
Kuintip lagi, dia mulai melangkah
mendekati pintu ini. Segera aku kembali duduk dan diam tak bersuara...
Ting tong
Suara bel terus berbunyi.
"Huuh... mau apa sih dia? Udah tunangan masih aja kesini!" Desisku. Dengan kaki menggejug bumi.
Kini berganti dengan suara ketukan pintu dan ucap salam.
Tok tok tok
"Assalamualaikum."
Kujawab dengan berbisik-bisik, takut dia dengar. "Waalaikumsalam."
Ketukan pintu bersuara lagi, kini lebih keras.
Tok tok tok
"Assalamualaikum...!!"
Lagi, kujawab dengan berbisik-bisik.
"Waalaikumsalam."
Knop pintu terus naik turun seperti sedang dimainkan. Aku semakin gusar.
"Aa tau kamu didalam, Na!" teriak Wahyu menerka bahwa aku didalam.
Ya, memang aku didalam.
"Buka pintunya! Aa ada perlu sama A Dani!" ujarnya memberitauku. Namun, entah itu hanya sekedar alasan atau bualan agar bisa bertemu denganku.
"Nggak ada orang!" Spontan aku menjawab. Hingga kututup mulutku dengan kedua tanganku dan mata melebar.
"Lah.. Itu suara siapa?? Buka genduuut...!!" masih memutar knop dan menggedor-gedor pintu. Seraya berteriak.
"Gendat gendut gendat gendut... dasar krempeng!!" Rutukku dengan suara berbisik kesal.
"Maksudnya, Dani nggak ada!!" Aku membenarkan jawabanku yang asal ceplos tadi dengan ketussss.
"Ya bukain dulu lah!" Paksanya.
"Mau apa sih kesini?" Aku, dengan berjalan perlahan mendekati pintu depan.
"Ada perlu, Na! Please buka ... Please!!" Terdengar suaranya seperti memelas.
Kamipun terus lanjut tanya jawab dengan teriak-teriak.
Seketika hening....
Kuintip dari balik gorden. Ternyata Wahyu masih stay di depan sambil jongkok, dengan tangan mengutak atik benda pipih yang digenggamnya.
Entah dia mengabari siapa. Biarlah.
Akupun kembali duduk dikursi. Banyak panggilan masuk dari teh Maya. Tapi, aku abaikan juga. Biarkan saja, aku lagi malas bicara, kalo bisa, aku mau puasa ngomong hari ini.
Hingga beberapa jam kemudian, klakson mobil juga kembali terdengar.
Siapa lagi tuh?
Kulihat jam, sudah pukul 11 siang.
Jangan-jangan si Dani pulang?
Tapi kan, masih siang??
Apa mungkin dia ijin atau...??
Lantas, aku beranjak berjalan mengendap seperti maling, ku intip lagi dari balik gorden, ternyata benar, Dani sudah pulang. Kok tumben banget sih?
"Ngapain lu?" Tegur Dani menunjukkan wajah tak suka.
"Mau ketemu Erna!" jawab si Wahyu singkat, seraya memalingkan wajahnya dan beranjak berdiri
"Mau apa ketemu sama cewe gua?" tanya Dani ketussss.
Kepedean banget sih tuh orang!! Ngeselin!! Ingin rasanya gue jitak tuh palanya ampe benjol.
Aku menyender dibalik pintu. Mendengarkan mereka yang sedang berdebat. Karena, aku belum pernah liat mereka ngobrol deket.
Tapi, tetep. Kuping kupasang lebar-lebar. Agar bisa mencerna setiap rinci obrolan mereka.
"Cewe? Apa gua nggak salah denger?" jawab Wahyu dengan berdecih.
Kuintip lagi sedikit.
"Ya nggak lah! Mending lu pergi aja sana. Ngapain sih?" Usir Dani, dengan tangan bergaya Husss ... Husss. Seperti sedang ngusir ayam.
"A, please deh. Jangan buat gua bersikap kagak sopan sama lu!" Ucap Wahyu dengan sedikit menekan.
Yang akhirnya mereka pun terus berdebat-debat... hingga beberapa menit, mungkin hampir 1jam.
Dan, menguping. Sekarang udah menjadi hobi baru akuu. Haha...
"Sampai botak pun, lu kagak bakal dibuka," Kata Dani dengan nada santai, setelah tadi berdebat lama.
"Ya elah... bentaran doang!" Terdengar wahyu mengeluh
"Minggir, biar gue yang ngomong! Bujukan gue itu mantul. Lo nggak akan bisa kaya gue!" katanya kepedean. Aku yang mendengar dari dalam hanya bisa menahan tawa.
Liat saja. Bakal gue kerjain. Hahah...
"Silahkan aja!" jawab Wahyu.
Mungkin Wahyu menyingkir, dan menggeser dirinya menjauh dari pintu.
Karena Dani langsung teriak-teriak minta dibuakin pintu.
"Yang... buka dong pintunya!" pinta Dani, seraya terus mengetuk pintu.
Aku diam.
"Yang... buka lah... Aa laper nih," bujuknya lagi.
Aku masih diam. Si Wahyu mulai cengengesan, seperti ingin tertawa, namun ia tahan.
"Yang, buka lah, please ..."
"Nggak!!" jawabku ketussss.
__ADS_1
"Haha... mana? Ko belum dibuka juga?" Seloroh Wahyu.
"Yang... sayaaaaaanggg, please,"
Kudengar Wahyu semakin ngakak tertawa. Hingga akupun ikut tertawa.
"Yang, buka lah... Aa kebelet nih. Bisa-bisa berak di celana!" Alasannya. Dasar TUTI.
Aku langsung membuka kunci pintu itu.
Menatap mereka tajam. Senyuma yang tadi terpasang, kini berubah mencekam.
"Haii Gendut..." Sapa Wahyu dengan senyuman sumringah.
"Apaan sih? Aku nggak gendut kok!" Ketusku pada Wahyu, seraya berlalu setelah membukakan pintu. Duduk selonjoran kembali di kursi depan TV.
"Iya deh... kamu nggak gendut." jawabnya manja-manja alay. Nyelonong masuk dan duduk bersebelahan dibelakang punggung-ku.
"Heh!! Lu hargain gua sebagai Aa lu dong!!" Sela Dani sedikit kesal. Berjalan mendekati kami dan duduk nyelip ditengah-tengah.
Ku geser pantatku perlahan. Begitu juga dengan Wahyu.
"Lu jangan deket-deket deh! Apaan sih!!" Dani yang sedari tadi terus menggerutu kesal. Dasar cowok rempong.
Wahyu pun menjawab dengan kesal lagi, "A, lu ini apaan sih. Nora tau nggak!"
"Ehh. Masih untung lu di biarin gue masuk dan duduk!!"
"Apaan sih A. Cewek lu bukan apa bukan. Cuman MANTAN doang juga sok berkuasa lu!" cecar Wahyu menekan. Aku hanya menyunggingkan garis melengkung yang terukir dibibirku. Dengan wajah menatap kedepan.
Yaaaa.... dan akhirnya terjadilah lagi cekcok diantara mereka. Kuambil cemilan bekas aku tadi. Menyalakan Tv lagi dan memutar acara DAHSYAT di RCTI siang itu.
Kuabaikan mereka berdua. Biarkan saja berdebat. Sampe berbusa kek. Serah deh, yang penting nggak mengganggu gue.
"Jadi berasa laku gini ya gue. Direbutin dua cowok sekaligus." Gumamku kepedean dengan menahan tawa.
"Duduk lu di bawah!" Bentak Dani, setelah mereka selesai berdebat.
"Serah lu deh! Rumah-rumah lu. Daripada gue diusir! Lagian, sama sodara gitu amat, judess!" Sindir Wahyu menurut duduk dibawah, dengan kaki bersila dan wajah ditekuk.
"Suka-suka gua lah!" Tukasnya berlalu pergi kedapur, entah mengambil apa dan sedang apa. Aku hanya menatap kepergian Dani.
"Na, kamu udah baikan? Kapan lahirannya?" tanya Wahyu antusias. Setelah Dani pergi kedapur.
"Emangnya siapa yang sakit?" jawabku, tanpa menoleh padanya.
"Teh Maya?"
"Teh Maya? Kalo teh Maya yang sakit, ngapain nanya ke aku?"
"Bukan. Maksud Aa kata teh Maya kamu sakit,"
"Enggak tuh!" Jawabku singkat.
"Galak amat sih."
"Bukannya kamu udah tunangan ya A? Ko Sinta nggak di ajak??" To the point aku mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan Sinta. Padahal itu hanya basa-basi ku saja, untuk menghilangkan rasa penasaran-ku. Biar jiwa kepo-ku nggak meronta-ronta.
"Tunangan??" Wahyu mengucap ulang lagi kata-kataku, dengan dahi mengerut dan mata menyipit sebelah seperti keheranan.
"Iya tunangan!" Sambar Dani dari dapur. Dengan membawa dua cangkir kopi dan jahe hangat yang ia taruh diatas nampan. Lantas meletakannya ditengah-tengah meja.
"Bukannya lu tunangan sama Sinta?" Tanya Dani mengulang perkataannya. Lebih tepatnya memastikan. Iya atau Tidaknya.
"Emang iya??" Kataku sembari merubah posisi menjadi duduk menyender dengan kaki menjuntai kelantai, sementara mereka duduk dibawah.
"Iya lah. Masa kalian nggak percaya sih??"
Aku dan Dani saling pandang, menatap Wahyu, memang dia seperti sedang tidak berbohong.
"Terus, Sinta ngapain telpon aku, ngasih tau aku, kalo kamu dan dia mau tunangan, dan bahkan aku disuruh dateng lho." Jelasku memberitahu dengan sedikit ngegasss..
"Ya biasa aja kali yang. Ko kamu sensi sih?" Ucap Dani menimpali.
"Aku cuman nggak habis pikir aja, kalo seandainya malam itu aku dateng. Pasti aku sudah mati! Mungkin aja mereka sudah punya rencana mau membunuhku? Atau bahkan menculikku? terus mengambil anakku? Bisa saja kan?" Cerocosku penuh emosi. Sengaja juga aku bicara kaya gitu. Mau tau reaksi mereka berdua. Lantas beranjak pergi masuk kamar dan mengunci pintu.
"Jangan asal nuduh gitu dong yang. Keluargaku nggak kaya gitu kok. Buktinya mamah mau menerima anak kita sebagai cucunya!" Teriak Dani yang membuntuti-ku, namun keburu aku kunci pintunya.
"Iya Na. Kamu masih marah saat kejadian dirumah sakit?" Wahyu juga ikut berbicara dengan teriakan.
"Jangan teriak-teriak!! Emang ini dihutan!!"
"Nah itu? Kamu teriak juga?" Ucap Dani.
"kalo aku boleh!! Kalian nggak!!"
"Iyaaaaaaaaa. Tapi kamu jangan nuduh yang nggak-nggak dong, yang! keluarga kita tuh nggak sejahat itu!" Rupanya Dani masih berusaha membela diri. Dasar sinting. Lupa apa! Kalo keluarga dia sudah menghinaku habis-habisan!
"Aku nggak nuduh, kok. Aku kan bilang. S-E-A-N-D-A-I-N-Y-A !" balasku dengan mengeja kata. Lantas membukakan pintu kamarku lagi, berdiri di tengah-tengah pintu, "Soal dirumah sakit. Jelas aku masih marah, masih ingat. Bahkan sampai aku tua pun bakal aku ingat. Kejadian yang sangat membuat aku sakit hati secara lahir dan batin. Kamu pikir aku ini wanita yang mudah menerima semuanya dan melupakan semuanya begitu saja?? Oh, jelas tidak!! Kamu tau apa yang terjadi padaku setelah ibumu, Wahyu. Menjenggut rambut panjangku hingga aku terjungkal kebelakang? Aku dan anakku hampir mati!! Untung saja itu rumah sakit! Banya orang yang membantu-ku!!" Imbuhku panjang kali lebar.
Kejadian itu, akan selalu aku ingat. Hingga aku mati.
Kini Wahyu ikut beranjak mendekatiku, bersebelahan dengan Dani.
"Aa minta maaf Na," ucap Wahyu. Mencoba meraih tanganku.
"Dan andaikan malam itu, aku datang. Mungkin aku sudah mati, karena rencana busuk keluarga kalian padaku!"
"Iya! Andaian kamu itu berlebihan sama keluargaku, yang!" Kilah Dani.
Dasar tidak tau diri. Apa mata mereka selama ini buta?
"Satu lagi. Mama kamu mau menerima anakku karena menantu kesayangannya nggak bisa hamil. Inget itu!!" kecamku dengan menunjuk dada Dani.
BRUGGHHH.
Kututup kembali pintu kamarku. Lantas menguncinya lagi.
"Nggak gitu juga yang. Mamah tau kalo itu murni anakku dan kamu!" teriak Dani.
Aku diam tak menjawab. Pusing banget pala berbie.
"Buka pintunya! Sensian amat sih?" teriak Dani lagi.
"Udahlah A, biarain aja dulu. Erna benar. Dia bukan wanita sempurna yang bisa memaafkanndan melupakan perlakuan buruk keluarga kita A."
"Lagian, ngapain sih ibu Lo ikut campur! Hah? Pake acara menganiaya dia lagi!!"
"Aku juga nggak tau A. Semua ini gara-gara teh Maya!"
"Jangan salahkan orang lain! Intro diri lo!"
"Yang harus intro tuh bukan cuma gua! Lu juga!"
__ADS_1
"Diem lo!"
"Serah lo!"
Sementara Dani terus menyuruhku membuka pintu. Aku kesal dengan pembelaan Dani terhadap keluarganya padaku!
Disisi lain, ponselku terus berdering keras, saat aku lihat ternyata A Misca.
"Waduhhh... mau apa nih?" Gumamku, ragu untuk mengangkat panggilan darinya.
"Woii BERISIK!!" teriakku. Seketika suara Dani pun lenyap. Aku kembali fokus pada panggilan telpon di ponselku.
Setelah berkali-kali panggilan itu tidak aku angkat. Kini berganti dengan nada lain. Nada khusus SMS masuk. Segera aku membaca SMS dari A Misca. Kakak iparku.
[ Neng, ibu sakit. Kamu bisa pulang nggak? ] isi SMS nya.
DEGG...
Sakit??
Ibu sakit??
Segera aku membalas nya.
[ Sakit apa A? ]
[ Tipes ... ibu dirawat neng. Kamu bisa kan pulang?? Kasian ibu mau ketemu kamu! ]
[ Kondisinya gimana A? ]
[ Kamu pulang aja deh dulu. Kasian. Pokonya pulang ya hari ini. Kalo kamu sekarang lagi kerja. Bisa setelah pulang kerja langsung pulang ya... kamu udah lama juga nggak pulang-pulang. Kasian ibu. ]
[ Iya A, aku akan ijin sama bos. ]
[ Ditunggu! ]
Kulempar ponselku kesembarang arah. Entahlah... pikiranku kacau balau.
Badanku mendadak lemas seperti tak ada tulang.
Tak ada asumsi yang masuk kedalam otakku. Ngebleng pikiran ku.
"Ya Allah... ngapain juga gue harus bilang bakal ijin sama bos! Bos siapa?? Bos-sok? Dasar, **** banget sih gue!! Suka asal ceplos gini!! Mulut mulut mulut!!"
"Aku harus gimana?? Aku nggak mungkin pulang dengan keadaan fisik-ku yang seperti ini? Bukannya sembuh, ibu malah semakin kritis nanti! Ya Allah... Ya Robb, cobaan apa lagi ini?? Kok, banyak banget." Rintihku, airmataku menetes.
Aku terus mengeluh... otakku seakan-akan mau meledak. Dengan terpaksa aku keluar kamar, siapa tau manusia diluar bisa membantu.
Saat pintu mulai aku buka, spontan mereka berdua beranjak kearahku, karena melihat aku yang menangis.
"Kenapa?" tanya mereka kompak. Aku nyelonong duduk meninggalkan mereka yang masih berdiri didepan pintu kamarku. Tanpa menjawab.
Lantas mereka pun ikut mengekor dan duduk di sebelah kanan dan kiriku lagi.
Menampakan wajah bingung.
"Ibu sakit A," lirihku sambil menundukan kepalaku. Sesekali menyeka airmata yang terus mengalir.
"Sakit??"
"Sakit apa yang?" tanya Dani, lalu merangkulku dari sisi.
"Tipes, aku disuruh pulang... tapi aku nggak mungkin pulang A. Aku bisa di gantung hidup-hidup nanti sama A Surya, ( kakakku yang suka nganterin aku waktu masih bekerja di ruko studio )"
"Astagfirullah halladzim..." Wahyu ber'istigfar.
"Sabar ya... Aa minta maaf." Suara Dani terdengar sangat lirih, seperti terbesit penyesalan.
"Gini aja, mending aku yang kesana..." Ucap Wahyu menyarankan.
"Nggak, biar aku aja yang kesana. Aku udah kenal sama A surya... ka Eva dan semuanya. Termasuk ibu."
"Nanti kamu bakal jawab apa A?" tanyaku dengan menyenderkan kepalaku dipundak Dani.
"Apa aja. Kalo udah sampe sana, Aa bisa ko cari alasan yang jelas." Aku dan Wahyu hanya mengangguk.
Lagi-lagi suara mobil kembali terdengar. Tapi kami abaikan. Karena kami pikir orang lain.
"Ya udah, disini biar Erna aku jagain!!" ujar Wahyu.
"Iya. Biar gue yang kesana sendiri."
Namun...
Tiba-tiba...
"Nggak bisa!!" Timpal seseorang yang baru masuk, karena sedari tadi pintu depan tak ditutup.
Lantas kami bertiga pun menoleh kearah suara itu.
"Fitri!!" Ucap kami kompak.
Sontak aku melepaskan rengkuhan Dani dan berganti duduk bersembunyi dibelakang Wahyu.
Kucengkram erat pinggang Wahyu. Takut wanita itu gila nya kambuh lagi.
"Kamu nggak ada sangkut pautnya dengan-nya A, kamu sudah bukan siapa-siapa-nya dia lagi! Aku ngelarang kamu pergi!" Sergah Fitri, mencoba mencegah Dani.
"Kenapa kamu bisa kesini??" tanya Dani. Tanpa peduli dengan cegahan Fitri.
"Kamu sudah berhari-hari nggak pulang A, kamu nggak hawatir sama istri kamu? Kamu nggak kasian sama istri kamu ini hah??" Makinya. "Disini kamu malah enak-enakan sama perempuan murah ini!" Imbuhnya dengan menginaku lagi, andaikan aku tak berbadan dua, sudah kurobek mulutnya hingga soak.
"Kamu memang istriku! Tapi aku tidak mau punya istri yang suka seenaknya sama orang!!"
"Aku tau, Semua ini gara-gara dia!!" Tunjuknya padaku. "Wanita tidak tau diri dan tidak malu! Lihat saja sekarang! Memeluk tubuh Wahyu. Tadi dipeluk kamu!! Dasar cewek murahan!!"
"Jaga ucapanmu teh!!" Sergah Wahyu, kini menggenggam tanganku.
Dani pun ikut geram dan mendekat kearah Fitri. Lantas menyeretnya hingga keluar rumah.
Jelas, Fitri menjerit-jerit. Karena Dani juga terlihat sangat kasar padanya. Lalu menghempaskan tangannya. Kulihat juga Fitri menangis.
"Jaga ucapanmu Fitri!! Kalo kamu nggak bisa menjaga ucapan dan sikap kamu!! Aku akan menceraikan kamu!!" Dani mengancam, mungkin dia sudah kehabisan stok sabarnya.
Dan mereka pun bertengkar hebat. Hingga Wahyu pun ikut melerai, sementara aku kembali masuk kamar.
Merenungi nasibku yang penuh dengan drama...
Anjayyyy 🤣🤣 susah nginget kejadian ini teh... Abis udah lama betttt.
Tahun 2011 kalo nggak salah 😅😅
Jan lupa like komen nya ya kaka 😍😍
__ADS_1
terimakasih 🙏🙏🙏