
"SUDAH SELESAI. LEBIH BAIK KAMU PULANG! " usirku sembari beranjak masuk dan menutup pintu lantas menguncinya. Membiarkan Wahyu sendiri.
"Tolong Na pleaseee... jangan seperti ini! " teriaknya memohon. "AKU AKAN TETAP DISINI SAMPAI KAMU MEMAAFKAN AKU!! " teriaknya, lantas menendang kursi baso hingga jatuh. Entah sejak kapan ada kursi baso nongkrong disitu. Haduuhh.. untung cuma kursi nya yang di tendang bukan tukang baso nya.
"Lu sebenernya maafin dia kagak sih? " tanya Bara mulai risih.
"Gue udah maafin dia! " jawabku ketus. "Lu masakin gue apa ke. gue mau makan! " titahku judes.
"Kampret lu! Emang gue babu apa! " tukasnya. Tapi tetep saja dia beranjak kedapur, entah membuat apa aku tidak tau. Terserah dia lah. meskipun nggak ada sayuran, setidaknya ada telur dan mie intan, ehh instan.
Bicara soal makan, Kira-kira Wahyu sudah makan apa belum ya? pikirku.
Aku beranjak mendekati Bara yang sedang memasak Mie. "Bener kan dugaan gue. Lu pasti masak mie!"
"Ya mau apalagi sengkeh!! Cuma ada ini! " tunjuk nya pada mie yang sedang asik dia aduk.
"Sini biar gue aja. Minggir lu! " dengan mendorong tubuhnya, Bara pun menggeser posisinya.
"Udah gue aja. Lu mending duduk kaya ratu lebah. Sonoh! " usirnya dengan memegangi pundakku dan memekasaku untuk duduk di kursi. "Diam disini ya ratu kalajengking. Makanan akan segera datang. " imbuhnya setelah aku duduk di kursi. Lantas kembali ke dapur.
"Tadi ratu lebah, sekarang kalajengking. Nanti apa lagi kacang rebus? " protes ku.
"Haha.hahaha.... " kelakarnya.
"Bukannya jawab malah ketawa. Heuuhhh dasar tutup limun! "
"Sial! bisa aja lu lap ingus! "
"Hahaha. parah lu! "
10 jam kemudian....
Ehh... 10 menit kemudian...
"Mie rebus spesial ala pangaren jadiiiii.....teruntuk ratu Kutu. Silahkan dinikmati, maaf tidak pakai coklat dan keju dikarenakan bahan habis! " ucapnya sembari meletakan mie rebus tanpa telor itu padaku.
"Lu kira martabak spesial! "
"Haha... Btw, cowok lu udah makan belum tuh?"
"Gue juga nggak tau. lu bikinin lah buat dia." titahku tanpa rasa malu.
"Enak aja! Emang gue cowok apakah! " tukasnya berlalu pergi.
"Ehh tukang parkir, gue suruh lu buat bikinin dia mie. Bukan suruh netein! "
"Iya ah. cerewet nenek sihir! "
Aku pun diam tak membalas, meskipun bibirku sangat gatal ingin membalas nya. Tapi ya sudahlah, nggak akan ada ujung nya kalo di balas terus.
( Kaya cinta aku sama dia, meskipun telah tiadaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ )
Beberapa menit kemudian, Bara berjalan ke depan sembari membawa satu mangkok mie,
"Nih, makan dulu! Kurang baik apa coba cewek lu! " ucap Bara sembari meletakan mie itu di meja, setelah itu ia kembali masuk.
__ADS_1
Kulihat dari balik jendela, dia tidak menoleh barang sedetikpun pada mie yang di buatkan oleh Bara. Ya Allah apa aku sekejam itu?
Hingga sore menjelang, Wahyu masih tetap duduk dikursi. Mie yang Bara buat pun sampai megar kaya sepuluh tahun direndem minyak tanah, Bayangin aja segede apa tuh mie. Bara yang mulai jengah melihatnya akhirnya dia keluar lagi menemui Wahyu. Sementara aku hanya melihat apa yang akan dia lakukan.
"Heii broo!! Pulang sana! " usir Bara dari balik pintu dengan bagun kiri ia senderkan, "Percuma lu disini, nyakitin diri sendiri! " imbuhnya dengan tersenyum kecut dan melipat kedua tangannya. Yaahh... begitulah si Bara so cool.
"Aku hanya ingin maaf darinya, " jawab Wahyu. Meskipun suara itu sangat teramat kecil, tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Percuma!! Mending lu balik. Nanti kalo lu mati, kita yang repot bego!! Balik sana! " usir Bara lagi ketus. Si Bara ini kalo ngomong emang kaya gitu, mulutnya kaya nggak makan bangku sekolah. Tapi biarpun begitu, dia selalu menghargai cewek, karena menurutnya, kalo dia nyakitin seorang wanita, sama saja dia menyakiti ibunya. Itu menurut dia.
"Lu napa sih! Bikin gue greget anj!! " maki Bara lagi. "Bacot dong lu!! Banci! " aku mendengus mendengar ucapan Bara terhadap Wahyu. Wahyu juga. Napa diem aja sih. Pulang ke, apa kek. kesel!!
"Wooiii... " teriak Bara lagi.
"Bar, Udahlah Barr, " lirihku beringsut mendekatinya.
"Kesel gua sama cowok letoy kaya dia! " Dengan membuang nafas kasar Bara berlalu dari hadapanku dan Wahyu.
"Udah mau maghrib, lu nggak balik? " tanyaku pada Bara.
"Gua balik, kalo tuh cowok juga balik! " jawab Bara dengan menunjuk Wahyu.
"Wahyu. Mending kamu pulang! "
"Aku hanya ingin maaf darimu. "
"Sudah aku maafkan! Ayo pulang! "
"Kamu belum ikhlas memaafkan aku, "
"Aku minta maaf! "
"Cepat pulang!!"
"Oke. Aku pulang! " ia beranjak pergi dari hadapanku, tanpa menoleh padaku, sedikit membanting pintu mobilnya tanpa menunggu waktu lama, ia pun berlalu begitu saja. Sakit memang rasanya, tapi apa mau dikata, aku melakukan ini demi kenyamanan hidupku...
"Gua balik ya. Klo ada apa-apa kabarin gue! " ucap Bara bersiap untuk pulang.
"Iya Bar. Thanks yaa... " Bara berlalu setelah beberapa menit Wahyu pergi. Ku kunci pintu gerbang, berganti pintu utama, setelah itu aku kembali rebahan di kamarku, sembari memainkan ponselku.
Hari demi hari terus kulewati, waktu berselancar dengan sangat cepat... Sejak kejadian itu, Wahyu tak pernah lagi datang menemuiku, Hanya Maya yang masih memberiku kabar, bahkan mengirimku uang, karena dia tau, aku masih belum bisa bekerja.
Dari menit ke menit
Dari jam ke jam
Dari hari ke hari
Dari minggu ke minggu
Dari bulan ke bulan
Tak sedetik pun aku melupakan anakku. Rasanya perih hati ini.
Senin ke selasa
__ADS_1
Selasa ke Rabu
Rabu ke Kamis
Kamis ke Jum'at
Jum'at ke Sabtu
Sabtu ke Minggu
Itulah nama-nama hari. Eaaakkk
Untuk saat ini hanya Bara yang menemaniku, terkadang Riyan juga datang kerumah hanya untuk sekedar menghiburku.
Semuanya seperti hilang di telan bumi. Tak ada kabar dari siapapun tentang anakku.
"Bar, udah empat puluh hari lebih, Aku belum ketemu anakku Bar. " lirih ku tertunduk lemas di sofa, "Aku sangat merindukannya... " isak tangis mengiringi batinku, kerinduan ku membuat aku terhanyut dalam kesedihan.
"Sabar. Lu kan udah 40 hari. Udah normal meskipun belum sepenuhnya. Nanti kita susul. Lu tau kan alamatnya? "sahut Bara.
"Justru itu Bar. Gue kagak tau. " desisku kesal.
"Yaa lu tanyain lah sama Maya. "
"Gue tuh sebenarnya kesel sama dia, kalo gue minta almat nenek di bandung, dia selalu ngeles. Ada aja alasannya. Sampek gue capek buat mengemis. " keluhku membuang nafas kasar.
Empat puluh hari telah aku lewati, tak pernah sedetik saja aku melupakan anakku. Pikiranku selalu tertuju pada gadis mungil itu. Belum sempat aku menatap wajahnya, Bahkan aku sampai lupa wajah lucunya seperti apa sekarang, dan siapa namanya...
Setelah dua bulan aku lewati tanpa bocah kecil yang aku lahirkan setengah mati, Hidupku seakan tak berdaya, Nasibku bagaikan karang di tengah laut. Kuat tapi tak bisa melakukan apapun.
"Bar, anterin gue buat ketemu Faiz. Gue mau ngelamar kerja sama dia. " Send. pesan terkirim.
"Ya udah lu tunggu, gue otw. " balasan dari Bara.
Setelah menunggu beberapa menit, orang yang aku tunggu sejak minggu lalu pun datang. Soalnya lama banget sih. Kaya nunggu arisan.
"Lama amat si lu! " protesku sembari mendekati nya.
"Sory, gue kan nyalon dulu! "
"Gaya lu. kaya horang kaya aja! "
"Gue kaya, kaya hati. "
"Iya ya, mending kaya hati daripada kaya harta, nanti kalo mau makan dan mau belanja kebutuhan, pake hati aja bayarnya. "
"Serah lu!! "
"Yuuk buruu! " titahku dengan menepuk pundaknya.
"Berangkaaaaatttt! "
Aku dan Bara pun secepat kilat menerobos jalanan yang padat dan ramai penduduk ini. Menerjang pahitnya kehidupan yang penuh dengan kemunafikan.
"Isi bensin dulu, gue lupa tadi. " ujar Bara sambill berbelok ke pom bensin tanpa menunggu jawaban dariku. Lantas aku pun turun, menunggu di ujung dekat taman yang ada di pom bensin itu. Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan untuk menemui Faiz. Semoga lancar dan tanpa hambatan. Aamiin.....
__ADS_1