My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 34


__ADS_3

Mataku mengerjap karena mendengar suara teriakan dari balik pintu. Ternyata lamunanku membawaku ke alam mimpi, "Yang, bangun!! sudah sore... kamu makan dulu, belum makan oge ih!" Terdengar berdecak. Dengan terus mengetuk pintu.


"Hissh ganggu!!"


Aku terbangun, menggelung rambutku yang tergerai, mengucek mataku sebentar, lalu beranjak dari ranjang dan membuka pintu. "Apa?"


"Kamu bobo lagi?"


"Iya!"


"Judes amat!" Kuhiraukan dia dengan tatapan sinis.


Lalu aku mendorong tubuh Dani, karena menghalangi pintu. Berjalan keluar menuju kamar mandi. Rumah kembali terlihat sepi, pada kemana lagi orang-orang?


Tapi, aku tak menghiraukan nya, aku segera mandi membersihkan tubuhku. setelah selesai mandi dan memakai baju, Dani juga menghilang, kemana sih?


Aku terus mencari-cari disetiap sudut rumah, dengan teriakan lantang ala nenek sihir, tapi hasilnya nihil tak ada yang menyaut teriakanku... Hingga aku capek sendiri dan duduk santai depan rumah. Membuka majalah Fashion wanita kekinian yang teronggok dimeja.


_________


Setelah hampir jam 5 sore, aku masih duduk diam dikursi depan. Ku telpon Maya suara hpnya terdengar didalam kamar, pertanda ia tak membawa hpnya. Ku telpon Dani juga tak di angkat sama sekali, kemana mereka? kenapa menghilang secara bersamaan begini.


Hingga menjelang magrib, mereka tak lagi muncul, "Mereka pada kemana sih? ya Allah, apa Dani marah karena aku mendorongnya dengan kasar? Tapi Maya dan nenek juga kemana? Si mbak juga nggak ada?"


Daripada bingung, mending aku solat magrib dulu, setelah itu baru memulai mencari mereka lagi yang ngadak-ngadak menghilang.


Setelah selesai solat, aku kembali duduk ditepian ranjang, tiba-tiba lampu padam dan semua menjadi gelap.


"Astagfirullah... kenapa mati lampu begini," aku menggrayangi setiap sudut meja dan tembok, berusaha mencari lilin untuk menyalakan lampu penerangan.


"Sial banget sih? Mereka pada kemana coba! Nggak tau apa kalo aku takut gelap gini! Mending liat setan daripada gelap-gelapan!" Gerutuku sambil terus berjalan kaya orang buta.


Saat aku tengah menggrayangi sisi tembok, tiba-tiba saja ada yang memelukku dari belakang.


Grepp


Spontan aku menjerit-jerit "Aaaaaaa...Allahhu akbar" Aku berteriak dengan mata terpejam. Sambil mulut komat-kamit menyebut asma Allah. Masih shok dengan seseorang yang memelukku dari belakang tak mau lepas. Aku memberontak tapi orang itu malah semakin erat memeluk.


Dan ternyata ...


"SURPISE ....." bebarengan dengan lampu menyala kembali. Tiupan terompet dan peluit.


"Hah!!" Aku menohok, kaget bukan main. Yang lebih parahnya, aku lupa sama ulang tahunku sendiri, sangat terharu pastinya. Aku menangis...


"Happy birthday sayang..." bisik Dani padaku, ternyata dia yang meluk aku dari belakang. Sumpah hampir mau jantungan.


Dia membalikan badanku menghadapnya, "Ko nangis?" memegang kedua pipiku. Aku menggeleng pelan.


"Kamu sedih ya?" Menyeka airmataku.


"Aku, terharu."

__ADS_1


"Cieee,,, selamat ulang tahun," Ucap Maya membawa bolu dikedua telapak tangannya.


"Aku nggak ulang tahun teh," elakku, karena, yaa tau darimana mereka semua tau ulang tahunku. Bahkan Dani sendiri juga tidak tau kalo aku ulang tahun sekarang, karena aku tidak pernah memberi tau tanggal lahirku padanya.


"Alah, pura-pura aja deh,"


"Selamat ulang tahun geulis," ujar nenek memberi selama padaku.


"Terimakasih banyak nek,"


Dani pun mengambil bolu dari tangan Maya, "Tiup lilinnya sayang, jangan lupa berdo'a dulu."


Kepejamkan mataku, doaku adalah, bisa bahagia bersama orang yang aku sayang. Setelah itu, aku langsung meniup lilin dengan angka 17 itu.


Tak henti-hentinya air mataku berderai, mungkin ini yang dinamakan sweet seventeen. Aku sengaja merahasiakan identitas tanggal lahirku, karena aku malu, masih remaja sudah hamil, diluar nikah pula. Tapi nyatanya mereka semua tau.


"Kamu tau darimana ulang tahunku?"


"Tentu aku tau dong. Oh iya, teh mana kadoku?" Dengan menyerahkan bolunya sama si mbak.


Maya beringsut mengambil kado kemudian menyerahkan kado kecil berbentuk kotak itu pada Dani, dan ia pun langsung membuka kotak kecil itu. Ternyata sebuah cincin couple polos berwarna perak.


Mengambil cincinnya dan dimasukkan kejari manisku. Sungguh tak bisa aku gambarkan perasaan bahagia ini. Andaikan Fitri tau bahwa suaminya melakukan hal yang sangat manis ini padaku, mungkin aku akan habis di cabik-cabik olehnya.


"Maafkan atas semua kesalahanku, maafkan atas semua keegoisanku. Kamu mau kan menikah sirih denganku? Demi anak kita!" Tutur Dani dengan menatap manja padaku.


Kulirik disekelilingku, hanya ada Maya, nenek dan si mbak perawat. Mereka terlihat tersenyum bahagia. Sungguh tak bisa aku lukiskan perasaan aku yang sangat-sangat bahagia ini.


"Aku sudah memafkan mu A. Tapi, aku tidak bisa menikah denganmu,"


"Aku tidak mau menyakiti hati perempuan lain. Tapi cincin ini aku terima A."


"Mana bisa begitu, aku tidak mau kamu menolak pernikahan ini!" Dani terlihat sangat marah. Tapi ini yang terbaik menurutku.


"Aku nggak bisa A, kecuali kamu menceraikan dia, " lirihku dengan wajah tertunduk.


"Kamu tidak mengerti aku!" Dani berlalu keluar rumah, meninggalkan aku yang masih diam bergeming. Aku hanya bisa menatapnya.


"Erna, Dani tidak bisa menceraikan Fitri, kamu tolong mengerti dia! Dia sudah sangat menderita dengan aturan keluarganya!" Maya menimpali, dengan sedikit nada tinggi seperti menghakimiku.


Aku diam, tertunduk lagi tak berani menatap.


"Geulis, Dani tidak bisa meneceraikan Fitri. "Nenek juga ikut bicara.


"Maaf nek, Erna tidak bisa!"


"Kamu pikirin lagi, kamu nggak kasian sama Dani yang sudah berkorban banyak buat kamu! Dia hanya melakukan satu kesalahan dan kamu tidak toleransi terhadap dia?" Cecar Maya padaku.


"Teteh harap kamu pikirkan lagi, jangan pikirin dirimu saja! Pikirin juga anak kamu yang akan lahir sebentar lagi!" Berujar lalu pergi dari hadapanku.


Kamu tidak tau perasaanku teh, kamu tidak mengerti perasaanku yang sudah sangat sakit.

__ADS_1


Kutatap nenek yang masih berdiri menatapku, aku menangis didepannya. Ku rengkuh tubuh tua itu. Menangis dipelukannya, "Maafkan Erna nek,"


"Nenek tau, tapi apa salahnya kamu menikah sirih dengan Dani, Dani sudah mengurus semuanya, kalian tinggal menikah besok,"


"Apa?? Besok?"


"Iya besok!"


Aku beringsut melepaskan pelukan nenek, berjalan duduk dikursi kayu. Meraup wajahku yang sudah sangat kusut dan berantakan.


Nenek berjalan mendekatiku, mengusap pundakku lembut, "Temui Dani geulis, tenangkan hatinya, saat ini dia sangat butuh kamu." Berucap lembut.


"Tapi nek,"


"Kamu mencintai dia kan? Apalagi ini adalah momen yang sangat pas buat kalian,"


"Nek, nenek pasti mengerti dengan perasaanku kan?"


"Nenek sangat mengerti, tapi ada baiknya kamu menerima pernikahan ini, setelah menikah kamu bisa kan pulang kekampung dengan Dani, kalo seperti ini, apa kamu. Bisa pulang? Tidak kan?"


"Iya nek, terimakasih banyak,"


"Ayoo, temui Dani." titahnya.


Kutatap wajah yang mulai keriput termakan usia itu, mengangguk mengiyakan. Kuambil kue yang masih dipegang si mbak. Berjalan pelan mendekati Dani yang duduk termenung didepan rumah.


"Mau apa lagi?" Tukasnya. Saat aku sudah berada didepannya.


"Aku mau minta maaf, aku mau menikah denganmu!"


"Kamu yakin?" Masih jutek


"Aku yakin. Tapi bagaiman dengan Fitri? Apa dia tidak curiga kamu menghilang tak ada kabar begini?"


"Bodo amat sama dia. Yang penting kamu yang,"


Aku tersenyum duduk disebelahnya, kuletakan kue di meja dan mulai memotongnya, "Kue pertama aku berikan sama orang yang sangat aku sayang,"


"Terimakasih, kamu mau mengerti aku." Aku mengangguk.


Kusuapi dia, dengan sesendok kue ulang tahunku. Matanya berbinar, senyuman nya kembali terpancar. Wajahnya yang kusut kini kembali sedikit lebih ceria.


"Maafkan aku A,"


"Seharusnya aku yang minta maaf,"


"Kita saling introspeksi diri,"


Lalu dia menggeser meja dan mendekatkan kursinya dengan kursiku, diciumnya keningku. Aku sangat bahagia, tapi disisi lain ada wanita yang sedang kesepian dan mungkin menangis karena suaminya pergi entah kemana...


"Kini kamu harus berbagi suami denganku Fitri, ini bukan kemauanku. Maafkan aku." Batinku. Menatap langit dan bintang yang seakan mendukung suasana hatiku saat ini.

__ADS_1


Ngantuk banget 🤣🤣


Authornya pemalas sih 😁😁


__ADS_2