
"Aku dimana?" gumamku dengan mata memutar mengelilingi setiap sudut ruangan yang begitu hangat.
"Kamar hotel? " ucapku lagi sedikit dengan mengerutkan dahi ku.
Aku merubah posisiku yang tiduran menjadi duduk menyender, dan aku baru ingat, kejadian sore tadi yang menimpaku. Sedikit masih pusing kepalaku, remang mataku melihat.
Teringat keinginan Dani, seketika aku melihat tubuhku dengan masih berpakaian lengkap, pakaian yang tadi aku kenakan. Berbalut selimut warna pink.
"Syukurlah... " lirihku dengan mengusap dadaku.
"Tapi, A Dani mana?" tanyaku pada diriku sendiri. Karena tidak melihat batang hidungnya sedari tadi. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
Ceklek.
Pria yang aku cari tersenyum padaku dengan membawa sepotong kue di tangan kirinya. Aku terus menatap nya tanpa berkedip dengan raut wajah menekuk.
"Udah bangun yang?" tanya Dani tersenyum manja padaku. Kemudian langsung menutup pintunya lagi.
"Kenapa bisa ada di sini! aku udah bilang, kalo aku mau pulang!" bentak ku. Dengan melipat kedua tanganku dan wajah berpaling.
"Gimana kita mau pulang, kamu pingsan, darahmu keluar terlalu banyak tadi yang! Aku nggak tega biarin kamu seperti ini! Tolong kamu ngerti dong!"
Ini yang nggak aku suka. Bukan nya minta maaf, atau bicara baik-baik. Malah balik membentakku.
"Tapi aku mau pulang!!"
"Di luar hujan deras yang!! "
"Aku tidak peduli! Pokonya aku mau pulang! "
"Diluar hujan deras. Mau pulang gimana? kamu pikir rumah mu ini deket apa? " makinya padaku, membuat aku semakin takut melihatnya.
Aku terpaksa diam, tidak menjawab. Aku hanya takut jika dia mengambil kesempatan dalam kesempitan lagi, apalagi dengan otaknya yang mesum itu.
Ya Allah, lindungilah aku. batinku.
Mataku berkaca-kaca. Kulihat dia, raut wajahnya nampak kesal padaku.
"Maaf, aku minta maaf, " ujarku lirih dengan wajah menunduk takut.
"Kalo minta maaf yang iklhas dong!" sautnya.
"Iya Aa, aku minta maaf, maafin aku ya?" Aku memohon menggenggam tangannya erat. Terpaksa, karena dia masih menunjukan wajah kesalnya padaku, berdiri di depanku. Kemudian berjongkok dengan memberikan kue yang dia bawa tadi.
"Iya,aku maafin. Nih makan kue nya!" dengan menyodorkan sepotong kue bolu padaku.
__ADS_1
"Terimakasih." Lantas aku melahap kue pemberian Dani tanpa basa basi. Suapan pertama masih aman. Aku mengunyah dengan terus melihat Dani yang juga terus melihatku dengan senyuman manisnya. Suapan kedua, dan disitu aku mengunyah kaya batu tapi nggak tau lah, aku langsung memuntahkan nya.
"puihh! apaan nih?" gerutuku dengan memuntahkan kue itu ke tisu, dan betapa terkejutnya aku saat melihat apa yang baru saja aku makan.
"What!cincin?" Aku terkejut bukan main, ke difilm-film aja.Ku tatap wajah Dani sembari menunjukan sebuah cincin yang aku pegang.
"Ini apa maksudnya?" Aku terus bertanya-tanya, ada rasa haru, bahagia dan pokonya bercampur aduk lah.
Dia tersenyum padaku, "Itu cincin lamaranku, kamu mau kan menikah denganku? menjadi ibu dari anak-anakku, dan menjadi istriku satu-satunya?" ucapnya sangat jelas, sambil memasukan cincin itu kejari manisku.
"Kamu serius?"
Deg deg.
Jantungku mulai berdetak kencang, kayanya bentar lagi jantungku mau lompat kegirangan deh.
"Sangat serius yang, kamu nggak mau ya?"
"Aku mau, aku mau banget." Sumpah, jantungku udah loncat keluar dan ikut berjingkrak-jingkrak kegirangan bersamaku.
Aku sangat bahagia, di lamar dengan cara so sweet kaya gini. Erna... kamu sangat beruntung bisa memiliki pria seperti dia. Romantis dan juga baik.
"Terimakasih A, terimakasih banyak." Aku memeluk Dani erat, rasanya nggak mau lepas.
"Yang, kamu deg degan ya? suara jantungmu kerasa banget yang." ucapnya dengan tersenyum manis padaku, lalu mencium keningku lembut dengan singkat. Kemudian memelukku erat.
"Jangan pernah tinggalkan aku yang, " ujarnya masih memeluk.
"Aku tidak akan meninggalkan mu. Justru aku yang takut di tinggalkan oleh dirimu. karena aku tau, siapa diriku, "
"Jangan bicara seperti itu yang, "
"Aku hanya takut, A. "
"Jangan takut sayang, tidak ada yang harus kamu takutkan." ujarnya terus memelukku. Aku sangat nyaman berada dipelukannya. Hangat dan tenang. Itu yang aku rasakan saat berada dipelukannya.
"Nggak usah grogi yang, kaya baru kenal aja." ucapnya masih terus memelukku. Dan menyingkapkan rambut panjangku.
"Aku gugup A. Kamu romantis sama aku. "
"Itu karena kamu adalah wanita yang sangat aku sayang. "
"Terimakasih," dia mengangguk mengelus pucuk rambutku dan membelainya lembut.
Aku terlena...
__ADS_1
Aku terbuai...
Iblis benar-benar sudah merasuki kami berdua. Pikiranku melayang jauh ke angan-angan.
Otakku seakan tidak bisa berfungsi dengan baik. Acap kali aku mendengar suara getaran ponsel ku dan Dani. Tapi, kami acuhkan getaran ponsel itu.
Dua raga bersatu dalam jiwa, membelenggu asmara... Cinta beradu padu. Sesekali aku beringsut, namun Dani terus mendekap ku tanpa ampun.
"Jangan lakukan ini A. Please... " bisikku.
"Aku akan tanggung jawab sayang, "
"Aku tidak mau A, " namun apalah dayaku, serangan Dani begitu kuat, sehingga aku tak mampu melawannya, dan akhirnya terjadilah apa yang aku hawatirkan selama ini.
Rintihan dan jeritanku tidak dia hiraukan.
Malam penyesalan yang akan terus teringat dalam hidupku.
Aku terus menangis, menyesali perbuatanku. mencoreng nama baik keluargaku sendiri, jika aku sampai mengandung seorang anak.
Ingin rasanya aku memukul dan mencabik-cabik pria yang saat ini masih memelukku, enak-enakkan tidur, sementara aku harus meratapi nasibku.
Aku tau dia sangat mencintai ku, tapi, keluarga nya sungguh bertentangan denganku, aku takut, jika kedua orang tuanya tidak merestui kami berdua.
"Pria macam apa kamu ini! " dengan suara parau aku memukuli diriku sendiri.
Selimut pink yang kini di hiasi bercak darah merah keperawananku, menjadi saksi bisu akan kehancuran hidupku.
Aku sangat menyesal. Aku terus menangis tersedu.
"Ya Allah... Ampuni aku.. " desisku dengan isak tangis tiada henti. Kutatap lagi pria yang masih terpejam ini, kulihat dia juga tidak memakai sehelai benang pun. Hanya selimut saja yang menutupi tubuh kami berdua.
Hingga pagi menjelang, aku tak berhenti menangis... Bayangan wajah ayah dan ibuku seakan terlintaa dimataku.Penyesalan ku tidak ada gunanya.
Wajah teduh mereka membuat aku semakin menyesal. Aku sudah berzinah.
Aku takut dia akan meninggalkan aku. Apalagi jika aku sampai hamil anak nya, apa dia akan benar-benar bertanggung jawab?
Dani. Kamu brengsek. Cegahan ku sama sekali tidak kamu hiraukan. Justru malah memaksaku harus melakukan nya. Tanpa rasa berdosa kamu tertidur begitu lelap nya.
Apa kamu tidak memikirkan aku yang seperti ini?
"Ya Allah... Ampuni aku... " tak henti-hentinya aku memohon ampun pada yang maha kuasa, merintih dan memeluk lututku.
🥺🥺🥺🥺
__ADS_1