
18+
Tanpa menjawab aku berjalan santai ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Na... buruan ntar keburu siang. Soalnya mau perjalanan jauh!" teriak Maya dari luar.
"Iya!!" balasku dengan teriakan lagi. Segera aku mengguyur badanku dengan air. Membersihkan diri karena dari kemaren kagak mandi, di toilet umum juga cuma cuci muka dan ganti baju.
Setelah selesai, aku masuk kamar untuk memakai baju yang sudah disiapkan Maya, terbujur lebar dikasurku. Namun aku melirik paper bag kemarin yang berisi pakaian gaunku yang tersiram kopi. Entah kenapa hatiku seakan tersentak ingin mengambil dan membukanya.
Saat aku membukanya, mengambil baju itu dan berniat untuk manaruh baju kedalam mesin cuci. Tiba-tiba secarik kertas melayang didepanku.
Lantas akupun mengambil dan melihat isi kertas itu, "Nomor hp?? Digta? Jadi dia sempat menaruh nomor di paper bag milikku?" Dengan rasa penasaran aku buka lipatan kertas itu, dan tertulis, "Kabari aku, itu nomor hpku. Please aku menunggumu," isi tulisannya.
Tanpa sadar bibirku tercetak senyuman kecil. Langsung aku catat nomor itu diponselku. Dan kembali memakai baju yang masih teronggok menjuntai kelantai.
"Baju apaan nih?? Panjang banget, kaya gamis, tapi lengannya pendek," Tanpa ragu lagi aku kenakan pakaian itu, lalu memoleskan bedak di wajahku dan lipstik di area bibirku. Mengaca diri, ternyata perutku sudah sangat besar...
Jadi kaya cover image obat cacing ya, kurus dengan perut besar. Sampek geli sendiri aku liatnya.
Aku menghela nafas berat, wajahku kembali ku tekuk. Mengingat diriku yang sangat rindu akan ibuku.
Dan, memang ternyata ikatan batin seorang anak dan ibu itu sungguh kuat. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara getar ponsel yang diiringi nada dering. "Ibu?"
Lantas aku langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo,bu?" sapaku dari sebrang telpon.
"Assalamualaikum, halo nak? Gimana kabarmu? Ibu sangat rindu, sudah 5 bulan lebih, kamu nggak pernah pulang, kamu baik-baik saja kan?"
Mendengar pertanyaan ibu yang memberondong, membuat aku menelan ludah berat. Harus jawab apa aku?
"Waalaikumsalam, baik bu. Aku juga sangat rindu ibu. Tapi pekerjaanku sangat banyak dan padat, jadi belum bisa pulang? Oh iya uang yang bulan kemarin sudah di ambil'kan bu?"
"Sudah nak, terimakasih banyak. Maaf ibu tidak langsung menelponmu, saat uang sudah ibu terima. Dian juga sangat senang dibelikan sepedah baru sama kamu,"
"Alhamdulillah. Bu udah dulu ya, aku lagi sibuk banget. Nanti aku telpon lagi ya, bu,"
"Iya nak, tapi ibu mau tanyakan dulu sama kamu, kalo boleh tau kamu kerja apa disana? Boleh minta alamatnya, katanya kakak mu mau kesana main ketempat kerjamu,"
Mataku melebar, kerongkongku seakan tersentak. Seperti ada yang mencekal. Bagaimana ini?? Mana mungkin kakaku kesini lalu melihat aku yang ...aahh sial!!
"Hmm... oke, nanti aku kirimin ya bu. Oh iya udah dulu ya bu, Assalamualaikum," dengan tergesa aku menyudahi obrolanku bersama ibu.
"Waalaikumsalam,"
Segera kututup panggilan teleponku bersama ibu. Aku menunduk menatap ponsel yang aku genggam erat, memikirkan bagaimana caraku mengelak.
Pikir... pikir... aku mondar mandir dengan jariku tunjuk-tunjuk dikepala ku. Pening rasanya! Sumpah aku nggak bisa mikir. Pasti ibu akan menelpon lagi kalo aku sampe tidak memberi alamatku dengan cepat.
"Woii... udah rapih belum?" tanya Maya dengan berdiri memeluk pintu.
Sontak aku menoleh kaget, "Teh Maya,"
"Siapa yang telpon?"
"Ibuku teh, dia minta alamat tempat kerjaku, gimana ini?" Aku panik, tubuhku sedikit gemetar. Berusaha tenang dan fokus.
Maya juga mandadak mikir, "Hmmm... nanti kita pikirin, lebih baik kita pergi sekarang, seseorang sudah menunggu, ayo cepet," Maya berlalu dari balik pintu. Segera kususul dia dengan larian kecil.
Tak lupa menyelendang tas kecil berisi make up dan ponsel tak lupa juga dompetku.
Kulihat Maya sudah masuk mobil, segera kututup pintu rumah tak lupa menguncinya. Dan menyusul Maya masuk mobil, tak lupa memasang belt agar aman dijalan.
"Kita mau kemana sih teh? Buru-buru banget!" kataku sedikit jutek.
"Pintu udah dikunci? Kita akan menginap disana?"
"Apa?? Jangan dulu dinyalain teh, aku mau ambil baju ganti," ujarku dengan membuka belt dan pintu mobil, namun Maya menghentikannya.
"Eh eh eh eh... kaya orang miskin aja. Banyak baju disana, nggak perlu bawa ganti!" sahutnya dengan nada sombong yang memperlihatkan senyuman angkuh diujung bibirnya.
Aku menatap heran dengan halis menyatu, sejak kapan dia berubah kaya si Dani?
"Pasang belt-Nya. Kita meluncur sekarang!" ujarnya lagi, menstater mobil, lalu menginjak gas dengan perlahan tapi pasti. Aku ya manut aja apa kata dia.
"Nanti, sesudah lahiran. Kamu belajar menyetir mobil ya. Biar bisa bawa mobil sendiri!"
Aku terkekeh-kekeh, "Haha.. buat apa teh, lagian aku nggak punya mobil!"
__ADS_1
"Yee... siapa tau nanti kamu jadi orang kaya,"
"Kaya apa?? Kaya kingkong?"
"Yaa biasa aja kali, ngomong kingkong nya jangan sambil liat aku,"
"Haha..." Hanya suara tawa yang terdengar didalam mobil. Setelah sampai jalan raya, Maya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat aku hampir jantungan.
Lagi, ponselku kembali berdering, kurogoh ponsel yang tersembunyi dibalik tasku. "Teh, ini A Wahyu telpon, gimana?? Angkat nggak?" tanyaku pada Maya.
"Angkat aja, bilang kalo hari ini kamu ada acara sama aku," Aku mengangguk.
"Halo, Na, kamu dimana? Kenapa rumah sepi ?" tanya Wahyu dari sebrang telpon
"Maaf A Wahyu, aku lagi ada acara sama teh Maya, aku juga nggak tau mau kemana," jawabku.
"Oh, okee. Kalo sudah pulang, kabari aku ya ..."
"Oke."
Kututup sambungan telpon, menaruhnya lagi didalam tasku. Kulirik Maya masih fokus menyetir.
Hening
Saatnya aku bersenandika... andaikan aku bisa menikah dengan Dani, pasti akan so sweet banget. Hidupku pasti akan bahagia, meskipun hidup pas-pasan tak apa, yang penting sama dia. Andaikan aku kaya, pasti aku sudah menjadi istri Dani.
Andaikan Dani miskin, pasti aku sudah menikah dengannya.
Andaikan kami berjodoh, pasti aku akan menjadi wanita terbahagia didunia ini.
Andaikan ... andaikan ... andaikan...
Sayang, semuanya hanyalah hayalan kosong belaka. Semunya hanyalah ANDAIKAN... fiuhh.
Kulirik jam kecil yang menggantung didepan mobil, sudah pukul 09 : 15 aku menguap karena kantuk menghampiriku, Maya juga tak banyak bicara kali ini. Aku jadi ngantuk dan tertidur pulas.
🥀🥀🥀🥀🥀
Mataku mengerjap, karena badan dan kakiku terasa berat, entah berapa lama aku tertidur, apa aku sekebo ini ya?
Kulirik sekitaran, kenapa ada langit-langit kamar? Dan aku juga mendengar dengkuran seseorang yang sedang tidur pulas, rasanya nyaman dan adem banget. Sampe aku keenakan, kulirik lagi, saat aku tau seseorang tengah memelukku, sontak aku menjerit kaget bukan main.
Pintu kamar juga tertutup, pria ini malah asik usik-usik santai. Dengan menimbulkan suara berat tertahan.
"Suara itu..."
"Kamu udah bangun yang?" tanyanya masih memeluk dengan wajah yang terbenam di leherku.
"Dani!! Lepasin pelukanmu! Aku engap banget sumpah!"
"Iya..." Perlahan dia melonggarkan pelukannya, aku pun bisa mengatur nafasku kembali.
Cup
"Selamat siang, sayang." ujarnya dengan mencium leherku.
"Apa-apaan sih!!" Aku beringsut, menyingkirkan tubuhnya, berusaha lari, sialnya pintu kamar malah terkunci. "Jangan-jangan Maya menjebakku!"
Nafasku memburu, melihat Dani yang masih tengkurep memeluk bantal.
"Sini yang, bobo lagi," Menepuk-nepuk kasur bekas aku tidur tadi.
"Aku tidak sudi!" Dengan tangan bersila dan wajah berpaling.
Bisa-bisanya dia melakukan hal kotor saat baru 3 hari pernikahan. Laki-laki macam apa dia! Seenak udelnya memeluk wanita lain yang bukan istrinya. Bisa-bisa aku kena Masalah lagi kalo kaya gini.
Aku menggedor-gedor pintu, tapi tak ada yang mendengar sama sekali, ku tempelkan telingaku dipintu, sepertinya sangat sepi rumah ini, tapi ini rumah siapa sih?
Iihhh, andaikan aku tidur nya nggak kaya kebo, pasti hal ini nggak akan terjadi, Maya juga! Kenapa tidak membangunkan aku!!
Aku terus berdecak kesal. Sial sekali hidup aku ini.
Aku terus berteriak meminta tolong agar pintu segera dibuka. Malah terdengar suara kelakar Dani yang aku dengar.
"Haha... yang sini deh, diluar nggak ada siapa-siapa, Teteh sama nenek lagi pergi dari tadi." Beringsut dan menyender pada tumpukan bantal.
Aku menoleh dangan mata membulat, nenek?? Maksudnya? Apa maksud ucapannya? Aku menyender dibalik pintu, dengan tangan dibelakang menahan pantatku.
"Aku tidak sudi!" ketusku.
__ADS_1
Dia malah beringsut lagi, berjalan pelan kearahku. Mendekat tepat didepanku. Jantungku dag dig dug mau loncat keluar. Berdebar-debar tak menentu.
Keningnya ia adukan dengan keningku. Nafasku beradu dengan nafasnya.
Lalu berbisik, "I Love U," membuat telingaku geli.
Aku berdecih, bulsyit!
Aku mendorong tubuhnya. Tapi sayang, tenaga laki-laki sangatlah kuat, apalagi aku sekarang membawa beban didalam perutku, membuat aku susah bergerak bebas.
"Jadi cewe nggak boleh kasar tau,"
"Serah, awasss, jangan deket-deket!"
"Sayang, aku mau cium kamu bolehkan?"
"Aku tidak sudi!!" Dengan masih mendorong tubuhnya.
Tapi emang dasar mesum. Dengan cara memaksa diapun mencium bibirku. Setelah beberapa menit, ia lepaskan.
Lantas berjongkok dihadapanku, mencium perutku, mengusap-usap lembut. Tak terasa genangan bening menumpuk dikelopak mataku, sudah siap untuk membanjiri pipiku, dan tumpahlah sudah genangan air bening itu.
"Kenapa kamu melakukan hal ini padaku A?" Kataku dengan terisak sendu.
"Maafkan aku sayang, maafkan papah ya nak, maafkan papahmu yang lemah ini, maafkan papahmu yang pengecut, pecundang tak berperasaan ini!" Kini suaranya terdengar berat, seakan menahan sesuatu.
Airmataku semakin deras. Dia kembali berdiri, menatapku tajam. Membelai rambutku, mencium keningku, direngkuhnya tubuhku. Aku tak mau melepaskan kesempatan ini, aku peluk dia erat, dengan hati berujar, "Maafkan aku Fitri, maafkan aku, aku hanya ingin melepas rinduku pada suamimu ini, kupinjam suamimu sebentar saja Fit," bisik hati kecilku.
"Jangan menangis lagi sayang," mengusap pundakku lembut, "Maafkan atas kelakuan istriku yang sudah menyirammu dengan kopi, tolong maafkan dia,"
"Aku sudah memaafkan nya,"
"Terimakasih, kamu adalah wanita terbaik yang aku kenal, dan aku juga akan memilikimu selamanya,"
Seketika aku mendorongnya, hingga ia melepaskan pelukannya, "Maksud kamu apa?"
"Aku akan manikah sirih denganmu secara diam-diam, yang!"
"Aku nggak mau! Aku nggak mau dicap sebagai wanita perusak rumah tangga orang! Lebih baik aku yang mengalah..."
Aku menyeka airmataku, kenapa hidupku bagaikan simalakama. "Kamu jangan pernah menghianati dia A, jadilah suami yang baik untuk istrimu!" Bentakku.
"Aku tidak akan mau menjadi istri kedua! Lebih tepatnya istri simpanan!"
Dia diam bergeming didepanku, tanpa menjawab semua cacianku."Kamu ini seharusnya honeymoon, jalan-jalan sama istrimu, bukannya diam disini bersama wanita lain, apalagi wanita itu adalah wanita ******! Murahan! Jab*** !" makiku.
"Cukup!! Kamu jangan menghina dirimu lagi!! Aku menyesal, sungguh sangat menyesal, bagaimana caranya agar penyesalanku berakhir yang,"
Dengan tubuh gemetar aku berucap, "Ceraikan dia dan nikahi aku secara sah, agama dan negara!"
Kulihat wajahnya sangat kusut, matanya sedikit hitam, selerti kurang tidur.
"Jawab!!"
"Aku tidak bisa, tolong mengerti posisiku yang, tolong. Aku kesini bertemu denganmu karena aku ingin melepas rindu, menenangkan hatiku, bahkan aku juga belum menyentuh Fitri. Bahkan sekarang dia aku tinggalkan karena aku ingin berlama-lama denganmu, ponselku juga sengaja aku matikan agar aku bisa puas bersamamu Erna!! Kamu memgerti kan!" Cerocosnya dengan nada tinggi.
"Sungguh bukan seperti ini yang aku mau! Yang aku mau hanyalah hidup bersamamu!! Hanya denganmu!" Terduduk lemah, dengan wajah menunduk, rambut yang berantakan, baju yang kusut, tubuhnya terlihat sedikit kurus, apa dia semenderita ini?
Entah kenapa kakiku tergerak, berjalan pelan kearahnya, kupeluk tubuhnya, agar dia sedikit tenang. "Buka pintunya dulu A, aku mau buat kopi untukmu, biar lebih sedikit tenang, aku juga lapar, belum makan sejak pagi," ujarku dengan mengusap pundaknya.
Dia mendongak tersenyum, ku belai pipinya lembut, kubalas senyumannya mungkin dia benar-benar terbebani.
Sungguh aku lemah jika melihatnya tersiksa.
🥀🥀🥀🥀🥀
"Ini kopinya," kuletakan kopi panas diatas meja, lantas duduk didekatnya. Menyandarkan kepalaku didadanya.
Rasanya nyaman sekali, pelukannya sangat hangat dan damai. Aku ingin seperti ini selamanya.
"Ini rumah siapa A?" tanyaku.
"Rumah nenek, kamu juga tau kok, nanti mereka pulang, jangan masak apa-apa, nenek sama teh Maya lagi keluar belanja." jawabnya panjang lebar.
Aku mengangguk, dan kamipun mengobrol lama, mengenang masa lalu saat masih bersamanya. Mengenang keromantisan saat diciater dulu. Saat jalan-jalan dan saat pertama kali bertemu. Sungguh sangat indah diiringi tawaan kecil.
Suara mobil pun terdengar dari luar, mungkin Maya sudah kembali...
Segini dulu yaa... 😁😁😁
__ADS_1