My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab 60


__ADS_3

"Kamu mau sarapan apa? " tanya Wahyu saat aku dan dia sudah berada dikantin rumah sakit.


"Bubur ayam, " saut ku dengan tersenyum simpul menatap nya.


"Kita sarapan disini aja A." imbuhku.


"Oke." kembali Wahyu mendorong kursi roda yang aku duduki, mencari tempat yang pas buat makan.


"Sana aja. " tunjukku. Tepat didekat taman dengan sayup udara segar yang berhembus lewat daun-daun pohon yang rindang.


Wahyu mengangguk, lantas berbelok arah menuju tempat dimana yang aku tunjukan. "Tunggu sini, Aa pesenin dulu. " katanya, lantas berlalu menjauh.


Dengan kegirangan aku mengangguk, membiarkan Wahyu menemui si ibu kantin dan memesan bubur yang aku mau. Sejenak ia menoleh ke arahku dan tersenyum manis sekali. Lantas kulihat lagi ia berbicara dengan ibu kantin, lanjut berbalik arah berjalan mendekati ku.Karena posisi duduku dan ibu kantin sangat jauh.


PYAARRRR


"ASTAGFIRULLAH..." Suara piring yang jatuh membuat aku menoleh kearahnya.Orang-orang yang berdoa dikantin pun sontak melihat kearah suara itu. Dan ternyata itu Wahyu, entah sengaja atau tidak, seorang wanita menabrak Wahyu, wanita itu berjongkok memunguti serpihan piring, Wahyu juga ikut membantu, setelah itu mereka berbincang, Terlihat sangat akrab. Dengan posisiku yang jauh membuat telingaku tidak dapat menangkap apa yang mereka bicarakan.Terlebih dikantin ini sangat lah bersisik.


"Siapa tuh? " lirihku dengan mata menyipit dan terus lekat pada Wahyu dan seorang perempuan.


Ia tersenyum, wanita itu juga tersenyum. Mereka bersalaman, Mereka tertawa,sangat dekat.


"Kenapa hatiku sakit ya? " desisku menahan emosi yang tersulut dalam hati saat melihat Wahyu tertawa bahagia bersama orang lain. "Dia belum pernah tertawa selepas itu saat bersamaku, " gumamku lagi. Hati ini semakin perih, lama mereka berbincang-bincang, sampai pesanan bubur pun mendarat dimejaku tapi Wahyu masih juga belum kembali.


"Silahkan neng, " ujar ibu kantin. Aku hanya tersenyum menanggapi ibu kantin itu.


Lantas mataku kembali melihat Wahyu dan perempuan itu, "Lama sekali. " decakku dengan terus mata menatap mereka dari jauh.


Kutunggu dia kembali, hatiku semakin sakit, rasa kesal dan benci kembali mengisi otak dan pikiranku.Setelah cukup lama hampir setengah jam mereka berbincang tanpa duduk, akhirnya Wahyu kembali. "Aku pikir dia lupa denganku yang duduk disini seperti orang bego, " gumamku. Tak tahan rasanya ingin segera memakinya.


Tapi Tap Tap


Suara derap langkah kian kentara, telingaku terus menangkap suara langkah sandal Wahyu yang mendekatiku.


"Na, maaf lama. " ujarnya sembari menggeser kursi disebelahku. "Lho, ko bubur nya masih utuh? " tanyanya saat ia melihat dua mangkok bubur yang belum aku sentuh.


"Aku nungguin kamu! " jawabku ketus.


"Sory, tadi aku abis ke kamar mandi,"


Aku terdiam. Kamu pikir aku tidak punya mata? kamu pikir aku tidak melihatmu.batinku


"Ayo dong, kita makan. " ajaknya sedikit memaksa.


"Aku sudah nggak nafsu. Aku mau ke kamar sekarang!"


"Kamu kenapa sih? Aa tadi baru dari kamar mandi, Na. Perut Aa mules, "


"Kamu nggak jujur, Wahyu! "


"Nggak jujur bagaimana?" tanyanya. Belum sempat aku menjawab, ponsel nya kembali berdering,Dengan cepat ia merogoh kantongnya. Seketika tatapannya langsung fokus pada benda pipih nan kecil itu. Aku terabaikan.


Kamu nggak tau perasaan ku sekarang. Hatiku sakit melihat mu dekat dengan wanita lain. Apalagi kamu berdalih habis dari toilet. Hatiku semakin remuk Wahyu.

__ADS_1


Tak terasa genangan bulir bening jatuh membasahi pipiku, kuusap kasar dengan berpaling dari laki-laki yang masih sibuk dengan ponselnya.


Andaikan aku bisa berjalan seperti biasa, aku sudah pergi meninggalkan tempat ini. Tanpa harus peduli dengan laki-laki ini. Batinku lagi.


"A tolong antarkan aku masuk kamar, " pintaku. Namun Wahyu stay dengan ponselnya.


Ya Allah, kenapa hatiku sakit."Tolong antar aku masuk kamar! " pekikku sembari merebut ponselnya. Ia terbelalak kaget karena ponselnya aku rebut.


"Iya. Tapi kenapa harus seperti ini!" ujarnya dengan nada menahan kesal. " Kamu tuh bisa nya marah terus! " pungkasnya. Sembari mengambil ponselnya yang berada digenggaman ku.


"Kamu jahat Wahyu!"


"Jahat bagaimana? Aku melakukan apa?"


"Sudahlah, lebih baik antar aku masuk kamar, setelah itu aku tidak akan mengganggumu."


"Kamu ini kenapa sih? Apa karena aku lama di toilet? "


"Kamu bukan dari toilet Wahyu! " tunjukku, dengan emosi yang tertahan, " Aku mengerti sekarang!" lanjutku. Lantas berpaling darinya.


Aku beringsut, berusaha berdiri meskipun kakiku masih sangat lemas.


"Kamu mau kemana? "


"Aku sudah bilang padamu dan aku tidak mau mengulang ucapanku! "


"Oke oke. Ayo duduk lagi, biar aku dorong kamu lagi naik keatas. "


Meskipun hatiku kesal, aku tetap ikuti dia. aku kembali duduk, lantas Wahyu kembali mendorongku hingga kembali ke kamar.


"Kamu kenapa sih sayang? Apa salahku! "


"Kamu tidak salah apa-apa. Aku hanya ingin istirahat dan tidur. Agar besok aku bisa pulang. "


Wahyu mendengus kasar, dengan mengusap wajahnya. Lantas duduk ditepian ranjangku.


Kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku, berbaring membelakangi nya. Hatiku masih sakit, saat dia berbohong padaku.


Siapa wanita yang kamu temui itu Wahyu? Apa dia masalalu mu? Apa dia wanita yang istimewa untukmu? atau yang lain? Aku sakit Wahyu, hatiku hancur melihatmu bahagia bersama orang lain, seketika sikapmu berubah setelah kamu bertemu wanita itu. Kenapa kamu tega membohongi ku? Aku terus merutuk dalam hati. emosiku tak bisa tertahan,kuremas seprei ranjang dengan sekuat tenaga ku, menahan sakit dan emosi yang kian membara dan membakar hatiku.Bulir bening yang mengalir ikut serta dalam kesakitan ku.


"Aku pergi dulu ada urusan! " ujar Wahyu sembari beranjak dari duduknya, tanpa sepatah kata lagi dia berpaling menjauh dariku.


Ceklek Plup.


Suara pintu.


Tumpah lah sudah genangan air yang sedari tadi aku tahan. Mungkin dengan keluarnya air mata akan membuatku sedikit lega.


Kutatap pintu itu,Wahyu sudah menghilang dari pandangan ku. Aku beringsut duduk menyender, meraup wajahku, hatiku sangat pilu, sepilu pilunya. Suara isak tangisku yang kutahan masih dapat didengar oleh Maya, hingga ia terjaga.


"Erna? kamu kenapa? " Maya yang baru saja bangun langsung berlari kearah ku, duduk ditepian ranjang dan mencoba metenggangkan tanganku yang menutupi area wajahku.


"Kamu kenapa? pagi-pagi udah nangis, Wahyu mana? " kata Maya dengan terus bertanya padaku.

__ADS_1


Kupeluk erat Maya, aku menangis didadanya, dengan lembut Maya mengusap pucuk rambutku. "Cerita Na. kamu kenapa? "


"Aku mau pulang teh, aku mau jemput anakku, aku mau pergi dari mereka semua, " lirihku masih menangis, dan masih memeluk Maya.


"Iya, tapi maksudmu mereka siapa, Na? "


"Aku cukup tau diri teh. Selama hampir 8 bulan ini aku banyak menyusahkan teteh sama Wahyu. Aku cuma tidak mau merepotkan kalian lagi. Aku akan pergi bersama anakku teh, aku akan menghidupi anakku sendiri. " tuturku melepas pelukan dan mengusap air mata yang tak henti berderai.


"Lho lho... maksudnya apa sih? Na, Wahyu sayang sama kamu, dia akan menikahimu nanti, dia sendiri yang bilang ke teteh, "


"Tidak,A Wahyu tidak pernah mencintai aku, dia hanya kasihan padaku, karena nasibku yang malang.Siapalah aku teh, hanya wanita yang dia pungut dari pinggiran jalan, tidak mungkin dia secepat itu mencintaiku" tuturku lagi.


"Kalian berantem? "


Aku menggelengkan kepala ku dengan wajah menunduk."Aku hanya ingin pulang, aku ingin bertemu anakku. Aku bahkan belum sempat menimang nya, membelainya. Aku sangat merindukan anakku teh, "


"Iya sayang. Tolong, maafkan Dani ya. Tolong maafkan dia, " pinta Maya dengan suara parau seperti ingin menangis.


"Kamu tau, Dani sangat mencintai kamu Na, Tapi dia harapan bapaknya, karena Ranti dan Naya sudah berkeluarga. "


"Ranti dan Naya? Siapa mereka teh? "


"Mereka kaka dari Dani, hanya saja mereka tidak disini. Ranti di Surabaya ikut suaminya. Sementara Naya di Medan, ikut juga suaminya. Jadi hanya tersisa Dani."


"Apa mereka tau tentang aku? "


"Tau Na.Teteh menceritakan semuanya. Bulan depan mereka akan ke Bandung, karena waktu lebaran kemarin mereka tidak mudik. Mereka sangat ingin bertemu denganmu, Mereka menangis saat teteh cerita tentang kamu, tentang kelakuan adiknya. "


"Aku rasa itu tidak perlu teh, aku juga akan pergi menjauh dari mereka semua termasuk teteh. Sudah cukup selama delapan bulan ini, seterusnya aku akan berusaha sendiri bersama anakku. "


"Sebenarnya ada apa Na? "


"Nggak ada apa-apa teh, Aku mau kembali istirahat, mataku ngantuk. "


"Okay, tidurlah istirahat. "


KREKEKKK,


suara pintu kamar mandi yang terbuka, mas Bayu terlihat segar pagi ini, ia melempar senyuman padaku dan Maya.


"Udah mandi mas? "


"Udah, kamu mandi dulu May,"


"Iya." lantas Maya beranjak dari duduknya, dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. sementara mas Bayu duduk didekatku.


"Bagaimana keadaanmu Na?" Tanya mas Bayu.


"Baik mas,"


"Syukur Alhamdulillah. Wahyu mana? "


Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan bahu terangkat. "Aku mau istirahat dulu mas." ujarku sembari menarik selimut dan berbaring membelaknagi mas Bayu. Ku pejamkan mataku, berusaha untuk melupakan semua yang telah terjadi.

__ADS_1


Dukungan author ya kaka. terimakasi 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2