My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab40


__ADS_3

Aku terus melamun, bayangan dan pikiranku terus melayang-layang jauh. Angan-angan kosong berkecamuk dengan angan-angan masalah--ku yang rumit. Seperti benang kusut yang sulit untuk diurai. Seperti jarum dalam tumpukan jerami, sulit untuk mencari celah-celah jalan keluar.


Hingga aku terlelap dalam mimpi siang bolongku.


Ponselku terus berdering, bukan yang menelpon. Tapi suara alarm yang tak sengaja aktif sendiri.


Dengan masih mengantuk, kupaksa membuka mata dan mematikan alarm dari ponselku.


Kuhempaskan ponselku menjauh hingga ke tepian ranjang. Malas rasanya untuk bangun. Kulihat jam yang menempel di dinding tepat didepan mataku. Pukul 15:45. Sudah sore dan sudah lewat asar.


Aku beringsut duduk dengan kaki menjuntai kelantai. Dengan tangan sebelah kanan mengucek mataku.


"Hoaaammmm... badanku sakit semua."


Kupijat pundak dan leherku yang terasa pegal-pegal. Semenjak kandunganku menginjak 7 bulan, badanku selalu pegel dan berasa remuk. Mau apapun malas rasanya.


"Erna belum bangun juga Dan?" Suara Maya membuat kupingku tertarik untuk menguping, segera aku mencari tau lagi dengan memasang telinga dan membukanya lebar-lebar.


"Belum." Dani menjawab. Tapi terdengar seperti yang sedang lesu.


"Seharusnya, orang hamil jangan terlalu banyak diam di kamar, nggak baik. Nanti anaknya Malas untuk keluar." Ujar nenek.


"Maksud ibu?"


"Maksud nenek?"


Tanya mereka berdua kompak. Sementara aku terus menguping.


"Yaa, maksud-nya nanti anakmu itu betah di dalam perut ibunya. Akan sulit untuk keluar, meskipun sudah HPL bahkan lewat HPL. Intinya pamali Dan, sama, nanti anak mu banyak kili-kilinya lho. Udah cepat kamu gedor pintu kamarnya. Suruh bangun dan langsung mandi, jangan lupa. Ranjang bekas tidurnya di kebas-kebas pake samping, ya." Jelas nenek panjang lebar.


"Oh gitu..." Ujar mereka kompak lagi


Sejenak aku termenung, ada perasaan takut saat aku mendengar penjelasan dari nenek. Apakah itu benar??


Hingga akhirnya mereka terus mengobrol membicarakan aku dan calon anakku. Aku terus menguping tanpa henti.


Airmataku menetes tak tertahan. Sungguh memilukan hidupku ini, sangat berat beban yang aku pikul sendiri. Tiada yang peduli dan membantuku.


Tatapanku kosong, aku kembali tersentak saat..."Buka pintu!!" Suara itu kembali berteriak, setelah aku seharian tidur di kamar dan mengabaikan dua manusia itu, ehh tiga manusia.


Aku mendengar semua pembicaraan Maya, nenek, dan Dani.


Aku tau, aku tidak mampu untuk membiyayai lahiran anakku nanti, aku juga tau, aku mana bisa membawa anakku pulang ke rumah ibu tanpa seorang laki-laki yang mendampingiku. Sebagai suamiku. Apa kata tetanggaku yang kepo tingkat dewa itu nantinya. Aku sangat takut menjadi bahan gosip dan gunjingan warga kampungku nanti jika aku sampai membawa anak ini pulang tanpa suami disampingku.


Ya Allah, kuatkan aku... kuatkan aku...


Aku tau itu. Sangat Tau. Mereka benar, aku hanya wanita lemah yang butuh di kasihani.


"Cepat buka, kamu kenapa sih? Susah banget di atur!" teriaknya dengan memakiku. Tak lupa menggedor-gedor pintu kamarku. Sangat berisik.


Aku langsung membuka kunci pintu kamarku dengan kesal, menatap wajah nya tajam-tajam dengan raut seram. Bahkan tandukku hampir keluar dan menampakan diri.


Namun, tidak aku duga, dia mendorongku hingga aku kembali masuk dan hampir jatuh terduduk.


"Aw!" Pekikku, kaget.


Lantas dia pun ikut masuk dan mengunci pintu kamarku, dia juga mengambil kunci itu dan memasukannya ke dalam saku celananya... Apa maksudnya coba?


Pasti mau mesum? Dari gelagatnya aja udah ketahuan nih orang.


Deg deg


Jantung ku terus berdetak, badanku gemetar takut, melihat sosok astral didepan ku.


"Mau apa kamu?"


"Sayang, kita santai dulu lah," ujarnya dengan nada sensual. Berdiri tegak membelakangi pintu, menghadap aku. Aku semakin enek melihat-nya.


"Apa maksudmu?" Aku semakin takut, takut dia macam-macam dan melakukan hal yang aneh. Karena aku sangat hapal dengan pria astral dari planet mars ini.


Namun, dia hanya tersenyum, mendekat ke arahku perlahan. "Ya, santai sayang, masa kamu nggak tau sih!" Ujarnya dengan melebarkan tangannya dan mengangkat kedua bahunya.


Aku semakin mundur kebelakang, hingga akhirnya aku terpentok tembok, tak bisa lagi mengelak. Dia semakin dekat. "Tong macam-macam A, mau apa kamu teh? Nggak puas ya mengganggu saya hah?" Cecarku.


Aku menuding wajah-nya. Berharap dia akan berhenti mendekatiku. "Haha... siapa yang mau macam-macam? Satu macam aja, kok."


Perkataan nya membuat aku geli sendiri. Geli ingin menjitak palanya ampe benjol.


Sontak aku mendorong tubuhnya hingga menjauh dariku. "Aku tau yang ada di otak kamu!" Tuduhku, tuduhan yang nyata.


"NENEK .... NEK... TEH MAYAAAA!!" Teriakku, berharap agar mereka mendengarkan teriakan ku.


"Haha.. yang ... yang. Percuma, nenek sama teh Maya pergi."


Pergi? Kenapa sih mereka berdua selalu memberi kesempatan buat pria mesum ini. Gumamku dalam hati.


"Berhenti memanggil aku dengan sebutan 'YANG'! Aku nggak suka!!"


"Tapi aku suka manggil kamu YANG. Udah kebiasaan nggak bisa di lepas lho,"

__ADS_1


"Teehh... tolong aku!" masih berusaha berteriak.


"Di bilangin pada pergi, nggak percayaeun ih!!"


"Bohong!"


"Bener, naik mobil tadi. Emang kamu nggak denger suara mobilnya?"


"Ngawadul. Tukang bohong. Mesum! " maki ku. aku terus berusaha menjauh. Namun sejauh-jauhnya jarak, tetep aja. Cuman kamar kecil begini. Nggak bisa ngelak apalagi lari jauh. Lebih gilanya pintu kamar terkunci, gimana mau ngambilnya coba? Dasar gila!


Dan ternyata dugaanku benar.


Sigap dia menangkap tanganku dari belakang. Berasa kaya maling yang ketangkap basah. Aku terus berteriak, namun tak bisa berontak keras karena perutku yang sudah besar. Sangat sulit bergerak cepat.


"Lepas A, lepaskeun ih! Kasar amat sih jadi cowo!" Bentakku.


"Siapa yang kasar sih?" Berusaha memelukku dari belakang, aku semakin kesal sama pria ini.


"Jangan peluk-peluk. Apaan sih! Lepas A, lepas!" Aku teriak sambil menangis. Kasar dan tak berperasaan laki-laki ini, mendadak airmataku jatuh berderai deras. Pergelangan tangan-ku sakit akibat cengkraman-nya.


"Diem atuh yang, mangkanya diem. Kalo diem kamu aku lepasin!" Dani sangat kuat mencengkram kedua tanganku.


"Bohong." Masih mencoba melepaskan, hingga akhirnya perutku terbentur ujung ranjang. "Ahhh... biang kerok siah!!" Latahku, lantas mendorong Dani menjauh.


"Kata aku juga apa! Kamu diem!" Mencoba meraihku yang terbungkuk kesakitan. Perutku mendadak keram. Aku mencengkram kuat ranjangku, menahan sakit yang amat luar biasa. Keringat dingin dan panas bercucuran di pelipis hingga berjatuhan.


Akhirnya, mau tidak mau aku meminta Dani agar mengangkatku naik ke ranjang. "Tolongin atuh. Malah diem wae ih!!" Bentakku.


"Tadi kamu dorong aku, ya aku menjauh lah!!" Kilahnya, namun sambil mengangkat tubuhku dan merebahkanku di atas ranjang.


"Diem, jangan ikut naik!!" cegahku, dengan mendorong Dani yang hampir ikut naik ke ranjang.


Terdengar dia menggerutu kesal, "Bedegong ih!" Ngedumel sembari duduk di tepian ranjang memebelakangiku.


"Saha nu bedegong?? Maneh!! Borokokok!!" Makiku tak kalah kesal. Dengan tangan sebelah kiri mengusap lembut perutku yang masih keram.


"Ambilkan air hangat atuh A. Malah diem. bari manyun lagi!" Aku menyunggingkan ujung bibirku kesal.


"Heeuh!! Untung gue sayang!!" Ujarnya sambil berlalu pergi membuka pintu dengan kunci yang ia simpan di kantong celana, sampai menghilang dari balik pintu. Naasnya kunci itu malah ia cabut dan mengunciku dari luar.


"Aseeemm!!! Jangan kuncii!!" Teriakku dengan kaki kokosodan. Kesel banget. Berasa kaya di penjara. Udah mah perut sakit, laper. Bercampur deh.


Tak berapa lama, suara kunci pintu kembali terdengar. Perutku sudah sangat sakit tak tertahan, keringat terus bercucuran.


"Astagfirullah... muka kamu pucat banget yang." Dani terlihat panik dan menaruh gelas berisi air hangat dengan di campur jahe dan gula jawa.


"Kita ke klinik ya??"


Aku menggeleng pelan. "Siniin air anget nya. Tolongin bantu minum."


Siap tanggap Dani membantuku meneguk air jahe hangat yang ia buat, perutku yang keram sedikit membaik. Entah tau dari mana dia membuatkan aku minuman seperti itu, padahal tadi aku hanya menyuruh-nya mengambil air hangat doang.


Setelah menaruh gelas di atas meja, Dani berjongkok menghadapku, memegang kedua tanganku. Ia genggam erat tanganku. Kupalingkan wajahku, aku tidak mau terlihat lemah didepannya, aku tidak mau terhanyut lagi karena sikap lembutnya.


"Kamu keluar deh A, mau ngapain lagi sih?" Kataku memecah keheningan.


"Yang, aku minta maaf!"


"Sudah aku maafin, kok. Cepet pergi!" Usirku.


"Aku sayang sama kamu!"


"Pergi A, pergi!"


Usiranku sama sekali tak ia gubris.


"Oh iya, kamu belum makan sejak pagi, Aa ambilin bubur ayam kesukaan kamu ya, nggak pake bawang daun." Ujarnya mengusap ujung rambutku, lantas ia pergi keluar tanpa mengunci pintu.


Aku tidak tahan ingin pergi menjauh darinya. Meskipun aku selalu mengutuk nya dan mencacinya. Tapi hatiku sangat mencintai dan menyayangi dia, cinta tulusku kau balas dengan penderitaan yang sangat menyiksaku.


Kau ciptakan malam syahdu namun kau paitkan hidupku. Aku sangat menderita akibat cintanya. Sayangnya. Kututupi wajahku dengan kedua tanganku, menangis tiada henti. Airmataku seakan tak ada habisnya. Hanya ucapan maafnya saja mampu membuatku luluh lantah seperti ini. Tatapan dan suaranya membuat aku terenyuh.


🌱🌱🌱


Pagi itu aku bangun subuh...


Terasa berat kakiku, seperti dejavu. Bukan dejavu, tapi dulu juga pernah mengalami hal semacam ini.


"Dasar sinting!" Teriaku dengan mendorong tubuh Dani yang asik memelukku erat.


"Berisik yang." Ujarnya dengan wajah tanpa dosa.


"Kau pikir aku ini wanita apakah hah!"


"Lepass... Ya Allah ya Robbi Ilahi. DANIII!!!" teriaku.


"Apaan sih yang? Nggak boleh aku tidur?"


"Dasar lalaki gelo!! Pergi cepetan!" Usirku terus mendorong tubuhnya yang terus menempel padaku.

__ADS_1


"Nggak ah!!" Mengencangkan pelukannya.


"Nggak punya otak!! Bangun Dani!! Cepet keluar!! Gimana kalo istrimu liat ini. Dia pasti akan menggantungku di pohon toge!"


"Haha... kirain pohon tega."


"Nggak aku nggak mau lepas. Fitri nggak akan tau aku disini. Nenek sudah mengaturnya. Kalem yang!"


Nafasku tersengal, akibat terus berusaha melepaskan pelukannya, sampe aku capek sendiri. "Engap A, engap!!"


"Alesan. Ngeles, aku tau!"


"Kamu mau aku mati? Ya setidaknya longgarin atuh!!"


"Iyaa..."


Setelah pelukannya ia longgarkan. Kesempatan untuk aku melepaskan pelukannya.


"Eiiitsss... Tidak bisa!!"


Sial!! Kenapa nenek membiarkan Dani masuk dan tidur di kamarku.


"NENEK....!! BANGUUUUNNN TOLOOOONG....!!" teriakku dengan sekeras-kerasnya.


"Astagfirullah halladzim, kupingku soak." seketika tangannya terlepas untuk menutupi kedua telinganya.


Yess... Segera aku beringsut cepat. Saat Dani menutup kedua kupingnya.


"Tong kabur...!!"


Aku terus memutar knop pintu. Sial malah terkunci. "Kenapa dikunci begini?" Aku menggerutu kesal.


"Haha,biar kamu nggak bisa kabur lah! Apalagi?"


"Kenapa nenek sama teh Maya selalu membiarkan kamu mengganggu saya? Apa mereka nggak mengajarkan kamu untuk menghargai wanita?" Makiku. Dengan menunjuk dadanya.


"Maksudnya?"


"Kamu ini pria yang selalu merendahkan wanita, termasuk saya!"


"Apa sih yang? Kamu ngomong apa?"


"Pergi menjauh dari hidup saya!" Bentakku.


"Kamu kerasukan jin apa sih?"


Aku mendorong Dani kuat-kuat. Pagi yang menyebalkan. Nenek dan bibi macam apa mereka? Bisa-bisanya hanya diam melihat ponakan dan cucunya mengganggu wanita lain yang bukan istrinya! Bahkan tidur seranjang.


"BUKA PINTUNYA!!" teriakku sekencang mungkin.


Emosiku sudah meluap, nafasku sudah memburu. Mataku memerah. Menatap tajam laki-laki sinting didepanku.


"Sabar yang, ini semua bukan salah mereka. Aku yang memohon agar bisa bareng sama kamu! Yang penting aku sama kamu nggak melakukan hal lain selain tidur doang." Paparnya tidak tau malu.


"Otakmu taro dimana sih? Seneng banget ya kamu nyiksa aku kaya gini? Gimana kalo is..."


Suara teriakan itu membuat makianku terhenti. "Fitri?" Ujar Dani dengan mata membulat.


"Fitri??" aku mengulang ucapan Dani.


"Diem yang, kamu diem jangan kemana-mana." Berucap sambil memelukku.


Lantas aku segera melepaskan pelukannya. "Apa-apaan sih!! Jangan kurang ngajar deh! " Tunjukku.


"Siapa yang kurang ngajar? Diem! Biar nenek sama teh Maya yang menghadapi Fitri! Kita diem disini!"


Aku melipat kedua tanganku kedada, berkali-kali mendengkus kesal. Cobaan apalagi coba ya Allah...


Terdengar Fitri mengamuk memangil-manggil nama Dani dan namaku.


Suara nenek dan Maya juga sudah terdengar ricuh. Sepertinya mereka berdebat hebat diluar.


"Diem yang!" Ujarnya dengan suara berbisik.


Aku hanya melotot dan mendengkus kesal. Suara teriakan Fitri semakin keras.


"Kamu ini merepotkan orang tau nggak! Kamu ini seneng ya buat aku menderita dan berlaku kaya maling! Mikir dong pake otak!" Makiku dengan menghempaskan tubuhku di ranjang. Diikuti Dani duduk didekatku. Mengepal kedua tangannya dan ditempelkan dibibir tipisnya.


Nampak seperti orang bingung dan gelisah resah.


Aku terus menatap pria disampingku ini. Tundukan wajahnya tak lepas seperti sedang memikirkan sesuatu.


Kira-kira apa yang akan terjadi yaa ???


🤣🤣🤣 Next lagi???


Lanjoot sampai akhir ....


Thanks kaka. Like komennya 😘😘😊😊

__ADS_1


__ADS_2