My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 15


__ADS_3

Setelah beberapa menit kami mencari tempat untuk makan, Kini Dani berhenti di sebuah resto yang cukup bagus dan seperti nya hanya orang beruang saja yang singgah di resto ini.


"Yang, cafe ini aja, tempatnya cukup bagus dan terlihat nyaman," ujar Dani, setelah berhenti di depan gerbang cafe.


"Mahal A, terlalu mewah!" kugelengkan kepala ku dengan wajah ketus. Ala-ala mak lampir.


"Ini salah satu yang Aa suka dari kamu, jiwa hemat," tersenyum mencuil pipiku.


"Biar kamu juga bisa irit ya?"


"Nggak lah yang, gaji Aa lumayan besar, sekarang Aa juga lagi nyicil rumah sama mobil, biar nanti kalo ngajak kamu nggak kepanasan nggak keujanan, sama..." sejenak dia menghentikan ucapannya dengan menunjukan senyum mencurigakan. Seperti pencuri yang mendapatkan ide.


"Sama apa?"


"Sama... Biar nggak perlu ke hotel," jawabnya cengengesan. Tidak tau malu.


"Kamu nggak ada niat buat nikahin aku?" tanyaku, beringsut menuruni motornya.


"Niat banget yang,"


"Terus, tadi maksudnya apa?"


"Iya, maksudnya, biar pas nikah kita langsung nempatin rumah itu yang,"


"Kamu yakin?" tanyaku dengan mengangkat sebelah halisku dan melipat kedua tanganku menatap nya penuh selidik.


"Yakin banget sayang... karena cuma kamu yang bisa ngerti aa saat ini," rayunya.


Aku mendengkus, dasar buaya darat. Bisa aja bikin aku naik daun. Apalagi kalo udah nunjukin senyuman nya yang kaya bayi itu. Ihhh, meleleh hati ini. bagaikan es batu yang terkena sinar matahari.


Tanpa basa basi lagi tanganku di tarik pelan sama Dani untuk masuk dan memilih meja yang menurutku nyaman.


Ku pilih meja yang disudut pojok dekat jendela yang menghadap ke arah jalan. Karena menurut itu tempat yang paling nyaman.


"Aku bayar sendiri aja!" ujarku. Setelah makanan yang kami pesan mendarat di meja.


"Lho, kenapa?"


"Aku nggak mau ya, kamu baik sama aku tapi karena ada udang di balik tempe!" ketusku.


"Ya Allah, yang. Nggak ada, sumpah!"


Aku diam tak menjawab apapun. Dia terus menatapku tajam.


"Udah, cepet makan. Jangan menatapku seperti itu!"


"Yang..."


Belum juga kelar Dani bicara, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang memanggil nama Dani, entah dari mana asal muasal suara itu, yang jelas, aku pernah mendengarnya.


Tapi, dimana ya kira-kira?


Mataku pun terus berkeliling mencari sosok dari suara perempuan itu, namun tak kunjung kutemui. Lantas, kulihat wajah Dani yang sedikit gusar, semenjak ada yang memanggilnya tadi. Aku terus memperhatikan gerak-gerik wajah Dani yang menurutku aneh dan kikuk.


"Dani, hay..." sapa orang itu. Tersenyum menunjukan wajah termanis nya.


Kami langsung terkejut, saat wanita itu langsung duduk di sebelah Dani, tanpa permisi.


Kulihat cara berpakaian nya dari bawah sampai atas.


Kaya badut. batinku.


"Fitri?" ucap kami kompak,


Aku tertegun melihat wanita yang saat ini, sangat mengusik hidupku itu tengah duduk bersebelahan dengan priaku. Menyebalkan.


"Hay..." sapa wanita itu padaku.


"Hay Fitri. Oh, aku panggil kaka aja ya, biar sopan, atau aku panggil tante, habis polesannya tebel sih, menor!" sindirku kesal.


"Gue cantik, kaya, calon istri sah Dani. Nah lho, apaan coba? Cuma boneka!" katanya dengan tersenyum licik.


Tahan Na tahan... Gue yakin, cewek ini cuma mau ngejatuhin lo Na, biar lo kelihatan liar di depan Dani.


Kata hati gue seketika, meredakan emosi gue yang mulai memuncak!


Untung aja tangan gue bisa di jaga, biasanya suka replek maen bogem aja.


"Iya, tante, maaf ya, emang yang muda harus ngalah sama yang tua!" Ledekku.


Aku sengaja meledeknya, biar dia kesel. Abis ganggu. Sementara Dani sendiri terkekeh menahan tawanya.


Alahh... Peduli amat gue sama si petrok ini! Bikin darting!


"Dan, mau kemana?" cegah Fitri, menahan tangan kanan Dani, saat Dani hendak beranjak dari kursi duduknya.


"Pindah!" Ketus. Lantas mengibaskan cekalan tangan Fitri.


Aku tersenyum melihat tindakan Dani yang tiba-tiba pindah posisi dekat denganku.


Aku langsung caper.


"Sayang, dibibir kamu ada apaan sih?" aktingku dengan menyeka bekas makanan yang ada di ujung bibir Dani.

__ADS_1


Haha, padahal bibir si Dani ini bersih lho, karena emang dia belum sempet memakan makanannya.


"Yang, Aa kan bel..." Langsung meringis, karena kakinya aku injek.


Aku tersenyum ketus, memberi isyarat lewat sorot matanya.


"Ahh, iya, makasih sayang, perhatian banget sih!" menjembel pipiku. Sial, dia menjembel ku sedikit keras.


"Lebih baik lo pergi Fit, gue sibuk!" usir Dani, dengan memasukan makanan pertamanya kedalam mulutku.


"Dan, aku ini calon is..."


"Ssssstt..." Dani menempelkan telunjuk jarinya ke bibir Fitri. Aku terbelalak, tandukku mulai keluar.


"Kamu belum gosok gigi ya? Mulut mu bau cubluk! Mending kamu pergi, sikat gigi yang bersih ya!" katanya sambil mata nya menyipit dan kepala sedikit menggeleng.


"Bbbhaahaha...!" aku terpingkal-pingkal setelah Dani melanjutkan ucapanya.


"Apaan sih Dan! " tukasnya


"Udahlah Fit, jangan bikin orang erosi deh! " sanggahku, " Kamu itu jangan rebut suami orang dong! Sayanini istrinya lho! " lanjut ku dengan suara lantang. Sengaja, agar semua orang disini tau dan dengar.


"Awas lo ya! " ancam nya, beranjak dan lantas berlalu pergi dari hadapanku. Dengan membawa amarah dan kekesalannya.


Kami pun langsung tos... Sempet kesel juga tadi, karena tingkah Dani.


"Kamu seneng banget yang, liat orang lain menderita!" Selorohnya dengan mengacak-ngacak ujung rambutku.


"Kali ini dia yang menderita, tapi, nanti, aku yang akan sengsara, A. Mohon, jangan tinggalin aku ya. Aku takut, aku juga tidak mau menanggung beban ini sendiri. Bagaimana dengan keluargaku nanti A, please." mohonku dengan rengekan


Aku rela merendahkan harga diriku didepan nya. Aku takut, jika benih yang dia tanam akan tumbuh subur. Karena, kami sudah sering melakukannya.


Aku tertunduk malu, mau gimana lagi. Aku juga tidak mau membuang kotoran ke wajah keluarga ku. Lebih baik aku merendahkan diriku di hadapan Dani.


Tidak apa-apa, aku ikhlas.


"Yang... "


Entah apa yang mau dia bicarakan. Yang jelas dia hanya berkata Yang. Udah itu doang, sambil merangkulku dari sisi.


Aku khawatir ya tuhan... Airmataku kembali menetes.


Beberapa saat kemudian kami selesai makan, dia berencana mau mengajakku melihat-lihat rumah yang iya cicil. Aku manut aja.


"Ini rumah kita, " tunjuk Dani dengan penuh senyum lebar. Saat kami sudah sampai didepan rumahnya.


Aku tersenyum, tapi, entah kenapa hatiku menangis. Aku tidak kuat.


Aku tersenyum dengan mengulum bibirku. Lalu Dani mengajakku masuk, untuk melihat rumah yang sudah hampir siap huni itu.


"Ini, nanti akan menjadi kamar kita yang,"


Aku terus diam, hanya senyum palsu yang aku tunjukan padanya, sementara dia asik memperkenalkan seisi rumahnya padaku.


Hingga hari mulai gelap. Hujan kembali turun. Terpaksa, aku terjebak lagi.


Aku nggak bisa kena hujan, sedikit saja kena angin hujan atau air hujan. Aku langsung mimisan, aku juga nggak tau, penyakit apa yang aku derita ini. Tapi, kata dokter, aku hanya tidak kuat dingin.


Entahlah...


Malam semakin larut, cuaca dingin membuat kami ingin merasakan kehangatan tubuh masing-masing. Dia kembali merayuku. Awalnya hanya sindir menyindir.


"Ya Allah, dingin banget sumpah!" ucap Dani, dengan memeluk dirinya sendiri.


Aku hanya melirik dia, aku tau itu adalah salah satu kode.


Aku abaikan saja.


"Yang, kamu dingin nggak sih?" tanyanya padaku, jujur, aku juga dingin banget, apalagi tidak ada selimut, kami duduk dikamar yang tadi Dani tunjukan.


Karena yang lain belum terisi barang-barang yang semacam, kursi, meja, lemari, hanya ada kasur di kamar utama, itu juga nggak ada bantal. Hanya kasur doang berbalut seprei. Terus Tv yang menempel di dinding, sama kipas yang menggantung di atas. Udah. Yang lain masih kosong.


"Enggak, biasa aja!" kataku.


Sial, mimis ku malah keluar. Dia melihat aku menyeka mimisku dengan tisu lagi.


"Yang, kamu mimisan lagi? Katanya nggak dingin, ko mimisan lagi?" tanyanya langsung mendekati ku, duduk disebelah ku. "Aku bingung, kamu ini kenapa bisa punya penyakit semacam sindrom anti dingin gini sih?"


"Sindrom? Apaan tuh?"


"Ya kaya kamu gini yang,"


"Aku nggak ngerti ah!"


"Ya udahlah, sini Aa elapin mimismu itu!"


Seperti biasa, dia mengelap mimisku dengan lembut dan telaten. Setelah itu, dia memelukku erat, supaya tubuhku bisa hangat kembali.


Apalah daya, diruangan sepi, hanya ada dua mahluk hidup dengan berbeda jenis kelamin. Pastinya, kami kembali merajut cinta.


Ahh, sial! Kami melakukannya sampek tiga ronde! Gila emang! Tanpa pengaman pula!


Selalu, setiap selesai melakukan itu, aku pasti nyesel, nangis-nangis! tapi kenapa aku selalu nggak bisa ngelak dan nolak sih!!

__ADS_1


Seperti, penyesalan ini tuh nggak ada akhirnya.


Malam ini serasa malam panjang banget untukku dan Dani. Aku tidur dengan Dani memelukku dari belakang. Tanpa sehelai benang. Hanya berbalut seprei yang kami jadikan selimut, untuk menutupi tubuh kami yang sudah tidak memakai apapun


Paginya...


Dani tersenyum manja padaku. Mengedip-ngedipkan matanya genit.


Dihh, aku hanya mendelik melihat sikap anehnya itu.


"Kita mau pulang jam berapa yang?"


"Sekarang!"


"Kamu nggak betah ya disini?"


"Maksud kamu?"


"Hehe, nggak apa-apa ko yang!"


Aku dan dia melakukan aktivitas pagi itu layaknya seperti suami istri. Mandi bareng, makan sepiring berdua. Nonton Tv sambil tiduran bareng. Yaa begitulah.


Aku nyaman banget, tapi aku sadar, ini semua salah! Sangat salah. Mohon jangan meniru kelakuan kami yang sangat tidak bermoral ini!.


"Yang, kamu gendutan deh sekarang!"


"Masa sih?" Aku langsung melirik setiap lekuk tubuhku.


Dani terkekeh-kekeh, melihat tingkah ku yang langsung parno itu.


"Nggak apa-apa kok, gendut juga. Yang penting sehat!" katanya lagi.


"Aku memang sehat A! Kamu ini maksudnya apa sih!"


Aku marah, aku juga nggak nyadar. Apa yang terjadi dengan tubuhku.


Sudah dua bulan lebih kami berhubungan intim, tanpa pengaman apapun.


Aku masih belum sadar.


Yap, meskipun kita ini terlihat baik, tapi, hatiku sebenarnya masih mengganjel. Jelas, aku masih memikirkan bapak nya dia.


Biasa lah, horang kaya mah kan bebas. Takut-takut, bapak nya melakukan hal yang tidak diinginkan.


Dani itu bekerja di sebuah PT pu*** kuja**. Dia bekerja di bagian kantor, entah sebagai apa, aku tidak tau.


Belum lama sih dia bekerja di pt itu, baru lima bulanan lah, di situ aku selalu mendukung nya. Saat pertama melamar, terus di tolak berkali-kali, aku selalu mensupport nya, tanpa lelah. Nah, sejak saat itu juga, dia mulai berani minta hubungan lebih padaku.


Awalnya sih, nggak pernah, kiss aja cuma di kening, nggak nyampe bibir. Tapi... Sekarang malah parah.


Setelah Dani mengantarku pulang ke tempat kerja. Aku baru inget, sekarang udah lewat tanggal datang bulan.


Gawaatttt!!! Di situ aku sangat panik nik nik nik nik!!


Mau beli tes kehamilan, takut, malu. Tapi mau gimana lagi, aku liat kalender udah lewat 10 hari. Wajib di cek kan.


Jam delapan malam.


Toko terlihat agak sepi, kebetulan, tempat kerjaku dekat dengan pasar, otomatis deket sama apotek.


"Bang, Erna mau beli pulsa dulu ya,"


"Di abang ada, elektrik!"


Sial, aku lupa kalo bang Zul jualan pulsa.


"Pengen yang vocer bang, udah abis masa tenggang, nggak bisa kalo elektrik." Kilahku, biar kagak curiga.


Tapi, aku tau. Tatapan bang Zul itu penuh selidik kaya detektif. Aku semakin gugup.


Ya, begini lah, kalo ada salah pasti gugup dan kaku.


"Oh..." jawab bang Zul singkat, tapi bermakna.


Aku langsung capcus, sekilat menoleh ke belakang, takut-takut bang Zul mengikutiku.


Sementara Mely, asik melayani pelanggan. Entah mau beli apa,udah satu jam tuh pelanggan kagak pulang-pulang.


______


"Habis darimana kamu Na?" tanya uni tiba-tiba.


"Tadi, Zul liat kamu di apotek, kamu beli apa? Kamu sakit?" Pertanyaan itu bener-bener buat aku gemetaran dan gugup. Sementara aku sedang memegang kresek hitam. Yang berisi tes kehamilan.


Gawat!!!


Keringat dingin keringat panas keluar semua.


Mengalir deras dipelipisku.


"Hehe, nggak apa-apa kok uni, Erna masuk dulu." Langsung aku capcus masuk kedalam, menyimpan nya rapat-rapat tes kehamilan itu. Jangan sampai uni tau.


Next ???

__ADS_1


__ADS_2