My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
76


__ADS_3

DAMN!


"Gua cinta sama lu. Tapi hati lu cuma buat dia. Gua tau."


Aku diam tak bergeming. Tatapanku lekat padanya.


"Perasaan gua sama lu nggak bisa di tahan lagi Na. Gua sayang banget sama lu." sejenak terhenti sembari memegangi kedua bahuku, "Selama setahun ini gua cari lu kemana-mana. Karena keluarga lu bilang, lu kerja di sukabumi. Pas gua kesana gua nggak pernah ketemu lu. dan akhirnya gua ke sini dan Tuhan bener-bener sayang sama gua. Karena gua bisa ketemu lu lagi. Tapi setelah gua ketemu lu, hati lu udah ada yang nempatin." lanjutnya


"Sory Bar. Gua nggak pernah tau, karena yang gua tau lu hanya temen kakak gua dan lu sahabat gua. "


"Udahlah nggak usah di bahas. Sekarang gua mau ngajak lu jalan-jalan. Lu mau kan? "


"Gua harus kerja Bar. Gua nggak bisa jalan-jalan sama lu. "


"Gua udah ijin sama Faiz. Dan dia oke. "


Akhirnya aku pun menurut apa yang dia katakan. Kami pergi ke suatu tempat. Dimana tempat itu sangat indah dan cocok buat ngadem. Kami mengobrol kesana kemari bercerita tentang masa lalu. Bara juga menjelaskan kenapa dia harus pergi. Aku pun mengerti, karena aku sendiri tak bisa membalas cinta nya. Aku hanya bisa mendoakan semoga dia menemukan teman hidup yang bisa mencintainya dengan tulus.


Pertemuan yang sangat singkat, baru beberapa bulan kami harus berpisah lagi.


Kami pulang saat sudah larut, Bara juga menginap di rumahku.


Esok pagi nya, Bara sudah bersiap. Dan aku pun juga bersiap untuk mengantarkan dia hingga ke terminal.


"Bar, maafin gua ya. " Aku memeluk Bara, menangis tersedu hingga sesegukan. Saat dia sudah mau menaiki kereta. Dia mengusap pucuk rambutku lembut.


"Jaga diri lu baik-baik. Gua yakin, Wahyu cowok yang baik buat lu. " Aku melepaskan pelukan itu. Tak bisa di pungkiri aku pasti bakal ngerasa kehilangan sosok sahabat baik yang ternyata mencintaiku


"Nggak usah mewek. Lebay lu ah! " cibir Bara mencubit pipiku, tersenyum mengusap air mataku. "Nggak usah cengeng, Jaga si Joni baik-baik. Gua nitip dia sama lu. " ujarnya.


"Iya Bar, thanks buat semuanya. Maafin gue ya Bar. "


"Nggak usah minta maaf. Lebaran masih lama." Aku hanya tersenyum simpul. "Pada dasarnya, cinta memang tidak harus memiliki. Gua sayang lu, Na. Tapi gua tau diri. Hati lu udah ada yang milikin. Gua bakal terus hubungin lu. " Aku mengangguk, melepaskan eratan tangan Bara. Dia sudah menaiki kereta yang sebentar lagi akan melaju.


Tak lama kereta melaju perlahan, semakin jauh dan terus menjauh. Aku menangis, kenapa dia harus pergi meninggalkan aku.


"Semoga kamu bisa menemukan wanita yang sangat mencintaimu, Bar. " lirihku tersedu.


Aku segera kembali ke parkiran, kenangan satu-satunya yang dia tinggali untukku adalah Joni, motor ereking miliknya. Dia sengaja memberikannya padaku, karena aku pasti akan lebih membutuhkan. Memang, untuk saat ini aku membutuhkan kendaraan untuk bekerja dan keperluan lainnya.


Sementara, aku tak pernah tau tentang keluarga nya.


Setelah sampai di rumah, aku mendapati secarik undangan yang teronggok di kursi depan rumah.

__ADS_1


"Riyan akan menikah? " Aku kembali terduduk lemas. Rasanya sangat perih. Kenapa semuanya harus menjauh lagi secara bersamaan.


Aku selalu berfikir. Bahwa aku wanita spesial di hati Riyan. Ternyata aku salah besar.


"Maafin gua Yan, gua nggak bisa dateng ke pesta lu. Bukannya gua egois, " Air mata kembali deras. Saat ini hatiku benar-benar sedih, perih dan teriris.


Tepat jam sepuluh pagi. Aku kembali bekerja, semuanya lancar tanpa hambatan. Hingga hari sudah mulai sore, Bara belum juga ada kabar.


"Lu napa sih? " tanya Faiz yang ikut duduk di sebelahku, memiringkan wajahnya menatap ku dari bawah, "Lagi galau lu? "


"Si Bara belum juga ngabarin gue, Iz. Gue hawatir sama tuh bocah. "


"Ya elah dah gede ini."


"Bukannya gitu Iz. Gue cuma hawatir aja. "


"Telpon aja atuh. Mani susah tibang kitu doang oge! " timpal Hada yang baru datang. dan ikut nimbrung duduk berjajar kaya di angkot.


"Iya Na, Lu telpon duluan aja. " kata Faiz juga ikut menyarankan.


"Sini lah. Biar gua yang telpon. Lama lu mah! " Tiba-tiba Dedi merebut ponsel yang aku genggam sejak tadi. Dengan entang nya dia menelpon Bara, tak lama dia mengobrol hingga beberapa menit, sementara aku hanya diam mendengarkan mereka bicara.


"Apa katanya? " tanya ku, setelah Dedi memberikan ponsel padaku.


"Hmmmm... " Kami mengangguk kompak dengan menatap Dedi. Dan akhirnya kami pun mengobrol santai, hingga larut malam, aku pulang di antar oleh Dedi dan Hada. Mereka sengaja mengikutiku agar aku aman sampai rumah.


"Thanks ya gais. " ucapku pada Dedi dan Hada.


"Iya gaiisss, hahaha. " sahutnya dengan gaya bencong


"Najiss horor banget gua liat lu, Had. "


"Haha. Serah ekeu dong. " Dedi bergidik ngeri menatap Hada.


"Udah sana pada balik lu ah. Malah ribut. " kesalku. Dan mereka pun pulang.


Aku segera masuk, merebahkan tubuhku, tak lupa mengunci pintu.


Aku berguling-guling kesana kemari, memikirkan dua pria yang sekaligus pergi dengan mudah.


"Lu lu pada sengaja ya. Ko bisa kompakan gini sih! " dengusku teriak di dalam kamar, pikiranku terus mengumpat Bara dan Riyan. Seketika kembali hening, hanya ada detak jarum jam yang terdengar begitu kentara.


Tiba-tiba

__ADS_1


DRRRTTT


Ponsel bergetar, aku menoleh lantas mengambil ponselku. Seketika aku terduduk saat melihat siapa yang menelpon. "Maya? "


Aku angkat, "Hallo? "


"Hallo, Na. Gimana kabar kamu? "


"Biak teh. Ada apa? "


"Syukur lah. Uang udah teteh transfer ya, Na. "


"Ohh. Iya teh makasih."


"Ya udah, teteh mau pulang dulu, nanti teteh telpon lagi. "


"Jangan dulu tutup. Teh aku kangen anakku. "


"Dia baik, Na. Lagian kamu kan susah disitu, nanti kamu kerepotan, yang ada Senja malah nggak keurus sama kamu. "


"Dia anakku teh. Kenapa kalian seakan tidak mau aku merawat anakku? "


"Kamu cukup diam dan menikmati apa yang sudah berjalan di hidup kamu. Jangan banyak protes."


"Arrgghhh....!!" teriakku.


PYAARR.


Ku lempar benda pipih itu ke arah tembok dan hancur berkeping-keping. Seketika emosiku memuncak. Mereka benar-benar keterlaluan.


"DASAR SIALAN SEMUA! " teriakku mengumpat. "Aku juga becus mengurus anakku! Kalian pikir dengan uang yang kalian berikan akan mampu membuat aku melupakan anakku yang sudah aku lahirkan susah payah dan aku kandung hingga mau mati! " kesalku, ku acak-acak semua barang yang berada di dekat ku. Ku lempar hingga melayang-layang bagaikan baling-baling bambu nya doraemon. Ruangan yang semula rapih, kini berbalik seperti kapal kebalik


"Aku tidak perah menyangka akan seperti ini! " Aku berbaring miring, meremas bantal. Air mata terus berderai tiada henti. Aku seperti hidup sebatangkara, tidak ada keluarga yang menemani aku.


"Tuhan..., Kenapa engkau berikan ujian seberat ini... " rintihku menangis.


Halloo kak 😁😁😁


sory nih ya kak. Pasti kalian pada penasaran, kenapa sih up nya lama banget. bikin lupa lagi smaa ceritanya.


Sini aku kasih tau kak. kenapa suka lama up. Karena ini tuh kisah nyata yang sengaja aku tulis menjadi cerbung. kisah yang sangat pait dan tidak bisa di lupakan.


Jadi setiap up. Aku harus mengingat setiap kejadian yang aku alami πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


Haturnuhun sudah setia membaca cerbungku πŸ™πŸ™πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°kalian the besttt


__ADS_2