My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab28 Acara Pernikahan


__ADS_3

Sebenarnya aku juga kangen sama Mely, mau tau penjelasan dia kenapa menghilang sejak aku terusir dari rumah bi Timah, mau bejek-bejek dia sampe bonyok kalo alasannya nggak berbobot.


"A Wahyu, aku mau bikin pisang, bentar ya..." ujarku seraya beranjak pergi meninggalkan Wahyu yang masih duduk menyeruput secangkir susu.


"Iya sayang..." sahutnya.


Seketika langkahku terhenti, mendengar ucapan Wahyu yang membuat jantungku hampir copot.


"A Wahyu bilang apa?"


"Sayang! Iya sayang, emangnya ada yang salah?"


"Hmmm... nggak kok, " gugup banget sumpah, bisa-bisa nya dia ngomong kaya gitu santai banget. Enteng aja gitu kaya nggak ada beban. Aku nggak mau kerayu lagi sama cowok. Aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Jangan sampek aku suka sama Wahyu.


Aku kembali pada aktivitas ku, berusaha tidak memperdulikan ucapan omong kosong Wahyu, kembali kedapur untuk menggoreng pisang krispy. Sudah lama aku ingin makan ini, sambil menunggu Melly yang sudah OTW.


____________


Mely dan Maya datang bebarengan, aku sangat bahagia bisa bertemu sahabat rempongku ini. Bercerita banyak tentang dirinya yang tak ada kabar hingga 5bulan, bahkan menceritakan tentang undangan Dani yang sudah tersebar luas. Bahkan sampai mengundang para pejabat tinggi, kata Maya.


Aku semakin sadar, apalah diri ini yang tidak punya apa-apa, berbeda kasta yang sangat jauh, aku akan akhiri ini semua, meski hatiku terluka. Separah apapun aku akan melupakannya, biarlah dia bahagia bersama wanita pilihan ayahnya. Aku ikhlas jika harus berpisah dengan dia, nikah sirih yang batal aku terima. Mungkin ini adalah akhir dari penyesalan ku.


Hari demi hari, Mely menginap dirumah ini hingga hari pernikahan Dani dan Fitri dilangsungkan.


Wahyu sendiri sibuk mencari gaun yang pas untukku. Maya dan Mely semuanya sibuk masing-masing. Sebelum berangkat kami bertiga berfoto, untuk kenang-kenangan. Andaikan foto itu masih ada, akan aku tunjukan pada kaka² semua yang setia membaca 😊 sayangnya sudah pudar ditelan waktu.


Bunga yang dulu mekar, kini telah layu, bahkan mati dan tidak akan tumbuh lagi.


Benar-benar sakit, harus menghadiri pernikahannya yang mewah dan megah.


"Kamu cantik banget deh," ujar Wahyu, yang juga memakai baju samaan denganku.


Aku hanya menanggapi nya dengan senyuman. Namun tak bisa aku tutupi airmata yang menggenang dipelupuk mata. Sungguh aku tidak ingin menghadiri acara pernikahan mereka. Apalagi dengan keadaan ku yang berperut besar ini. Aku malu.


"Jangan menangis, Aa mengerti perasaanmu, tapi kamu harus kuat, biar mereka tau, wanita yang mereka kira lemah itu, ternyata sekuat ini. Iya kan?" jelasnya, dengan menyentuh pundakku lembut.


Aku hanya bisa menunduk, menyeka airmataku yang hampir menghapus make up ku.


"Please, kamu jangan nangis ya... ayo dong semangat, Aa akan ada di samping kamu." Berujar sambil merengkuhku.


"Terimakasih!"


Maya dan Mely sudah masuk mobil lebih dulu. Sebenarnya aku sangat malu, aku yang hanya orang miskin bisa memakai gaun sebagus ini, bahkan digandeng pria ganteng kaya dia. Meskipun perutku besar, dia sama sekali tidak merasa risih.


Entah aku harus bahagia atau sedih. Mungkin yang lebih dominan adalah sedih, ternyata kisah cintaku hanya cukup sampai disini, hanya karena berbeda kasta.


"Ayo masuk," Wahyu, membukakan pintu mobil untukku. Setelah itu dia berlari ke tempat duduk sebelahku, membelakangi kemudi.


"Jangan sedih gitu dong..." ujar Wahyu, menyeka air mataku.

__ADS_1


"Kheemm..." dehem Mely dan Maya, "Kayanya sebentar lagi aku juga akan sibuk menghadiri acara pernikahan selanjutnya" ujar Maya.


"Pernikahan siapa mbak?" tanya Mely.


"Tuh yang duduk didepan, udahlah Yu, jadiin aja." Celetuk Maya cengengesan.


"Nggak bisa teh, nunggu dia lahiran dulu, baru bisa menikahinya." Mendengar penuturan Wahyu membuatku terbelalak kaget.


"Kamu mau menikahi bebeb aku?" tanya Mely kepo.


"Iya, kamu mau kan menikah sama Aa?" tanya wahyu padaku.


"Maaf A, aku nggak pantes buat kamu. Aku ini hanya wanita murahan, sangat tidak sepadan dengan kamu yang berpendidikan." Tuturku, terdengar Wahyu menghela nafas panjang.


Hening seketika.


Dengkusan demi dengkusan terdengar di telingaku.


Tanpa menjawab Wahyu menginjak gas, menyetir dengan kecepatan normal.


Aku terus menatap jalanan yang cukup ramai dan padat. Pernikahan Dani di selenggarakan di Bandung, sementara kami dari Karawang, butuh waktu beberapa jam untuk sampai ketempat tujuan.


Gedung BBK ( balai besar keramik ) adalah tujuan kami, yang terletak di cicadas, kalo nggak salah, udah lama banget sih soalnya.


Maya sibuk mengabari keluarganya, sementara Mely sibuk mengaca diri. Wahyu juga fokus menyetir. Aku sendiri sibuk memikirkan cara agar aku tak jadi kesana. Jalan tol sudah kami lewati, beberapa menit lagi kami akan sampai ke gedung pernikahan Dani dan Fitri dilangsungkan.


"A stop!!" ujarku mendadak.


"Ada apa?" Wahyu.


"Lho, masih jauh ini!" kata Maya.


"Kenapa beb? Ko berenti?" timpal Mely


"Aku nggak mau kesana! Aku nggak mau! Aku takut, aku takut dipermalukan oleh keluarga kalian! Aku takut sama Fitri, dia pasti akan mencemoohku teh, dia pasti akan mempermalukan aku, aku nggak mau. Jadi sebelum itu terjadi padaku lebih aku nggak ikut masuk!" Cerocosku mendengus.


"Lho lho lho. Naha kitu? Pokonamah kamu ikut! Kamu udah cantik begini mana bisa batal!" Maya menjawab dengan kesal.


"Please teh, aku takut..."


"Na, Aa tidak akan jauh dari kamu, ya." Wahyu mencoba menenangkanku.


"Tapi A, aku tidak mau, perasaanku tidak enak!" Aku terus mengelak, agar tidak ikut masuk.


"Enggak!! Pokonamah kamu harus ikut! Titik. Udah yu, lanjut nyetir, nggak boleh ada yang membantah!"


Aku tertunduk, mendengar penuturan Maya, bagaimanapun aku berhutang nyawa sama dia, aku nurut aja lah. Daripada bonyok.


Wahyu kembali melajukan mobilnya, hingga beberapa menit sampai diparkiran gedung. Badanku panas dingin. Kulihat gedungnya sangat mewah.

__ADS_1


Aku bergeming, tak berani turun. Kado yang sudah aku siapkan aku pegang erat. Apa aku yakin akan menyerahkan kado ini secara langsung??


Mereka semua turun dengan elegan, kulirik Wahyu juga sudah keluar. Aku benar-benar tidak berani keluar.


Tok tok tok.


Kulihat Mely mengedor kaca mobil. Ku buka dan menatap ragu.


"Ayo keluar, ini udah rame banget, ada dangdutannya lho," kata Mely dengan mengembangkan senyuman padaku.


Dia itu kaya nggak mikirin perasaan aku banget deh, masih mikirin dangdutan. Please deh, Mel... Mel...


Aku menggeleng dengan wajah meringis, tiba-tiba Maya mendorong Mely kepinggir, dengan cepat dia membuka pintu dan menarikku keluar secara paksa.


"Cepat keluar, kamu harus buktikan sama mereka kalo kamu ini bisa hidup tanpa dia! Kamu ngerti nggak sih!" Bentak Maya padaku.


Aku yang kesusahan sedikit meringis, karena tarikan Maya sangat kasar untuk ibu hamil sepertiku.


"Teh, jangan kasar gitu atuh, kasian!" timpal Wahyu, melepaskan pegangan Maya.


"Urusi tuh calon istri kamu! Teteh pusing!" Tukasnya.


"Na, ayo. Kamu harus kuat, pegang tangan Aa ya, jangan dilepas, apapun yang terjadi. Oke,"


Lagi, aku hanya bisa menuruti semua kemauan Maya dan Wahyu. Mau tidak mau aku harus masuk. Aku akan berusaha kuat melihat pria yang aku sayangi bersanding dipelaminan dengan wanita lain dan bukan aku.


"Beb, senyum keluarin gigimu!" titah Mely tak kalah cerewet.


"Iya oke!! Aku turuti kemauan kalian semua! A Wahyu, jangan jauh dari aku, aku takut!"


"Iya, ayo." Ajaknya memberikan tangannya padaku. Aku raih tangan Wahyu, ku genggam erat, berjalan layaknya sepasang suami istri yang sudah menikah dan sedang mengandung.


Aku yakin, wanita seperti Fitri tidak akan tinggal diam, melihat aku yang sudah melupakan suaminya. Dia pasti akan mengorek kehidupanku lebih dalam.


Apalagi aku sekarang menggandeng Wahyu yang jauh lebih tampan dari Dani.


Hiasan lampu kerlap kerlip mewah dan indah, bunga-bunga disetiap sudutnya, hiasan bahkan foto prewedding outdoor dan indoor yang terpajang rapih didekat pelaminannya.


Foto itu begitu mesra, aku tidak tahan melihat senyuman mereka yang saling membalas.


Tamu-tamu undangan penting dan para kolega, pejabat tinggi sampai bawahannya. Sangat ramai dan berkelas.


Membuat aku semakin ragu untuk melangkah, kini aku tau, kenapa keluarganya sangat menentang aku untuk menikah dengan nya.


Yaa karena ini. Karena aku bukanlah orang yang sepadan dengannya. Mungkin aku akan dicap wanita matre jika Dani sampai menikahiku.


Ya tuhan kuatkan aku... agar aku sanggup melihat mereka bagaikan Raja dan Ratu dalam sehari.


Hadeuhhh... tahan nggak sih kalian kalo ada di posisi aku, aku bener-bener bimbang... Sakit dan hancur 😭😭

__ADS_1


Mau tak acak-acak tuh acara biar rusak sekalian 🤣🤣 empet banget yakin 😅😅 aku greget sendiri nulisnya.. 😆😆


Bab selanjutnya akan panjang lebar hingga lebih dari 2000 kata 😍😍


__ADS_2