
Aku meringkuk, meratapi nasibku yang malang ini. Seakan-akan tidak ada habisnya penderitaanku.
Setelah semuanya selesai, kenapa dia harus hadir lagi lewat perantara seorang wanita. Dia pikir, dia itu siapa? Yang seenak jidatnya mengatur hidupku!
Memungutku saat butuh, dan membuangku seperti sampah saat sudah tidak di butuhkan lagi.
Dasar brengsek!!
"Ilman ..." teriak seorang wanita dari luar rumah. Mengedor-ngedor pintu dengan keras.
Aku diam tak bergeming. Mendengar suara teriakan wanita yang terus-menerus memanggil nama Ilman membuatku pusing dan sakit kepala.
Ahh ... kemana sih kak Ilman? Bingung deh aku. Aku kan nggak boleh ketemu sama orang-orang kampung sini. Masa iya aku haris buka pintu sih!
Akhirnya, aku berjalan mendekati pintu depan, untuk membuka pintu supaya wanita itu berhenti berteriak keras.
"Siapa ya?" tanyaku, saat pintu sudah ku buka, dan berhadapan dengan wanita itu.
"Kamu siapa?" tanyanya, melirik kearah perutku. Segera aku menutup perutku dengan ke-dua tanganku.
"Ada apa? Kamu siapa?"
"Dasar laki-laki brengsek!!" makinya, menatap nanar padaku, kemudian berlalu pergi dengan tangan terkepal kuat.
"Lho, kenapa tu cewe? Aneh!"
Aku kembali menutup pintu. Ternyata Ilman ini sedang tidur, dia terbangun saat wanita itu sudah pergi.
"Kak, tadi ada wanita yang mencari kamu," ucapku memberitahu.
"Siapa?" tanyanya jutek.
Aku mengangkat ke-dua bahuku. Kemudian kembali masuk kamar, sebenarnya, ini terlalu pagi untuk diam didalam kamar, aku butuh matahari pagi untuk menyehatkan tubuhku.
Huhh ... tapi sayang, itu tidak mungkin, aku takut, ada warga kampung lewat dan mengetahuiku.
Nasib ... nasib ...
Setelah menunggu hingga sore, kulihat wanita itu, Maya. Sudah pergi meninggalkan rumah bi Timah.
"Syukurlah tuh orang dah pergi!"
Aku duduk menghempaskan tubuhku di kursi depan TV. menyalakan TV sambil menunggu bi Timah yang masih belum pulang juga.
"Gue pusing sama lo! Lo itu nyusahin banget tau nggak!! Mendingan lo pergi aja sana!! Pusing gue!! Minggir lo! Gue mau duduk!" Caci Ilman.
Aku beringsut, berdiri dan berjalan pelan masuk kamar.
Aku diam, semua perkataan yang Ilman lontarkan membuat bulir-bulir bening mengalir begitu saja...
Aku tau, aku ini hanya menumpang. Tapi, ini semua ide dari bi Timah dan Mely. Tau gini mah, mending gue gugurin aja dari dulu.
__ADS_1
"Gue benci sama lo Dani!! Gue benci!! Hidup gue sekarang ancur!! Nggak ada harapan buat gue idup lagi!"
Aku mengerang, mencengkram perutku, meremas perutku. Aku tidak ingin anak ini hidup dalam rahimku. Percuma!! Karena dia akan menjadi benalu untuk ku nanti.
"Berisik woi!! Udah numpang! Teriak-teriak lagi!!" teriak Ilman dari luar kamarku.
Seketika aku terdiam, menahan suara tangisan ku.
___________
Malam pun tiba, suara terdengar sangat ribut dari luar, aku mengintip dari balik jendela.
"Warga kampung?? Ada apa ya??"
Aku terus bertanya-tanya, hawatir dan panik, perasaan ku tidak enak.
Mondar-mandir kek setrikaan, itu yang aku lakukan saat ini.
Aku mencoba menelpon Mely, tapi nihil, tidak di angkat-angkat. Bi Timah juga belum pulang, padahal udah malem banget.
Suara ribut itu semakin dekat, seakan-akan berada di depan rumah, aku mengintip lagi dari balik jendela, ternyata warga kampung itu berjalan ke arah rumah bi Timah.
Masya Allah ... ada apa ini??
Aku keluar, memberi tau kak Ilman, dia juga ikut panik dan mengintip dari balik jendela.
"Kak, aku takut. Maafkan aku yang sudah menyusahkan mu, melibatkan mu kak," lirihku sambil memegang tangan Ilman.
"Sudahlah, mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kita hadapi saja mereka."
"Tapi, kak!"
Tok tok tok tok
"Timah !! Keluar kamu Timah!!" teriak seorang laki-laki bersuara besar dan berat.
Aku mendengar semua warga kampung berdiskusi, entah apa yang mereka bicarakan.
Ilman mulai menyentuh gagang pintu, dan membuka pintu rumah, namun, aku menghentikannya.
"Tunggu, kak!"
"Kenapa??"
"Apa ini gara-gara wanita tadi sore ya, kak?"
tanyaku, mendongak menatap wajah Ilman, karena dia lebih tinggi dariku.
"Wanita?? Ciri-cirinya seperti apa?"
"Tubuhnya sama kaya aku, rambutnya panjang tergerai lurus dan ujung rambut berwarna merah. Putih dan sedikit berisi kak," jelasku mengenai perempuan aneh tadi siang.
__ADS_1
Dia diam, malah membuka pintu dan berjalan keluar, tangan kirinya memberi isyarat padaku supaya aku untuk tetap diam didalam.
"Ada apa mang? Pak Rt? Rame-rame?" tanya Ilman.
Aku menguping dari balik pintu. Ku buka lebar-lebar telingaku, agar aku dapat mengambil informasi penting dan tidak terlewatkan.
"Kata Intan, kamu menyembunyikan wanita berperut buncit, sementara kami semua tau, jika Timah sama sekali tidak memiliki anak perempuan. Siapa dia Ilman?" tanya pak RT.
"Maksud bapak, wanita yang mana ya pak?"
Ilman menjawab dengan berpura-pura tidak tahu.
"Kamu jangan pura-pura A, aku lihat ada wanita cantik berperut buncit, tadi aku kesini mencari kamu. Aku nggak nyangka, kamu berhianat sampe harus menghamili wanita lain, sementara kita akan menikah 3 bulan lagi!" papar wanita itu yang bernama Intan. Menuduh tanpa alasan dan bukti nyata.
"Apa maksudmu Intan? Aku tidak pernah berhianat padamu! Aku benar-benar tulus mencintaimu. Kamu jangan sembarangan bicara Intan!" Elak Ilman. Dengan nada tinggi.
Perdebatan itu berlangsung lama, aku terus menelpon Mely, tapi tidak diangkat-angkat, sms apalagi, nggak ada balasan.
Aku harus minta tolong sama siapa, coba??
Aku hawatir, bi Timah juga belum pulang.
"Ya Allah ... lindungilah hambamu yang lemah ini!"
Menghela nafas panjang, aku kumpulkan keberanianku, untuk membantu Ilman melerai perdebatan yang salah paham ini, aku juga tidak mau, hanya gara-gara aku, hubungan Ilman dan Intan berantakan atu bahkan sampai harus putus.
Perlahan aku memegang gagang pintu, meskipun sangat gemetar, tapi aku tidak boleh egois, aku harus melerai perdebatan mereka.
Belum sempat aku membuka pintu. Terdengar salah satu dari mereka, berkata
"Lebih baik usir saja wanita itu Ilman! Kami tidak mau jika desa kami terkena imbas nya akibat ulah wanita itu!"
Betapa sangat terkejut, hatiku mendadak menciut, hingga aku beringsut. Berpikir kembali, untuk tindakan ku yang akan mencoba melerai perdebatan mereka.
Belum juga selesai mikir, pintu sudah terbuka oleh wanita itu, Intan.
"Ini dia wanitanya pak!" tunjuk Intan, dengan luapan emosi yang membara. Seperti terbakar api cemburu.
"Intan, dia sepupu ku!"
"Kamu jangan mencoba membohongiku Ilman, memang nya aku ini baru kenal kamu kemarin, hah?? Aku tau semua tentang kamu, kamu tidak memiliki sepupu perempuan. Jangan coba membohongiku!!" Cecar Intan. Tak memberi kesempatan untuk aku bicara.
"Bawa dia pak, dia ini pasti wanita ******!!"
Ucapan Intan sangat lah menyayat, aku benar-benar tak bisa mengelak lagi. Semua warga mengusirku secara tidak pantas.
Aku di tarik keluar, dan hampir terjatuh, mereka semua menatap nanar padaku. Seakan-akan aku ini wanita yang sangat jijik.
"Tolong, jangan perlakukan dia seperti itu, pak. Kita bisa mengusirnya secara baik-baik. Dia temanku pak!" Ilman memohon. Mungkin dia merasa kasihan melihatku yang hina ini.
Aku menangis. Kakiku lemas, tubuhku gemetaran. Semua orang terus menghinaku, memaki dan mengutukku.
__ADS_1
Apakah aku sehina ini dimata mereka yang terlihat suci.