My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
67


__ADS_3

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dan lumayan menguras tenaga, akhirnya aku dan Bara sampai di salah satu cafe yang yaaaa......bisa di bilang cocok buat anak seumuran aku yang baru 17 tahun dan menginjak ke 18 buat nongki nongki alay.


"Cafe siapa sih ni sebenernya?" Tanya Bara sembari memandangi cafe yang ada di depan matanya.


"Faiz. Lu masih inget kan sama temen gue yang namanya Faiz. " jawabku sembari turun dari motornya dan membuka helm. "Nihh, gue balikin. Udah nggak butuh! " ledekku menertawai nya yang masih asik bengong. Tapi tangannya tetap merespon.


"Yuk lah masuk, " ajakku mendahului tanpa menunggu jawaban darinya.


"Eeehhh eehh ehh, tunggu dulu woii. Maen nyelonong aja lu. "cegahnya sembari menarik tasku, sontak membuatku ngerem mendadak.


"Apa lagi si? "


"Emang lu yakin? " tanya nya lagi memastikan.


"Ya ellaahh sodikinnnn. Yakin lah. Ayookk" ajak ku lagi dengan memaksanya sembari menarik bajunya sampai melar.


"Lu udah buat janji belum sama dia. "


"Etddahhhh Maemunah!! buru turun dan ikut gue atau gue tinggal lu disini. Terus tersesat dan di culik? mau lu? " ancamku. sebenernya si nggak harus gitu, lagian mana ada penculik yang mau nangkep anak wedus kaya dia.


"Yuk lah! " Lantas dia pun mengikuti aku dari belakang.


Banyak pengunjung yang datang, ada yang berpasangan, segerombolan laki ama cewek, ada yang cewek semua, ada yang cowok semua. pokonya campur aduk, apalagi dengan lantunan musik klasik yang diiringi oleh band indi itu. Membuat semakin nyaman dan betah berlama-lama disini.


Mataku seketika berkeliling saat semua fokus menatap padaku, kulihat diri ini. "Apa ada yang salah?" gumamku, tapi menurut ku ini cukup trendy ko, dengan celana lepis pensil, kaos polos hitam yang ukuran nya over size, karena BB ku 50 kg tinggi 156 dan topi yang menghiasi rambut gimbal ku, tak kurang jam tangan yang menempel di pergelangan sebelah kiriku, beserta tas tukang becak warna hitam yang asik bergelayut di badanku. Apanya yang salah?


"Ahh sudahlah... " lirihku tanpa peduli dengan sekitar.


"Oii Na. tungguin napa sih! " teriak Bara dengan berlari kecil menyusul ku.


"Cepetan samsulll. lama lu ah kaya mau ijab kabul aja lu! " teriakku lalu meninggalkan nya.


RESEPSIONIS


"Permisi mbak, Faiz nya ada? " tanyaku tanpa basa basi.


"Maaf dengan mbak siapa? "


"Erna."


"Oke, tunggu sebentar. "


Baru saja si mbak ingin menelpon si cunguks Faiz. Taunya dia udah nongol. "Oii Na, sini!! " teriakknya dengan melambaikan tangan padaku. Kulihat dari jauh, ternyata Hada dan Dedi sudah nongki lebih awal. Aku tersenyum lantas menghampiri mereka.


Tanpa aku sadari Bara yang tertinggal.


"Woiii... apa kabar lu... " sapaku dengan gaya tomboyku.


"Baik cuyy... " saut mereka kompak. Aku pun tersenyum.


"Hahahahaaa...." kelakar Faiz Dedi dan Hada. Membuat aku semakin bingung.


"Napa sih lu pada?? nggak di sana nggak di sini ngetawain gue mulu da! " decakku.


"Lu niat nggak sih kesini? ya setidaknya lu kan mau ngelamar kerja ke gue, " ucap Faiz


"Halaaahh. to the point aja Iz. Napa? "

__ADS_1


"Lu liat ke bawah, " titah Hada dengan menahan tawanya. Lantas mataku melirik ke bawah, dan ternyata...


"Astagfirullah.." Auto tepok jidat dengan mata membulat sempurna. "Gua nggak ngeuh sumpah! Perasaan tadi gue pake sepatu, "


"Ya sebenarnya si nggak apa-apa pake sendal jepit swalow juga. Yaa setidaknya jangan kiri semua kali... udah mah siang malem lagi. Pantes aja lu di ketawain pengunjung gue, " kata Faiz dengan menahan tawanya


"Anjriittt!! " seketika wajahku pucat menahan malu. Udah mah tadi aku so cool lagi jalannya pas diliatin. Aku pikir aku ini keren, ternyata!! parah!


"Ya udah, gampang soal sendal. Lu duduk dulu ngapa! " kata Dedi menggeser pantat nya agar aku bisa duduk di tengah.


"Bentaran deh, " ucapku dengan wajah berfikir.


"Apaan lagi? "


"Lahh. perasaan tadi gue bawa obat nyamuk deh. Sekarang mana yak? " mendengar ucapanku membuat roda becak itu melongo menatapku. Tiga becak, Faiz, Dedi dan Hada.


"Obat nyamuk? " tanya mereka kompak


"Iyaa... Ehh bentaran," mataku berkeliling mencari Bara, ternyata dia malah asik ngegombalin tuh resepsionis. "Oii Bar, sini!! Lu malah gombalin cewek lagi! " teriakku. Sontak membuat Bara menoleh dan berlari menghampiri ku.


"Ehh somplak lu. Maen tinggalin aja! " makinya setelah sampai di depan ku.


"Ya lu lama sih jalan nya kaya keong racun. " dengusku.


"Wihh. A Bara. Apa kabar A?" sapa Hada berdiri dari duduknya. Lantas bersalaman dengan Bara di lanjut Dedi yang terakhir Faiz.


"Baek. Jadi ini cafe lu Iz? " tanya Bara dengan mata berkeliling.


"Iya A, ini cafe gua. " jawabnya kalem.


Bara pun mnaggut-manggut, " Keren Iz. mantap lu, usia 18 udah punya usaha sekeren ini. "


"Ayo duduk lah. Jangan terlalu muji gue, tar terbang kagak balik lagi bisa gawat. " celoteh nya.


Lantas kita berlima pun nongki-nongki sambil minum jus Alpukat dan cofee Ness yang menjadi menu andalan di cafe ini. Bercerita kesana kemari kian gembira umpan yang lezat itulah yang di cari ini dianya Yang terbelakang..... Ular Naga, wkwkwk


"Anak lu sama siapa? " tanya Faiz, membuat Dedi dan Hada menatapku serius. Kutatap wajah Bara, dia mengerti.


"Ceritanya panjang, nggak bisa di ceritain disini cuy. " jawab Bara sesekali meneguk minuman di meja, "Sorry, bukannya gua so tau. Tapi ya emang gua tau. " imbuhnya.


"Sorry Na, kita nggak bisa jenguk lu. Yaa lu juga kagak ngasih tau kita. Kita mana tau lu sengsara kaya gini. " ucap Faiz, "Tapi lu tenang aja, gue terima lu kerja disini, cuma ya tetep aja gua interview dulu. Lu nyanyi disana sama A Irfan. Yang duet duet gitu. Gimana? kalo penonton dan pengunjung suka. Gue langsung terima lu dengan gaji dimuka! " imbuhnya panjang kali lebar


"Dimuka? Gila aja lu. Gue bawa tas kali Iz. Waahh parah lu, emang muka gue meja! " protesku.


"Maklum, otaknya agak geser dikit. " saut Bara dengan mengusap rambut ku perlahan. "Sana gih, nyanyi yang enak yaa. "


"Yaelah romlah, panggil dulu napa a Irfan nya. Masa gua yang nyosor sana sih! " protes ku. "Terus sepatu gue juga? " kutatap mereka secara bergantian memberi isyarat.


"Etdah, ribet bener. Yang mau kerja sapeee yang repot sapee! " gerutu Faiz, ia pun masuk kedalam entah hendak apa aku pun tak tau.


"Ya udah lah Iz. Sama bespren ngeluh mulu lu ah! " bela Dedi padaku.


"Tau tuh, gue lagi susah juga! " decakku dengan wajah ditekuk so cantik.


Lima menit kemudian Faiz datang dengan membawa sepatu yang cukup bagus lah untuk aku pakai. "Nih darwijem! " tukasnya sembari memberikan sepatu itu padaku.


"Thanks ya Iz. Semoga amal ibadah lu di terima di sisi Allah SWT, Aamiin. " ucapku sembari memakai sepatu itu dan membuang sendal legen siang malamku.

__ADS_1


"Lu kira gue mau mati! " saut Faiz kesal.


"Haha... "


"Wihh... keren lu Na. Kaya masih gadis. " puji Hada dengan menatap takjub padaku.


"Gadis rasa janda. Sangat menggoda, " ledek Bara dengan tersenyum jahat.


"Huuh. kamprett! "


"Dah jangan debat mulu. Sini ikut gua." tanpa menunggu jawaban dari ku, Faiz menarik lenganku dan membawaku ke panggung untuk bertemu dengan a Irfan sang vokalis + ketua band ini.


"A, ini temen yang aku ceritain kemarin. " ucap Faiz memperkenalkan aku.


"Halo A, Assalamu'alaikum. " Sapaku.


"Waalaikum salam. Ini kan yang tadi di ketawain."


"Muhun A, biasalah... " jawabku ramah.


"Jangan so cool deh lu! Biasa aja. A Irfan udah nikah! " kata Faiz. Sementara Irfan hanya tersenyum melihatku dan Faiz yang konyol.


"Yeeee. Lu pikir gue cewek apakah yang doyan laki orang! " ketusku menyenggol bahunya.


"Oke Iz."


"Gue balik sana dulu. Lu nyanyi yang enak. Awas lu bikin telinga gue pecah! " ancam Faiz dengan menuding ku. Tentunya dia hanya bercanda gaes.


Dan Akhirnya A Irfan pun mengenalkan aku kepada para pengunjung, Tanpa menunggu lama lagi, alunan musik pun di mulai.


Dengan santai aku duduk di kursi bar dengan di temani a Irfan, meskipun grogi nya mintak ampun. Tapi aku harus terbiasa agar bisa di terima kerja di sini.


"A Irfan. Request lagunya GIGI dong, 11 Januari. " teriak pengunjung yang seperti nya sudah sering nongki disini.


Musik sudah di mulai...


Dengan tarikan nafas, aku memulai untuk menyanyi di lagu pertama ku.


Sebelas Januari bertemu


Menjalani kisah cinta ini


Naluri berkata engkau lahh milikku....


Akulah penjaga mu.. Akulah pelindung mu...


Akulah pencinta mu disetiap langkah-langkahku...


Kau bawa diriku kedalam hidupmu...


Kau basuh diriku dengan rasa sayang...


Senyummu juga sedihmu... Adalah hidupku.


Kau sentuh diriku dengan lembut....


Dengan sejuta Warna......

__ADS_1


Baaabaaayyyyy see you next part 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2