
Kami seperti sepasang suami istri. Wahyu... terimakasih sudah menemani aku. Yang seharusnya Dani, tapi malah kamu yang ada disaat genting begini.
Kesabaran dan ketekunan Wahyu membuat aku semakin yakin untuk menjadikan dia sebagai pengganti Dani.
Aku yakin, pria ini mempunyai pendirian yang kuat. Tidak seperti Dani yang katanya hanya mencintaiku tapi tak pernah menceraikan istrinya demi aku.
Alih-alih selalu melibatkan pak Aldi sebagai alasannya.
"Perut kamu masih mules?" tanya Wahyu padaku saat aku mulai tenang dan tidak merintih-rintih.
"Masih lah A. Sakit juga. Tapi nggak terlalu parah sih."
"Coba kamu jongkok, sambil dilebarin kakinya, biar cepet dapat pembukaan. Biar rasa sakit kamu juga cepet ilang. Terus dede bayinya lahir deh, bisa liat mamahnya yang kuat terus cantik lagi."
'Kamu pintar sekali memujiku hingga aku terbang ke planet lain.' batinku, hingga aku mencetak garis lengkung tipis dibibirku.
Aku mengangguk menuruti Wahyu. Berjongkok dengan melebarkan kakiku, rasa malu pun sudah tidak aku hiraukan.
Mungkin rasa maluku kalah dengan rasa 1000 penyakit menjadi satu ini.
Mulesku memang tidak seberapa, tapi rasa sakit tetap sangat luar biasa.
Sudah 2 jam aku berjalan dan berjongkok. Kesana kemari mengitari sekitar rumah bu bidan ini.
Hingga beberapa saat, bu bidan pun mendekatiku.
"Kita masuk dulu ya pak." Ujar bu bidan itu.
"Jangan panggil bapak dong bu, usia saya baru 22 tahun," kata Wahyu memberi tau. Karena memang bu bidan ini sudah terlihat berumur. Rambutnya saja sudah beruban.
"Oh... haha oke. Ternyata usianya seumuran sama anak saya." Celoteh bu bidan, sambil tertawa-tawa.
"Iya bu Dok, terserah panggil saya apa aja, yang penting jangan bapak." Kata Wahyu lagi.
Sontak aku memukul tangannya, "Bukannya kamu mau jadi bapak? Ya wajar lah..." Selorohku. Niatku hanya untuk menjahilinya.
"Oh iyaa... maaf sayang, tapi kan tetep aja da Aa teh masih muda. Haha..."
"Serah deh, disaat begini masih bisa ketawa. Istrinya lagi bertaruh nyawa juga ih!!" Ketusku berpura-pura lagi.
Aneh... ya, memang aneh. Perutku ini sakit dan mules, tapi rasanya biasa saja. Entah kenapa aku sendiri bingung.
Mau melahirkan seorang anak, tapi sakit dan mulesku ini seperti biasa saja.
Entahlah... tidak seperti kebanyakan yang aku lihat. Semua nya pada terlihat .... Ahhh aku tak bisa menjelaskan bagaimana seorang wanita mau melahirkan. Tapi, aku...
"Biar saya cek lagi pembukaan nya," Ucap bidan desa itu.
"Iya dok." Wahyu kembali membantu aku berdiri, dituntun lagi masuk kedalam rumah bidan desa ini.
Setelah masuk kedalam ruangan dan merebahkan tubuhku. Kakiku seketika dilebarkan oleh bidan itu tanpa selimut lagi yang menutupi area kemaluanku. Otomatis Wahyu pasti melihatnya.
Ada rasa malu dalam batinku. Aku mencubit tangan Wahyu, saat dia kepergok menengok sedikit bagian itu. Sontak Wahyu terjinggut kaget dan menatap mataku kaku.
"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan A." Ucapku sambil meringis kesakitan. Sangat sakit saat bidan itu merogoh kemaluanku.
"Duuh. Biarain aja atuh neng, Suaminya kan pengen liat dede Bayinya juga. Iya kan pak? Ehh mas." kata bidan itu sambil mengecek kondisi-ku. Namun masih berceloteh.
Wahyu hanya tersenyum. Akupun ikut tersenyum. Andaikan saja bidan ini tau, bahwa pria disampingku bukan lah suami atau bapak dari anak ini.
Entahlah... aku sendiri sudah pusing mikirin hidupku yang begini adanya. Penuh drama dan misteri.
Kenapa aku bilang misteri?
Soalnya banyak nenek lampirnya... 😅😅
Uppsss... 🤭🤭
"Ada kemajuan, udah mulai pembukaan 5. Alhamdulillah..."
"Alhamdulillah... semangat sayang," Wahyu menimpali ucap syukur. Memberikan aku semangat dengan tak henti-hentinya tersenyum padaku.
Bahkan membelai pucuk rambutku.
Tak terasa air mataku berlinang. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Ibu muda.
Tapi... tetap saja hatiku sedih, jiwaku hampa. Kelahiran anakku tak didampingi oleh bapaknya.
Sudah 3jam aku berada disini. Dirumah bidan ini, berangkat dari jam 6 pagi sampe sudah jam 8.
"Bangun lagi ya neng, jalan-jalan lagi kaya tadi. Biar cepet pembukaannya." titah bidan itu. Aku hanya manut saja apa kata bidan. Yang penting aku bisa cepat melahirkan anakku dengan lancar dan tanpa hambatan.
"Nuhun bu bidan." Wahyu kembali menuntun-ku turun dari ranjang. Berjalan-jalan lagi seperti tadi.
Keliling halaman rumah bidan ini lagi. Karena kebetulan rumah bidan ini terdapat taman yang cukup luas dan bagus. Setelah hampir setengah jam aku berjalan dan jongkok. Tiba-tiba saja badanku terasa berat kepala ku juga pusing.
"A, badanku lemes banget. Nggak kuat berjalan." Lirihku dengan tangan bertumpu bahunya.
"Kayanya efek kamu belum makan apapun."
"Aku nggak mau makan. Lemes banget ..." Keluhku
"Bentar sayang, Aa panggil bu bidannya dulu." Aku mengangguk. Membiarkan Wahyu berteriak memanggil bidan itu. Lantas memberi tau bahwa aku lemes dan sedikit pusing.
Secepat kilat bidan itu mengambil alat tensi. Untuk mengecek darahku. Ternyata setelah di cek sambil berdiri ditempat tadi. Darahku rendah, hanya 90.
"Lebih baik istrinya dikasih minum Pocary aja mas. Biar ada sedikit tenaga, dan nggak lemes," saran bidan desa itu.
"Belinya dimana ya dok?"
"Disana ada warung. Silahkan mas nya beli dulu. Biar istrinya saya yang tungguin."
"Oh... terimakasih dok. Tolong jaga istri saya. Saya cuma sebentar ko."
"Baik. Silahkan..."
__ADS_1
Kulihat Wahyu berlari menjauh kearah warung sebrang untuk membeli minuman ion tubuh.
Sementara aku ditemani bidan desa ini. Tapi sejak tadi dia hanya sendiri, apa bidan ini tidak punya asisten atau suster pribadi??
"Bu. Kenapa dari tadi ibu hanya sendirian? Apa ibu nggak punya asisten atau suster?"
"Ada neng. Tapi dia belum datang. Biasanya sih sudah datang. Kenapa emang?"
"Nggak apa-apa bu. Cuma nanya. Hehe,"
"Oh... kirain apaan. Suami neng sigap banget ya. Apa kalian masih pengantin baru?" Pertanyaan bu bidan ini membuat seketika gagu. Bibirku berat untuk mengucap kata, dan akhirnya aku cuma tersenyum menanggapi pertanyaan bu bidan ini.
Ya habis, aku mau jawab apa lagi.
"Bu bidan. Aku mau berak. Mules banget bu..." Rintihku mendadak.
"Ayo neng. Kita masuk. Kita ke kamar mandi ya..."
"Iya bu."
Aku kembali berjalan masuk ditemani bidan desa ini. Setelah berada di kamar mandi aku berjongkok di atas WC jongkok.
"Bu, kalo aku melahirkan disini. Nggak apa-apa kan?" pertanyaan konyol memang. Tapi itulah rasaku saat mau melahirkan, berbicara asal ceplos.
"Iya neng. Nggak apa-apa. Yang penting lancar."
"Tapi nanti anakku masuk ke lubang kloset dong bu."
"Ya nggak atuh neng. Kan ada ibu disini, jangan hawatir ya... serahkan semuanya sama Allah... banyakin istighfar,"
Aku kembali mengangguk, "Bu, Mules tapi kok nggak keluar-keluar ya bu? Padahal mules banget aku..." aku terus mengoceh seperti anak kecil.
"Iya terus mengejan ya neng. Nggak apa-apa kok. "
Aku mengangguk lagi. Terdengar langkahan kaki dari luar.
"Lho, ko disini?" kata Wahyu saat melihatku berada dikamar mandi. Lantas segera menggantikan posisi bidan itu. Memegangi kedua bahuku.
"Nggak apa-apa mas, wajar..."
"Minum ini dulu sayang. Biar nggak lemes,"
Aku menggeleng kan kepalaku. Boro-boro mau minum. Mikirin perut sama mules aja udah nggak bisa mikir lagi.
Mendadak aku berteriak keras, karena perutku semakin mules dan sakit.
Hingga aku menangis tak tahan menahan rasa nyeri ini.
"A perutku sakit..." Lirihku dengan isak tangis.
"Sabar ya.. nggak apa-apa ko sayang. Kamu terus mengejan aja ya. Ada aa disini."
"Iya neng. Ada bu bidan juga. Mengejan aja nggak apa-apa,"
"Sakit banget. Aku nggak jadi berak deh. Nggak keluar-keluar dari tadi. Aku pegel jongkoknya!!" Emosiku mulai labil. Kadang nangis kadang nggak. Semuanya bercampur menjadi satu.
Aku terus menangis, perutku yang mules ditambah rasa nyeri dan panas membuat kecengenganku keluar. Airmataku terus mengalir deras, meskipun Wahyu disampingku, tapi tetap saja. Aku butuh ibu. aku butuh ibu disampingku. Menemaniku.
"Jangan nangis sayang, Aa disini."
"Aku mau ibu A. Aku mau ibu Disini. Telpon ibu sekarang A. Aku butuh ibu."
"Sabar sayang, sabar..."
"Ibunya emang kemana mas?" Timpal bu bidan itu.
"Di kampung dok. Kita nggak sempat ngasih kabar. "
"Ohh, begitu. Sabar ya neng. Yang penting suaminya ada menemani." Kata bidan itu membujukku dan menenangkan aku yang mulai histeris kesakitan.
"Lebih baik telpon ibunya aja atuh mas, suruh datang."
Wahyu hanya diam. Mungkin dia juga bingung. Mau ngabarin siapa. Entah akupun tak tau apa yang ada dalam pikiran Wahyu saat ini.
"Aku mau tiduran aja bu. Kakiku pegel, semuanya pegel bu! " bentakku.
"Oke oke, ayo kita masuk."
Aku kembali masuk lagi keruangan khusus bersalin. Merebahkan tubuhku yang mulai lemas. Wahyu juga memberikan aku sebotol minuman ion tubuh padaku.
Memang dengan sedikit memaksaku. Karena aku tetap tak mau minum
Asisten bu bidan juga baru datang setelah pukul setengah sembilan.
"Kenapa kamu lambat? Ibu kan sudah telpon kamu berkali-kali! Tapi nggak angkat!" Ujar bu bidan itu pada susternya dengan nada tinggi.
"Maaf bu, tadi ada halangan," alasannya.
"Sudah, cepat bantu pasangkan infusannya!"
"Baik bu," Segera dia memasangkan infusan ditanganku. Agak sedikit sulit memang, karena tanganku bukan type yang terlihat uratnya. Urat tanganku terbenam dan nyaris tak terlihat. Jadi sedikit lama suster itu memasangkan jarumnya ditanganku.
Kakiku juga mulai dilebarkan lagi, masih tanpa selimut. Aku terus mengejan, sesekali mengatur nafasku.
Kucengkram kuat-kuat tangan Wahyu saat mules ku mulai stabil.
Infusan sudah terpasang,. Beberapa saat tenagaku sedikit kembali saat cairan infusan berwarna pink itu masuk di tubuhku.
"Udah pembukaan 9 tapi kenapa masih belum nongol dedenya ya?" Kata bidan itu.
"Maksud nya gimana dok?" Tanya Wahyu. Sementara aku terus mengejan.
Dirogoh lagi kemaluanku. memeriksa kepala bayiku. Namun anehnya tak kunjung keluar, entah apa yang membuatnya mampet.
Setelah beberapa menit. Anakku tak kunjung lahir. Kepala juga belum nongol.
__ADS_1
Hingga aku kelelahan untuk mengejan lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9:30
"Sabar ya sayang. Kamu pasti bisa!" ucap Wahyu memberiku semangat.
"Kayanya ada yang nggak beres bu." ucap suster itu.
"Iya. Saya tau. Tapi apa sus? Kasian si nengnya sampe kelelahan gitu."
"Sebentar saya pamit keluar dulu dok. ada hal penting."
"Jangan pergi A. Disini aja temani aku..."
"Sebentar ya sayang. Sebentar doang. Ya..."
"Jangan lama-lama A."
Aku menatap punggung Wahyu yang mulai menghilang dari pandanganku. Entah ada hal penting apa sampe harus meninggalkan aku.
Beberapa menit, Wahyu kembali.
Dan mulesku kembali stabil lagi.
"Bu, aku mau pipis..."
"Sus, ambil wadah gede sekarang!"
"Baik bu."
Sekilat suster itu kembali dengan membawa wadah besar, ditadahnya wadah itu dibawah kemaluanku. Hingga akhirnya aku pipis dan wadah itu hampir penuh oleh urineku.
Mataku melebar saat wadah itu di penuhi oleh air urineku.
"Masya Allah... jadi ini yang membuat mampet!" Ujar bu bidan.
"Emang dari tadi kamu nggak mau pipis?" Tanya Wahyu padaku. Aku menggeleng menjawab pertanyaan Wahyu.
"Buang sus," kata bu bidan sembari memberikan wadah itu.
Sontak perutku kembali mules, aku mengejan sekuat mungkin. Tanpa berteriak atau mengeluarkan suara.
Ku cengkram kuat2 tangan Wahyu, keringat bercucuran dipelipis dahiku.
"Terus neng... yaaa... Sedikit lagi..."
Ku ambil nafas dalam-dalam. Hempaskan sambil mengejan kuat, samar-samar kudengar suara bayi, namun kepala itu nyeropot lagi masuk kedalam.
"Terus sayang, kamu bisa. Kamu pasti bisa... aku akan tetap disini menemani kamu," setelah mengucapkan itu, Wahyu kembali mengecup keningku berkali-kali.
Aku semakin semangat. Meskipun kepala bayi itu terus keluar masuk.
"Kayanya harus digunting dikit." Kata bidan itu, "Soalnya mis v nya nggak melar, takutnya sobek. Ambil gunting sus,"
Cekrisss...
Suara gunting itu. Tapi aku sama sekali tak merasakan sakit.
"Tarik nafas lagi ya neng. Lalu keluarkan."
Kutarik nafas dalam-dalam, keluarkan lagi dengan sekuat tenagaku. Dan akhirnya.....
"Eaakk .... Eaaakkk... " Suara baby mungil itu. Nafasku tersengal-sengal.
Wahyu tersenyum padaku. "Selamat ya sayang..."
"Masya Allah... Lucu banget, idungnya nonyclo." Kata bidan itu, lalu memberikannya pada susternya. "Itung dulu jarinya sus. Takut kelebihan," selorohnya.
"Haha... si ibu mah ada-ada aja. Ya Allah lucu amaat, putih banget." Ujar suster, lalu menaruhnya didadaku.
Suara tangisan itu membuat aku tak bisa berucap apa-apa.
Belum sempat aku menciumnya. Suster itu kembali mengambil bidadari kecilku. Dan langsung memandikannya.
"Mengejan sekali lagi ya neng. Temennya belum keluar..." Kata bidan itu.
"Hah?? Kembar dok?" timpal Wahyu.
"Bukan. Temenya itu Ari-ari maksudnya ..."
"Hmmm..."
Aku mengejan lagi, hingga beberapa saat ari-ari itu keluar.
Perutku terasa plong, genyal-genyal kaya jelly, melar juga.
"Oh iya.. lihat jam nya."
"Jam 10 : 45 ya. Ingetin mas jam nya. Hari ini juga hari senin ya,"
"Pasti atuh Dok." jawab Wahyu tersenyum lebar.
"Mas, ini adzanin dulu," ucap suster
Tapi, tiba-tiba...
"Biar aku saja!!" Sela seorang pria yang baru masuk dengan nafas ngos-ngosan, lantas meraih anakku dari tangan suster itu.
Semuanya pada melongo, dengan kedatangan pria itu dan keluarga-nya. Lantas lanjut dengan melantunkan suara Adzan ditelinga anakku.
Aku kembali menangis, kutatap raut wajah Wahyu yang memerah. Tangannya juga terkepal sembari menatap pria yang sedang mengAdzani anakku. Apa dia marah??
Next next ????
Siapa yang mau next ?? 😁😁😁🤭🤭🤭
__ADS_1
Next part ada pov Maya 😅😅
Terimakasih kaka kaka raedersku tersayang tercinta ter teran lah pokonya mah kalo kata A Wahyu 😂😂