My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 19 Mati konyol


__ADS_3

Aku naik keatas untuk segera merebahkan tubuhku, sangat lelah dan lemes, tangan bekas jarum infusnya juga masih sakit. Tapi, kulihat seisi rumah sangat sepi. Pada kemana??


Hanya ada suara mesin cuci yang sedang menggiling pakaian. Apa bi Timah juga ada di atas ya?? Biarin aja deh, aku mau rebahan dulu.


Hmm ... aku harus berpikir keras, aku tidak mungkin bertahan di sini lebih lama, sebelum perut ku semakin membuncit.


Ayo pikirkan ... pikirkan ...huhhh!


Lebih baik aku solat dulu, sudah terlalu lama aku mengabaikan perintah Allah.


Setelah selesai solat dan berdo'a, aku kembali merebahkan tubuhku, memejamkan mataku sejenak. Melepaskan penat.


Tiba-tiba ponselku berdering keras, aku sibuk mencari suara ponsel itu, ternyata berada di dalam tas yang Mely simpan dikamarku kemarin, itu juga kata bang Zul.


Aku merogoh ponselku yang terus berdering di dalam tas, segera aku mengangkat tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Halo,"


"Wanita jab***, kau simpan dimana Dani hah?" Maki seorang wanita, yang aku pun sudah kenal siapa dia.


"Apa maksudmu?" aku mengerenyit kan dahiku, aneh ni orang.


"Jangan banyak alasan! Aku tau, kau menyembunyikan dia kan?" tuduhnya padaku, "Dasar wanita jab***, murahan. Hanya karena uang kamu merendahkan dan menjual harga dirimu!" hinanya, tanpa rasa kasihan.


Kasihan?? Mana ada wanita yang sama-sama mencintai lelaki yang sama mengasihani saingannya. Madunya, itu tidak mungkin.


Aneh-aneh saja!


"Cepat katakan di mana Dani?" Makinya lagi.


"Aku tidak tau!!"


"Jab***, pel****!! Cepetan jawab!! Jangan pura-pura lo!"


"Terimakasih sudah menghinaku, aku akan simpan kata-kata hinaanmu itu, sampai titik darah penghabisan. Dan asal kau tau, aku tidak pernah menyembunyikan Dani! Itu sudah bukan urusanku lagi!!"


Tut tut tut.


Aku bedecak kesal.


Sial!! Kenapa dia bisa tau nomor ku?


Aku melempar ponselku keujung kasur, berharap ada keajaiban.


Keajaiban?? Keajaiban apa? Berharap kamu bisa menikah dengannya? Kalo saya sih, lebih memilih tak mengenalnya waktu itu.


Lagi-lagi kata hatiku meledekku. Sial!


Kenapa aku tak bisa lepas darinya ...


Apalagi, hinaan itu... ya, hinaan itu sangat sadis... Hinaan yang sangat menyayat. Membuat hatiku seketika remuk.


Memang, apa yang dia katakan itu benar, aku memang murahan, tapi, aku melakukannya bukan karena uang, tapi, karena cinta.


Cinta?? Mana yang kau sebut cinta Na? Justru cintamu sudah menyesatkan mu!


Arrgghhh... Otaku seperti ingin meledak hancur berkeping-keping. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih, aku meraih tas ku mengambil dompet dan melihat uang yang masih aku simpan.


"Tinggal 500, apa aku gugurin aja kandungan ini? Tapi, aku takut." Lirihku pada diriku sendiri.


Tok tok tok.


Aku terperanjat mendengar suara ketukan dari luar.


"Na, ini gue Mely, buka!" teriaknya dari balik pintu, segera aku membuka pintu dan menariknya supaya cepat masuk. Kemudian menguncinya lagi.


"Mel, lo udah beli pil itu?" tanyaku tanpa basa basi lagi.


"Nggak, Dani nyuruh gue untuk jaga lo, oh ya, lebih baik lo berenti kerja sekarang, biar yang lain nggak curiga, nanti, lo bisa tinggal di rumah bi Timah untuk sementara." paparnya.


"Maksud lo?"

__ADS_1


"Kemarin, waktu lo pingsan dan masuk klinik, ada seorang wanita paruh baya, menanyakan hal tentang elo ke uni!"


"Wanita paruh baya?" Mely menganggukkan kepalanya pelan " Lalu apalagi?"


"Iya, gue sih nggak tau pasti, untung sekarang uni lagi ke padang, katanya ibunya sakit. Jadi sekarang cuma ada bang Zul, kak Eva juga kuliah ngekost sekarang!"


"Apakah banyak perubahan saat gue pingsan kemarin? Padahal cuma 2 hari doang!"


"Banyak, tapi gue nggak bisa cerita sama lo, oya, kemarin malam Rian juga memukul Dani habis-habisan!" Tuturnya dengan menggerak-gerakkan tangannya ala petinju.


"Rian??" Aku semakin tidak mengerti apa yang terjadi selama aku pingsan 2 hari itu.


"Udah, nanti ceritanya. Sekarang lo harus beres-beres. Gue kemarin udah ngomong sama uni dan uda, kalo lo resign kerja, dan uang gaji lo ada di bang Zull."


"Tapi, apa segampang itu?? Lalu, kenapa tadi bang Zull tidak bicara apa-apa Mel?"


"Jelas, gue udah ceritain semuanya sama bang Zull!"


"Semuanya??"


"Iya, tapi itu cuma alasan. Ayoo cepet beresin. Gue antar lo pulang ke rumah bi Timah, besoknya lo harus minta izin sama ibu lo, kalo lo akan kerja bareng gue ke kota S!"


"Apa!! Nggak! Gue nggak mau!!"


"Lo harus ikut! Sebelum ibunya si brengsek itu tau posisi lo! Udah deh nurut aja kenapa sih!"


"Mell, gue mau gugurin kandungan ini aja, jadi kita nggak perlu repot-repot pergi jauh!"


"Lo yakin??"


"Yakin banget!! Please Mell please!! Yaa," bujukku, supaya dia mau membelikan pil itu.


Terlihat dia seperti sedang berpikir, bolak balik kek setrikaan. Memasang wajah gusar dan cemas, entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Mely!!" teriakku, sambil memegangi tangannya. "Ngapain sih lo mondar-mandir? Lo lagi mikir?"


"Iya, udah lah jangan di gugurin ya!"


Drrrtt drrrtt drrrtt


tiba-tiba ponselku berdering lagi.


Saat Mely ingin meraih ponselku, segera aku mencegahnya, palingan cuma wanita itu lagi. "Jangan!!"


"Kenapa?"


"Paling yang telpon cuma wanita itu lagi!"


"Wanita siapa?" tanyanya sambil meraih ponselku. Sambil cengengesan. "Gue angkat ya,"


"Serah lo!"


"Widihh ... Yang telpon my heart, hahaha. So sweet banget sih lo! Haha..."


"Udah deh, gue belum sempet hapus tu nomer!"


Kulihat Mely menempelkan jari telunjukku ke bibirnya, pertanda aku tidak boleh berisisk. Baiklah, aku mengangguk kecil.


"Haloo ..."


"...."


"Iya... saya Erna, anda siapa ya?"


"....."


"Ibu Nesi, Na." ucapnya bersbisik padaku, sambil menjauhkan ponsel nya.


"Sini-sini!!" Aku langsung meraih ponselku. Dan memasangkan nya di telinga ku.


"Ada apa ya bu?"

__ADS_1


"Jangan panggil saya ibu! kamu ini keterlaluan ya! Saya pikir kamu ini wanita baik-baik, tapi ternyata tak lebih dari sampah!"


"Maksud anda apa ya?"


"Saya sudah katakan, jauhi anak saya! Saya akan malu jika sampai anak saya tidak jadi menikah dengan Fitri!! Tolong kamu mengerti!"


"Saya tidak pernah berhubungan lagi dengan anak anda! Lagipula, tanpa anda suruh pun saya sudah melakukannya!! Terimakasih!!


Tut tut tut


"Kenapa?" tanya Mely.


"Keputusan gue udah bulet Mel, gue mau gugurin kandungan ini sekarang juga!! Cepat telpon temen lo, suruh dia kesini sekarang juga!! Cepat Mel!! Aku nggak mau melahirkan seorang anak dari pria brengsek itu!!" teriakku, membuat gentar seluruh ruangan.


"Na, lo sabar ya... ada gue disini!" lirihnya mengusap punggunggku yang sudah sangat lelah menompang beban.


"Aku nggak kuat sama semua hinaan mereka Mel, aku nggak kuat!" tangisanku pecah, membuat bising ruangan sempit yang menjadi kamarku.


"Mereka enak sekali menghinaku, memakiku, tanpa pikir bahwa anaknya lah yang bejad!!" makiku di sela isak tangisku.


Aku menangis tersedu, terduduk lemas, seakan tubuhku tak memiliki tulang, susah untuk berdiri, apalagi berjalan.


Hatiku sakit, jiwaku hancur... dunia menjadi gelap! Apa lebih baik aku mati, menyusul ayahku...


"Mel, kenapa lo diem?? Cepetan telpon!! Atau gue bunuh diri sekaligus! Biar semuanya aman! Ide gue bagus kan?" ucapku menyeringai.


"Gila lo!! Lo pikir dengan bunuh diri semuanya akan selesai!! Nggak Na!"


Tok tok tok.


"Erna, ini bibi. Kamu sudah pulang?? Ayo buka pintunya!!" teriak bi Timah sambil menggedor-gedor pintu kamar ku.


"Iyaa..."


Ceklekk


Pintu terbuka setengah oleh Mely,


"Cepet masuk bi!"


"Iya."


Mereka duduk berhadapan dengan ku, saling tatap. Aku terus menerka-nerka apa yang mereka pikirkan.


Menatapku nanar, semua terasa hening, hanya terdengar isakkan ku saja.


Mata mereka seakan-akan sedang berbicara padaku, tatapan yang sangat aneh. Melihat tanpa berkedip, membuat hati kecilku menciut.


"Ka-kalian, kenapa melihatku seperti itu?"


Sungguh aku tak bisa menahan diri, rasa penasaran ku ingin bertanya mengalahkan rasa takutku pada mereka.


"Kamu ingin bunuh diri?" tanya bi Timah padaku, dengan nada dingin dan datar, kemudian mengambil pisau yang terletak di belakangnya.


Menyodorkannya pisau itu padaku, aku sangat gemetar tak tertahankan. Apakah ini yang di sebut ajal? Tapi, sepertinya bukan!


"Ayo ambil!" ucapnya lagi sedikit memaksa.


Aku tidak yakin jika wanita tua yang berada didepanku ini adalah bi Timah. Apa mungkin dia ini kerasukan? Atau memang dia ini adalah jelmaan iblis yang menyerupai bi Timah?


Aahhh... Mely juga, kenapa hanya diam duduk bersila dengan melioat kedua tangannya, tatapannya seakan tersirat sebuah arti, entah apa?


Aku bukan psikolog yang bisa melihat dari sikap seseorang.


"A-aku ... aku ... "


Seketika bi Timah meraih tanganku, menadahkan telapak tanganku dan menaruh pisau itu di atas telapak tangan ku.


Aku semakin gemetar, keringat dingin bercucuran, seketika aku lupa dengan semua masalah yang sedang menimpaku, yang sedang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana aku bisa melarikan diri dari hadapan mereka.


Tatapan itu tak lepas dariku. Aku beringsut. Membenarkan posisiku, supaya sedikit rileks. Pisau itu masih dalam genggaman tangan ku. Tubuhku mendadak kaku.

__ADS_1


Apakah ini adalah takdirku akan mati konyol??


__ADS_2