My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab 38


__ADS_3

Untung ada orang baik yang mau menolongku. Kalo saja telat sedikit,aku pasti mati kesakitan akibat dorongan ibunya Wahyu.


Setelah beberapa saat, aku di periksa dokter kandungan, dan anehnya lagi, kenapa bayiku baik-baik saja?


"Dokter, kenapa bayiku tidak apa-apa?" mendadak bibirku bertanya hal konyol. Seketika dokter cantik itu tertohok, membulatkan matanya mendengar pertanyaanku.


"Maksudku..."


"Kandunganmu sangat kuat, jadi tidak ada yang aneh dengan semuanya,"


Aku mengangguk kecil, lalu Dokter cantik itupun keluar ruangan dan meninggalkan aku sendiri di ruangan ini. Tanpa bicara sepatah katapun padaku.


Aku sempat berfikir macam-macam, banyak asumsi yang masuk di otakku. Tapi ku tepis semua pikiran anehku.


Setelah di periksa, dan perutku sedikit membaik. Aku segera pulang. Tanpa harus memberi tau siapapun, meskipun aku tidak tau harus pulang kemana?


Sebelumnya aku akan membayar tagihan klinik, untung Maya memberikan aku uang lebih waktu itu, dan selama ini nggak pernah aku pake. Yaa karena emang dia yang menanggung biaya aku selama ini.


"Atas nama Erna Dwi Astari, berapa semuanya sus?" Tanyaku saat sudah berada didepan meja administrasi.


"120 + vitaminnya bu,"


Aku mengambil dompet dan memberikan uang pas padanya. Setelah itu segera mengambil vitamin dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit ini.


Sekarang aku harus kemana coba?


Sial banget sih!!


Aku tidak mungkin pulang ke bi Timah, kejadian hari itu benar-benar buat aku jera.


Faiz. Nggak mungkin aku melibatkan dia dalam masalah ini. Pulang ke rumah pemberian Dani, pasti Maya akan menertawakan aku. Tapi aku nggak ada pilihan lain. Hanya rumah itu satu-satunya yang bisa aku harapakan untuk saat ini.


Rian, hanya Rian yang bisa aku andelin sekarang, tapi dia juga tidak mungkin memberiku tempat tinggal. Sebelum pergi menemui tukang ojek, aku harus duduk sebentar ngopi di warung depan. Karena perut belum terisi sama sekali. Kejadian hari ini benar-benar buat aku lupa makan. Untung imun tubuhku kuat, jadi nggak gampang lemes dan pusing.


Setelah berjalan cukup lama, aku sampai di warung, ngopi santai sambil pencat-pencet hp, mencari nama kontak Rian. Setelah ketemu segera aku memanggilnya lewat telpon.


Beberapa kali nggak di angkat, mungkin dia sibuk.


"Mang, teh manis anget satu ya, sama mi rebus nya juga. Tapi jangan pake saos,"


"Muhun neng, siap!" Sahut si mang Warung.


Aku diam lagi, menunggu pesanan datang, namun kejadian tadi terbayang lagi di pikiranku, secara tidak sadar airmataku tumpah, dengan menatap kosong dan tanganku seraya mengusap pelan perutku.


Menghela nafas berat, selama 17 tahun aku hidup, baru kali ini aku mengalami hal seperti ini.


Padahal ayah dan ibu selalu mengajarkan aku untuk kuat bertahan hidup. Tapi hal ini benar-benar membuat aku menyerah.


Ibu, ayah, maafkan aku...


🌴🌴🌴


Belum sampai depan, mataku sudah tertuju sosok yang sangat aku kenal sedang duduk manis di depan rumah.


Aku memutarkan bola mataku, mendelik mengeluh dengan mendengkus kesal. Mau tidak mau harus kuat menghadapi wanita itu.


"Kenapa baru pulang?" tanyanya seraya berdiri tegak didepanku dengan tangan bersila. Menunjukan wajah angkuhnya.


Aku diam tak menanggapi pertanyaan-Nya.


"Jawab!!" Bentaknya.


"Udahlah teh, Erna cape pake banget. Males debat!" Jawabku. Memalingkan wajahku yang mulai mules melihat Maya.


Ia menyeringai, kulirik bibir-Nya yang tersenyum licik. "Udah puas kan teh? Aku hampir saja kehilangan nyawaku dan anakku. Akibat ulah dari kaluargamu yang angkuh dan jahat itu! Ko ada ya? Manusia jahat seperti mereka. Aku pikir hanya di sinetron saja." Sergahku pada Maya yang masih menunjukan wajah sombongnya.


"Belum, kecuali kamu menuruti semua mauku! Dan jaga ucapan mu tentang keluargaku!"


"Apa sih mau mu teh??" tanyaku dengan nada tinggi. Heram banget sama jalan pikirannya.


"Nurut sama aku!! Kamu ini nggak akan bisa hidup tanpa uang Erna!! Teteh dan Dani yang akan membiyayai-Mu! Tinggal nurut aja apa susahnya sih!"


"Teh...." Percuma aku melanjutkan ucapanku, karena aku nggak akan di anggap sama dia!


"Kumaha anjeun weh teh!!" Ucapku, sambil berlalu masuk meninggalkan-Nya yang masih tak bergeming.


Pagi menjelang siang. Aku bangun kesiangan. Mengecek ponselku, ternyata banyak panggilan tak terjawab dari Rian dan Wahyu. Ku balas satu persatu lewat sms.


[ Maaf, semalam ketiduran! ] Send Wahyu dan Rian.


5 detik langsung ada balasan dari Rian.


[ Na, kamu ada di rumah nggak hari ini? ]


[ Ada, emang kenapa ] balasku lagi. Masih santai di tempat tidur.


[ Agak siangan abis dzuhur aku kerumah ya, mau ngomong penting! ]


[ Oke, ke rumah aja. Aku tunggu ya! ]

__ADS_1


[ Inget, tong kamana-mana! ]


Setelah membaca pesan terakhir dari Rian. Tanpa membalas ku letakan lagi ponselku di atas kasur. Beranjak bangun untuk membersihkan diri, namun hidungku yang tajam menciun aroma pisang goreng.


Sehingga aku beralih ke meja makan untuk melihat hasil penciuman ku pagi ini.


Dengan berjalan sambil menggelung rambutku yang panjang hampir se-pantat. Dengan ciri khas kriting gantung alami.


"Pagi beb," sapa Maya dengan senyuman ceria, aku melohok melihat sikap anehnya pagi ini.


"Pagi." Jawabku masih bingung dengan Maya yang sibuk menata makanan di meja makan kecil yang hanya ada 4 kursi.


Terlihat ia sangat lihay dengan ke-Dua tangan menata makanan dengan sangat rapi. "Ada acara apa nih?" tanyaku heran.


"Hari ini Dani dan ibu akan datang kesini!" Katanya dengan wajah berbinar-binar. Senyuman yang sangat cerah secerah mentari pagi ini.


Tapi tidak dengan hatiku, aku sama sekali tak bahagia mendengar nama Dani. Wajahku berubah mendung, diliputi petir yang menggelegar. Bagaimana tidak! DANI lagi DANI lagi.


Kuhela nafas sangat berat, diam bergeming dengan tatapan kesal melihat wanita yang satu ini. Seperti terobsesi menyatukan aku dengan ponaan-Nya itu. Padahal dia tau, aku sangat menderita bila bersatu dengan si Dani itu. Banyak nenek sihir yang pastinya akan sangat siap menyihirku menjadi kodok apabila aku mengganggu pangerannya.


"Mau apa dia kesini?" Tanyaku ketussss


"Ketemu kamu lah!" Jawabnya tak kalah ketussss dariku.


"Aku nggak mau ketemu dia teh!! Teteh nggak kasihan ya liat aku kemarin? Aku dihina habis-habisan oleh wanita itu, terus aku di jambak sampai terjungkal kebelakang dan hampir saja aku kehilangan nyawaku akibat menahan sakit!!" Cecarku dengan luapan emosi.


"Diam. Jangan banyak omong. Cukup nurut, udah!" jawabnya enteng. Dia pikir aku ini boneka nya yang bisa di mainkan sesuka hatinya.


"Teh!! Aku capek mengikuti alur cerita yang kalian buat. Aku ini tokoh utama tapi selalu sengsara!! Kalo aktris sih mending dapat uang terkenal pula!" Cecarku lagi.


Dia hanya menatapku sinis dengan berkacak pinggang. Ku balas tatapan itu.


"Permainan apalagi yang akan teteh buat untukku?? Mana skenarionya. Biar aku baca, biar ektingku bagus." Aku terus mencecarnya. Biar dia rasakan.


Ku todongkan telapak tanganku, "Mana skenario-Nya?? Bukankah film akan dimulai?? Kalo aku lupa gimana? " Sambungku.


Dia hanya menghela nafas panjang. Berlalu pergi dari hadapanku.


"Kenapa pergi teh? Jawab atuh!! Sutradara ko diem aja. Gimana kalo aktrisnya lupa? Mending weh kalo udah hapal mah!"


Masih diam, berkutat didapur mencuci piring. Aku berjalan mendekati-Nya. "Teh!! Ohh, aku tau, teteh pasti akan menyuruhku untuk siap mental saja ya? Karena pasti aku akan di hina dan dianiyaya lagi oleh keluarga-Mu yang jahat itu!!"


PLAKKK.


"Jaga ucapan kamu Erna! Keluargaku tidak jahat!!" bentaknya dengan bibir bergetar.


Gelungan rambutku sampai terlepas akibat tamparan keras-Nya. "Terimakasih sudah memeberi sarapan pagi yang sangat mengenyangkan!!"


Di bawah guyuran air, aku kembali menangis. "Bagaimana cara-Nya agar aku bisa terbebas dari mereka ya Allah, apakah dosaku tidak termaafkan sehingga engkau memberi cobaan seberat ini pada hambamu yang lemah dan rapuh ini."


Aku terus menangis, hingga segukan. Isak tangis yang sangat memilukan jika terdengar oleh orang lain.


Aku sangat merindukan ayah dan ibu, Dian. Kaka² ku yang lain. Aku rindu kalian. Maafkan adikmu yang nista ini kak. Kalian pasti akan membuangku jika aku seperti ini. Kalian pasti akan mengusir ku dari rumah karena sudah membuang kotoran aib pada keluargaku pada kalian semua.


Setelah selesai mandi, aku memilih baju andalanku, daster ala emak-emak kece, biar terlihat sedikit lebih fress, biar bagaimanapun aku masih sangat muda, di usiaku yang baru 17 tahun harus terbiasa melihat perut buncit ini. Seharusnya aku ini menikmati masa remajaku, menikmati indahnya dunia remaja.


Tapi sayang, takdirku sangat menyedihkan.


Waktu sudah menunjukan pukul 10:30.


Aku diam di kamar, menyesali diriku yang sudah mendekati Maya.


Ku raih ponselku, melihat pesan masuk dari dua orang, yaitu Wahyu dan Rian.


Isi pesan dari Wahyu


[ Na, maafin atas perlakuan mamah dan papah Aa ya. Maafin Aa yang nggak bisa nolong kamu, kamu dan si utun baik-baik aja kan? Nanti setelah Aa sembuh, kita ketemu lagi ya. Emot sedih ]


Sengaja tak aku balas, kulihat lagi pesan yang satunya dari Rian.


[ Aku otw. Tunggu didepan ya, kamu mau aku bawain apa? Buat si utun, bukan buat kamu. ]


Aku mengembangkan senyuman tipis di bibirku. Dasar kocak.


Ternyata sudah 15 menit yang lalu, aku simpan lagi ponselku di atas kasur. Lalu beranjak berdiri untuk keluar kamar dan duduk santai didepan.


Baru sempat memutar knop pintu, suara itu kembali berbunyi. "Mau kemana kamu?"


"Kedapan!" Jawabku lanjut keluar tanpa menoleh.


Brakkk.


Sengaja aku menutup pintu dengan membanting-Nya. Kesel sih. Bukannya minta maaf malah makin judes.


Lagian kenapa berubah gitu sih Maya? Kesel aku jadinya.


"Kamu sengaja membanting pintu?" Maya.


"Iya!"

__ADS_1


"Kamu ini nggak tau diri ya lama-lama!"


Aku yang tengah duduk mendadak berdiri mendengar ucapan Maya yang sangat menggores hati. "Aku tidak tau dari karena ulah ponakan mu itu!! Jangan salahkan aku dengan sikapku yang tidak tau diri!! Aku memang berhutang budi padamu. Tapi ini semua sudah menjadi tanggung jawabmu karena ponakanmu yang tampan dan kaya itu sudah menghamili gadis remaja polos yang miskin dan kere lalu meninggalkannya seperti sampah jalanan!! Allah tidak tidur, Allah maha adil teh! Ingat itu!!" Cerocosku tanpa jeda. Dengan mata memerah berkaca-kaca menahan air mataku yang akan tumpah. Rasanya sangat sakit mendengar hinaan-hinaan mereka.


Entah terbuat dari apa hatiku ini. Sehingga sanggup di gores pisau berkarat berkali-kali. Inilah yang dinamakan SAKIT TAPI TAK BERDARAH.


Sikap Maya lama-lama makin sama tingkahnya dengan kakak-kakak nya itu.


Aku sudah sangat muak dengan sikap Maya yang sok mengatur dan berkuasa, menganggapku sebagai boneka mainannya. Mentang-mentang orang kaya, banyak uang seenak udelnya kalo ngomong.


Aku kembali duduk, menatap tajam kedepan tanpa memperdulikan Maya yang bergetar dan terdengar nafasnya yang memburu.


"Lama-lama kamu makin pinter ya ngomongnya!" kini Maya membuka suara.


"Aku di ajarkan ayahku agar memiliki otak daging. Bukan tempe dan tahu. Aku di ajarkan ayahku agar bermental baja bukan oncom yang enak di bejek-bejek. Aku di ajarkan ibuku untuk sopa santun pada yang lebih tua. Tapi aku juga di ajarkan agar aku tidak di tindas orang lain oleh semua kakak-kakak ku!! Jadi mulai detik ini, jangan pernah menghinaku lagi teh Maya yang terhormat!!" Hardikku dengan masih duduk santai.


Maya tak lagi menjawab. Ia beringsut pergi dari sisiku. Mungkin aku sekarang menang, tapi entah jika aku harus berhadapan dengan wanita-wanita jahat lainnya.


Tak berapa lama Rian datang dengan membawa kresek putih yang isinya pasti makanan.


Ia membuka helmnya, tersenyum manis padaku, lalu berjalan mendekati ku.


"Pagi menjelang dzuhur bumil gendut." Sapanya.


"Pagi, kenapa semua orang memanggilku gendut sih?? Perasaan aku biasa aja deh." ujarku dengan memeriksa tanganku yang menurutku masih normal.


"Haha... jangan meriksa tangan, tuh perut." Selorohnya, menunjuk perutku dengan dagunya, lantas duduk di kursi sebelahku.


"Nih, buat kamu. Moci, dari bandung. Pemberian uwa gue Na. Khusus buat lu!"


"Perasaan kalo buat gue khusus mulu deh,"


"Iya dong, sama kaya kamu juga khusus di hatiku. Eaaa hahaha."


"Apaan sih lu, cogan kaya lu pasti banyak yang antri, apalagi sekarang motor lu gede, keren banget deh."


"Apaan sih lu. Bikin gue terbang aja."


"Haha. Terbang biar nyangkut di poon!"


Aku dan Rian tidak ada yang spesial. Hubunganku hanya sebatas teman / sahabat baik saja. Aku juga tidak menyukai Rian, aku hanya menganggap dia sebagai kaka ku.


Lama aku mengobrol, hingga sore. Maya juga tidak menggangguku semenjak debat tadi. Dani juga tidak muncul-muncul yang katanya mau datang.


Syukurlah, biar aku bisa tenang tanpa hadirnya Dani.


Aku cerita banyak tentang kejadian yang aku alami kemarin pada Rian. Dia hanya mensuport aku, menyabarkan hatiku.


Terimakasih Rian, berada di sampingmu aku selalu lupa dengan masalahku. Sikapmu yang kocak bener-bener bikin aku ngakak.


🌴🌴🌴🌴


Aku kembali masuk kamar setelah Rian balik. Dia memberiku uang dan makanan. Katanya sih uang itu dari uwanya yang di Bandung, entahlah. Yang penting rejeki jangan di tolak, mubazir nanti.


Buat aku jaga-jaga juga sih. Jika aku terusir nantinya, aku punya uang untuk ngontrak, tapi saat ini aku benar-benar harus sabar. Agar bisa tetap tinggal di rumah ini. Mengingat biyaya lahiran yang sangat mahal.


Setiap malam, aku selalu berdo'a. Agar kelak anak ini lahir akan menjadi anak yang berguna. Tidak seperti ayah dan ibunya.


Hampir setiap hari ibu menelponku, selalu menanyakan aku kerja dimana?


Dan bahkan aku sudah kehabisan akal untuk mengelak.


Mau gimana lagi, aku benar-benar tidak bisa memberi tau mereka yang sebenarnya.


Waktu terus berjalan. Hari demi hari ku lewati. Minggu ke minggu ku jalani. Hingga kini kandungan-Ku menginjak usia 8 bulan, tanpa hadirnya Dani. Hanya Maya yang menaniku. Meskipun dia harus bolak-balik Karawang ke Tangerang. Sikapnya juga sudah kembali seperti dulu.


Dulu dia bersikap kasar karena dia cemburu melihatku bersama Wahyu, bukan cemburu gimana-gimana. Maksudnya di berasa mewakili hatinya Dani. Katanya dia itu juga. Entahlah.


Faiz juga tak lagi berkabar denganku, aku akan melamar kerja padanya usai lahiran nanti.


Aku dan Wahyu juga jarang bertemu, semenjak dia kecelakaan dia di larang keluar rumah oleh orangtuanya. Kini aku benar-benar sendiri. Hanya Rian sajalah yang menemaniku setiap minggu.


"Teh, perutku ko sakit banget ya? Melilit kaya mau boker!" Rintihku, saat perutku mulai sering sakit dan mules.


Maya yang mendengar suara rintahanku, berjalan cepat mendekatiku dari dapur. "Kamu belum masuk HPL kan?"


"Belum teh, baru menginjak 8 bulan!"


"Kita periksa saja ya, biar tau HPL nya."


"Oke teh."


Aku dan Maya pergi ke klinik dekat rumah. Memeriksa kandunganku yang baru menginjak usia 8 bulan. HPL juga masih lama.


Beberapa bulan inj, wanita-wanita jahat itu tak pernah mengganggu ku lagi, entahlah... mungkin mereka bosan, yang aku pikirkan hanyalah kelahiran anakku nanti, penasaran kira-kira cewe apa cowok ya??


Bingung deh 🤣🤣


Maaf ya up nya lama..

__ADS_1


soalnya sambil kerja nih 🤣🤣


terimakasih yang udah suka baca novel akuu 😘😘


__ADS_2