My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 18


__ADS_3

Ya Tuhan, kenapa tangisannya begitu sangat menyayat hatiku.


"Tolong jangan seperti ini." aku berusaha membuat Dani tak lagi bersujud dikakiku.


Memaksanya untuk segera berdiri dihadapanku.


Ya Allah, aku harus kuat menahan beban yang membuatku harus berjalan merangkak sekalipun. Aku harus kuat.


Aku juga harus memikirkan rencana agar aku bisa pergi jauh dari tanah kelahiranku, supaya keluargaku tidak mencurigaiku.


"Sayang... maafkan aku..." lirih nya lagi.


Entah kenapa, aku tidak tega melihat nya menangis, dia benar-benar menangis dihadapanku. Apakah itu asli atau bualan? Atau hanya airmata buaya?


Ahh, sudahlah. Mau asli mau membual terserah dia!!


"Lebih baik kamu pergi, jangan hubungi aku lagi!" aku berjalan menjauh darinya. Ku enyahkan tangan yang mencengkram kakiku.


Tapi dia malah semakin kuat. Bahkan memeluk ku lagi.


"Jangan seperti ini. Takut ada yang lewat!"


Justru di dalam hatiku sangat berharap ada yang lewat, biar aku di grebeg dan dipaksa menikah dengannya.


Hisshhh, apaan sih Na, pikiran lo kotor banget.


"Yang," dia menadahkan telapak tangan ku, kemudian memberiku amplop coklat, aku yakin, itu pasti uang. Dan yang membuat aku kaget adalah kunci?


"Ini kunci apa?" tanyaku heran.


"Rumah yang, meskipun kecil, cukup untuk kamu berteduh, tolong jangan gugurkan kandunganmu! Aa akan terus memberimu nafkah lahir!" pungkasnya, dengan memasang wajah sedih.


"Aku tidak mau!" Aku membuang kunci dan amplop itu kesembarang arah. "Aku bukan wanita yang membutuhkan uang darimu!! Aku butuh kamu A, mana janjimu!" teriakku histeris, "Aku menagihnya sekarang!! ayo tunaikan janjimu padaku A, aku tidak butuh uangmu!!" ku pukul dia berkali-kali. Bersama air mata yang terus berjatuhan..


"Pukul lah sekuat tenagamu yang, " pasrah dia berucap. Sehingga aku terus memukulinya, hingga kepalaku terasa pusing, mataku sudah tidak bisa terbuka lagi, dan aku langsung tidak tau apa yang terjadi setelah itu...


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Aku tidak tau, sudah berapa hari aku tidak sadar, karena saat aku membuka mataku, aku sudah berada diruangan semacam rumah sakit / klinik.


Aku juga melihat Dani tertidur di kursi dekat dengan ranjangku. Terlihat sangat lelah, wajah Dani sedikit lebih lebam di bagian mata dan pipi. Entah apa yang terjadi padanya.


"A, bangun!!"


Aku menggoyangkan tangannya.


"Hmmm... kamu udah sadar yang?" Suaranya terdengar sangat berat.


Dia bangun sambil mengucek matanya, memang sudah kebiasaan dia seperti itu.


"Apa ada yang sakit yang? Apa perutmu baik-baik saja?" tanyanya begitu panik, mengusap perutku.


Aku menangis lagi...


Kenapa aku sangat cengeng seperti ini coba, memangnya dia akan peduli dengan tangisan dan airmataku ini! Enggak! dia nggak akan peduli!


Tahan Na tahan... Dia bukan jodohmu!


"Yang, kok malah nangis? Kamu kenapa?"


"Kamu masih nanya aku kenapa? Kamu ini pura-pura lupa atau emang amnesia beneran sih!"


"Ya, maaf, Aa kan juga..." Aku menghentikan perkataannya, aku tidak mau mendengar alasan bulsyit nya lagi.


"Biarkan aku disini sendiri! Lebih baik kamu pergi dan urusi calon istrimu! Jangan kamu sia-sia kan dia!! Cepat pergi!!" Usirku dengan memukul tangannya.


Aku harus mengusirnya! Aku tidak mau terluka lebih banyak lagi.


"Yang, tolong maafkan Aa yang. Aa akan terus disini sampai kamu pulih, Aa juga ingin tau keadaan anak kita yang berada didalam perutmu, yang!"


"Kau tidak perlu perduli padaku Dani! " makiku.


"Yang please... " mohonnya dengan tersenyum manis padaku. Sungguh tidak tau malu! Atau memang dia sudah tidak punya otak. "Lagian itu anakku yang. Anak kita. Aku juga akan menafkahi nya secara layak. meskipun aku tidak bisa menikahimu, semua akan baik-baik saja, "

__ADS_1


"Baik-baik saja matamu! " kutunjuk matanya yang mulai satu itu. Kenapa, setiap dia bicara, seakan-akan semuanya gampang aja gitu!


"Yang... tolong mengerti ya,"


"Pergi Dani! "


"Yang, please... "


Aku diam berpaling, aku masih diam tak bergeming, aku tidak mau bicara apapun padanya.


"Oya, kamu mau sarapan apa? Biar Aa belikan ya." katanya, "Hmmm, bubur ayam favorit kamu aja ya, yang banyak kecapnya dan tidak memakai bawang daun. Minum nya teh anget aja deh, biar anak kita sehat. Sabar ya sayang, Aa mau keluar dulu, paling cuma lima belas menit oke." imbuhnya.


Dia mengusap keningku, mencium keningku, membelai pipiku lembut. Kemudian berlalu pergi. Tanpa terkecuali meninggalkan jejak senyuman.


Aahhh, gimana mau move on kalo caranya begini. batinku


Lho, ko balik lagi sih?


"Yang, ada yang lupa!" katanya sembari tersenyum semringah.


"Apa?"


"Kiss pagi,"


Tanpa rasa malu dia mencium bibir ku. Ku dorong dia hingga menjauh, "Bau ih!" makiku.


"Maaf yang, Aa kan belum mandi, juga belum gosok gigi. Haha! Tunggu ya, cuma bentaran ko."


"Bisa-bisa nya ya, kamu orang ngelakuin ini tanpa pake otak! " makiku lagi.


Tanpa perduli dengan ucapanku, dia pergi lagi. Hingga menghilang dari hadapanku. Tapi, aku kembali di kagetkan oleh sosok wanita cantik dewasa, dia masuk keruanganku. Aku menatap dia penuh selidik. Mungkin usianya sekitar duapuluh lima tahun.


"Hay... " sapanya padaku dengan tersenyum manis.


Aku tertegun melihat wanita yang berjalan kearahku ini, Cantik banget.


"Gimana keadaanmu? " tanya nya padaku. Tapi aku tetap diam.


Apa? Tante? pikirku. Aku mengernyitkan keningku menatap heran pada wanita yang mengaku sebagai tante nya Dani ini.


"Erna, Dani sudah banyak cerita tentangmu, maafkan atas kelakuan bejad ponakan ku itu ya, setelah ini, kamu akan ikut denganku, ke Sukabumi," Ujarnya seakan-akan tidak ada beban.


"Sukabumi? Ngapain? " ketusku "Apakah segampang itu? Bagaimana dengan keluargaku, uni dan uda, bosku saat ini? Anda jangan mengada-ada ya! Lagi pula, aku tidak percaya! Kenapa semuanya terasa gampang buat dia! Dia pikir dia siapa? Apa dia juga tidak memikirkan aku, perasaanku? Bahkan dia juga akan menikah dengan wanita lain. Tapi dia santai aja. Apa anda juga menganggap semua ini gampang? hah?"


"Aku tau in... "


Kupotong lagi ucapannya, "Apa anda tau, bahwa keluarga ku saat ini tidak mengetahuiku. Aku juga tidak tau kabar diluar sekarang, aku juga tidak tau sudah berapa lama aku pingsan! Atau mungkin gosip tentang kelakuan bejadku juga sudah tersebar di luar sana! Apa dia memikirkan itu semua?" Cerocosku tidak pakai rem.


"Maafkan atas semua kelakuan Dani, tolong maafkan dia!"


"Aku sudah memaafkan nya, lebih baik kamu pergi, jangan ganggu aku, aku sudah tidak bisa lagi berhubungan dengannya, aku tidak mau merusak kebahagiaan wanita lain!"


Seketika aku tertidur miring membelakanginya, aku sudah tidak tahan ingin menangis. Aku bukanlah wanita kuat, wanita tegar, bahkan aku juga bukan wonder women. Aku hanya wanita lemah, yang tidak berdaya. Bahkan aku sangat rapuh, mudah tergores.


"Teh Maya!" suara Dani kembali terdengar, sementara aku pura-pura tidur.


"Dan. Kamu darimana?"


"Beli bubur buat istriku teh,"


"Istri?"


"Iya teh," dia malah cekikikan, terdengar seperti tidak ada beban. Dasar pria brengsek!


"Yang, kamu tidur ya? Buburnya di makan dulu! Keburu dingin nggak enak ntar!"


"Kamu jangan pura-pura tidur yang!" Ucapnya lagi menghadapku


"Dia siapa?" tanyaku.


"Teteh Aa yang, bibi, tante, "


"Aku mau pulang, mana mely? Kenapa dia tidak ada disini? Aku ingin pulang kerumah bi Timah!"

__ADS_1


"Infus mu belum habis yang, Kamu sudah dua hari pingsan, tolong turuti aku kali ini saja!" pintanya dengan menggenggam tanganku.


"Kali ini saja?? Kamu lupa ya, aku kan selalu menuruti perintah mu! Bahkan memberikan kehormatan ku juga aku turuti. Kurang apa lagi kau hah! Enak sekali kalo bicara!" Cecarku, tak mau kalah lagi. Aku harus tegas.


"Maafkan aku yang,"


"Erna, saya Maya, tolong kali ini mengerti ya," timpal Maya. Sedikit memohon.


"Jangan ikut campur urusanku!" Bentakku pada wanita yang bernama Maya itu.


"Yang, Aa sudah menghandle semuanya,"


"Aku tidak percaya!! Aku mau pulang!"


Dengan hati-hati aku melepas jarum infus yang ada di tanganku, sakit memang, darah juga mengalir banyak. Bekas tanganku aku unyel-unyel biar darah nggak keluar lagi. Dani yang melihat tindakan konyolku, segera memanggil suster. Maya pun tertegun melihat ku yang nekat.


Semuanya terlihat panik, karena wajahku juga masih pucat. Tapi aku tidak mau terus di sini! Ini akan menimbulkan curiga pada semua orang.


"Kamu ini ceroboh banget sih! Susah di atur!" Maki Dani padaku.


PLAAAKKK


Tamparan keras ku mendarat di pipinya.


Aku tidak suka di bentak!


"Jangan membentak ku! " Bergetar aku menunjukkan wajahnya.


Aku harus tegar, aku juga harus berani supaya dia tidak seenak jidatnya lagi padaku.


"Jangan campuri urusan ku!" imbuhku lagi dengan berteriak kepada Dani. Segera aku berlalu pergi, aku tidak mau lagi bertemu dengannya.


"Yang, tunggu. Kamu mau kemana?"


"Diam!! Jangan ikuti aku! Atau aku akan teriak dan bilang bahwa kalian menyiksaku di sini! Jangan lupa bayar semua tagihannya! Aku tidak punya uang!"


Setelah mengatakan itu, aku langsung melengos pergi meninggalkan mereka yang tertegun diam tanpa kata.


Dasar pria brengsek! Semuanya selalu dianggap gampang! decakku.


Sekaya apa sih dia? Sampai-sampai semuanya terlihat mudah, apalagi urusan uang. Kaya ngasih daun aja gitu. Yang tinggal metik, lalu kasih ke orang sesukanya.


Aku terus berjalan mencari pintu keluar klinik ini. Dengan tangan kiri mengunyel tangan kananku yang bekas infusan tadi.


Dan ternyata aku dirawat di klinik biasa, masih dekat dengan rumah bi Timah,


Aku menepi di pinggir jalan menunggu angkot datang. Niatku mau langsung cus ke tempat kerja, urusan ongkos aku bisa minta sama bang Zull setelah sampai disana nanti.


"Mang, tungguan nya, mau ambil uang nya dulu!" Ucapku pada supir angkot setelah sampai depan ruko.


"Ernaa..." bang Zul menganga kaget melihatku yang hanya memakai kaos polos dan celana rompang ramping. Setengah berlari kearahku.


"Bang, pinjem uang 5000 buat ongkos angkot," kataku lagi dengan menadahkan tanganku. ku lihat dia merogoh kantongnya dan memberikan uang itu padaku. Setelah di kasih, aku langsung membayar angkot itu, dan kembali mendekati bang Zull dan duduk diam beristirahat sejenak. bang Zull sendiri ikut duduk didekatku. Menatap ku penuh selidik.


"Kamu kemana aja selama ini Na? Kemarin kakak mu datang kesini menanyakan mu," jelas bang Zul.


"Apa? Siapa yang datang?"


"Kakakmu yang biasa mengantarmu kesini!"


"Terus abang bilang apa sama dia?"


"Ya abang bilang seadanya lah, kemarin juga Mely membawa tas mu, menaruhnya di atas kamarmu."


"Terimakasih bang, Erna mau ke atas dulu, istirahat bentaran, boleh ya,"


"Iya, silahkan, tapi nanti kesini lagi ya, abis dzuhur."


"Siap bang,"


Terimakasih sudah mau baca 😊😊


Jangan lupa dukung author ya kaka 😉😉

__ADS_1


__ADS_2