
Kemarahan ku membuat semua terdiam.
Aku juga melihat bu Nesi menarik Fitri keluar dengan kasar. Dengan berdecak kesal Fitri mengekor tanpa membantah, namun tetap dengan mata menusuk tajam padaku.
Kutatap balik mata jahat itu, tak kalah tajamnya dengan matanya.
Biarkan saja... memangnya dia ini siapa?
gue juga berani kali.
Lagi pula. Memang sudah seharusnya dia mendapatkan apa yang sudah dia perbuat. Apalagi dengan mulutnya yang seperti cabe giling. Pengen aku jadikan sambal baso biar pedesssss sekalian.
Aku juga mendengar nenek terus mendengkus kesal. Menatap Dani yang berdiri santai dekat pintu.
Dani ini sebenarnya pria atau bukan sih?
Heran deh. Kenapa dia cuma diam saat melihat istrinya ditarik paksa ibunya?
Pernikahan macam apa sih ini?
Tapi, ya... bodo amat lah, aku sih nggak peduli.
Kugelengkan kepalaku yang sudah cenat cenut ini. Kupijat perlahan dengan berjalan menuju tempatku. Tempat dimana aku harus menyender selama empat puluh hari kedepan.
"Seharusnya, kamu sebagai suami bisa menasehati istrimu menjadi lebih baik lagi," kata nenek dengan nada menekan dan mendekati ku dengan terus mengoceh, "Perkataan istrimu itu bisa berimbas pada dirinya sendiri, bahkan kamu juga Dani. Nenek tidak suka dengan wanita yang memiliki sikap tak bermoral seperti itu. Bukankah dia ini anak bos dari ayahmu? Kenapa sikapnya seperti preman? Arogan." imbuhnya lagi penuh amarah. Seperti ini kah ternyata kemarahan nenek.
"Mana Dani tau nek, ini bukan keinginan Dani. Kenapa semuanya jadi menyalahkan Dani begini?" elaknya. Seakan tak pernah berfikir bahwa dirinya juga sudah salah. Bahkan sangat salah.
"Pikirkan saja apa kesalahan mu!"
"Sudahlah nek, Erna mau istirahat dulu, jangan berdebat lagi," selaku dengan terus berjalan perlahan.
"Nenek hanya kesal sama sikap istrinya!" masih dengan menggendong anakku.
"Terus saja salahkan Dani, nek. Nenek tidak tau bagaimana jika berada di posisi ini." bantahnya lagi, tak ingin kalah.
"Apa seperti itu sikapmu bicara pada orang yang lebih tua?"
"Bilang saja, kalo nenek mau membandingkan aku dengan cucu nenek yang lain, "
"Jangan kamu bawa-bawa orang yang jelas-jelas tidak ada hubungannya sama sekali!"
Dani mendengkus, menghempaskan tubuhnya dikursi panjang dekat dengan tempat tidurku.
"Kenapa malah duduk? Bukannya bantuin Wahyu yang kerepotan!"
"Wahyu terussss! terus saja banggakan dia! " lantas berlalu pergi menyusul Wahyu yang masih sibuk mengurusi barang-barang ku diluar rumah.
BRAAAKKK
Dengan penuh amarah Dani menendang pintu. Benar-benar keras kepala.
"Keras kepala. Otaknya di simpan dimana? untung saja cicitku tidak kaget." maki nenek lagi.
Aku diam. Peduli apa aku padanya? Laki-laki keras kepala! Semuanya harus serba pake urat.
__ADS_1
Menghela nafas berat... Hembusan nafas ini serasa tidak pernah mau membawa bebanku ynag sudah sangat berat aku pikul.
Kududuki kasur yang sudah siap aku tempati itu. Rasanya lelah sekali hidup seperti ini. Selalu berdebat dengan kenyataan yang begitu pahit. Senyaaman apapun tempat ku ini, tidak ada yang senyamam kehidupan ku dulu saat ayah masih ada.
Dunia ini luas. Tapi terasa sangat sempit bagiku. Nafasku juga sering sekali sesak bila harus berseteru dengan wanita minim itu. Tidak terkecuali keluarga ini. Sebenarnya apa yang dia mau? Bukankah Dani sudah sepenuhnya menjadi miliknya? Kenapa dia harus terus mengusik ku seperti ini?
"Geulis, kamu sudah makan?" tanya nenek padaku yang mulai bersandar pada tumpukan bantal tepat dibelakang punggung ku.
Kugelengkan kepalaku perlahan dengan mata terpejam, tak lupa bahu yang menyender karena terasa berat.
"Makan dulu Geulis, nenek ambilkan ya?"
"Tidak usah nek, Wahyu sudah pesan makanan khusus buat dia. Dia kan masih mapas. Wahyu mau suruh dia buat banyak makan buah dan sayur," Sela Wahyu yang baru saja masuk dengan membawa beberapa bungkus pelastik besar. Lalu menaruhnya dekat dengan ranjang ku.
"Nggak perlu A. Aku ngantuk mau tidur."
"Jangan tidur dulu lah, nggak boleh tau! Aa buatin jus ya, Biar kamu nggak ngantuk."
"Nggak usah." kataku dengan suara lemas.
"Buatkan saja Yu, nggak perlu harus tanya dan bilang dulu," kata nenek.
"Wahyu takut nanti nggak diminum nek, kalo nggak nanya, " dengan berlalu pergi kedapur. Membawa kantong kresek kecil. Mungkin isinya buah buahan.
Waktu terasa singkat, setelah wahyu membuatkan aku jus mangga, dia langsung berbaring dekat dengan putriku. Meskipun harus berdebat dengan bapaknya si bayi dulu.
Malam ini Dani juga mengundang temannya untuk menemani begadang. Sementara Wahyu, asik mengobrol denganku didalam.
"Na. Kamu tidur aja, biar Senja Aa yang tungguin." katanya, Aku mengangguk dengan mengembangkan senyumanku namun mata yang sedikit mulai terpejam.
🌴🌴🌴
Aku mengerjap, saat sinar matahari pagi menembus celah jendela dan terkena mataku yang mulai silau. Remang-Remang mataku melihat sosok laki-laki yang tengah melamun, tepat ditengah pintu. mataku juga mulai berkeliling melihat seisi rumah ini terasa sangat sepi sekali, anak gadisku juga masih tertidur pulas. Namun terlihat bersih dan seperti yang sudah mandi.
"A Wahyu, " panggil ku, dia menoleh tersenyum berjalan kearahku.
"Ciee dah bangun."
"Rumah sepi banget A, pada kemana? " tanyaku penasaran.
"Pada kerja lah. Lihat jam dong, Anak gadisku juga sudah cantik dan wangi, " katanya lagi.
Ahh... aku jadi malu sendiri, saat mataku melihat arah jam dinding sudah pukul sepuluh pagi menjelang siang.
"Kenapa nggak bangunin aku, A?"
"Semalaman kan kamu begadang, aku nggak tega bangunin kamu, mending kamu mandi, terus lanjut sarapan. Biar senja Aa yang tungguin, "
"Ya udah." Aku beringsut perlahan. Geseran pantatku sangat membuat sakit dibagian **** * ku yang kemarin bekas dijahit. Rasanya ngilu ngilu aduhay gitu. Berjalan perlahan menuju kamar mandi, tak lupa aku membawa kasa dan betadin untuk aku balut dibagian jahitan ku.
"Mau Aa bantu,"
"Nggak usah A, "
"Wahyuuu! Pulang kamu! " Teriak seoarang wanita. Membuat aku dan Wahyu menoleh ke asal suara itu.
__ADS_1
"Mama?" lirih Wahyu.
Sungguh benar-benar diluar dugaan ku, seakan tersambar petir disiang bolong. ibu Mary mendorongku hingga aku terjatuh membentur tembok.
PLAAAKKK
Tanpa ampun dia menjabak rambutku, hingga aku tertunduk merintih kesakitan.
"Mamah hentikan!" sergah Wahyu, berusaha melepaskan jambakan tangan mamanya pada rambutku.
"Tolong lepaskan saya!!" pekikku, sekuat tenaga aku berontak, darah nifas ku bercucuran akibat benturan keras pantatku ditembok dan lantai.
Aku menangis menahan sakit. Teriakan ku dan isak tangisku seakan tidak dia pedulikan.
"Mama lepaskan mah. Dia kesakitan!" Teriakan Wahyu juga dia abaikan. Justru malah semakin mengunyeng unyeng rambutku.
"Wanita sialan! Kurang ajar!!" makinya sembari terus menyiksaku.
"MAMA!! CUKUP!! " teriak Wahyu.
Dengan dorongan amarah yang membara ibu Mary menghempaskan rambutku hingga aku kembali membentur tembok.
JDUGGG
PLAKKK
Badanku lemas, pipiku juga terasa sangat perih, aku tak kuasa untuk beringsut apalagi berdiri. Darah nifas ku semakin banyak, sarung yang aku pakai pun basah akibat darahku yang terus mengalir.
"Cukup mah! Ya Allah.. " Wahyu terus mencegah ibunya yang kesurupan jin tomang.
"Astaghfirullah... Mary!!" teriak nenek, berlari cepat kearahku, belanjaan yang nenek bawa pun dia jatuhkan karena melihat aku yang sudah tidak bisa apa-apa lagi.
Seketika dunia menjadi gelap. Sekejap semua terasa hening. Aku tidak bisa melihat apapun, aku tidak dapat mendengar apapun.
Dengan tangan meraba-raba dan air mata yang terus berderai tanpa henti.
"Kenapa semuanya gelap? kenapa semuanya terasa sunyi seperti ini? kalian semua kemana tolong aku!!" teriakku sekuat mungkin. karena sungguh aku tidak bisa mendengar dan melihat apapun.
Ku genggam erat saat tangan seseorang mengusap pundakku, dan bahkan membopongku.
"Tolong bicara, ini siapa yang menggendong ku? A Wahyu? nenek? Tolong kalian bicara!! " teriakku tanpa henti.
Aku terus berteriak, tapi nihil. Semuanya diam. Semua terasa hening. Aku tidak mendengar apapun.
"A Wahyu, kenapa aku tidak bisa melihat? kenapa menjadi gelap begini? " tangisanku semakin pecah. Sebenarnya apa yang terjadi denganku? kenapa mendadak aneh begini?
Apa aku buta?
Atau bagaimana ya Allah...
Penderitaanku seakan tidak pernah berhenti. Sebenarnya apa yang terjadi denganku??
Halloo kaka readers 🥰🥰🥰
Ayo dong dukung author dengan klik 👍 komen dan vote. jan lupa buat kasih rating 5 nya jugaaa yaa. biar makin semangat nulis sampe tamat 😁😁😁😁
__ADS_1
terimakasihh 😘😘😘😗😗