My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 7 Masa Lalu.


__ADS_3

Rayuan demi rayuan Dani lontarkan padaku. Aku benar-benar terbuai melayang-layang jika Dani sudah ngegombal.


Meskipun itu hanya dari balik telpon.


Dasar aku.


Aku dan Dani terpaut usia 5 tahun, saat itu usia ku 16 tahun, Dani 21 tahun.


Kami pacaran sejak aku masih duduk di bangku smp kelas 3. Sementara Dani sendiri baru mau lulus kuliah. Aku mengenalnya sudah 1 tahun kurang lebih. Sejak tahun 2010 awal.


Masa Lalu


Waktu itu...


Aku hanya gadis miskin, yang mempunyai kekasih kaya. Aku cukup tau diri, dengan segala keadaanku. Aku juga tidak tau kenapa pria yang bernama Dani Anjasmara itu bisa menyukai gadis sepertiku. Kampungan dan sedikit tomboy.


Saat itu, awal pertama kali bertemu, aku sedang kepasar, membeli baju warna putih. Baju sekolah adikku yang bungsu laki-laki, dan naasnya baju itu malah kotor, karena terlepas dari pelastiknya. Nyaris jatuh pada genangan air hujan sisa semalam yang mengguyur kota Karawang.


Saat aku hendak mengambil baju milik adikku itu, tiba-tiba...


Bruukk


Kaki ku yang membentur batu sedikit berdarah, semua orang menyalahkan Dani, dia harus bertanggung jawab.


Kata-kata itulah yang terus di lontarkan oleh orang-orang sekitar untuk nya.


"Heii bocah, kamu harus tanggung jawab. Liat tuh kaki nya berdarah. Setidaknya antarkan dia pulang!" kata tukang parkir. Sembari menepuk bahu Dani.


"Iya mang iya, saya akan antar dia pulang!" sahut Dani.


Lantas tukang parkir itu memberi kapas dan obat merah padaku, untuk segera mengobati lututku yang berdarah.


"Sini biar Aa saja yang obati," pinta Dani, so akrab.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri, kalo mau pulang, ya pulang saja!" usirku.


"Jangan bawel, kamu mau Aa di pukulin di sini gara-gara ninggalin kamu!" katanya menolak. Pake segala manggil dirinya sendiri Aa lagi, sejak kapan dia nikah sama kakak ku?


Tidak lama berdebat, seorang wanita tua namun cantik menghampiri kami yang tengah sibuk berdebat.


"Ada apa ini, Dan?" tanya wanita itu. Terlihat sangat kerepotan, tangan kanan dan kiri membawa belanjaan banyak.


"Tadi nggak sengaja Dani nabrak dia mah, terus lututnya berdarah," jawabnya.


"Ya udah, kasih aja uang. Beres kan!"


"Nggak bisa dong mah, Dani harus antar dia pulang!"


"Terserah kamu aja, mamah duluan ya. Oya, nama kamu siapa?"


Aku melongo, menunjuk diriku sendiri sambil menatap wanita tua yng disebut mamah itu.


"Saya?"


"Iya kamu!"


"Saya Erna bu. Emang kenapa ya? "


"Oh, nama yang bagus, sebagus orang nya!"


"Terimakasih." kutampakan wajah heranku.

__ADS_1


Wanita itu lantas tersenyum padaku, aku pun membalas senyuman nya. Setelah itu dia langsung pergi dari hadapan kami. Ya... kami berdua.


Dani tersenyum menatapku. Aku mengerutkan dahiku, menatap balik aneh sama pria so ganteng ini.


Apaan coba? ishh... batinku


"Kamu kesini naik apa?" tanya Dani.


"Nebeng, sama temen,"


"terus temen kamu mana?"


"Dia pergi, nggak tau juga kemana, aku kan cuma nebeng,"


"Baiklah, Aa antar ya? bolehkan?"


"Boleh lah."


Sejak saat itu, Dani sering main kerumah ku, dia juga sempat berbicara serius sama Alm ayahku, dia sempat berjanji akan menjaga ku.


Ya begitulah, namun sepertinya takdir berkata lain. Mungkin ini sudah nasibku, seperti ini.


Oke lanjut ke topik awal.


Masih telponan.


"Yang, udah kamu makan kan martabak sama ciken nya?"


"Udah, habis semua malah."


"Pinter..." ucapnya manja, "Kurang nggak?"


"Oke, sekarang kita tidur, besok Aa ada rapat penting!"


"Baiklah."


"Kiss jauh nya sih?"


"Gak ah. Malu. "


"Malu kenapa?"


"Ya malu aja. Kenapa sih. "


"Ya udah, bayy... "


Sambungan terputus.


Aku kembali merebahkan tubuhku, memejamkan mata, dan otw alam mimpi.


_______


Hari ini adalah hari pertama buka toko cabang baru, masih deket sini sih, semalam juga sebenarnya agak ribut di luar. Hanya saja aku malas bertemu sama orang diluar. Lebih baik telponan sambil rebahan. Itu lebih nikmat, terlebih aku yang mempunyai sifat introvert, jadi kagak suka yang rame-rame.


Suara celotehan dan candaan pagi ini sangat ramai, persis kek pasar pagi, lebih tepatnya kaya bebek belum dikasih makan. Ruame banget.


Apalagi karyawan yang dari luar kota juga pada dateng. Wuihh makin rame bangaatttt lah pokonya.


Uda sempat memperkenalkan aku sama semua karyawannya, aku sendiri tersenyum menyambut para senior.


Nah, di situlah aku kenal satu orang, yang sekarang sudah Almarhum.

__ADS_1


Orang nya baek, berisi, tinggi agak sedikit item tapi lucu, sebut saja bang Jawi tuo.


Aku di ajarin teknik Photoshop, cara ngedit foto bagus tapi kagak rumit. Cara mengambil foto Fokus dengan camera lensa.


Selama kerja di sini, kaga ada yang ngelatih aku cara edit foto dengan baik. Bang Zul sendiri kagak pernah ngajarin aku, kalo nggak ada Rian, aku pasti belum bisa ngedit foto sampe sekarang.


Ka baru apalagi, semenjak kejadian waktu itu, dia cuek sama aku. Bodo amat sih, kagak peduli juga gue.


Nah, semenjak aku sama Mely ada di Abadi grup ini, uda Yuda juga memperkerjakan karyawan wanita lainnya di luar kota. Sebelum nya tidak pernah, aku karyawan wanita pertama di Abadi grup ini.


Ya... kata nya sih biar terasa berwarna gitu.


Pagi itu, aku baru kenal sama bang Jawi, tapi dia udah deket aja sama aku. Seneng banget di ajarin sama dia, selain cepat paham, pembelajaran nya juga gampang, santuy kagak pake urat. Nggak kaya bang Zul emosian mulu, haha sory bang, tapi abang tetep baek kok.


Semua karyawan sibuk, Entah sibuk apa. Rian yang biasa nya deket sama aku, kini agak menjauh, entah kenapa. Mungkin lagi ada masalah kali ya.


Dari siang sampe malam aku terus disibukan pelanggan. Bang Jawi dan yang lainnya sudah pada pulang ke tempat nya masing-masing.


"Bang, yang jaga toko cabang baru siapa sih?" tanyaku sama bang Zul.


"Diky sama ikmal."


"Siapa mereka?"


"Karyawan baru lah, siapa lagi."


"Ya, maksudnya tuh siapa nya uda?"


"Ya karyawannya lah, siapa lagi."


"Buseng... Udah ah, malas kali ngomong sama kau!" ketusku, kemudian naik keatas mendekati bi Timah yang berada di lantai tiga.


"Bi... Lagi apa?" tanyaku, setelah berada di atas.


"Nyuci, kamu sudah makan?"


"Belum, lagi diet bi,"


"Haha, diet, udah kurus kering masih mikir diet kamu!"


"Hehe." Jawabku cengengesan.


"Bi, ko tumben udah lewat magrib masih nyuci, biasanya jam 5 bibi udah pulang?" tanyaku penasaran.


Jelas, bi Timah ini kerjanya pulang pergi, dan biasanya itu dia pulang jam 5 sore.


"Biasa, bibi besok rada siang berangkat nya, jadi sekarang bibi mau tambahin waktu!" jelasnya.


"Ooh, gitu." sautku, dengan bibir kumajukan ke depan, membentuk huruf O seperti pantat ayam. Sory pantat, "Ya udah Erna ke bawah lagi ya bik!"


"Lah, kesini cuma mau nanya itu doang? "


"Hehe... Iya. Soalnya nggak biasanya lampu nyala, Erna pikir nggak ada orang, "


"Oh... "


Aku kembali ke bawah. Melayani para pembeli lagi. seperti biasa, ponsel ku kembali bergetar. Ya ya,siapa lagi kalo bukan Dani.


Hampir tiap hari dia menelponku, padahal hanya untuk ngomongin hal-hal yang gak penting, tapi ya gitulah, rada posesif gitu orangnya, tapi aku suka di posesif in sama Daniku yang caem.


Iya caemmm 😅😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2