
Apakah aku sehina ini di mata mereka yang terlihat suci, bahkan belum tentu anak-anak mereka ini baik, atau bahkan ada yang lebih dariku.
Memang, begitulah manusia, akan sangat berasa dirinya suci saat melihat orang sepertiku.
Bahkan mereka tega memperlakukan kasar padaku yang terbilang masih remaja. Apa mereka tidak punya hati, mencaciku dengan berbagai hinaan dan perkataan tidak baik.
Memperlakukan gadis remaja dengan cara sadis, mengusir dan bahkan ada yang menamparku.
Sangat keterlaluan dan tidak manusiawi.
Yang membuatku sakit hati, Intan yang sudah salah paham denganku sampai tega melempari aku dengan telur. Sehingga semua warga mengikuti tindakan jahatnya.
"Cukup!!! Tolong jangan menghinaku seperti ini!" Teriakanku membuat mereka semakin parah mempermalukan ku.
Plaaakkk...
Aku tertegun dengan apa yang aku lihat. Suara tamparan keras.
Ya, aku melihat Ilman menampar Intan.
Kenapa bisa?? Apa karena sudah melemparku dengan telur??
Hatiku terus bertanya-tanya tentang Ilman.
"Kau, keterlaluan!!" tunjuk Ilman, menatap benci kemudian berlari kearahku.
Membuat Intan semakin geram melihatku. Dengan memegangi pipinya yang di tampar Ilman.
Airmataku terus mengalir, membasahi seluruh area pipiku. Dadaku sesak, aku tidak tau, ternyata wanita itu membawa petaka secepat ini.
"Maafkan Intan, Na. Lebih baik kamu pergi sekarang, ini ada uang untukmu," ucapnya berbisik, menyeka airmataku.
"Maafkan aku kak, aku... aku harus kemana sekarang?" lirihku.
"Jangan banyak bicara!! Cepat pergi ! Jangan sampai kau mengotori desa kami!" Teriak salah satu warga laki-laki tua.
Mendengar ucapan laki-laki tua itu, aku dan Ilman menoleh menatapnya. Sementara yang lain hanya menonton drama yang sangat mengiris hati jiwa dan perasaan.
Semua warga saling beradatangan, sudah seperti pasar malam.
Memangnya ini wayang kulit. Kebiasaan masa, kalo ada yang begini pasti asik bergunjing dan bergosip. Menjadikannya tontonan menarik. Dan pastinya akan menyebar dari mulut ke mulut.
Biarlah... ini juga salahku.
( Kalo kejadian nya di jaman sekarang, mungkin aku sudah Viral kali ya, karena banyak yang memvidiokan )
Ilman memegang kedua pundakku, sementara semua warga asik mencaci maki dan mecercaku.
"Na, kaka minta maaf, meskipun nantinya kaka akan di maki oleh ibu, tapi, ini demi kebaikan kita semua. Tolong terima ini ya, pergilah dan jangan kembali!" ucapnya pelan, membuat luluh harapanku. Dia meraih tanganku dan menadahkan tanganku, lalu ditaruh nya uang beberapa lembar.
"Kak, aku pikir kamu akan peduli padaku," aku berusaha mencegahnya, agar aku tidak terusir.
"Aku peduli dengan mu, Na. Tapi ini yang terbaik! Kamu harus pergi!" ujarnya lagi, mengusap pundakku, terdengar dengkusan yang seakan seperti emosi tertahan di rahangnya.
"Kak, ini sudah malam, aku mau kemana?" rintihku memohon iba, mengharap belas kasihan padanya.
"Pergilah ... dan jangan kembali!" ucapnya tak acuh. Dengan memalingkan wajahnya. Melepaskan cegahan tanganku.
Tangisanku semakin pecah, orang yang aku kira peduli ternyata tidak sama sekali.
Aku sangat membencimu Dani!!
Kau pria terkutuk!! Semua ini kerana dirimu!!
Luapan emosiku yang tertahan didalam hati membuat aku meracu menyalahkan dirinya.
Setelah mengatakan itu, dia berlalu pergi, tanpa peduli denganku yang tak tau harus kemana. Aku terus menatap punggung kekar dan berotot itu. Berlalu tanpa rasa peduli.
"Sudah pak, bu. Lebih baik bubar, wanita itu sudah saya usir!!" ucap Ilman. Membubarkan perkumpulan yang tak di undang ini.
"Maafkan saya, selaku ketua RT, Ilman. Ini semua demi kebaikan warga sini!" Jawabnya, dengan menatapku sinis.
Aku menunduk melihat tatapan itu.
"Baik, pak. Saya mengerti!"
Aku yang masih tersungkur. Melihat warga kampung semuanya bubar. Berjalan melewatiku. Bahkan ada yang menoyor punggungku. Kepalaku.
"Airmata buaya, sudah begini baru menangis!" ketus salah satu warga yang berjalan melewatiku.
Hingga dari bibir ke bibir saling bersahutan menghinaku tanpa henti.
Tega sekali mereka, bagaimana jika anaknya berada diposisi ku. Sangat kejam. Ilman sendiri menarik tangan Intan, kemudian masuk rumah dan langsung menghilang dari pandanganku.
Menghela nafas panjang, ingin rasanya aku menceritakan semua deritaku pada laki-laki yang sudah membuatku seperti ini.
Aku berusaha bangkit, berdiri, dan mencoba berjalan, menjauh dari rumah bi Timah.
Kulihat sekejap rumah bi Timah, setelah itu, aku langsung pergi meninggalkan rumah mereka.
"Selamat tinggal, bi. Terimakasih atas bantuan bibi selama ini," gumamku.
Baru dua langkah, tiba-tiba, Ilman memanggilku lagi, aku menoleh, aku pikir dia akan memberiku waktu semalam lagi, tapi ternyata tidak, dia membawa tas jinjingku.
"Ini bajumu. Cepat pergi, ya. Jangan menyusahkan orang lain lagi!" Ketusnya. Kemudian berlalu begitu saja. Bahkan, aku pun belum sempat menjawab, ataupun mengangguk.
__ADS_1
Tega sekali, apa mereka semua tidak memiliki hati dan perasaan??
Tanpa rasa ragu lagi, aku berjalan menjauh, semakin jauh. Menyeret kakiku secara paksa dengan menenteng tas jinjing yang berisi bajuku. Ku kaitkan tas jinjing itu di pundak sebelah kiriku.
Berkali-kali berusaha menelpon Mely, tidak ada jawaban sama sekali. Kemana dia sebenarnya.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 21: 30, harus kemana coba.
Setelah berjalan cukup jauh, menyusuri tepian jalan raya. Aku melihat mesjid.
"Lebih baik aku bermalam di masjid saja, daripada bingung mau kemana." Pikirku.
Aku langsung menyebrang. Tak lupa membersihkan diriku yang penuh dengan telur, lalu berwudhu, melaksanakan shalat. Juga berdo'a memohon di beri kesabaran dan keikhlasan.
Setelah itu, aku langsung merebahkan tubuhku, dipojokkan mesjid, dengan tas jinjing sebagai pengganti bantal untuk menopang kepalaku.
Hingga tak terasa, waktu terus berjalan sampai subuh menjelang pagi.
__________
Susah payah mencari kontrakan murah. Ternyata sangat sulit dengan kondisiku yang seperti ini, tidak segampang membalikan telapak tangan. Semua pemilik kontrakan sangat mendetail tentang diriku.
Aku melamun di sebuah bangunan batu yang dibuat khusus untuk orang-orang duduk. Sesekali meneguk air mineral yang ku beli tadi pagi.
Semua orang melihat nanar padaku, dengan pakaian ku yang terlihat sangat kumuh dan dekil. Membuat orang-orang mengira bahwa aku ini orang gila. Bahkan ada yang tega melempar batu-batu kecil padaku. Supaya aku segera pergi dan menjauh dari mereka.
Hatiku menangis, jiwa dan ragaku tersakiti ...
Pisikku lemah, memang macam orang gila sih, kalo di liat-liat mah.
Aku kembali berjalan, pikiran ku berkecamuk menjadi satu, banyak asumsi yang masuk di otakku. Pikiran-pikiran yang sedang mencari cara, entah cara apa, aku sendiri tidak tau.
Aku kembali berjalan, dengan terus menatap kedepan, dengan tatapan kosong.
Kulihat jembatan besar, aku berlari ke arahnya, menatap air sungai yang lebar dan banjir. Entah apa yang ada dalam pikiran ku, hingga kakiku mulai naik ke pembatas jembatan. Aku berangan-angan akan segera menyusul ayahku.
"Ayah ... tunggu aku!!" aku berteriak sekencang-kencangnya.
Dan saat aku ingin melompat, tiba-tiba, ada yang menarik tanganku, namun, bukan nya ketarik, aku malah terpeleset dan hampir terjatuh bergelayut di bawah jembatan. Pria itu dengan sigap memegangi tanganku, menarik dan berusaha membuatku naik lagi ke atas jembatan.
"Nona... jangan bunuh diri. Semua bisa di selesaikan dengan baik." Ujarnya, tak henti menarikku.
Sebenarnya aku sendiri juga panik.
Tak lama, semua pengendara yang lewat ikut membantu pria itu. Tindakan heroikku membuat geger kampung K. Banyak orang yang ikut membantu pria itu dengan menarik tangan kanan dan kiriku, hingga beberapa lama dan akhirnya aku pun kembali dengan selamat.
Aku seperti kehilangan akal. Aku tak menangis, atau pun sedih. Justru saat itu aku hanya terdiam. Entah apa yang terjadi padaku. Pikiranku seakan-akan kosong.
Aku bahkan tidak tau, semua orang berbicara apa, aku tidak tau. Hanya ada suara ribut-ribut soal diriku yang katanya ingin bunuh diri.
Kakiku tergores, akibat tergesek jembatan beton itu, hingga berdarah. Pria itu berjongkok didepanku, memberiku air.
Airmataku mengalir, pria itu terus menatapku. Mengusap punggunggku.
"Waduh neng ... neng, bunuh diriko siang-siang!" ucap salah satu pengendara motor yang ikut menarik tanganku.
"Apa anda kenal dengan wanita ini?" tanya salah satu ibu-ibu berdaster.
"Saya kenal." jawab pria itu singkat.
Seketika aku mendongak, menatap wajah pria itu. Ternyata masih ada orang yang baik dan peduli dengan sesamanya.
"Kau, tidak apa-apa?" tanya pria itu.
Aku menggeleng pelan. Dengan wajah tertunduk lagi.
"Terimakasih bapak-bapak, dia sodara saya yang hilang, Alhamdulillah sudah ketemu." Ujarnya bohong pada semua orang yang berbondong-bondong melihatku yang sudah membuat kehebohan siang itu.
Kenapa dia harus berbohong seperti ini?
Pikirku.
Biarin aja lah, yang penting lo kagak jadi mati!.
Lagi-lagi hatiku mengejek. Sial!
Cukup lama orang-orang membubarkan diri, ada yang masih diam karena penasaran, ada yang cuma lihat kearena aneh. Dan masih banyak lagi.
Setelah semuanya bubar, dan hanya ada aku dan pria itu. Dia mulai menanyakan padaku dengan berbagai pertanyaan...
"Siapa namamu?"
Aku diam, sebenarnya aku sadar, tapi, entah kenapa jiwaku seperti yang sedang jauh di angan-angan. Pikiranku juga melayang jauh.
"Keluarga mu??"
Aku masih diam
"Kamu sedang hamil??"
Masih diam juga.
"Baiklah, lebih baik kamu ikut saya, untuk
mengobati kakimu yang luka."
__ADS_1
Aku dituntun masuk mobil. Entah kenapa aku tidak mencurigai pria ini sama sekali.
Di dalam mobil aku masih diam, aku tidak tau mau dibawa kemana sama pria asing ini.
Setelah beberapa jam, aku melihat sekeliling tempat yang dirasa sangat aneh. Sepi dan jauh dari perkampungan. Hanya ada beberapa rumah saja, itu pun dengan jarak yang jauh-jauh.
Aku dimana??
Pikirku saat itu,
Pria itu mulai membuka pintu mobil. Menuntunku keluar dari mobil, dan berjalan ke salah satu rumah kecil minimalis, tapi lumayan bagus.
Setelah sampai depan rumah itu, aku kembali tertegun.
Lagi, aku melihat wanita itu. Maya.
"Teh Maya??" ujarku menganga lebar, terkejut dengan apa yang aku lihat.
"Wahyu, terimakasih atas bantuanmu," ujar Maya, yang tadinya duduk kini beranjak berdiri dan berjalan kearah kami, tanpa menjawab sapaan ku.
"Sama-sama teh, biar saya antar sampe masuk ke dalam rumah, kakinya juga tergores," Sahutnya ramah, dengan terus menuntunku perlahan, karena kakiku yang masih sakit.
"Ini maksudnya apa??" tanyaku masih bingung dan tidak mengerti.
"Erna ... teteh tau tentang dirimu kemarin malam. Teteh juga sengaja menyuruh pria ini untuk mengikutimu, Na." sahutnya. "Kau boleh pulang Yu, terimakasih banyak." imbuhnya pada pria yang bernama Wahyu itu.
"Apa perlu aku panggilkan A dani teh?" tanyanya. Masih berdiam diri.
"Tidak perlu, belum waktunya." jawabnya, kini berganti Maya yang menuntun ku masuk hingga duduk dikursi panjang.
"Maksud kalian ini apa? Kalian sekongkol?" Aku mulai emosi, mungkin wajar kali ya, biasanya ibu hamil memang seperti itu. Sangat emosional. Labil.
Mereka semua seakan tak memiliki gendang pendengaran. Ocehanku, teriakan ku tidak di anggap nya sama sekali.
Pria itu mulai keluar dari rumah. Menghilang dari pandanganku. Tersisa Maya seorang diri.
"Teh, tolong jawab pertanyaan ku ini! Maksudnya apa?"
"Kamu tenang dulu, teteh hanya ingin yang terbaik untukmu, Na. Tolong mengerti , ya." jawabnya dengan mengambil air minum untukku.
"Aku tidak butuh minum, teh! Aku butih penjelasan!" aku menepis tangan Maya yang menyodorkan ku minuman.
"Hatiku sakit teh, aku hina dimata semua orang, bahkan ada yang menganggapku ini seperti orang gila. Jiwa dan ragaku tersakiti, tergores luka dalam, yang entah sampai kapan akan sembuh. Yang entah sampai kapan akan berakhir. Noda derita yang aku terima membuatku putus asa teh. Aku menyesal telah mengenal sepupumu itu, aku menyesal teh!! Aku ingin mengakhiri penyesalan ini. Lebih baik aku mati!!" Teriakku.
Aku berlari kedapur, mencari benda tajam yang berada di sana. Namu sial, dapur ini masih kosong, Maya mengejarku, berusaha menelpon seseorang, entah siapa.
Sial!! Kenapa dapur ini tidak ada perabotan sama sekali. Hanya ada gelas dan teko.
PYAARRR
Aku pecahkan satu gelas, ku ambil serpihan gelas itu. Aku menatap tajam tanganku. Beralih menatap serpihan gelas di tangan kananku. Aku menangis histeris.
"Selamat tinggal dunia!!"
Belum sempat aku melukai tanganku, sialnya, kakiku menginjak serpihan gelas itu. Sontak membuatku terjatuh lemas, karena luka nya cukup dalam.
Aku mengerang kesakitan.
Maya berlarian, berteriak melebihi tangisanku.
"Masya Allah... kamu ini apa-apaan Na!!" teriaknya.
"Tolong aku teh, kakiku perih!" rintihku.
"Tunggu Na, teteh sudah menyuruh Dani kesini. Dia masih di perjalanan." Papar nya.
Mendengar nama Dani, entah kenapa emosiku membludak. Seakan-akan ingin berontak.
"Aku tidak mau bertemu dengan nya teh!!"
"Tapi..." ucapannya seketika terhenti, karena aku mendorongnya hingga terjatuh.
"Jangan dekati aku!! Aku tidak suka jika ada orang menyebutkan nama Dani dihadapanku!! Aku tidak suka!!" teriakku.
Darah mengalir berceceran dimana-mana. Maya terisak lemah, tak sanggup menenangkan ku yang kesetanan. Rasa sakit di kakiku seakan tidak ada bandingannya dengan rasa sakit di hatiku.
Aku mencongkel serpihan gelas yang menancap di kakiku itu dengan tanganku sendiri, lalu membungkusnya dengan kain lap yang tertera di meja.
Aku dan Maya saling bertatapan muka. Dia melihatku sendu, tergambar jelas jika dia hawatir padaku. Tapi... hatiku terlalu sakit, aku tak peduli dengan darah yang merembes di kain yang aku ikat di kakiku.
Aku juga tidak peduli dengan Maya.
Beberapa menit, Terdengar suara langkahan kaki, dan saat aku melihat siapa dia. Aku tersenyum, di temani isak tangisku.
"Yang..." ucap seseorang berdiri tegak. Melangkah pelan.
"Masih berani kau menyebutku dengan kata-kata itu! Jangan dekati aku!" Teriakku, saat Dani benar-benar ingin mendekat padaku.
"Yang... maafkan aku yang..." lirihnya. Air matanya berderai.
Aku menangis lagi... dia berjalan mendekati aku, memelukku Erat. Sangat terasa jika dia benar-benar merindukan ku.
"Aku merindukanmu Dani. Kamu kemana saja? Aku tersiksa karena kamu!!" ucapku sambil menangis
Aku tidak berontak, justru aku balik memeluknya. Sungguh tidak bisa mengelak jika aku juga merindukan ny. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri...
__ADS_1
"Maafkan Aa yang, tolong maafkan Aa," lirihnya, tak lepas memelukku.
Sementara Maya hanya tersenyum, bahagia...