa dia sebahagia itu saat jauh dari aku?
"Lu rapih bener?" kata Bara menatap tanpa berkedip.
Tuh kan, salting deh aku. Bara sih bodo amat. Ini noh yang rambutnya basah sama lagi pegang handuk. Uhhh...
"G-gue minjem motor lu! " Seketika mata Bara melirik Wahyu. Mereka tersenyum.
"Aku yang antar kamu ke tempat kerja, sekalian mau silaturahmi sama temen-temen kamu, Ay. " ujarnya mendekat.
Oh my God. Jangan mendekat pleaseee... aku bisa jantungan ini. Lagian napa sih aku jadi nervous begini, kaku dan salting begini. Perasaan dulu biasa aja deh.
"Lu napa gemetar gitu? " tanya Bara seraya berdiri membereskan bantal dan kasur lantai bekas dia tidur semalam.
"Siapa? Gemetar gimana? " sangkalku. Sial si. Bara, tau aja kalo aku lagi deg degan gini. Lu pikir nyaman apa di tatap nakal sama cowok yang goodlooking.
"Bar. Mana kunci motor lu? Gue pinjem." ujarku mengulang.
"Nggak perlu, Ay. Aku yang antar kamu sampai cafe. Kata Bara kamu kemarin di jailin orang? " Mendengar penuturan Wahyu membuat mataku melotot ke arah Bara dengan bibir menyungging sinis....... m. m...,............. m..,.
Dasar ember bocor! Gerutuku dalam hati.
"Jangan so tau! " cetusku. Dengan langkah seribu aku berjalan keluar dan duduk di kursi depan. "BURU, KALO MAU ANTER! " teriakku dari luar.
"Iya." sautnya.
Di dalam mobil, dia terus mengoceh bercerita yang tidak jelas bahkan tidak bermutu.Ngalor ngidul kaya kaleng rombeng. Tapi telingaku tetap mendengarkan nya. Meskipun jawabanku cuma "Oh Oh" saja.
Bukan nya menjelaskan semuanya padaku, dia malah asik menggodaku dengan rayuan rayuan bulsyit nya. Kan aku jadi keG'Ran. Ckk!
"Kamu tau, Ay. Aku sangat merindukanmu. Aku saaaangat merindukanmu. " ujarnya saat di mobil tadi sambil tersenyum manis padaku. Membuat aku semakin salah tingkah. Tapi aku terus berusaha aaupaya tetap cool di hadapan nya.
"Selama ini aku bekerja keras agar bisa memberikan yang terbaik untuk kamu dan Senja." ujarnya lagi. Membuat aku harus berfikir keras. Kerja keras apa yang dia maksud?
Kalimat terakhir yang dia ucapkan padaku saat dia mengantarku sampai depan cafe adalah, "Aku akan menikahimu,Ay. Aku janji. " tuturnya. Membuat kata-kata itu terus berputar di dalam otak dan pikiranku. Bergelirya mengelilingi hati dan jiwaku. Ucapan yang selalu dia lontarkan padaku sejak dulu.
Ya... Aku tau, meskipun sebelumnya ada yang menelpon ku bahwa dia akan menikah dengan Ratna. Tapi aku tidak akan percaya begitu saja. Karena aku tau, wanita iblis itu akan terus mengusik hidupku. Mengganggu ketenangan ku.
Entah apa yang ada dalam pikiran nya, sehingga dia terus menggangguku. Padahal dia sudah mendapatkan laki-laki yang dulu sangat aku cintai, bahkan aku idamkan menjadi suamiku, laki-laki yang selalu ada untukku, laki-laki yang merenggut masa depanku, laki-laki brengsek yang sampai saat ini masih ada dalam pikiranku. Meskipun pada akhirnya dia menjadi milik orang lain.
Belum sempat sarapan karena aku terlalu pagi untuk datang ke cafe. Padahal aku tau, jam kerjaku itu jam empat sore hingga jam sepuluh malam. Tapi karena Faiz menelponku dan menyuruhku untuk datang pagi, jadi aku harus berangkat meskipun kepagian.
Aku tersentak saat seseorang memanggilku dari jauh. Aku menoleh melihat siapa yang memanggilku.
wanita nomer limabelas. Aku tersenyum kecut menatap nya.
BRAKK
"Gara-gara kamu aku di maki a Faiz kemarin! " Kesalnya dengan menendang kursi bakso yang asik nongki di depan ku dan menuding wajahku. Jarinya yang berkuku runcing nyaris menusuk mataku.
Aksi tuding menuding pun seperti nya akan di mulai. Aku tersenyum tidak perduli. Acuh, dan bahkan tidak melihatnya.
__ADS_1
Aku sengaja duduk di halaman belakang setelah sampai tadi pagi, dan menyuruh Wahyu untuk cepat pulang. Niatnya sengaja agar aku terhindar dari orang-orang dan Faiz.
"Karena kamu juga, lamaran aku di tolak untuk bekerja disini sebagai vokalis wanita! " pungkasnya menatap tajam padaku. Aku beranjak berdiri menghadap nya.Berhubung masih pagi aku tidak melawan dan meninggalkannya di halaman belakang.
"Mau kemana lu?" cegahnya dengan memegangi pundakku kasar.
"Ke depan!"
"Urusan kita belum selesai!"
"Urusan apa?"
"Jangan banyak bacot deh!"
PLAKK
Pada akhirnya tamparan keras mendarat di pipi mulus ku. Kuusap lembut pipi ku, menatap nya dan tersenyum kecut.
Dia memburu, wajahnya memerah, tangannya terkepal karena nafsu yang memuncak.
"Ckk! Wanita setan, " lirih ku berlalu meninggalkan nya yang masih ngos ngosan.
"Dasar wanita JABLA*!" Teriaknya.
Aku terus berjalan lurus ke depan, tanpa peduli dengan cacian dan makian nya. Salahku juga karena berangkat terlalu pagi. Sebenarnya ini tuh gara-gara aku salting sama pria yang mendadak datang itu.
Aku mendengus malas. Lantas kembali duduk di tempat kemarin saat aku datang ke cafe ini. Mengambil ponsel jadulku dan segera menelpon Faiz.
Tuuuuut tuuuuuut tuuuut
Panggilan tersambung, tidak terlalu lama Faiz mengangkat telponku.
"Halo, apa Na? " sapa Faiz setelah panggilan ku dia angkat.
"Lu belum bangun? " tanyaku.
"Udah, lu yang bangunin gue. "
"Gue udah di cafe. Masih sepi dan lu baru bangun. Sial lu! "umpatku kesal.
" Suruh siapa lu dateng sepagi ini bloon! "
"Wahyu dateng ke rumah gue kemarin, Iz. Dia nginep dan ngobrol semalaman sama Bara."
"Bagus dong. Ya udah gue mandi dulu. Lu telpon Dedi buat temenin lu di sana. Gue ada kuliah pagi. Thanks udah bangunin gue. Jadi kagak telat lagi."
"Ya udah. "
Ku matikan sambunganku bersama Faiz. Berganti menelpon Dedi untuk menemani aku yang kaya obat nyamuk di sini.
"De, cepet dateng ke cafe. Gue sendirian. "
"Gue udah otw."
Sambungan terputus.
__ADS_1
"Nasiiiiib nasib. Kek gini banget ya Allah. Pagi-pagi udah di kasih sarapan yang sangat mengenyangkan dan menyebalkan, menjengkelkan sekaligus menguras tenaga. Lagian tu cewek kaya hantu banget sih. Tau tau nongol aja. Dan sekarang ngilang. " dengusku beranjak ke dapur untuk membuat kopi hangat, biar lebih semangat dikit.