My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab29


__ADS_3

Ya tuhan kuatkan aku... agar aku sanggup melihat mereka bagaikan Raja dan Ratu dalam sehari.


Kuat kuat kuat kuat !!!!!


Saat aku ingin melangkah masuk, tiba-tiba kakiku terasa sakit. Mungkin efek akibat high heels yang aku pakai.


"A tunggu dulu, kakiku sakit." Meringis sambil mengusap kakiku.


Semua orang terus memperhatikan aku dan Wahyu. Entah kenapa, akupun tidak tau.


"Kenapa? Kekecilan ya sepatunya?" berujar sambil berjongkok.


"Enggak, tapi emang aku nggak terbiasa pakai ini." Jelasku.


Saat Wahyu sedang asik berjongkok melihat keadaan kakiku, tiba-tiba seorang wanita datang menghampiriku, dengan menyodorkan slip on shoes nya padaku.


"Pakai ini..." ujar si wanita


"Sinta...," Aku terkejut saat mendapati Sinta yang juga hadir diacara ini. Bahkan menyodorkan sebuah Slip on shoes nya padaku.


Wahyu mendongak, melihat wajah Sinta yang sangat begitu cantik. Jauh berbeda denganku, Maya dan Mely hanya menatap kami yang sedang melakukan drama.


"Sinta, kamu diundang juga?" tanya Wahyu. Beranjak berdiri.


"Iya A, aku di undang sama Fitri," katanya.


Tuhkan, dari gelagatnya aja Wahyu tuh kaya yang belum move on dari Sinta. Untung aja tadi pas dimobil aku tolak. Kalo tidak, bisa-bisa aku di cap wanita gampangan. Mulai detik ini, aku akan membalas semua perbuatan laki-laki yang seenak jidatnya padaku.


Aku akan membalasnya. Pria semuanya sama, pembohong besar, tukang bulsyit.


"Yu, ko kamu malah ngobrol sama Sinta! Teteh nggak mau ya, kamu ngecewain Erna! Kamu nggak liat, dari tadi Dani fokus kesini?" Cecar Maya pada Wahyu dengan tangan bersila.


"Maaf teh, aku hanya ingin memberikan pinjaman sepatu untuk Erna." Timpal Sinta sambil menyodorkan sepatu itu padaku.


"Terimakasih, Sinta..." ucapku


"Sama-sama. Oya A, kamu bisa temenin aku makan disana, dekat panggung?" ajak sinta pada Wahyu. Menunjuk kursi dekat panggung.


Aku menatap kearah Wahyu, berharap dia menolak ajakan Sinta.


"Maaf, aku nggak bisa!" tolak Wahyu. "Sini sepatunya, biar Aa pasangin," sambungnya padaku.


Aku sodorkan Slip on shoes nya pada Wahyu, kemudian mengganti high heels yang aku pakai dengan slip on shoes milik Sinta.


"Udah, gimana? Enakan nggak sepatunya?" Wahyu. Mengacuhkan Sinta yang berdiri dibelakangnya.


"Udah lebih nyaman. Terimakasih A!"


Dibalas senyuman.


"Ayo buruan!!" ajak Maya sedikit dengan nada tinggi. "Teteh mau ke ibu dulu, nanti kalian nyusul ya... teteh males kepelaminan." ujarnya sambil berlalu pergi.


"Mbak, aku sama siapa?" teriak Mely.


"Deuhh, aku lupa kalo bawa cucunguk." Celetuk Maya. Sontak aku dan Wahyu terkekeh geli.


"Ya Allah mbak, cucunguk. Aga elitan napa!" Keluh Mely.


"Bawel, kamu ikut mbak kesana, wahyu sama Erna kepelaminan, kasih selamat sama kedua makhluk halus itu." ledek Maya.


Kami menurut, mengangguk kompak.


Dan akhirnya kami berempat pun berlalu dan meninggalkan Sinta di pintu masuk. Berjalan pelan mengarah kepelaminan. Sementara teh Maha dan Mely keujung ruangan.


Kulirik Dani, dia sangat tampan. Pangeranku, andaikan aku yang berada disampingmu saat ini. Mungkin aku akan sangat bahagia bersamamu.


Aku menatapnya lekat, dia membalas tatapanku, tersenyum simpul padaku. Bagaimana bisa dia tersenyum seperti itu? Apa dia tidak memikirkan perasaanku. Tapi aku sangat ingin memeluk tubuhnya.


Isshh... apaan sih! Nggak banget deh!


tiba-tiba sisi lain hatiku menolak.


Ku tepis lagi angan-angan ku menjauh dari otakku.


"Pegangan, yang." bisik Wahyu. Saat kami akan menaiki pelaminan megah ini.


Pegangan?? Emang aku mau nyebrang, nyebrang kehati kamu ...eakk 😅


Terlihat raut wajah Fitri sangat terkejut, saat Wahyu menggenggam tanganku, apalagi Dani, wajahnya berubah merah, dengan tangan terkepal.


Apa maksudnya dia menunjukan sikap seperti itu. Pikirku.


Aku dan Wahyu naik kepelaminan. Bersalaman dengan orang tua Fitri, semuanya seakan berjalan dengan lancar. Saat aku berada didepan Dani, kutatap dia lekat, ya tuhan rasanya aku ingin menangis. Ingin berteriak bahwa dia adalah kekasihku. Dia adalah ayah dari anak yang aku kandung. Sialnya aku tak bisa, sialnya itu hanyalah angan-angan kosong.


"Terimakasih, sudah datang!" ketus Fitri, Dani diam mematung, sementara aku hanya tersenyum.


"Yang, buruan jangan lama-lama!" ucap Wahyu padaku, karena aku bergeming didepan Dani saat Wahyu bersalaman dengan orang tua Dani.


Wahyu menarik tanganku, seketika genggaman tangan Wahyu dilepaskan oleh Dani, sehingga membuat aku hampir terjungkal kedepan pelaminan. Dan untungnya, wahyu sigap menangkapku.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Wahyu, sambil mengusap lembut pundakku. Saat posisiku sudah normal.


"Enggak A, aku nggak apa-apa!" Mengatur nafas, karena kaget. Untung aku nggak nyuksruk di kolam-kolam hiasan pelaminan.


Terdengar suara receh manusia yang menertawakan aku, termasuk si Fitri ini.


"Dasar brengsek!! Jangan pernah ganggu calon istriku!!" ancam Wahyu. Dengan menunjukan urat kesalnya.


Mendengan ucapan Wahyu, wajah Dani semakin merah.


"Sudah A, malu! Fitri, ini untukmu, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah," ucapku pada Fitri yang terlihat sangat cantik dan menawan sambil menyodorkan kado padanya.


"Secepat ini ya, kamu mendapatkan pengganti Dani!" Sindir Fitri saat aku sedang bersalaman dengan kedua orang tua Dani.


"Fitri, apa maksud kamu?" tanya ayah nya Dani.


"Ayah nggak tau, dia ini wanita yang waktu itu dibawa oleh Dani. Ayah lupa?" ujarnya.


"Fitri!! Mulutmu bisa diem kan?" kecam Dani, dengan meraih tangannya. Aku bergeming, menatap heran sama makhluk astral ini.


Aku belum sempat menjawab bahkan mendengarkan jawaban dari ayahnya Dani, tapi Wahyu sudah menarik tanganku lebih dulu, hingga aku berjalan agak sedikit cepat meninggalkan pelaminan kelabu itu, berjalan mendekati keluarga Wahyu dan Maya yang sudah menunggu di salah satu tempat yang cukup nyaman.


"Mah, ini Erna. Kenalin!" dengan semangat Wahyu mengenalkan aku tanpa rasa malu.

__ADS_1


Aku menyodorkan telapak tanganku dengan mengembangkan senyuman, namun seperti yang aku duga. Ularanku di tolak mentah-mentah.


"Teh, dia ini cantik banget ya, Wahyu cocok banget sama dia." sindir Maya. Berucap pada ibunya Wahyu.


"Jangan gila kami Maya! Dia ini istri orang! Lagi hamil lagi!" sahut Ibunya Wahyu, dengan melirik sinis padaku.


Yang bisa aku lakukan hanya tersenyum, apalagi. Berlapang dada saat aku tersindir dan mendapat perlakuan buruk.


"Mamah! Kenapa nggak dibalas,"


"Tidak perlu Wahyu!" tukasnya. "Maya, teteh nggak suka kamu menjodoh-jodohkan Wahyu dengan orang lain!" sambungnya pada Maya.


"Jangan seperti itu Mary, semua sama dimata tuhan!" tegas wanita paruh baya, saya pikir dia ini adalah neneknya Dani dan Wahyu. Ibunya Maya.


"Iya Teh, semua sama, benar kata ibu!" timpal Maya, aku hanya mendengarkan debatan mereka.


"Siapa namamu?" tanya wanita yang sudah lansia itu padaku.


"Nama saya Erna bu," balasku, menyalaminya dengan takzim.


"Sopan sekali,"


"Iya atuh nek, selain sopan dia juga cantik," sahut Wahyu.


Ibu yang sudah lansia itu sangat lembut, perhatian, bahkan dia terus tersenyum padaku. Mungkin kebaikan Maya menuruni dirinya.


Kami mengobrol banyak sekali, tentang Wahyu masa kecil, tentang Dani dan Maya. Semuanya seakan seperti keluarga, meskipun ibunya Wahyu sama sekali tak bicara, hanya diam dan mendengarkan ocehan receh kami, biarkanlah aku mengerti batu krikil seperti aku tidak akan pernah bisa menyatu dengan permata. Mustahil.


"Yu, nenek pulang dulu, nggak kuat capek." Ujarnya sambil tersenyum.


"Nenek pulang sama siapa?"


"Sama bapakmu,"


"Oke, hati-hati nek,"


Aku bersalaman lagi dengannya, hingga nenek itu berlalu pergi, ditemani seorang wanita, mungkin pembantu nya. Entahlah rasanya ribet banget berada diputaran ini.


Lagi, ibunya Wahyu masih menampakan wajah horornya, sampek aku merinding sendiri. Aku pasrah, wanita sepertiku akan sulit mendapatkan pria tampan dan kaya. Mungkin yang miskin dan berwajah pas-pasan pun pasti akan sulit menerimaku.


"Yang, kamu mau kan menikah denganku?" tanya Wahyu tiba-tiba.


"Ciee...ciee jadiin lah" sorak Maya dan Mely.


"Apaan sih kalian. Wahyu sini dulu, mamah mau bicara!" menarik tangannya pergi dari hadapan kami semua.


"Apa sih mah!" Wahyu berdecak. Aku hanya bisa menatap Wahyu yang ditarik mamanya pergi. Biarlah.


Mely mengusap pundakku, mencoba menguatkan aku, agar aku tak menangis di sini. Maya juga ikut menenangkanku.


"Jangan diambil hati, ya!" ujar Maya.


"Teh, lebih baik aku pulang. Aku tidak mau merusak acara keluarga teteh."


"Enggak, kamu tetap disini. Lebih baik kita makan dulu. Ayoo," ajaknya.


"Iya beb, sabar ya. Kita makan dulu baru pulang." sahut Mely, merengkuhku hangat. Aku sangat beruntung Mely bisa menemaniku disaat yang tepat.


Setelah beberapa jam kemudian... Sore menjelang malam.


Aku jadi ingat sama ibu, sama kakak-kakakku, adikku. Semuanya...


Andai kalian tau, betapa tersiksanya aku disini. Bahkan untuk menelpon kalian pun aku tidak sanggup, aku takut menangis. Maafkan anakmu ini bu, maafkan anakmu ini yah... tolong maafkanlah aku...


Derai airmataku menetes, tak tahan rasanya membendung lagi, deburan hatiku yang terombang-ambing, terguncang hebat seakan aku tak mampu lagi menahan rasa sakit.


Hening...


Mely asik menonton dangdutan. Aku asik meratapi nasibku. Sebenarnya nasib itu bukan untuk diratapi, tapi dinikmati. Tapi berhubung nasibku begini, mana bisa dinikmati.


Sementara Maya entah kemana, mungkin sibuk karena ini adalah acara keluarga nya.


Wahyu juga, semenjak ditarik oleh mamahnya, hingga sekarang belum kembali.


Aku yakin, orangtuanya pasti tidak akan mengijinkan berdekatan denganku.


Biarlah, aku mengerti.


Tiba-tiba.


Grepp


Pelukan seorang pria dari belakang membuatku terkejut.


"Dani!" ujar Mely sontak berdiri.


Aku terbelalak saat Mely menyebutkan nama Dani.


"Lepaskan pelukanmu Dan. Ini acara pernikahanmu, jangan kamu kotori seperti ini!" Aku meronta, berusaha melepas pelukan Dani.


"Tolong maafkan Aa yang, tolong maafkan. Aa akan menikahimu setelah ini. Tolong maafkan!" rintihnya. Dengan mengoceh omong kosong belaka. Dasar bulsyit.


"Dan lepasin, lu nyakitin bebeb gue!" teriak Mely, mencoba melepaskan pelukan Dani. Terjadi sedikit kericuhan dipojok ruangan tersebut. Sehingga para tamu terfokuskan pada keributan yang kami buat.


"Diem lu!! Ini bukan urusan lu!" Bentak Dani.


"Oke, aku maafin. Tapi lepasin dulu, aku engap!!" teriakku.


"Aku nggak mau melepaskan kamu!"


"Dan, aku engap, aku nggak bisa nafas!" teriakku berusaha melepaskan pelukannya.


"Aku nggak rela kamu sama Wahyu yang, kamu hanya milikku!" Meracau omong kosong, bisa-bisa nya dihari pernikahan nya melakukan hal bodoh kaya gini.


"Mel tolongin gue Mel,"


"Dan, kalo lo nggak lepasin dia, gue bakal teriak!" amuk Mely. Mely belum semoat berteriak, tiba-tiba Maya berteriak keras menjerit-jerit sehingga membuat para tamu dan pelayan berlarian kearahku.


Karena aku yang masih dipeluk kencang dari belakang sampai aku lemas, karena leherku tercekik.


Dani seperti kesetanan, entah apa yang merasukinya. Sinta yang berlari dengan menggandeng lengan Wahyu, sedikit membuatku terkejut, Fitri dan orang tuanya juga ikut turut berlari. Semuanya mengerubuniku dan Dani.


Mati aku, disini aku pasti akan dihina habis-habisan.

__ADS_1


"Lepasin calon istri gue Dan!" teriak Wahyu, berlari mendekati kami.


"Dani!! Ini hari pernikahan kita, kenapa kamu melakukan ini!" teriak Fitri. Namun Dani samasekali tak mempedulika teriakan Fitri.


"Apa? Calon istri? Dia itu calon istriku." Masih memelukku. Aku semakin kehilangan nafas. Dasar tidak tau malu.


"Kau melukainya Dan! Dia kehabisan nafas!!" teriak Wahyu. Mencoba melepaskan pelukan Dani yang sangat membuatku sulit bernafas.


"Dani, apa-apaan kamu! Jangan bikin malu!" Bentak ayah Dani.


Sontak Dani melepaskan pelukannya padaku, nafasku tersengal-sengal, terbatuk-batuk akibat pelukan Dani yang hampir membuat ku mati.


"Kau wanita murahan!"


"Siapa dia Fitri? Kenapa Dani melakukan itu padanya?" tanya orangtua Fitri. Namun Fitri diam.


Mely kembali merengkuh tubuhku. Menjauhi Dani dan Wahyu yang sedang berdebat, dan hampir terjadi baku hantam. Praha kegaduhan ini membuat semua para tamu ketakutan dan risau. Sehingga salah satu dari mereka menelpon pihak yang berwajib.


Tubuhku sangat lemas, aku tidak tau apa yang mereka perebutkan. Aku ini hanya wanita kotor, sangat tidak pantas diperlakukan seperti ini.


Pesta yang tadinya damai tentram, kini menjadi riuh, akibat ulah Dani dan Wahyu. Pertengkaran hingga percekcokan terjadi, membuat berantakan acara yang seharusnya berjalan lancar ini.


Bahkan Fitri dan keluarga nya mendekati mereka semua. Sedangkan Maya menyuruhku untuk menjauh dari mereka, karena takut perutku akan menjadi sasaran. Huru hara kegaduhan ini terus berlangsung.


Ya tuhan... ini semua salahku, sulit menecritakan ini. Pokonya acaranya itu BERANTAKAN gara-gara si Dani Gila itu.


Aku duduk menepi dikursi pojok, tak sanggup menahan airmata, aku merasa sangat bersalah atas kejadian ini, semua orang para tamu menatap nanar padaku, sorot mata mereka seakan menusuk jantungku, membulyku, mencaciku, bahkan menyalahkan aku, mencap diriku sebagai perusak rumah tangga orang. Bahkan ada yang beranggapan kalau aku ini wanita simpanan yang tidak terima laki-laki nya menikah dengan wanita lain.


Sungguh ini semua terjadi di luar dugaanku, andaikan aku tau,mungkin aku tidak akan menghadiri pernikahan ini.


Aku sangat menyesal, aku sangat menyesal.


"Kenapa semua terjadi padaku Mel, aku menyesal telah mengenal keluarga ini, aku menyesal! Kapan penyesalan ini akan berakhir Mel? Aku ingin mengakhiri penyesalan ini, sungguh aku tidak sanggup!" lirihku, meraup wajahku yang sudah sangat kusut dan berantakan.


"Sabar beb,semua ini pasti ada hikmahnya, sabarya.."


Mely memelukku erat, isakan tangisku seakan tak bisa berhenti.


Kericuhan dan kegaduhan ini seketika hening...


Mungkin pihak keamanan sudah melerai mereka, aku juga bahkan sangat yakin, Fitri tidak akan tinggal diam kerana pesta pernikahannya hancur bagaikan kapal pecah.


Dan ternyata aku benar, Fitri datang dengan membawa segelas kopi dan mengguyur wajahku dengan kopi yang ia bawa.


BYURRRR


"HUKUMAN BUAT LO YANG UDAH NGERUSAK ACARA GUE!!" maki Fitri dengan luapan emosi.


PLAKK


PLAKK


Bahkan dia juga menamparku bolak-balik.


Aku tersedak akibat guyuran kopi, bahkan pipiku juga terasa perih akibat tamparan Fitri.


Orang tuanya dan orang tua Dani juga turut mencaciku dengan ucapan yang tidak baik.


"Air mata buaya!"


"Wanita penggoda, pela***!!"


"Wanita tidak tau diri!"


Semua cacian dan hinaan aku terima, Mely yang sedari tadi diam kini angkat bicara. Bahkan berani menampar Fitri didepan orang tua dan mertuanya.


Semua orang kembali mengerubuniku.


PLAKK


"Empet banget gue sama lo!" tunjuk Mely tak kalah emosi.


"Mel udah Mel, lebih baik kita pergi!" Cegahku agar Mely tak kebablasan.


"Diem! Lo duduk diem! Kasian anak lo yang ada didalam perut, biar gue yang balas kelakuan dia! Cantik tak berakhlak!"


"Orang kaya berpendidikan ternyata seperti ini! Kelakuannya sangat mirip dengan preman, suka merendahkan dan menghina orang lain tanpa mawas diri! Menyedihkan!" Mely meracu, aku terus mencegah nya.


Fitri membalas tamparan Mely, dan akhirnya mereka ribut dan beradu cekcok saling sindir dan menghina.


( Pokonya sulit nulis di bagian ini,soalnya semua orang pada recok )


Maya berlari merengkuhku, karena aku hampir tergulung Mely dan Maya yang sedang baku hantam, orang tua Dani dan Fitri tak habis menghinaku, memaki, dan mencaciku.


"Jadi wanita yang Wahyu bawa ini mantan kekasih Dani?" tanya seorang pria paruh baya kepada Fitri, saat pertikaian mereka terlerai.


"Iya om, betul sekali!" sahut Fitri.


Namun Wahyu kembali datang, mendekati aku dan membelaku. Memelukku didepan Fitri dan keluarganya.


"Wanita pela*** seperti dia kau pungut! Sepupumu saja membuangnya, kau malah memungutnya, memalukan Wahyu!" maki orangtua Wahyu.


"Jadi dia ini Erna, untuk apa kau datang? Benar-benar merusak acara penting anakku dan menantuku! Lebih baik kamu pergi!" Usir ayahnya Dani. Mendorongku.


"Paman!! Dia wanita hamil, kenapa mendorong nya!" Maki Wahyu.


"Wahyu, kamu jangan termakan cinta buta!"


"Iya wahyu!! Mamah kecewa sama kamu!"


Begitupun dengan ibunya Dani dan Fitri yang ikut menghinaku, semua para tamu undangan terus melihat drama memalukan dan menyedihkan ini.


Secara terang-terangan ayahnya Dani memutuskan hubunganku dengan Dani.


"Mulai detik ini, kau dengan Dani putus!!" Ucap ayah Dani.


Wahyu sendiri diajak pulang secara paksa oleh kedua orangtuanya. Hanya Mely yang masih setia disampingku. Bahkan Maya hampir kewalahan menghadapi situasi rumit ini.


Dani sendiri entah dimana.


"Stoop!! Saya akan membawa dia pergi! Kalian bisa melanjutkan acara kalian! Maafkan saya yang sudah mengacaukan acara kalian!" Jelas Maya. Kemudian mengajakku berjalan melewati kerumunan para tamu undangan.


Bajuku kotor, wajahku cemong penuh ampas kopi. Mely menuntun ku sampai mobil,dan melaju cepat meninggalkan pesta pernikahan Dani yang berantakan karena ulanya sendiri. Andaikan Dani tak melakukan hal yang tidak pantas, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Namun semuanya sudah takdir, aku harus menerimanya dengan lapang dada, aku yakin, tuhan sudah merencanakan kebahagiaan untukku

__ADS_1


Maaf ya agak berantakan tulisannya, ribet sih nulis dibagian ini, soalnya banyak banget orang-orang yang juga ikut-ikutan. 😪😪


__ADS_2