
Awaasss
Aku akan membalasnya. rutukku.
Dengan mata membulat dan bibir mengerucut. Itulah raut wajahku saat ini. Dengan kedua tanganku mencengkram kuat seprei ranjang.
"Tolong, beri aku waktu untuk menjelaskan, Na, Semuanya tidak seperti yang kamu bayangkan, " tuturnya lagi. Aku benar-benar tidak ingin mendengarkan apa-apa lagi dari mulut busuknya itu.
"Diam! Aku tidak mau mendengar suara mu! Cepat pergi Wahyu! " teriakku dengan tangan menunjuk kasar pada pintu.
"Nenek membawa Senja, karena kamu sakit. Mereka terpaksa melakukan itu. Karena, kata dokter, entah sampai kapan obat injeksi yang waktu itu masuk ke tubuhmu akan bereaksi dan membuat kamu sadar lagi, Na. Please... " jelasnya memohon.
"Dan sekarang aku sudah sadar. Apa mereka akan mengembalikan anakku padaku?"
Wahyu terdiam. Dengan mengacak rambutnya sendiri dia beringsut menjatuhkan tubuhnya pada sofa yang tersedia di dalam ruangan ku ini. Mendengkus kasar.
Aku yakin, bukan cuma itu saja alasannya. Dasar keluarga sialan.
Aku terus merutuk dalam hati.
"Kenapa diam? Jawab! Atau aku akan melemparimu dengan botol mineral ini." Dengan tangan kiri, aku meraih botol mineral yang masih terisi penuh.
"Ayo, Lakukan sesuka hatimu!" tantangnya dengan wajah kusut.
Ku buang nafas kasar. "Baik. Itu yang kamu mau!"
Dengan cepat aku layangkan botol itu hingga tepat mengenai kepalanya. Gila. yaa... aku memang gila. Gila kerana keluarga nya yang sama seperti keluarga iblis. Menyiksaku tanpa ampun.
Bugghh
"Ahh... " rintihnya dengan mengusap kepalanya.
Jelas, dia meringis, menatap ku sinis. Mungkin dia pikir aku tidak akan berani melakukan itu. Kutatap dia kecut. Jika digambarkan, mungkin raut wajahku ini penuh dengan kepuasan karena sudah melemparinya dengan botol minum.
"Apa masih kurang?" tanyaku lagi. Ku ambil lagi kotak kayu yang tersedia di meja dekat ranjangku. Entah kotak apa aku tidak tau. Yang jelas, kotak itu sudah berada digenggaman ku. Dan siap aku layangkan lagi pada muka jelek nya itu. Biar tambah jelek sekalian.
"Kamu kerasukan apa sampe berani melempariku dengan botol ini?" Wahyu, lantas membuang botol itu hingga jauh.
"Kamu yang minta kan? Dan dengan senang hati aku melakukan nya. Kurang baik apa aku? Bahkan aku menawarimu dengan ini? " Tunjuk ku sebuah kotak kayu besar yang aku pegang.
"Jangan gila kamu!"
Ku tampakan wajah sinis ku dengan senyuman kecut dan belagu padanya. Halis yang ku angkat sebelah juga menunjukan bahwa aku benar-benar menantangnya. Dia belum tau, bahwa aku jago silat nya bang Pitung. Hanya saja fisik ku benar-benar sedang down karena baru saja turun mesin.
"Sadar Na sadar!" ucapnya berusaha membuat aku untuk tidak berbuat konyol.
"Cihh... "
Dia beringsut berdiri. Mencoba mendekatiku, namun naas. Aku yang sudah kesal dan geram, dengan enteng kulayangkan kotak kayu ini padanya hingga dia mengelak dan....
BLAAKKK
"Aww... " Sontak mataku membulat saat seorang wanita masuk dan terkena kotak kayu lemparanku.
__ADS_1
"Masya Allah... Ratna," Wahyu berlari mendekati wanita itu yang merintih kesakitan dengan bahu sedikit memar karena kayu lemparan ku. Hingga dia terhuyung kebelakang.
"Sial!!" lirih ku.
Lihat saja, cara berpakaiannya yang sangat tidak jauh beda dengan Fitri.
Wanita siapa lagi ini??
Batinku.
"Kamu benar-benar gila, Erna!" bentaknya padaku.
"Aku mana tau, mau ada orang masuk tanpa permisi." kilahku, lantas ku tarik selimut ku untuk membungkus tubuhku yang mulai dingin karena ac. Dan berbaring lemah, tanpa minta maaf pada wanita kecil nan pendek itu.
Aku juga melihat Wahyu sangat perhatian sama wanita itu, dengan manja Wahyu menuntun nya hingga terduduk disofa. Aku benar-benar kesal melihatnya.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan air hangat, " katanya lembut. Aku yang mendengar tutur lembutnya membuat aku semakin kacau. Hatiku kacau. Disaat aku mulai menerima kehadirannya dihatiku. Dia malah seperti ini. Dasar brengsek.
"Sakit A, bahuku sampe biru gini." Ucap wanita itu, dengan mengelus bahunya yang membiru karena aku.
Sukurin!!
"Halaahh, segitu doang udah meringis." sindirku.
"Seharusnya kamu minta maaf, bukan malah mengatainya dan asik tidur seperti tanpa dosa begini!" Bentaknya lagi padaku.
"Kenapa sekarang kamu jadi marah-marah?"
"Karena kamu sudah gila! "
Sekarang aku yakin, bahwa makhluk ini hanya mempermainkan perasaan ku. Aku diam tak menjawab, pikiranku melayang jauh, sungguh diluar dugaanku. Dengan keadaanku yang masih nifas, bahkan payudaraku juga sedikit sakit karena sudah lama tak menyusui anakku. Bajuku yang basah dibagian dada akibat air susu yang rembes. Lengkap lah sudah penderitaan ku.
"Sejak kapan kamu sadar? terus kamu kenapa marah-marah begitu?" ucap wanita itu.
"Erna, jawab." imbuhnya.
"Lo nanya sama gue?"
"Iya lah."
"Tanya aja sama dia! " kutunjuk Wahyu yang mulai mengobati memar di bahunya.
"Sudahlah. tidak perlu dibahas."
"Harus di bahas dong A, kita kan akan menikah, "
"Menikah? "
Seperti kembali tersambar petir dan mati saja aku ini. Aku kembali bangun dan duduk. Menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya
"Iya, menikah. Aku mau ngucapin banyak terimakasih sama kamu, Erna. Kamu sudah menjaga Wahyu untukku, karena selama ini aku tinggal di Batam. " lanjutnya lagi.
"Benarkah? Wahyu! Ayo... " kataku, sedikit memaksa. Aku yakin Wahyu pasti mengerti tentang perkataan ku yang singkat.
__ADS_1
"Ratna. Jangan bahas itu." bicara tanpa menatap ku.
"Lalu bagaimana dengan Sinta? "
"Sinta?? " Ratna, mengulang ucapanku. "Sinta siapa? " lanjutnya kini menatap Wahyu.
"Ohh, aku tau. Pasti mantan kamu kna a? Yaa it's okay no problem. "
"Apa kamu bisa melanjutkan ucapan mu Ratna? Cepat! " titahku memaksa. Biar aku tau kelakuan busuk pria yang selama ini baik hati dan tidak sombong ini padaku.
"Aku dan Wahyu ini sudah lama pacaran sejak kami SMA. Hanya saja, setelah lulus SMA aku harus pindah ke Batam, dan setelah kami berpisah cukup lama, Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Bandung dan merencanakan pernikahan ku dengan dia, Iyakan A Wahyu." Jelasnya panjang lebar.
Benar-benar membuat dadaku sesak seketika. Semakin hancurlah hatiku ini ya Allah, sudah benar-benar menjadi butiran debu.
"Jangan percaya Na, please... Aku pergi dari rumah karena menolak perjodohan ini, dan aku cuma mau sama kamu." bantahnya. Beringsut mendekatiku. Berusaha meraih kedua tanganku.
"Halah Bulsyiit!" jawabku, "Menikah ya menikah saja. Bukannya tadi kamu menganggap aku sebagai teman?" imbuhku.
"Dokter tadi adalah teman ayahku. Please, aku akan menjelaskan semuanya sama kamu sayang, " dengan nada memohon Wahyu berusaha merayuku lagi.
"A Wahyu. Maksud kamu apa? Aku nggak mau ya kalo pengorbanan aku diacuhkan seperti ini." makinya, "Dia sudah melempari aku dengan kayu sialan itu, apa kamu yakin akan menikahinya? " lanjutnya lagi.
"Ratna. Aku yakin kamu tua semuanya. Jadi please, jangan memperkeruh keadaan. Kamu tau, aku waktu itu menolak mentah-mentah bahkan aku rela pergi meninggalkan rumahku karena aku benar-benar tidak mau menikah denganmu. Dan untuk apa kamu kemari? Lebih baik kamu pergi dari sini jika niat mu hanya memfitnah ku!! "
"Wahyu, kamu harus menikah denganku! Sudah tradisi keluarga mu seperti itu dan kamu harus menurutinya! "
"Dengar ya Ratna. Nenek sudah menghapus aturan itu. Semenjak kakek meninggal, aturan itu sudah tidak di pakai lagi! " Wahyu terus berkilah bahkan membantah semua omongan Ratna.
Aku semakin bingung dengan semua ini, tapi setidaknya, aku merasa lebih lega. Biar nanti aku akan meminta penjelasan sejelas jelasnya sama Wahyu tentang semua yang sudah terjadi.
"Heh, lebih baik kamu pergi Ratna!" usir Wahyu. Dengan berjalan membuka pintu untuk mempersilahkan Wanita itu keluar.
"Ayook! " imbuhnya, karena Wanita itu masih diam bergeming, sambil memegangi bahunya yang biru. Terlebih raut Wajahnya yang berubah merah akibat malu.
"Ayok Ratna! Apa perlu aku menyeretmu? " Ucap Wahyu lagi.
"Benar saja kata tante Mary, Wanita ini sudah membuat kamu hilang akal! " Dengan berdecak sebal wanita yang disebut Ratna itu pergi. Namun dengan menatap sinis padaku.
"Makin rumit kayanya masalahku ini! " Lirihku dengan menepuk jidatku berkali-kali.
"Sudah..." ucap Wahyu. Berjalan lagi kearahku. Tak lupa dengan tersenyum manis kek gula cair.
"Apa? "
"Apanya? Kamu tadi kerasukan jin tomang ya? Galak bener, untung yang kena bukan aku, "
"Jangan banyak omong. Cepat jelaskan semuanya padaku secara rinci. Setelah itu, aku mau langsung pulang dan menjemput anakku. "
Tanpa menjawab Wahyu mengeser kursi dekat dengan ranjangku dan duduk manis tak lepas menatapku yang sudah malu setengah mati.
Ayoook dong kak. dukung Author nya yaaa
Untuk like, komen. Vimote dan Rate bintang nya 😍😍😍😍
__ADS_1
Haturnuhun, 🙏🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰🥰