
Doa orang yang tersakiti sangatlah tajam. aku tidak rela jika dia harus bahagia di atas penderitaanku.
Aku kembali berjalan menyusuri tepian jalan, berusaha kuat menghadapi setiap ujian.
Berjalan sambil melamun adalah kebiasaan ku saat dirundung masalah. Daripada pusing mikirin dua makhluk astral mending lanjut pulang.
Lagi, seseorang kembali menyerempet ku, apa aku jalan nya kurang menepi, atau memang semua mahluk ini pada usil.
Aku menepi karena hampir terjatuh, pria yang menaiki motor besar berhenti didepanku dan turun berjalan kearahku yang tengah meringis kesakitan.
"Maaf mbak, tidak apa-apa 'kan?" tanya pria itu, masih memakai helmnya.
Aku menggeleng pelan, kutatap tajam-tajam wajah pria yang ditutupi helm itu. Tubuhnya, sangat mirip dengan...
"Rian?? Kamu Rian ??" tanyaku memastikan, lantas dia membuka helmnya dan menatapku.
"Masya Allah, Erna!!" memelukku, sampek aku pengap dan aku segera melepaskan pelukkannya. Malulah.
"Bentar bentar, ko kamu bisa disini?" tanyaku lagi penasaran, kenapa bisa pas begini.
"Aku sekarang kerja disini, kebetulan kosanku deket sini juga. Wahh perut kamu udah gede, 5bulan nggak ketemu. Kamu gendut banget, lucu. Kaya bola bekel, haha." Cerocosnya dengan tawaan yang khas hanya dimiliki Rian.
"Ngaledek, lu mah!" menepak lengannya.
"Ikut, kita ngobrol di warung, ayo..." Ajaknya menarik tanganku, kebiasaan deh suka maen tarik tarik aja.
"Keheula atuh, garang gusuh wae ih!!" tukasku.
"Nya, buruan naek, kita mampir ke warung bentaran."
"Ngadengkak?? Mana bisa, perutku udah gede Ian. Bonceng aja ya,"
"Ya iya, lagian siapa yang suruh ngadengkak, emang bonceng!"
"Oh... hehe"
"Kamu hebat, sekarang udah punya motor gede," sambungku sambil menaiki motornya.
"Udah, jangan bawel. Pegangan, kita meluncur kewarung yang deket ya."
"Okee..."
Motor kembali melaju, tak berselang lama, motornya berbelok arah ke salah satu warung pinggir jalan.
Diwarung itu kami mengobrol panjang x lebar. Dan ternyata saat aku resign dari toko, selang dua hari dia juga ikut resign.
Kami mengobrol puas, hingga siang menjelang. Lantas Rian segera mengantarku pulang sampai depan gang rumah saja, katanya sih masih ada perlu, jadi buru-buru.
_______________
"Assalamualaikum..." salamku saat sampai depan rumah.
"Waalaikumsalam, kamu udah pulang? Lama banget? Beli apa aja?" balas Wahyu dengan memberondong pertanyaan, sambil meraih kresek yang aku bawa.
"Jadi ini yang nama nya privasi? Bahan makanan??" tanyanya padaku sambil tersenyum manis.
"Kamu ini ada-ada aja deh," imbuhnya
"A Wahyu, Erna masuk dulu ya," ujarku, tanpa peduli pada pertanyaan Wahyu.
"Kamu kenapa? Kusut gitu, matamu juga merah?"
"Nggak apa-apa kok A, Erna masuk dulu,nanti sore Erna mau bikin pisang krispi. Siang ini mau boboan dulu!" jelasku panjang lebar. Sambil menatapnya. Dia hanya membalas dengan anggukan.
__ADS_1
Rasanya hari ini badanku lemes banget. Kututup pintu kamar, tak lupa menguncinya. Duduk ditepian ranjang sambil memandang undangan yang diberikan Fitri tadi.
Saat bersama Rian, masalah ku seketika hilang, bahkan bisa sampai lupa. Tapi setelah sampai rumah, aku kembali mengingat dua makhluk astral itu.
Mengusik ketenangan ku.
"Kenapa jadi rumit seperti ini, apa Dani benar-benar sudah melupakan aku? Apa dia benar-benar sudah tidak peduli dengan anaknya? jika benar, dia benar-benar pria yang sangat jahat melebihi mavia. Aku bener-bener nggak nyangka, ternyata aslinya seperti ini." gerutuku dengan ditemani airmata yang berderai...
Hatiku benar-benar sakit, remuk bubuk menjadi debu. Aku tidak akan pernah memaafkan dia.
Drrttt Drrrtt
Suara getar ponselku.
"Halo..."
"Na, ini Aa," katanya dari balik telpon.
"Ada apa? Kamu belum puas menghina saya? Kamu belum puas menyakiti saya? Apa aku harus mati biar kamu bisa santai dan tidak ada beban? Kamu tidak perlu kawatir, aku tidak akan merepotkan mu sampai anak ini lahir!" cecarku penuh emosi.
Segera aku memutuskan sambungan telpon Dani yang mambuatku prustasi. Tapi, tiba-tiba ponselku bergetar lagi.
Satu pesan masuk. Saat aku baca ternyata dari Mely. Mau apa dia. Bikin empet aja.
[ Sayang... beb, kamu dimana?? aku mau ketemu please. Biar aku jelasin semuanya beb, please yaa. Kirim alamatmu sekarang juga.!!]
"Lah... aku kan nggak tau, ini dimana?? Selama beberapa bulan disini aku tak pernah taut tentang daerah ini!" gerutuku saat aku mengingat bahwa aku tidak tau nama desa ini.
Tepok jidat deh aku, oon nya kebangetan. Mikirin Dani mulu, jadi gini deh.
[ Aku nggak tau, aku dimana! ]
Tidak sampai 1 menit pesan sudah di balas.
[ Masya Allah beb, masa kagak tau sih! Tanyain dong sama orang! Pasti kamu mikirin dani terus! Iya kan? Cepet tanyain sama orang! Aku pokonya mau ketemu kamu, hari ini juga titik nggak pake koma!!]
Aku beranjak keluar dari kamar, mendekati wahyu yang masih berkutat pada leptopnya.
"A..."
"Eh... ada apa beb?"
Hah?? Beb?? Apa aku nggak salah denger?? Mataku terbelalak kaget.
"Sini duduk, jangan berdiri di situ, ada apa?" tanyanya masih fokus dengan layar yang ada didepannya.
"Emmm... bentar ya A, Erna mau kedapur dulu!"
"Oke..."
Aku berinisiatif ingin membuat susu hangat coklat untuknya, karena memang dia sangat menyukai susu hangat.
"Di minum dulu A, susunya," ujarku sambil menaruh secangkir susu hangat dimeja dekat layarnya.
"Ah!! Susu siapa?? Mau dong!" katanya antusiasme.
Aku mengerutkan dahi, menatap aneh pada pria yang ada di depanku ini.
"Aa kesambet apaan?? Jurig jarian ya?? Atau kuntilanak beranak lima?" tanyaku terheran-heran.
"Haha... kamu ini ada-ada deh, ndut..." jawabnya Mencubit hidungku.
"Apaan sih!"
__ADS_1
"Makasih ya susunya, manis." ujarnya sambil menyeruput secangkir susu coklat.
"Sama-sama..." Aku kembali beranjak masuk kamar, mengambil undangan yang tergeletak di ranjang. Berniat untuk memperlihatkan pada Wahyu, tapi, ponselku terus berdering, dengan terpampang nama Dani disana. Aku abaikan. Aku udah nggak peduli sama dia.
"A, ini..." Aku menyerahkan undangan pernikahan Dani dan Fitri.
Tertulis indah dengan nama-nama yang bagus.
Iri, aku memang iri, aku kesal aku sakit. Tapi mau gimana lagi, orang miskin kaya aku mana bisa menentang mereka yang kaya dan banyak uang. Aku bukan lah sepadan dengannya. Bagaikan pungguk merindukan bulan. Bagaikan matahari yang ingin bersatu dengan bulan. Sangat tidak mungkin.
"Ini apa?" tanyanya, mengambil surat yang aku sodorkan.
Aku diam menunduk, duduk didekatnya.
"Undangan??" Ujarnya, " Apa? Dani dan Fitri?? Minggu depan?? Apa-apaan mereka!! Dasar brengsek!! Pria gob*** kaya dia oantas daper wanita gob*** juga." makinya dengan tangan terkepal emosi.
Aku tertunduk menangis, sungguh aku tidak tahan membendung airmataku. Aku tidak tahan.
"Aku disuruh dateng A, ke acara pernikahannya!"
"Dateng aja, sama Aa nanti. Aa mau ngabarin teh Maya dulu. Biar suruh pulang sekarang juga!"
"Tunggu A, kalo Aa dateng sama aku, nanti Sinta gimana??"
"Aa udah putus sama Sinta!"
"Apa?? putus?? bukannya Aa mau menikah dengan dia?? Kenapa harus putus? Apa karena aku? Karena Aa sibuk merawatku dan menemaniku?" cerocosku tanpa jeda.
"Bukan, endut... Aa hanya tidak suka di atur-atur, dia itu posesif sama Aa. Lagian Aa nggak mau punya istri yang posesif, suka ngelarang. Apalagi pekerjaan Aa ya begini. Memfoto banyak wanita... bukan cuma wanita, pria juga, kadang emak-emak kadang bapak-bapak. Yaa banyak lah... kadang orang seperti kamu juga," jawabnya lebih panjang dari aku.
"Kaya aku? Orang hamil maksudnya?"
"Iya orang hamil."
"Oo... diminum lagi susunya, biar nggak emosi,"
"Terimakasih, kamu perhatian banget sih ndut..."
"Nanti kalo udah lahiran aku bakal sexi lagi, aku nggak mau gendut jelek kaya gini, rambut digelung mulu. Ihh bosen!" keluhku.
"Sabar. Cuma beberapa bulan lagi kan?" ujarnya mengusap ujung rambutku.
Entah kenapa jantungku berdebar kencang, deg deg kaya mau keluar. gemetar juga diperlakukan kaya gini. Apalagi pas dia manggil sayang, beb. Duuhh buat aku jantungan.
"Kamu kenapa? Gemetaran gitu?" tanyanya diiringi kekehan kecil.
"Nggak apa-apa kok, oya A, Mely mau kesini. Tapi aku nggak tau nama desa ini. Alamat lengkapnya aku nggak tau."
"Masa sih, kamu nggak tau?"
"Iya, sumpah deh."
"Kamu sih, mikirin Dani mulu. Udah deh lupain dia!! Masih banyak laki-laki yang mau sama kamu, menerima kamu apa adanya. Iya kan?"
"Entahlah, aku nggak yakin. Mana ada laki-laki yang mau menikah sama wanita yang sudah hamil punya anak tapi belum terikat pernikahan. Udahlah A, aku males ngomongin itu, catet disini alamatnya, biar aku kirim ke Mely, bolehkan dia kesini? Kerumah ini?"
"Mely ini laki-laki atau perempuan?" tanyanya.
"Ya perempuan atuh, namanya aja Mely kok!"
"Haha... oke!"
Dia mencatat lengkap alamat ini di lembaram kertas. Setelah itu memberikannya padaku. Segera aku masuk kamar, mengambil ponsel dan kirim alamatnya lewat sms.
__ADS_1
Sebenarnya aku juga kangen sama Mely, mau tau penjelasan dia kenapa menghilang sejak aku terusir dari rumah bi Timah, mau bejek-bejek dia sampe bonyok kalo alasannya nggak berbobot.
Kemaren author seharian ngantuk abis, nggak pokus nulis... 😁😁