My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 17


__ADS_3

Kami terus berjalan menyusuri gang sempit dan kecil yang jurusannya ke rumah bi Timah.


( Hah? Jurusan? angkot kali jurusan)


"Masih jauh ya bi?" tanyaku, karena mulai capek berjalan jauh.


"Nggak, didepan sudah sampai, tuh yang ada warung disana!" tunjuk bi Timah, aku mengangguk menanggapi jawaban bi Timah.


"Kita belok kesana dulu Na. ke bidan Rindu, "


"Hah? Siapa yang rindu bi?"


"Namanya Rindu,"


"Oo..."


Setelah sampai didepan rumah bidan Rindu, aku dipersilahkan masuk. Dan langsung duduk di ranjang khusus periksa.


"Saha eta bi?" tanya bidan Rindu. Sambil tersenyum manis padaku.


"Alo neng. Lagi hamil, mau ngecek katanya," jawab bi Timah. Aku yang mendengar hanya tersenyum simpul saja sembari menatap bidan cantik itu.


"Ooh...kirain menantu bibi, istrinya si Ilman," kata bidan itu sembari menganggukan kepalanya. Lantas dia segera memeriksa perutku dengan alat andalannya.


"Hmm... ini baru 4mingguan bi," ujar bidan Rindu itu.


"Ada keluhan lain nggak neng?" Imbuhnya padaku.


Aku menggeleng pelan.


"Kandungannya sehat dan kuat bi, sangat bagus ini!" Ujarnya lagi.


Aku dan bi Timah hanya mengangguk tersenyum saling tatap. Tapi, hatiku serasa remuk. Banyak pikiran kotor yang menghampiri otakku.


Setelah selesai, aku dan bi Timah kembali pulang. Aku duduk di kursi panjang milik bi Timah. Kulihat juga ada seorang pria dewasa, mungkin itu anaknya.


Ada rasa tak enak, ketika kedatangan ku sama sekali tidak disambut oleh anaknya. Tapi ya sudahlah mau gimana lagi.


Rumahnya bi Timah sangat minimalis. Aku terus memutar bola mataku untuk melihat setiap sudut rumahnya.


"Kamu tidur sama bibi ya Na, itu kamarnya. Bibi mau ke warung dulu!" tunjuknya memberi tauku. Aku hanya mengangguk dan berjalan masuk kamar. Lantas merebahkan tubuhku. Tak berapa lama, terdengar suara Mely yang teriak-teriak memanggilku dari luar.


"Iya Mel, berisik, ini rumah orang!" ujarku sedikit emosi. Sambil membuka pintu depan.


"Iya, gue tau ini rumah orang, kalo rumah setan lo mana mau tinggal di sini!" sahut Mely ngeloyor masuk kedalam. Aku hanya menatap punggung kecil itu dan menggelengkan kepalaku, lantas ku tutup kembali pintunya dan mengekor dibelakang nya.


"Sini, masuk kamar. Jangan keganjenan!" aku menarik tangan Mely untuk masuk kamar.


"Itu anaknya bi Timah ya?" Tunjuk Mely, pada seorang pria yang sedang berbaring menonton TV.


"Iya. Gimana, lo ada jalan keluar?" tanyaku sembari menatap matanya, berharap wanita ini bisa memeberiku solusi yang baik.


"Udah berapa minggu kandungan lo?" aku mendengus, dia malah balik nanya.


"Satu bulan. " lirih ku. Lemas rasanya aku ini. Tak sanggup bertahan. Apa kata keluargaku nanti.


"Gue nggak nyangka, ternyata tu cowok gercep juga ya..." selorohnya sambil cengengesan.


Aku meninju lengannya, nggak suka di ledek kaya gitu. "Semprul!"


"Ada pil, penghancur kandungan. Harganya lumayan mahal Na. Lo ada duit?" katanya lagi.


"Ada, tapi belinya dimana?"


"Lo tenang aja, temen gue jualan. Gue langsung hubungi dia ya, biar besok langsung otw,"


"Oke-oke."


Drrrtt drrrtt drrrtt


"Hp lo gemetar tuh, minta makan," tunjuk Mely, yang melihat ponselku bergetar hebat.


Langsung gue angkat tanpa ba bi bu.


"Yang," panggil pria itu, siapa lagi.


Aku diam. Mendengkus kesal.


"Kamu dimana?" tanyanya, karena aku masih diam.


"Yang..."


"Iya iya! Apa?"


"Ya Allah, judes banget. Kita bisa ketemu sekarang?"


"Nggak bisa! Udah malem. Nggak baik untuk ibu hamil!" tukasku.

__ADS_1


"Bentaran doang yang, Aa mau bicara!" paksanya.


"Bicara aja sekarang!"


"Oke, gimana kalo besok?"


"Nggak bisa!"


"Yang, please!"


Aku terus mendengkus kesal. Jujur. Aku sangat ingin di perlakukan layaknya seorang wanita yang sedang mengandung oleh suaminya. Tapi, apalah dayaku, yang hanya mainan seorang pria mesum, yang selalu aku anggap pahlawanku. Pria masa depanku, pria idamanku.


Aaarrgghhh!! Persetan dengannya!!! Dasar pria brengsek !!


Hey... Kenapa kau memaki dia? Bukankah dia pria yang selalu kau sanjung, yang selalu kau puja-puja, yang selalu kau banggakan.


Bulsyiiittt !!!


Dasar aku, selalu berdialog dengan hatiku sendiri.


Namun, hati kecilku yang paling dalam, selalu berkata bahwa aku sangat menyayanginya.


Damn!!


Lagi, air mataku menetes, aku menatap Mely dengan wajahku yang di banjiri bulir-bulir bening.


Namun, tanpa aku duga, Mely merebut ponselku.


"Hey, brengsek! Lo harus tanggung jawab!"


"....."


"Sialan lo, gue berhak ikut campur ya! Kalo lo emang jantan, datang ke alamat xxxx, sekarang!!"


Tut tut tut


"Mel!!" bentakku. Dengan mengambil ponselku.


"Apa? Dia harus tanggung jawab! Gue nggak mau sampe lo ngegugurin kandungan lo! Itu sakit Na, sakit!!" Cecarnya padaku dengan nada kesal tertahan.


"Lo tau, gue udah ngerasain apa yang lo rasain! Sekarang gue nggak mau itu terjadi sama lo!" imbuhnya dengan segumpal emosi tingkat tinggi.


"Ma-maksudnya?" Aku bingung dengan ucapan Mely.


"Udahlah!! Gue mau nunggu tuh cowo brengsek!!"


Aku mengekor di belakangnya, melihat dia yang sedang duduk di kursi depan rumah bi Timah.


"Siniin ponsel lo!" Ucapnya sambil menyodorkan tangannya kearahku tanpa menoleh.


"Buat apa?"


"Cepat siniin!" ketusnya, "Aahhh lama!!" dia merebut ponselku. Entah apa yang dia lakukan. Yang jelas dia sedang mengetik pesan. Entah untuk siapa.


Segera aku duduk di sebelahnya. Airmataku terus mengalir. Entah mengapa tak ada habisnya airmataku ini. Aku tertunduk lemas. Tak lama bi Timah datang dengan membawa beberapa bungkus makanan.


"Mely, ko kamu sudah di sini?" tanya bi Timah, karena memang belum waktunya untuk pulang dan tutup.


"Sengaja Mely pulang lebih awal, udah ijin ko bi," jawabnya, tapi matanya tetap fokus ke layar ponselku.


"Hmmm. Nih. Kalian makan ya, bibi mau ke dapur dulu, "


"Terimakasih bi." Ujarku.


"Sudah, jangan nangis terus, nggak baik!" Mengelus pundakku.


Aku langsung menyeka airmataku.


"Mel,"


"Apa!!" masih judes.


"Lo diem aja udah! Bentar lagi tuh cowok nyampe sini! Kita tungguin!" Imbuhnya, sambil mengambil gorengan yang dibelikan bi Timah tadi.


Aku nurut aja lah apa kata Mely. Toh, rumah bi Timah juga jauh dari tetangga, kalo misalkan ada apa-apa, yang lain nggak bakalan denger.


"Nih makan, kasian anak lo!"


"Mel,"


"Apa sih! Udah cepetan makan! Jangan banyak cincong!" bentaknya padaku.


Kubuang nafas kasar, lebih baik diem. Nurut aja apa kata dia.


Beberapa jam kemudian, sebuah motor berhenti didepan rumah bi Timah, aku terkejut bukan main. Saat melihat sosok itu dari jauh. Aku sangat mengenalnya, dari postur tubuh, cara dia membuka helm. Dan semua gaya dia aku hafal banget.


Aku berlari masuk kamar, aku tidak ingin bertemu dengan nya. Apalagi, dia membawa Rudi. Sial!

__ADS_1


Aku mengintip dari balik jendela kamar.


Mendengarkan semua perdebatan mereka.


"Mana Erna? Gue mau ketemu!" tanya Dani, angkuh.


"Ketemu? Apa lo yakin?" jawab Mely.


"Yang, kamu keluar yang...!!" teriak Dani, tidak peduli dengan wanita di depannya.


"Woii, jangan teriak-teriak, ini rumah orang!" Mely dengan jantan mendorong Dani yang ingin memaksa masuk.


"Hey, jangan bikin gaduh di rumah orang bang, yang sopan dong!" Ucap seorang pria, tak lain adalah anak dari bi Timah, yang sedari tadi asik menonton TV.


"Lo siapa?" tunjuk Dani.


"Gue yang punya rumah ini!"


"Maaf, gue cuma mau ketemu sama pacar gue. Dia ada di dalam kan?"


"Woii, keluar lo! Nih cowo lo dateng mo ketemu!" teriak Ilman, anak dari bi timah.


Terpaksa aku keluar, untuk menyelesaikan masalahku. Agar aku tidak mengusik ketenangan orang lain.


Dasar tukang gaduh, tukang buat kekacawan. Aku memaki diriku sendiri.


"Apa?" tanyaku, saat sudah berada di luar. Menghadapi Dani. Meskipun badan ini sangat gemetar dan lemah, tapi aku harus kuat.


"Yang..." Dia menarik tanganku paksa, berjalan menjauhi mereka semua yang ada di depan rumah bi Timah.


Sementara yang lain hanya melihatku. Bahkan Mely juga membiarkanku.


"Mel, tolongin gue! " teriakan ku sama sekali tidak dia hiraukan. Sahabat macam apa dia ini.


"Sakit tangan gue! " teriaku berusaha melepas genggaman tangan Dani yang membuat pergelangan ku merah.


"Rud. Tunggu disini. " ucap Dani pada Rudi yang meringis melihatku yang diperlakukan kasar. Bak seorang kaisar terhadap babu nya.


"Dan. Lo kasar Dan! " kata Rudi yang terus melihatku iba. Namun ucapannya dia abaikan.


"Kita mau kemana? Lepasin! tanganku sakit A, kamu kasar banget sih?" aku terus berteriak meronta.


"Maaf, yang. Ayo ikut kita harus bicara."


"Iya, tapi lepasin dulu tanganku sakit!" bentakku hingga aku tersedak dan batuk.


"Dani! Lu budek hah! " makiku. Tapi sama sekali tidak dia hiraukan. Alih-alih malah semakin kasar dia menyeret ku.


Kesal aku dibuatnya. Marah. Aku benar-benar tidak menyangka dia sekasar ini.


Dengan sekuat tenaga aku melepaskan cengkraman tangan Dani di tanganku.


"Brengsek! "


PLAKKK


Nafasku tersengal-sengal. Sekuat tenaga aku menamparnya. Bahkan tamparanku tidak sebanding dengan perlakuan kasar nya padaku.


"Mau lu apa sih hah? " desisku tertahan kesal.


Aku berhenti tepat di depan nya. Perlahan dia mengusap pipi kanan nan mulus nya itu. Matanya membulat menandakan keheranan terhadap ku, "Apa yang kau mau hah? " tudingku. Menunjuk dadanya kasar.


Dia berbalik menatap ku. Memelukku erat. Sungguh tak bisa ku pungkiri ya tuhan, pria yang saat ini memelukku adalah harta yang paling aku butuhkan saat ini.


Lebih dari apapun. Aku tak ingin memusnahkan anak yang tak bersalah ini hanya karena kebencianku padanya.


"Yang, maafkan Aa yang selama ini sudah menghancurkan hidupmu." rintihnya dalam pelukanku. Mendengar keluhnya, hatiku serasa tercabik pisau berkarat.


"Lepaskan!" ku enyahkan pelukannya. Aku tidak mau terbuai. Tak kuasa aku menatap wajahnya yang sudah basah akibat bulir bening yang mengalir deras. Laki-laki ini menangis di hadapan ku tanpa rasa malu.


Aku tertunduk lemah, tak kuasa menatap wajah yang selalu menjadi bayang-bayang dalam hidupku.


"Aa akan menikah dengan Fitri. Aa tidak bisa menolak perjodohan ini. Maafkan aku yang lemah ini. Pengecut! " makinya pada dirinya sendiri.


Bak disambar petir di siang bolong. Bagaikan batu karang yang runtuh akibat ombak. Tidak mungkin, namun nyata. Hatiku teriris perih. Belati berkarat kini berhasil menyayat ku tanpa ampun. Tubuku gemetar mendengar penuturan nya.


Seketika dia bersujud dihadapanku, memegang tanganku penuh arti. Dengan wajah menunduk hina. Arti yang berarti aku harus merelakan nya. Hina yang berarti dia mencampakan aku bahkan memaksaku merelakan dia hidup bersama wanita pilihan ayahnya.


Sungguh tak bisa kubendung lagi. Airmata yang aku tahan kini mengalir deras membanjiri pipiku yang sembab. Akibat terus menangis meratapi nasibku yang malang.


Malang akibat dari kecerobohanku sendiri. Malang yang aku buat sendiri.


Aku sangat menyesal !!!!


😭😭😭😭😭😭


tolong bantu like. komen dan Vote ya kak.

__ADS_1


hatur nuhunn 🙏🙏🙏


__ADS_2