
"Berapa mang? " tanyaku pada kang ojek. Setelah kami sampai depan rumah.
"Ya mamang mah nggak mau ngehargain berapa, yaa....yang penting ngerti lah. " jawab kang ojeknya cengar cengir.
"Padahal ada mobil, kenapa nggak pake mobil aja atuh. Malah ngojek? " sela kang ojek satu nya menunjuk mobil yang terparkir rapih dan ganteng kaya yang punya.
"MOGOK! " jawabku kompak. Sontak kami saling melempar batu. Ehh bukan lempar pandangan. Aku melotot tak mengerti
"Dihhh. Kalian tuh ya, memang pasangan yang sangat cocok. Mamang suka. "ujarnya lagi.
"Dikira memei cewek nya si ipin. " lirihku
" Aamiin. Makasih banyak lho mang." kata Wahyu senang sembari memberikan uang pada kang ojek nya. Sementara aku sedang bingung untuk bayar kang ojek yang aku carter seharian.
Gimana gue bayar nya coba. Sementara di kantong gue cuma sisa duapuluh ribu doang. Batinku.
Karena berhubung tadi aku harus membayar kopi dan makan bekas kang ojek di warung, otomatis duit ku mendadak habis.
Aku menoleh ke arah Wahyu yang fokus melihat ku.
Apakah dia mengerti? Oh jelas, dia mengerti. Alih-alih memandangi ku dengan senyuman jenaka nya. Sial banget sih. Dengan rasa berat hati aku harus membuang gengsi ku padanya.
"Lu udah bayar kang ojek lu? " tanyaku pada Wahyu.
"Udah dong, kamu? " Aku memutar bola mataku malas. Setelah ini dia pasti akan mengejekku habis-habisan.
CEKESS KESS KESSS
Suara starter kang ojek bekas Wahyu tadi.
BREMMMMM BREMMMM
"Saya duluan kang, udah mau maghrib. " pamit kang ojek, ia pun lantas segera tancap gas dan perlahan menghilang.
"Gimana neng? Mamang udah mau maghrib juga nih. " kata kang ojek. Aku mendengus.
"Lu ada duit nggak? "
"Ada sayang ada. "
"Gelay banget sih! " ketusku. Dia terkekeh. Lantas mengambil dompet di kantong nya.
"Mang, berapa? "
"Ya se ikhlasnya aja. Ya pengertian nya lah" Wahyu mengangguk mengerti.
Aku terus melihat Wahyu yang sibuk mengambil beberapa lembaran uang di dompetnya. Lantas memberikannya pada mang Irul. kang ojek Pe'a.
"Terimakasih, semoga kalian langgeng sampe maut. Mamang permisi. "
__ADS_1
"Aamiin mang Aamiin. " saut Wahyu senang.
"Sampe maut sampe maut matanya picek! " dengus ku kesal bebarengan sama kang ojek yang langsung ngibrit. Karena memang hari sudah sore dan sebentar lagi Adzan maghrib.
"Terimakasih. Sekarang tolong bukain pagar nya. "
"Siap calon istri. " Segera Wahyu membuka pagar, lanjut pintu.
Setelah itu aku pun langsung duduk rebahan santai di sofa meluruskan otot otot ku yang kaku.
"Calon istri. Aku mandi duluan ya. " ujarnya padaku, aku hanya diam melihatnya. Tiba-tiba langkah nya terhenti dan kembali menoleh padaku.
"Apalagi? "
"Tolong buatkan aku susu coklat anget. Bisa kan? " titahnya dengan nada manja-manja alay.
"Stok habis. Gua kagak punya duit. "
"Liat aja dulu di dapur. Semuanya sudah komplit lagi calon istri. "
"maksud lu? "
"Liat aja ke dapur. " setelah mengatakan itu, Wahyu berlalu masuk kamar mandi. Sementara aku beringsut kedapur untuk melihat keadaan.
Cukup lama aku tidak membeli stok bahan makanan. Karena selama ini aku makan saja mengandalkan Bara, terkadang Rian.
"Waw. Kapan dia belanja sebanyak ini? " pikirki dengan rasa takjub.
Aku langsung mengambil susu dan segera ku buatkan dua gelas. Untuk ku dan untuk nya. Aku kembali duduk dan menaruh dua gelas susu anget di meja. Selang beberapa detik Wahyu keluar dari kamar mandi.
Anjirrr. Rambut basah nya bikin makin ganteng aja. Batinku terus menatapnya.
Sementara dia asik mengosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Lantas mendekatiku dan duduk di sebelahku.
"Cepet mandi sayang. Nanti keburu telat buat sholat maghrib. "
"Iya." Aku beranjak dan segera mandi. setelah selesai aku langsung mengambil mukenah dan sholat maghrib berjamaah bareng.
Waktu semakin cepat.
Semalam pun setelah sholat isa aku langsung tidur dan masuk kamar, sementara Wahyu juga menginap dan tidur di sofa.
Aku terbangun saat telingaku mendengar suara mobil yang di nyalakan. Lantas pergi berlalu. Kulihat jam sudah setengah tujuh pagi. Aku terpikir sama Wahyu. Tergopoh-gopoh aku untuk melihat siapa yamg pergi.
"Wahyu... " teriakku mencari sosoknya yang sudah tidak ada di mana-mana. Di kamar mandi, dapur, bahkan kamar. "Dia pergi? " Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kenapa dia pergi tanpa pamit padaku. kenapa dia seperti itu.
Entah kenapa ada rasa perih yang sangat menghujam hatiku. Tetes air mata pun sudah lolos. Aku terduduk lemas di depan rumah.
"Dasar pembohong! " umpatku. "Aku tak perlu tangisi pria seperti dia! " ku elap kasar air mataku.
__ADS_1
Seperih ini ternyata hati dan perasaan ku. Selama ini aku pendam rasa rinduku padanya, Aku selalu percaya padanya apalagi dengan sikapnya yang selalu membuat aku bahagia.
Meskipun di bibir aku seperti acuh dan tak peduli, tapi percayalah. Hatiku sudah menjadi milikmu Wahyu. Tapi sekarang kamu pergi lagi.
Aku kembali masuk dan menutup pintu lalu mengunci nya rapat. Secarik kertas kutemui yang teronggok dekat TV dan sebuah amplop kecil.
"Na. Aku pergi dulu. Ada job dadakan. Aku mau bangunin kamu tadi, tapi kamar di kunci sementara waktu aku mepet. Nanti aku kesini lagi ya. Aku sudah sediakan kartu kridit untuk kamu." isi surat.
"Kamu pikir dengan adanya kartu kridit aku bisa bahagia? " lirih ku meremas surat yang ada di tanganku. "Sial! Semua laki-laki berfikir bahwa aku hanya membutuhkan uang. "
Tak lama suara motor terdengar seperti berhenti didepan rumah. Dengan rasa kekepoanku aku beranjka untuk melihat siapa yang datang.
"Bara? "
"Hai beb. Lu kenapa? Abis mewek ya? " Bara mendekat. Sembari membawa kantong kresek putih di tangannya.
"Sarapan dulu. Besok aku harus berangkat kerja ke Solo. "
"APA? " aku terkejut bukan main. "Solo? "
"Iya. Duduk dulu sini! " Bara menarik tanganku untuk duduk disebelahnya. "Sarapan dulu. Nanti gua jelasin. " katanya lagi. Aku menurut dan segera memakan bubur yang dia bawa.
"Santai aja makannya nggak usah cepet-cepet. "
"Bar, lu cuma mau ngibulin gue doang kan? "
"Gue serius. Bentar, gua ambil minum buat lu. " Aku mengangguk, tak lama bara kembali dengan membawa segelas air putih dingin.
"Abis? "
"Iya, gua laper banget. hehe. "
"Minum dulu. " Aku langsung meneguk nya hingga habis.
"Gua udah sarapan dan sekarang lu harus jelasin apa maksud dari ucapan lu tadi. "
Bara menarik nafas nya panjang, lalu di hembuskan lagi. Karena jika tidak dia akan mati. Oke baik lanjut.
"Sebenarnya, udah seminggu ini gua nggak kerja. Gua berhenti dari rumah makan itu. Dan besok gua mau ke Solo nyusul temen gua, Na."
"Kenapa dadakan gini sih Bar? "
"Sebenarnya nggak dadakan. Cuma gua baru bisa ngomong ke elu sekarang. Gua nggak mau ganggu kebahagian lu sama Wahyu. "
"Maksud lu? "
"Gua Cinta sama lu dari dulu. "
DAMN!!
__ADS_1