My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab30 Aku yang lemah


__ADS_3

Senja berganti gulita, bintang berkelap-kelip hiasi malam. Jalanan yang padat berisi kendaraan roda empat kini menjadi pemandanganku malam ini.


Didalam mobil. Aku terus menangis dengan menatap lurus, Maya dan Mely juga membiarkan aku menangis sesuka hatiku, mungkin tujuannya agar aku merasa sedikit lebih lega.


Kenapa aku ini sangat lemah, mana Erna yang tomboy pemberani dan suka maen bogem aja??


Lu sekarang cemen banget, digituin udah nggak bisa ngelawan lu!! Cengeng lu!


Kata hatiku terus menyalahkanku, memang, semenjak aku mengenal Dani, ketomboyan ku hilang, dan tidak pernah muncul lagi.


Hening...


"Aku mau minum, kita mampir dulu ya teh, ke rest area," pintaku masih sesegukan.


"Nggak, kita mampir dulu ketoko baju, biar kamu bisa ganti bajumu yang kotor itu!"


"Nggak perlu mbak, Mely udah bawa dasternya bebeb," timpal Mely sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Gila, sigap amat luh!"


"Ya harus lah mbak. lagipula entah kenapa aku berasa kaya pengen banget bawa baju salin buat bumil ini,"


"Yaa, oke kita mampir didepan, sekalian mandi di toilet umum ya,"


"Iya."


"Aku mah enggak ah."


"Serah lu."


Aku menghela nafas berat, seberat hidupku. Bahkan teramat berat aku terima keadaan ini.


"Teh... semua orang kenapa tega menghinaku, apa aku sehina ini dimata mereka? Keluarga teteh juga, kenapa bertolak belakang sama teteh yang berkepribadian baik dan sopan, menghargai satu sama lain... bahkan teteh juga menghidupiku, membiyayaiku," tuturku dengan kepala menyender kejendela mobil menatap kearah luar.


Andai waktu bisa kuputar kembali, mungkin aku lebih memilih untuk tidak mengenal laki-laki sepertimu, Dani.


Tapi... aku masih sangat mencintaimu, sangat sulit untuk melupakanmu.


Airmataku berderai lagi, segera aku menyekanya, agar Maya tak mengetahui.


"Sebenarnya mereka baik, Na. Hanya saja harta dan tahta sudah membuat mereka buta, teteh juga merasa harus bertanggung jawab padamu, karena kamu begini juga karena ulah Dani." jelas Maya, masih fokus memegang stir mobil.


"Hmmm...tapi, kenapa keluarga teteh bisa gitu??" tanyaku.


"Ya gitu lah, nggak perlu diceritain, nanti kamu juga tau sendiri." jawabnya.


"Beb, sebenarnya kamu suka nggak sih sama Wahyu?" sambar Mely, yang tadinya diam kini ikut bersuara.


"Entahlah, aku takut mengalami hal yang sama jika aku sampai menyukai pria itu."


"Erna, kamu jangan menyiksa dirimu jika memang menyukai Wahyu!" sela Maya.


"Iya, beb, mbak Maya benar!" timpal Mely, dengan bertopang kursiku dan Maya. Nyelap ditengah-tengah.


"Enggak! aku masih mencintai Dani, Dani Dani dan Dani !! Aku mau dia teh, enggak mau yang lain!! " Aku berdecak kesal.


"Egois...??"


"Siapa yang egois Mel, aku atau dia? Kalian nggak tau, rasanya saat aku melepaskan mahkotaku padanya, aku mau dia yang bertanggungjawab, bukan orang lain! Termasuk Wahyu!"


"Wahyu baik, lebih tampan dari Dani. Pekerjaan nya lebih mapan, apalagi?" cecar Mely.


"Kalo gitu, kamu saja yang nikah sama dia!"


"Ya aku sih mau aja, tapi dianya nggak mau, terus gimana?"


"Udah deh ah! Malah ribut!" Maya melerai perdebatanku dengan Mely. Jelas saja Mely mau, orang Wahyu ganteng pake banget, badannya sispek, cool, lensung pipi kiri kanan. Memiliki baby face, lucu dewasa. Kaya. Sangat Sempurna bukan.


"Nanti kita kedokter, kayanya kamu kena sindrom candu deh,"


"Apaan sih teh, enggak lah."


"Enggak gimana?? Otakmu itu harus dicuci, biar bersih dari nama DANI. Di ganti sama WAHYU!"


"Serah!!"


Maya dan Mely terkekeh-kekeh, mobil pun berbelok kearah rest area km.


Mely yang duduk dibelakang menyerahkan paper bag berisi pakaianku, aku keluar menuju toilet, sementara Maya dan Mely duduk santai di resto.


Didalam koridor toilet, aku seperti melihat pria yang aku kenal, tapi... entah siapa aku pun tak tau, rasanya seperti dejavu. Entahlah.

__ADS_1


Aku bergeming, menatap pintu toilet yang berada didepanku. Seorang wanita keluar berganti aku yang masuk, mengganti baju dan mencuci muka. Biar terlihat lebih fresh.


Aku langkahkan kakiku keluar toilet, namun derap langkah acap kali kudengar seperti mengekor di belakang.


Kuraih tengkuk leherku yang terasa berat, tak berani menoleh.


Serem juga nih, apa karena magrib juga ya, jadi hawanya gini.


Toilet ini juga terlihat sangat sepi, segera aku berlari terbirit-birit. Menyusul Maya dan Mely yang sedang asik mengobrol.


Brugg...


Kujatuhkan pantatku pada kursi kosong dekat Maya dan Mely. Sontak Maya dan Mely membulatkan matanya, dengan terlonjak kaget' mengusap dadanya.


"Kenapa beb? Ricuh amat!"


"Ada yang ngikutin gue!" Bicara dengan nafas masih berantakan. Mengusap dada berkali-kali.


"Kenapa sih?" tanya Maya makin penasaran. Dengan mata menyipit sebelah.


"Tadi, ada yang..."


Tiba-tiba ucapanku terpotong seseorang dengan membawa paper bag milikku yang berisi gaun tadi yang aku pakai.


Karena memang aku tidak sengaja menjatuhkanya pada saat lari tadi.


"Maaf mbak, paper bag nya jatuh," ucap seorang pria, dan ternyata dia...


"Digta!" Aku melongo.


Ya tuhan, pacarku sewaktu SMP, kami putus karena dia memilih tinggal di Bekasi. Masih cinta monyet gitu lah.


"Nana..."


What's?? Nana, dia masih inget panggilan sayangnya padaku?


Nana dan Tata.


Kulirik Mely dan Maya semakin terlihat bingung. Aku menaikan kedua alisku.


"Khem..." Digta berdeham, memecah keheningan.


"Ini milik kamu kan?" Digta menyodorkan paper bag itu padaku, kuraih paper bag yang disodorkan Digta.


"Kamu kenal?" tanya Maya dengan menyondongkan wajahnya padaku.


Aku mengangguk pelan.


"Ganteng banget," lirih Mely, menatap manja dengan bertumpu ke-dua tangannya.


Kutatap dia sejenak, kupalingkan lagi saat tau dia juga menatapku, dengan tersenyum tipis di bibirnya.


Hatiku bergejolak, ada rasa malu dan minder. Dia sekarang ganteng banget.


"Temenmu masih berondong? Kok pake baju SMA?" tanya Maya tanpa ragu.


"Maaf, saya pamit dulu, senang bertemu denganmu, Nana," selanya berpamitan. Lantas berlalu pergi dari hadapan kami semua.


Mely tak henti-hentinya menatap punggung Digta yang kekar untuk ukuran anak SMA sampai menghilang dan menaiki sebuah mobil berkelas seperti Fortuner. Ya emang Fortuner.


Maya kembali menyenggol siku'ku, lalu menodongkan wajahnya, "Dia temenmu? Masih berondong?"


"Apaan sih teh, aku juga masih berondong, baru 17 tahun aku, bentar lagi 18, tahun depan,"


"What?? Aku pikir kamu seumuran sama Dani, jadi kamu sama Dani beda 5tahun?"


"Iya teh, emang teteh baru tahu?"


"Iya lah. Eh... temenmu itu, jangan-jangan kesambet tuh anak!" ujar Maya karena melihat Mely masih pesam pesem.


Brakkk


"Astagfirullah... " Mely berdecak, karena aku mengagetkannya.


"Jangan ngelamun, ini udah malam. Nanti kesambet, baru nyaho lu!" tukasku.


"Ya nggak gitu juga kali, B aja napa!"


"Haha..."


Lantas kami bertiga melanjutkan makan malam di resto itu, setelah itu lanjut pulang ke Karawang lagi.

__ADS_1


____________


Waktu sudah menunjukan pukul 21:45


Sudah hampir larut. Mobil sudah terparkir, kita bertiga pun keluar mobil bebarengan.


Aku sangat lelah, Berjalan lemas sambil memegangi perutku yang terasa pegel.


Namun terlihat seorang pria sedang duduk di kursi depan rumah, kami bertiga hampir syok, dikira hantu, ternyata bukan.


Berjalan ragu, namun pria itu berdiri melempar senyuman, aku pun ikut tersenyum saat tau siapa yang menunggu.


"Siapa lagi tuh?" ujar Maya, berjalan mendahului kami.


Aku dan Mely mengekor di belakangnya.


"Rian!!" Mely berlari memeluk Rian. Aku hanya menggeleng kepala pelan.


"Woii, buset dah tuh anak. Pecicilan amat sih!" Gerutu Maya, berjalan masuk rumah. Tanpa peduli dengan tamu yang datang.


"Mely, kamu disini?"


"Iyaa,aku disini Ian, kamu ko ada disini? Mau ketemu aku ya?" tanyanya centil.


"Mmm... enggak sih, aku mau ketemu dia, aku kan nggak tau kamu disini!" jawab Rian, melepaskan pelukan Mely.


"Centil amat si lu Mel,"


"Ya nggak apa-apa, sama Rian ini kan!"


"Haha, iya nggak apa-apa sih, Duduk dulu lah, aku mau masuk dulu bentaran, "


Sementara aku masuk membiarkan Rian dan Mely duduk-duduk manja berduaan. Aku tau, Mely ini menyukai Rian, aku tidak mau mengganggu mereka, biarin mereka melepas rindu.


Tapi, belum lama suara motor Rian terdengar, apa dia sudah pulang? Kulihat dari balik jendela kamar, ternyata benar, dia sudah pulang.


Tapi tiba-tiba ponselku bergetar, pertanda pesan masuk. Kuambil ponsel yang teronggok di kasur. Kulihat sms masuk.


[ Aku pulang dulu ya bawel, ada Mely, lain kali aku main lagi. Kue dari ibu sudah aku titipkan pada Mely, khusus buat kamu. Bay... ] isi pesan dari Rian.


[ Terimakasih banyak ] balasku.


Brakkk...


Suara pada pintu kebanting.


Aku berjalan keluar kamar, menaruh ponselku di kasur. Terlihat Mely berjalan gontai, lemes ke belum makan sebulan menjatuhkan dirinya dikursi.


"Kenapa lu?"


Dia menyodorkan kresek berisi kue padaku, dengan wajah berpaling "Buat lu, dari Rian. Oya, besok gue harus pulang. Cuti gue udah habis. Gue mau balik kerja."


Setelah mengatakan itu, dia beranjak masuk kamarku, lalu rebahan dengan mata terpejam.


"Kenapa tu anak?? Nggak biasanya begitu? Aneh deh." Gumamku, melihat Mely dengan wajah ditekuk.


"Lu kenapa Mel? kesambet?"


"Diem lu ah! Gue mau tidur!"


"Kenapa sih?? Judes amat!"


Lantas aku menjatuhkan tubuhku dikursi sambil menikmati kue pemberian Rian. Ku tengok kamar Maya dia juga sudah rebahan dengan mata terpejam.


Mungkin mereka semua capek...


Akupun tertidur dikursi panjang, hingga tak terasa waktu sudah pagi. Kulihat Mely sudah nggak ada di kamar, aku kembali mencari Mely di dapur dan kamar mandi, nihil. Pintu depan juga sudah terbuka kuncinya, padahal semalam sudah aku kunci. Apa Mely sudah pergi..


Aku berjalan lagi ke kamar Maya, dia masih merem dengan berbalut selimut.


Rasanya pagi ini penuh keanehan pada Mely, dia bahkan pergi tanpa pamit padaku. Kenapa dia sebenarnya??


Tiba-tiba, terdengar suara pintu diketuk,


Aku berjalan membuka knop pintu dan saat pintu sudah terbuka tenyata ....


PLAKK..


Seseorang kembali menamparku...sial!


Kira-kira siapa ya ???

__ADS_1


😁😁😁


__ADS_2