
"Kini kamu harus berbagi suami denganku Fitri, ini bukan kemauanku. Maafkan aku." Batinku. Sembari memeluk tubuh Dani. Menatap langit dan bintang yang seakan mendukung suasana hatiku saat ini.
Hening....
"Yang, mau jalan-jalan?" tanya Dani memecah keheningan.
"Kemana?" jawabku seraya beringsut melepaskan pelukan Dani.
"Ikut aja, kita makan diluar. Kamu belum makan kan? Seharian lho, kamu nggak keroncongan apa?"
"Iya sih, boleh deh. Aku ganti baju dulu."
"Pakai baju yang bagus, dandan yang cantik, oke."
"Oke."
Aku beranjak masuk kedalam mengganti pakaian yang lebih bagusan dikit. Baju yang sudah disiapkan oleh Maya didalam lemari, aku memilih gaun dres selutut warna peach dengan rambut dikuncir kuda, menyelempang tas kecil. Sedikit memoles wajah dengan bedak dan lipteen. Menyemprot kan wewangian ke seluruh pakaianku ala Casablanca.
"Ciee... mau kemana bu... cantik bener, wangi lagi," tanya Maya yang tiba-tiba nongol dari balik pintu bergelayut manja.
"Di ajakin dinner out teh, " jawabku sambil cengar-cengir. Maya pun beringsut mendekatiku.
"Cie... nah gitu dong, teteh kan seneng liatnya kalo kamu ceria gini." ujar Maya sembari memegang kedua bahuku.
"Makasih banyak ya teh, teteh baik banget sama Erna."
"Sudah seharusnya..." Aku dan Maya saling melempar senyuman. Wanita didepanku ini sangat baik dan berhati mulia. Semoga kelak tuhan memberikan jodoh yang pantas untuk mu teh Maya.
Aku dan Maya beranjak keluar, menyusul Dani yang sudah menunggu sedari tadi.
"Udah siap yang?" tanya Dani padaku.
"Udah."
"Erna berangkat dulu ya teh, Assalamualaikum..." ujarku berpamitan. Menyalami perempuan muda ini dengan takzim.
"Waalaikumsalam... hati-hati. Jagain adek gue Dan. Awas lu kalo macem-macem!" Selorohnya.
"Lah, yang adik teteh aku atau dia?"
"Dua-duanya... udah sana, ntar keburu malam."
Teh Maya memang seperti itu, selalu menganggap aku dan Dani ini adiknya, bukan sepupunya. Mungkin tujuannya agar rasa kekeluargaan ini terasa lebih nyata dan dekat.
Dan akhirnya tiba lah saat-saat bahagia, aku kembali membuat kenangan manis bersamanya.
Berjalan-jalan di alun-alun kota Tanggerang, Menikmati suasana malam yang begitu indah.
Sungguh tidak bisa aku gambarkan perasaanku ini ya Tuhan...tak bisa dilukiskan, intinya aku sangat bahagia, jika boleh meminta, aku tak ingin muluk-muluk, hanya satu permohonan ku, janganlah engkau pisahkan aku dengan laki-laki yang berada di sampingku ini. Biarlah hanya maut yang memisahkan kita...
Di dalam mobil, ponsel Dani terus bergetar, kulirik dia tak juga mengangkat telponnya. Alih-alih mengabaikan gawai yang teronggok di laci mobil.
Aku yang merasa penasaran tak berani meraih gawai itu. Dan akhirnya aku pun memberanikan diri bicara padanya agar dia segera mengangkat panggilan itu.
"A, ponsel kamu buny..." Alhasil perkataanku pun di potongnya.
"Biarin yang."
"Tapi... nggak ada salahnya di angkat A, siapa tau penting!"
"Yakin boleh di angkat?"
"Yakin! Daripada bunyi terus kan?"
"Oke! Jangan nyesel ya!" Sergahnya.
"Memangnya siapa sih yang menelpon?" Tanyaku lagi, sambil mata menatap pria yang sedang meraih ponsel itu.
Sejenak iya pun menepi, bahkan tak menjawab pertanyaanku, ia mengangkat panggilan itu dan menyuruhku untuk tidak bersuara.
Aku pun nurut aja kaya si utun. Hanya melihat dia yang mulai membuka percakapannya.
"Halo, sayang?" ujarnya dari balik telpon.
Sayang?? apa jangan-jangan dia Fitri?
Kenapa hatiku sakit gini ya? Rasanya perih tak karuan.
"Iya sayang, minggu depan aku pulang. Sabar ya!" Ujarnya lagi, terdengar sangat kentara, seakan sengaja ingin membuatku cemburu. Jelaslah!! Aku sangat cemburu bodoh.
Aku terus menggerutu kesal, wanita mana yang rela berbagi suami? Jelas tak ada! Bahkan wanita itu justru akan memilih berpisah dengan silelaki jika ia memiliki wanita lain. Tapi aku mau-maunya di jadiin yang kedua seperti ini. Ternyata sangat sakit.
Mataku sudah mulai merah, hatiku terbakar, jantungku serasa ingin meledak, mendengar ia berbicara sangat mesra dan lembut. Apalagi panggilan sayang yang selalu ia sebutkan. Ingin rasanya aku merebut ponsel itu dan berbicara pada Fitri bahwa jangan mengganggu kami sehari saja!!
Sayang di sayang, aku tidak memiliki keberanian. Aku hanya bisa berdecak-decak kegeraman.
"A, kok malah ngobrol!" ucapku sengaja dengan suara keras.
Dia menempelkan jarinya kebibirku, "Ssttt... sabar sayang!" Berucap tanpa bersuara. Hanya mengap-mengap kaya ikan keluar dari asalnya. Aku melipat kedua tanganku ke dada. Ku tepis jarinya menjauh dari bibirku. Ku monyongkan mulutku. Menatap tajam kedepan. Dongkol aku.
"Bay sayang, love u!"
Sambungan terputus, kalimat penutup itu benar-benar buat aku kebakaran jenggot. Nafasku sudah memburu kesal sekali sama pria ini.
__ADS_1
Tanpa bicara dia melajukan lagi mobilnya, melaju kesalah satu cafe yang berada di alun-alun kota Tanggerang
Dan setelah beberapa menit, akhirnya kami sampai disebuah cafe kecil bernuansa ABG anak baru gede. Aku sangat takjub dengan cafe ini yang dihiasi lampu tumbler warna warni. Cafe yang terletak di atas membuat suasana semakin romantis bagi anak-anak ABG itu. Ini baru pemandangan dari bawah, entah jika sudah berada di atas, mungkin akan sangat lebih indah.
Aku diam di mobil hatiku kembali kesal. Dani keluar dengan berjalan cepat membukakan pintu mobil untukku. Dia tersenyum manis padaku, seakan-akan tadi itu tidak terjadi masalah apa-apa! Nggak peka banget.
"Yang, ayo."
Aku diam di tempat. "Kita pulang aja! Aku udah nggak nafsu!"
"Lho lho lho... sayang jangan ngambek gitu atuh, kamu kenapa sih?"
"Nggak apa-apa!"
"Yang... nggak apa-apa tapi mukanya ditekuk. Cantiknya ilang!" Merayu tapi tak membujuk. Kesel banget sih.
"Mau aku cium?"
"Otakmu itu mesum! "
"Ya terus kenapa? "
"Tau lah!!"
"Yang, ia maaf ya. Meskipun aku nggak tau apa masalahnya, tapi tetap aku salah. Jadi aku minta maaf. Ayoo, aku punya kejutan buat kamu." Bujukanmu itu basi.
Aku masih diam duduk dengan sejuta api yang membara.
Terdengar ia mendengkus, tiba-tiba saja mencium bibirku dengan sangat cepat, membuat aku sulit bernafas. Hingga beberapa menit dia tak juga melepaskan ciuman itu. Sampai-sampai aku terbatuk, tersedak dan akhirnya dia lepaskan dengan terpaksa.
"Ko batuk sih yang? Kan lagi tanggung!"
"Mesum!!" Sergahku memukul dadanya supaya menyingkir dari hadapanku dengan beringsut keluar mobil dan berjalan cepat mendahuluinya. Ia pun setengah berlari mensejajariku.
Dengan cepat ia berjalan sambil merangkulku dari sisi, membuat para tamu dan pendatang cafe menatap tajam kearah kami.
Semua mata tertuju padaku. Bahkan ada yang melihat tajam ke perutku, membuatku semakin risih. Mungkin karena emang aku masih cibi-cibi banget, mukaku juga bisa dibilang tergolong imut. Apalagi dengan idungku yang mancungnya kedalam. Beuhh cute banget. Memuji diri sendiri nggak dosa kali ya... Dani juga masih terlihat sangat muda, karena emang usianya yang baru menginjak 22 tahun. Membuat pasangan muda baper liatin kami berdua.
"Yang, ko pada liatin kita sih?" Aku menjawab dengan mengangkat kedua bahuku.
Berjalan menaiki tangga, dan ternyata di atas terlihat lebih indah, berbeda saat aku masih di bawah.
"Gimana yang? Kamu suka?"
Aku diam terpaku, takjub dengan cafe ini sampai-sampai mengabaikan ucapan Dani. Cafe yang tertulis dengan lampu tumbler ' Teenage Cafe'. Sangat luar biasa.
"Yang ko malah bengong?"
"Binasa? Apaan tuh?"
Aku memukul lengannya manja, "Biasa maksudnya. Ih gitu doang kagak ngerti." Seraya berlalu dari hadapannya, memilih kursi pojok dekat pembatas, membuat leluasa melihat keindahan malam hari di kota Tanggerang, di tambah suasana yang sangat indah dengan gedung yang masih terlihat menjulang di atas puncak. Kerlap-kerlip membuat aku sangat betah di sini.
"A Dani mana?" Gumamku saat Dani juga tak kunjung menyusulku.
Tak berapa lama, dia berjalan mendekat ke arahku. Dengan senyam-senyum kaya kurang air.
"Duduk dulu yang, Aa udah pesenin kue untuk kamu,"
"Kamu habis dari mana?" tanyaku dwngan mengabaikan ucapan-Nya
"Pesen kue,"
Aku mengangguk pelan, menunggu kue yang sudah di pesankan oleh Dani.
Setelah beberapa saat, seorang pelayan wanita datang dengan nampan berisi jus dan kue.
"Mangga akang, teteh."
"Hatur nuhun."
Si pelayan pun berlalu setelah meletakan jus dan kue di atas meja. Aku menatap Dani heran, "Kenapa mesen beginian? Aku mau makan nasi A, bukan kue begini!"
"Iya, bentar lagi juga datang ko."
"A kamu tau darimana tempat beginian? Bagus banget, suasana-Nya sangat romantis,"
"Yang, maafkan aku yang tadi, saat Fitri menelponku. Maaf ya yang,"
"Hmm."
Wajahku kembali di tekuk mendengar nama FITRI. Benar-benar membuat mood ku ilang.
Tak berapa lama, pelayanan laki-laki datang dengan membawa nampan Berisi makanan yang aku mau.
Aku langsung sumringah saat makanan itu datang, lantas segera melahapnya, karena emang aku sangat lapar, seharian nggak makan.
Dani juga terus melontarkan rayuan-rayuan gombal padaku, sehingga aku tak lagi marah padanya. Di tempat ini aku kembali berfoto, membuat kenangan manis bersamanya.
Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 23:45 sudah sangat larut.
Dani kembali mengajakku pulang, aku sangat bahagia malam ini. Bisa nongki-nongki ala remaja lagi sama pria pujaan hatiku.
Lebayyyy amaat luh Na 😂 Bucin
__ADS_1
Setelah tiba di depan rumah, ternyata sudah ada mobil terparkir rapih. Entah mobil siapa, Dani sendiri terlihat panik saat melihat mobil itu. Berlari masuk mendahuluiku, membuat aku semakin bertanya-tanya. Ada apa dan siapa pemilik dari mobil Avanza merah menyala ini.
Aku berjalan pelan sembari menatap mobil itu. Terdengar suara debat, seorang wanita dan suara Dani.
Saat aku tepat berada ditengah pintu, wanita itu tanpa ragu berjalan dan menamparku dengan keras.
PLAKKK...
Aku sedikit terdorong kebelakang. Membuat Maya berlari menghampiriku.
Pipiku terasa perih, "Ada apa ini?" tanyaku sambil mengusap pipiku.
Maya merengkuh tubuhku, mengusap pundakku pelan. "Ibunya Dani Na, "
"Apa??" Aku terkejut.
"Wanita ini! Selalu menggangu kehidupan anakku! Wanita tidak tau diri! Tidak tau di untung!" tunjuknya padaku. Dengan emosi meluap-luap.
"Teh, sudah cukup teh!" Maya mencoba menenangkan.
"Nesi, jangan kamu salahkan dia. Ini semua aku yang mengatur!" ucap nenek dengan bibir bergetar.
"Ibu sangat keterlaluan!! Secara tidak langsung ibu sudah menghancurkan rumah tangga cucumu sendiri!!" Makian bu Nesi yang meluap terhadap nenek.
Aku hanya bisa diam.
"Bu, seharusnya ibu menyuruh Dani untuk setia dan tidak berpaling dengan wanita lain! Kenapa ibu malah menyuruhnya menikahi perempuan ****** ini, Bu!!"
PLAKK
Nenek menampar keras pipi bu Nesi. Membuat aku semakin takut.
Aku beringsut, dituntun Maya untuk duduk di kursi. Tapi bu Nesi malah mendorongku. "Diam disitu kau wanita murahan!! Kau tidak pantas menginjak rumah ibuku!!"
Airmataku berderai. Bulir bening ini kembali membanjiri pipiku. Hatiku sangat sakit akan hinaan dan cacian yang di lontarkan bu Nesi padaku.
"Mamah!! Sudah cukup mah! Dia sedang hamil anak Dani. Dani harus menikahinya mah! Itu cucu mamah!"
"Aku tidak sudi memiliki cucu dari perempuan ini! Yang tidak tau asal usulnya!"
"Nesi !! Kau sudah sangat keterlaluan!! Aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi manusia sombong! Menilai orang dari penampilan harta dan tahta. Semua di mata Allah sama Nesi!!" tubuh nenek bergetar. Matanya mulai merah.
Aku tau, ini semua salahku.
"Teh, sudah teh. Ini demi kebaikan bersama!" Maya mencoba melerai.
"Diam!! Kau juga ikut andil dalam kehancuran rumah tangga Dani! Teteh tidak menyangka kamu melakukan ini! Kau mau tetehmu ini menjadi janda? Bagaimana jika mas Aldi tau kalau kamu ikut-ikutan menjerumus Dani kejalan yang salah!"
"Ini tidak salah mah, Dani hanya ingin bertanggung jawab! Kasihan anakku mah! Cukup ibunya yang menderita!"
"Halah persetan!! Kamu yakin jika itu adalah anakmu? Pikir pakai otakmu Dani. Wanita seperti dia rela menjual harga dirinya kepada siapapun!! Malam ini juga kamu ikut pulang ke Bandung sama mamah! Dan tinggalkan wanita itu!"
"Teh, mereka akan menikah besok.."
"BATAL!! semuanya dibatalkan! Akuaku tidak sudi punya menantu seperti dia!!"
"Nggak bisa mah, Dani tidak bisa hidup tanpa Dia!"
"Buang cinta buta mu itu Dani. Kamu sudah diracuni sama wanita ini!! Sekarang ayo kita pulang, jangan membantah!!"
Dengan kasar Bu Nesi mendorongku, menarik paksa Dani. Meskipun Dani memberontak, namun kekuatan emak-emak sangatlah besar. Melebihi kekuatan herkules.
Tangisanku semakin pecah. Maya hanya bisa menguatkan aku. Nenek juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Kutatap Dani yang mulai menjauh. Mendadak dia menepis tarikan ibunya, berlari ke arahku, "Sabar ya sayang, kita akan berjuang bersama," berbisik pelan.
"Dani!! Jangan kurangajar sama mamah!!" Menarik lagi hingga masuk mobil dengan sekejap melaju meninggalkan rumah ini. Dengan menyisakan bekas luka yang teramat Dalam.
"Maya bawa cucuku masuk. Biarkan dia istirahat" ujar nenek dengan lembut.
"Iya bu."
Aku menangis sesegukan, pernikahanku batal lagi. Mungkin aku memang tidak pantas bersanding dengannya.
Kurebahkan tubuhku, dengan posisi miring membelakangi Maya.
"Na, teteh keluar dulu ya... kamu istirahat, besok kita bicara lagi. Tolong tenangkan dirimu Na, demi anakmu yaa,"
Aku diam tak menjawab. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Seharusnya aku tidak mengikuti semua permainan ini, jika akhirnya aku yang kalah.
Mataku sembab. Sampe nggak bisa melek lagi. Mataku terpejam, namun hatiku jauh menerawang...
Kejadian barusan benar-benar membuat aku kapok. Membuat aku jera.
Aku hanya bisa pasrah dengan garis tuhan untukku. Mungkin pelangi akan datang menjemputku... aku yakin, Tuhan menyayangiku. Hanya dengan bersabar, semua tidak akan sia-sia.
Aku percaya... tuhan sudah menyiapkan seseorang yang istimewa untukku.
Selamat tinggal Dani, aku tak bisa lagi berjuang bersamamu.
Mulai detik ini, aku akan meluapkan mu seumur hidupku.
Next????
__ADS_1