My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab26 ku menangis


__ADS_3

Dengan menyeret kaki, aku berusaha kuat, tapi kepalaku pusing, hingga semua menjadi gelap, dunia ini seperti berputar. Dan lagi-lagi aku tidak tau setelah nya apa yang terjadi.


________


POV Maya


Saat aku berhenti disebuah warnas bernuansa Padang, aku bertemu dengan Fitri, dia sempat menyapa ku, bahkan bertanya padaku perihal Dani yang beberapa hari terakhir susah dihubungi. Katanya.


Aku menjawab seadanya, perlu diketuahi, kenapa aku sangat tidak suka dengan Fitri, alih-alih memaksa Dani untuk segera menikahi Erna.


Aku kesal, saat itu, Arman, tunanganku dirayu habis-habisan oleh si Fitri itu, padahal Fitri itu pacarnya Dani. Ponakanku sendiri.


Dia itu seperti wanita rendahan, srigala berbulu kerbau, padahal dirinya sangat kaya. Tapi kelakuannya nggak sepadan dengan statusnya. Juga perihal ayahnya yang memiliki usaha kelapa sawit di kalimantan. Sukses.


Fitri mampu menggaet laki-laki yang dia mau. Dengan memakai nama ayahnya, termasuk kembali bersama Dani.


Hingga saat itu Arman, berubah sikapnya padaku sampai-sampai membatalkan acara pernikahan kami hanya karena Fitri.


Kesal, benci,, dendam, itu yang aku rasakan saat acara resepsi seminggu lagi akan berlangsung. Arman memutuskan secara sepihak. Aku sangat kesal padanya.


Dani yang mengetahui hal itu dari ucapanku, awalnya tidak percaya, tapi lambat laun dia memergoki Fitri sedang berduaan dirumahnya bersama Arman tunanganku...


Semenjak itu, Dani sedikit setres, karena ulah Fitri dan Arman. Lebih suka menyendiri. Dan katanya, dia bertemu Erna di pasar saat mengantar kak Nesi berbelanja. Aku sendiri anak terakhir, atau bungsu. Ka Nesi itu kaka pertamaku. Ibunya Dani. Kami memang terlahir dari keluarga kaya, dengan sawah puluhan hektar dan memiliki pabrik roti dan beras.


Bukan bermaksud pamer, hanya menceritakan ya...


Jangan salah paham oke.


Sementara ayahnya Dani, bekerja di perusahan mobil. Entah sebagai apa aku nggak tau, mangkanya keluarga dia kaya, gampang soal uang, apalagi dengan warisan keluarga ayahnya Dani yang memiliki kebun teh di Bandung, karena kebetulan kami ini asli Bandung.


Nggak perlu diceritakan daerahnya ya,, cukup segini aja. Biar kalian yang baca tau 😊😊


Setelah berdebat lama dengan Fitri, langit mendadak mendung, hujan turun lebat banget, petir bersahutan. Angin berhembus kencang, membuat aku mengurung niatku untuk kembali ke rumah yang Erna tempati sekarang.


Sampek hujan bener-bener reda, aku baru kembali ke rumah, dan ternyata, aku melihat Erna tergeletak dilantai dengan mimis yang mengalir, bercak darah berserakan dimana-mana.


Aku sangat panik, wajahnya sangat pucat. Bingung mau ngapain, mencari-cari Dani ternyata nggak ada.


Brengsek tuh cowok. Awas aja kalo ketemu. Rutukku pada ponakan ku itu. Kesel banget soalnya.


Berkali-kali aku menelpon Dani, sama sekali tidak diangkat. Lama-lama malah nggak aktiv.


Bingung, panik, resah, gugup, semuanya bercampur. Namun aku tak kehilangan akal. Aku langsung menelpon Wahyu, yang kemarin ku suruh membuntuti Erna, sampe dia berniat bunuh diri.


Berkali-kali menelpon, sempet nggak di angkat juga. Tapi pas terakhir dia langsung angkat panggilan ku.


"Yu, tolong kerumah yang kemarin, Erna pingsan!"


"Baik teh, wahyu kesana sekarang!"


Ada perasaan lega, saat wahyu menerima telpon dariku. Setelah sambungan terputus aku langsung bersihkan darah mimis yang mengalir hampir menutupi mulut dan dagunya.


Wajahnya sangat pucat. Tubuhnya dingin kaya es.


Seperti mendapat angin segar, saat mendengar suara motor wahyu.


"Astagfirullah..."ucap Wahyu saat melihatku yang kesusahan mengangkat Erna.


Ia sedikit berlari-lari, terlihat sangat gusar dan cemas.


"Yu, tolongin. Si Dani borokokok malah nggak ada!" masih sempat aku memaki si Dani


"Kemana A Dani teh?" tanyanya, sambil berusaha membenarkan posisi Erna.


"Teuing atuh lah!! Lieur mikiran budak eta mh. Riweuh pisan!!"


"Udahlah teh, jangan marah-marah, biar wahyu aja yang ngangkat Erna ke kamar,"


Aku mengangguk mengiyakan, ku aping wahyu sampai kamar Erna. Segera aku menelpon dokter yang biasa bisa dipanggil.


"Kenapa nggak di bawa kerumah sakit aja teh?" tanya Wahyu, ponakanku juga. Usianya sama dengan Dani, hanya saja Wahyu ini anak dari kaka keduaku.


"Nggak perlu, teteh udah panggil mas Bayu."


"Ya udah."


"Yu, kamu tunggu disini, teteh mau kewarung dulu. Beli tisu, tolong kamu bersihkan darah nya." titahku.


"Baik teh."


Aku segera beranjak pergi, namun sebelum berangkat, aku kepo, jiwa penasaran ku terlonjak-lonjak mau keluar, akhirnya aku mengintip, kuperhatikan setiap sentuhan Wahyu, sepertinya dia menyukai wanita itu.


Aku tersenyum kecil, lalu kembali dengan aktivitasku membeli tisu ke warung.


Beberapa saat kemudian, aku segera kembali. Sempat ada adegan tanya jawab saat diwarung tadi, perihal tentang wanita yang ada dirumah ini.


Tapi aku menanggapinya dengan santai, biar nggak pada curiga, kasian Erna kalo harus terusir lagi.

__ADS_1


"Gimana Yu?" tanyaku pada Wahyu yang masih sibuk membersihkan darah mimis itu. Aku sendiri juga baru sampai.


"Gimana apanya teh?" jawabnya.


"Lho, udah bersih semua ya?" tanyaku lagi saat melihat Erna yang sudah bersih dari darah mimisnya.


"Teh, lebih baik gantiin dulu bajunya, Wahyu tunggu diluar," tuturnya, seraya keluar kamar dan menutup pintunya.


Andaikan si Dani cucunguk itu kaya Wahyu. Mungkin dia nggak akan menderita seperti ini.


_________


Aku tersadar dari pingsanku. Aku masih ingat kejadian tadi, remang-remang kulihat pria bertubuh tinggi dan agak sedikit gemuk, berjas putih. Menenteng tas hitam.


Wahyu yang menyadari aku sudah membuka mata, seraya tersenyum.


"Teh, Erna udah siuman!" kata Wahyu, memberitahu Maya, lantas berjalan mendekat padaku,


Maya dan Pria itu menoleh bebarengan, tersenyum padaku juga.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Wahyu padaku.


Aku hanya menggeleng pelan, sedikit memberinya senyum tipis dibibirku.


"Syukurlah..."


"Na, mana si borokokok asem teh? disuruh jagain kamu teh kalah pergi!" maki Maya, "Mas Bayu, hayu saya antar sampai depan" imbuh Maya.


Pria itu hanya mengangguk, tersenyum. Kemudian berlalu pergi. Siapa dia?? Dari model pakaiannya sih macam dokter, tapi...


Ahh sudahlah...


"Maaf, kamu siapa ya??" tanyaku penasaran dengan pria didepanku ini.


Karena emang belum sempat menanyakannya waktu itu.


"Saya ponakannya teh Maya, sepupuan sama A Dani," jawabnya.


"Oh..." Setelah tau siapa dia, aku lebih memilih diam. Memejamkan mata lagi, rasanya badanku dingin dan gemetar. Kepala juga pusing.


"Kamu dingin ya? Aku ambilkan selimut ya, biar anget." Aku hanya mengangguk, manut aja lah.


Dia beranjak membuka lemarai plastik yang sudah terpajang didalam kamar, mengobrak-abrik isi lemari mencari selimut tebal untukku. Malam ini terasa sangat dingin, karena barusaja hujan gede.


Wahyu menyelimutiku dengan selimut tebal itu, aku selalu memperhatikan dia, ternyata sangat baik dan lembut, tutur katanya juga sopan, andaikan pria yang saat ini sedang sibuk menyelimutiku adalah Dani. Pasti aku akan sangat bahagia. Tapi, mengingat kejadian tadi. Ternyata aku hanyalah barang bekasnya yang sudah tidak dia butuhkan lagi.


"Kamu kenapa nangis?? Ada yang sakit ya??" tanya Wahyu padaku.


"Tidak apa-apa."


"Yakin??"


"Iya yakin."


"Oke, kamu tidur ya, aku tunggu diluar, kalo butuh sesuatu, teriak aja, oke. Ini sudah malam."


"Terimakasih."


Dia beranjak mematikan lampu, keluar kamar tapi tidak menutup pintu, mungkin sengaja supaya aku mudah memanggilnya, kulihat dia sedang rebahan dikursi panjang, memainkan ponselnya sebentar, kemudian menaruhnya dibawah dan tertidur...


Sementara Maya nggak muncul-muncul, kemana sih dia ini. Gampang ngilang nya kaya hantu. Baru aku ingin memejamkan mata, suara rempong Maya sudah terdengar.


"Na, kamu udah tidur? Kamu kan belum makan!" katanya, sambil menenteng plastik, dan membukanya. Tak lupa menyalakan lampu kembali.


Aku yang tidur terlentang merubah posisi menyender, emang kebetulan aku juga sangat lapar.


"Makan dulu, baru tidur. Perutmu kosong seharian belum di isi." tuturnya.


"Teh, terimakasih banyak, sudah mau menampungku, merawatku seperti ini." ucapku dengan sedikit air mata berderai.


"Ini sudah tanggung jawabku Na, kamu adalah korban ponakan ku yang nakal itu, maafkan Dani ya,"


"Iya teh, aku sudah maafkan dia." Meskipun hati kecilku tidak, maksudnya belum memafkan.


"Sebenarnya kemana si Dani? Ko malah nggak ada, udah mh teteh bawa pisang banyak." Gerutunya.


"Nggak tau teh, tadi memang ada sedikit masalah sama dia hingga akhirnya dia pergi..."


"Kurang ajar emang, ya udah, kamu cepat makan, abissin biar kenyang. Teteh mau keluar dulu, kasian wahyu juga belum makan."


"Iya teh, terimakasih banyak."


"Sama-sama."


Maya sangat baik, terimakasih teh Maya, semoga tuhan segera memberimu jodoh yang terbaik.


_________

__ADS_1


Hari demi hari sudah aku lewati, lagi-lagi, Dani menghilang sejak pertengkaran waktu itu. Usia kandunganku sudah menginjak 5bulan. Sudah sangat terlihat besar. Maya juga membelikan aku berbagai macam baju daster.


Saat Maya ada tugas di Bandung, aku selalu ditemani Wahyu, dia pria yang baik, otaknya sama sekali tidak mesum, jauh dari kata mesum, prilakunya juga sopan. Tapi sayang, dia sudah punya pacar, bahkan pacarnya juga sering main dan bertemu denganku, pacarnya juga baik, aku tidak mau merusak hubungan mereka.


"A Wahyu. Erna mau keluar dulu. Kewarung bentar." ucapku saat Wahyu tengah sibuk dengan pekerjaan nya.


Maklum lah, dia seorang fotografer profesional.


"Mau apa?? Biar Aa aja yang belikan ya,"


"Nggak perlu A, ini privasi."


.padahal cuma emang mau beli terigu doang, ya niatnya sih biar bisa menghirup udara segar.


"Ohh, oke. Apa perlu Aa antar??"


"Nggak usah, terimakasih."


"Baiklah... hati-hati ya."


Aku mengangguk, lantas segera beranjak pergi, meninggalkan Wahyu yang sibuk dengan pekerjaannya.


Setiap perjalanan, semua orang yang melihatku menatap nanar padaku, tapi biarlah, aku nggak peduli.


"Permisi, bu mau beli terigu sama pisang, minyaknya sekilo..." ujarku saat sampai diwarung terdekat.


"Ehh, si neng. Neng ini adeknya bu Maya ya?" tanya si tukang warung ramah, tapi menyelidik.


"Iya, memangnya kenapa??"


"Tapi ko beda bgt ya, kalo bu Maya cantik, kalo ini manis," katanya dengan tersenyum ramah.


Bilang aja kalo aku ini jelek, gendut, buntek kaya bola bekel. Lagian jelas beda lah. _Pikirku.


Aku hanya tersenyum tipis menaggapi pertanyaan konyol si tukang warung ini. Setelah mendapatkan apa yang aku mau, aku segera pergi pulang, perasaanku mendadak tidak enak.


Saat dijalan, aku kembali dikejutkan dengan sebuah mobil yang hampir menyerempet ku, dan ternyata dia adalah Dani dan calon istrinya.


Sepertinya mereka sengaja melakukan itu.


"Lho, kamu?" kata Dani, membuka kaca mobil. Entah dia pura-pura **** atau emang so polos.


"Lah, ko perutnya udah gede aja sih?" timpal Fitri.


Aku diam, aku ingin tau apa yang akan mereka tumpahkan padaku, perkataan apa yang akan mereka keluarkan untukku.


"Kamu ngapain disini??" tanya Dani lagi.


Entah kenapa darahku memuncak, menaik tinggi, melihat mereka yang asik berduaan didalam mobil. Hanya membuka kaca mobilnya saja.


Daripada aku emosi dan cemburu, lebih baik aku pergi meninggalkan mereka. Mengambil langkah seribu adalah keputusan yang tepat.


Segera aku berjalan sedikit cepat menghindari mereka, nyatanya Fitri mengejarku dan mencekal tanganku, sehingga aku hampir tersungkur.


"Hey... kau mau kemana?? kenapa nggak ikut dengan kami naik mobil?"


Angkuh sekali wanita ini, mentang-mentang orang kaya, bebas ngelakuin apa aja.


"Ko diem?? Jawab dong? Apa jangan-jangan bisu ya??" katanya lagi. Membuat emosiku semakin naik.


"Oh ya, aku nggak yakin, kalo diperutmu itu adalah anaknya Dani, jangan-jangan kamu hanya menghayal ?? Berharap Dani menjadi bapak dari anak itu?? Iya kan?" cecarnya padaku.


Aku tetap diam.


"Yaa... wanita ****** seperti kamu ini memang pantas mendapatkan karma seperti ini! Bahkan aku juga yakin, nggak akan ada laki-laki yang mau sama kamu!" cecarnya lagi.


Aku hanya bisa menatapnya, ingin rasanya aku membunuh wanita so kaya ini. Tak apa lah masuk penjara, yang penting aku puas, sayangnya aku wanita tidak tegaan, sayangnya aku bukan psycopat, yang siap membunuh kapan saja. Luapan emosiku seakan tak tertahan.


"Oh ya, wanita ******, ini ada sesuatu untukmu..." ujarnya, merogoh sesuatu didalam tas nya. Kemudian memberikan selembar surat undangan pernikahan padaku.


"Terima ini, dateng ya." ucapnya lagi. Setelah itu, berlalu pergi, meninggalkan aku yang masih mematung disini.


Sampai mereka pergi melewatiku dan memberi klakson padaku. Seketika airmataku menumpah ruah, deras membanjiri pipiku. Menatap mobil yang menampung dua orang brengsek itu. Berharap mobil itu bisa terjungkal, atau nabrak, atau jatuh ke jurang gitu. Biar puas aku.


Aku seperti wanita yang tak memiliki harga diri, pria yang dulu membelaku, kini mengabaikanku saat aku dihina oleh wanita itu.


Dasar bajing***!!


Brengsek!! Suatu hari kau akan mendapatkan balasan dari tuhan!!


Doa orang yang tersakiti sangatlah tajam. aku tidak rela jika dia harus bahagia di atas penderitaanku.


Ku menangis membayangkan... betapa kejamnya dirimu atas diriku... kau duakan cinta ini, kau pergi bersamanya hooohoo....


Eak,,, jangan sambil nyanyi ya bacanya 🤣🤣🤣...


Terimakasih banyak ... Komen yang banyak untuk Dani dan Fitri .... 😁😁

__ADS_1


__ADS_2