My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
BAB 48


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Wahyu pergi untuk mengurus ari-ari anakku, entah dia apakan teman anakku itu, aku tak tau. Terserah dia saja lah. Toh, dia yang sudah menemaniku bertaruh nyawa. Memberiku semangat saat aku terus mengeluh dan bahkan marah-marah. Alih-alih dia selalu menampakan wajah tenang dihadapanku. Senyuman cerahnya selalu berbinar dimataku.


Ah... Wahyu, kau terlalu sempurna untukku, apa aku pantas bersanding denganmu?


Apa ayah dan ibumu juga sudi menerimaku?


Kurasa tidak segampang itu. Apalagi mereka tau, aku ini siapa dan bagaimana.


Aku ini hanya butiran debu, ditiup juga ilang


Jelas, ini pasti akan lebih sulit dari sebelumnya.


Aku menghela nafas panjang, berfikir keras, bahkan di ulang ulang agar aku memikirkan kembali niatku untuk mencoba mencintai Wahyu untuk menggantikan Dani dihatiku.


Biar bagaimanapun juga, nama Dani masih tertulis dan belum pudar.


Tapi, kekesalan ku pada istrinya membuat aku ikut membenci dirinya. Terlebih dengan semua ucapan bohongnya.


Huhh... lelah nya hidupku ini. Andaikan aku sedang uji nyali. Aku akan melambaikan tanganku ke kamera.


Saat otakku bergelirya wajah Dani, mengingat masa lalu. Bayangan saat dia melamarku. Dan saat itu juga dia merenggut kesucianku. Namun, seketika itu juga mimik Wahyu ikut nimbrung dikepalaku.


Apa maksudnya?


Aku benar-benar tidak paham dengan hati dan perasaan-ku saat ini.


Yang diluar juga sangat berisik dan mengganggu. Suara Dani dan ocehan Fitri terus menggema ditelingaku, memenuhi isi gendangku, nyaris pecah alat pendengaran-ku ini karena teriakan nya.


Suara knop pintu juga semakin keras terdengar, karena terus dimainkan naik turun oleh penghuni luar. Yaa... anggap saja itu musik, dan suara ocehannya adalah lirik dari setiap bait lagu.


"Sudahlah Dani. Lebih baik kita pergi dari sini. Wanita tidak tau terimakasih! Masih untung kami mau menemui-nya. Sudah! Kita pulang. Percuma berlama-lama disini!" Jelas kudengar suara serak dan berat itu mengucap kata. Kata yang sangat membuat aku semakin kesal dan dongkol.


Sampai kapan dia membenciku?


Laki-laki tua yang selalu menghinaku!


'pergi saja! Aku tak butuh kalian!' batinku.


"Neng. Buka aja atuh, kasian," kata bidan Aisyah.


"Nggak bu, biarin aja lah. Aku nggak suka mereka datang!"


"Tapi kasian neng,"


"Bukanya nanti aja kalo suami saya sudah datang," Setelah mengatakan itu pada bidan Aisyah, aku lanjut netein anakku yang kadang menangis kadang enggak. Mungkin ikut bising kali ya telinga anakku.


"Sus, coba kamu keluar aja lah. Bilangin, ibu sama bayinya lagi nggak bisa diganggu!"


"Oke bu."


Suster itu keluar dari ruangan bersalinku. Aku melirik suster itu, "Tutup lagi!" kataku dengan nada tinggi.


BRUGG


"Tolong saya mau bertemu dengan wanita yang didalam sus!" ucap Dani seperti memohon. Itu yang aku dengar.


Sementara bu bidan hanya geleng-geleng kepala saja. Mungkin, dia baru melihat hal aneh seperti ini.


"Maaf. Ibu dan bayinya tidak bisa diganggu. Mereka sedang istirahat." Kata suster nya.


"Sudahlah Dan. Kita pulang saja! Wanita itu nggak punya etika dan sopan santun! Tidak menghargai kami sebagai kakek dan nenek nya. Tidak menghargai kamu sebagai bapak dari anak itu!" Suara serak dan berat itu kembali menimpali.


Suster itu kembali masuk, dan segera menutup pintunya lagi. Dia tampak melihat aneh padaku.


Ya... jelas saja aneh. Mereka pasti bingung. Siapa sebenarnya ayah dari bayi mungil yang aku lahirkan ini.


Tapi sepertinya mereka menghiraukan nya.


"Papa saja yang pulang! Dani mau tetap disini. Dani masih ingin melihat anak Dani pah!" Suara perdebatan mereka masih asik terdengar.


"Iya A. Lagian cewek belagu. Masih untung kita mau nengok!" timpal Fitri. Pengen deh gue ulek-ulek tuh mulut terus diaduk dengan cabe 5kilo. Biar jontor sekalian.


"Lo diem aja lah!!"


"Fitri! Jangan memperkeruh!! Papah pulang aja lah dulu. Biar Dani mamah yang menemani. Papa juga nggak boleh kecapean." saut bu Nesi.


Bu bidan dan suster itu hanya saling tatap tanpa bertanya apapun padaku. Namun aku yakin, mereka pasti mendengarkan perdebatan mereka yang diluar. Karena kamar bersalinku juga cukup kecil. Otomatis setiap mereka bicara akan terdengar semuanya. Apalagi kupingku, kupingku ini type-type kepo, maka dengan sigap alat pendengaran-ku ini mampu menangkap semua ocehan mereka.


Aku cuma bisa mendengus mendengus dan mendengus. Tarik nafas lalu hempaskan.


Dan pada akhirnya, bu Nesi dan pak Aldi pun pulang, tak lupa dengan wanita serba mini itu.


________


Sudah mau masuk Dzuhur, Wahyu masih belum kembali. Sejak tadi aku cuma berbaring tanpa makan, hanya ada minuman ion saja sisa satu botol. Gadis kecilku juga aku tidurkan di tempat bayi yang tepat berada disebelah-ku. Badanku sangat lemas. Pegel-pegel dan sakit semua.


Suster dan bu bidan juga sibuk mengurusi pasien lain yang datang untuk periksa.


Bu bidan terus membujukku agar aku mau menemui Dani. Dia terus menangis. Katanya.


Bukannya aku tidak mengijinkan dia bertemu anakku. Aku hanya takut anakku direbut oleh mereka. Aku juga nggak berharap Maya dan nenek datang. Aku takut anakku juga di ambil mereka. Aku ingin merawat anakku sendiri. Aku pasti sanggup.


Bahkan, aku masih ingat. Saat mereka membicarakan aku. Bahwa mereka akan merawat anakku karena aku tidak mungkin mampu membesarkannya.


Maka dari itu, aku akan mempertahankannya.


TOK TOK TOK


"Siapa?"


"Ini bu bidan neng, boleh masuk kan?"


"Oh, boleh. Buka aja bu,"


Pintu terbuka, namun seperti yang aku duga. Dani menerobos masuk kedalam. Hingga bu bidan itu terhuyung kedepan.


"Astagfirullah..." Ucap bidan Aisyah,sedikit mengusap dadanya perlahan.


"Kamu kenapa sih nggak mau ketemu sama aku?" Spontan dia bertanya dengan mata memerah. Nanar menatapku.


Kuputar bola mataku mengelilingi ruangan ini, memalingkan wajahku. Sesak nafasku melihatnya.


Aku benci dengannya.


"Jawab yang. Apa sebenci itu kamu sama aku?" tanyanya lagi dengan suara parau. Dengan menunjuk dirinya sendiri.


Aku menunduk, tak kuasa ingin menangis. Entahlah ... perasaanku ini masih sangat labil.

__ADS_1


"Jawab yang? Apa semuanya karena Wahyu? Wahyu yang menemanimu? Sedangkan aku tidak?" Cerocosnya.


Aku masih diam berpaling.


"Aku tau. Mungkin aku dan kamu tidak berjodoh. Jika kamu mau melupakan aku, lupakan! Jangan ingat aku lagi.


Jika kamu mau menikah dengannya, menikahlah, silahkan. Tapi, anakku akan aku bawa. Dan kamu tidak akan pernah bisa menemuinya!" penjelasan ringkas nya membuat aku terbelalak. Sontak aku mendongak menatap tajam padanya.


Itu pilihan atau paksaan?


Bahkan dia bicara seperti menekanku?


Aku tak bisa bicara lagi. Aku bukan sales yang pandai merayu orang. Aku juga MC yang pandai berkata-kata. Aku hanya wanita lemah tak berdaya.


"Bu bidan, bisakah anda pergi dan menutup pintunya rapat. Aku ingin bicara dengan wanita ini hanya berdua. Silahkan..." Ucap Dani dengan tangan mempersilahkan. Lantas bidan Aisyah menurut dengan ucapan Dani, dan beringsut pergi tak lupa Menutup pintunya lagi tanpa menjawab sepatah katapun.


"Kenapa kamu diam?"


"Bukannya kamu ini pandai bicara?"


"Kenapa sekarang hanya diam saja? Kamu mencintai sepupuku bukan? Bahkan kamu menyebut dia suami? Bagus sekali ektingnya, kenapa nggak sekalian ikut main film aja? Bukannya Wahyu punya banyak kenalan produser?


Kalian cocok loh, kalian ini hanya pecundang!" Paparnya, seakan mencecarku terus-menerus.


Aku memang seorang pecundang dan pembohong. Keluargaku saja tidak tau, jika aku sedang mengalami hal seperti ini.


Aku hanya wanita yang pintar bersandiwara. Sejak ayah pergi, hidupku hancur. Hidupku penuh penderitaan, tangisan, kesedihan, airmata, dan masih banyak lagi...


Mungkin aku memang pintar, pintar menyembunyikan bangkai. Bangkai yang sangat bau busuk ini.


Entah sampai kapan aku akan menimbun bangkai ini sendirian.


Dan semua ucapan Dani memang benar adanya.


"Aku tanya sekali lagi sama kamu! Apa kamu menyukai dia dan mudah melupakan aku?" Aku diam menunduk.


"Semudah itu kah kamu melupakan semuanya?"


"Perjuanganku sama sekali tidak kau anggap!"


"Perjuangan?" jawabku dengan mengulang ucapannya yang membuat lidahku gatal ingin memaki dirinya.


"Perjuangan apa? Kamu berjuang apa untukku?" tambahku lagi.


"Aku banyak berjuang dan berkorban untukmu, apa kamu tidak merasa?"


"Perjuangan yang mana? Kapan kamu berjuang untukku? Kalo kamu memang berjuang,kamu tidak akan menikah dengan wanita minim itu! Kalo kamu berjuang, pasti kita sudah bersama sekarang! Dan aku tidak mungkin mengalami hal konyol semacam ini! Kamu terus menyudutkan aku, seakan-akan aku yang bersalah disini! Otakmu dimana?"


"Jika yang dimaksud berjuangmu adalah menafkahiku dan membiyayai ibuku dan adikku. Aku ucapkan banyak terimakasih. Tapi jika berjuang yang kamu maksud adalah aku, maaf. Aku tidak pernah berasa diperjuangkan!" Tambahku panjang lebar.


"Kamu memang pintar membalikan fakta!"


"Lebih baik kamu pergi, sebelum calon suamiku datang!"


"Apa? Calon suami?"


"Iya, calon suami. Emang kenapa?"


"Kamu benar-benar melupakan aku?"


"Untuk apa aku mempertahankan laki-laki yang jelas-jelas sudah milik orang lain!"


"Karena faktanya, aku bukan pecundang seperti yang kamu sebutkan padaku!"


Perdebatan kami terus berlanjut, hingga Dani menyerah dan tidak bisa membalas semua ucapanku.


Hening...


Dani beringsut mendekati gadis kecilku. Membelainya lembut sambil berucap kata manja layak nya seorang ayah kepada putri kecilnya.


Lantas mengais-ngais dan menimang anaknya dekat jendela kamar. Ada rasa haru dalam hatiku. Namun sekejap saja tertutup oleh rasa benciku padanya.


"Aku akan memberi dia dengan nama SENJA." Ucapnya dengan menciumi putri mungilnya.


"Kenapa harus senja?"


"Karena, sejak dulu aku selalu menanti senja. Menurut aku, Senja adalah sebuah fenomena alam yang banyak disukai semua orang. Bahkan ada banyak orang yang menanti kehadirannya. Lalu memandangnya tak henti hingga ia berlalu... Namun, esoknya dia dinanti lagi, dan begitulah seterusnya." Jelasnya dengan sesekali mencuil-cuil pipi tembem anakku tanpa menoleh padaku. Anakku, anak kita berdua. Hasil dari buah cinta kita berdua.


Ahh... Bulsyit dengan cinta nya. Cinta dia hanyalah nafsu belaka... dia hanya seorang bajingan yang menipu gadis polos sepertiku. Hingga duniaku hancur menjadi kepingan dan tak layak dipungut atau digunakan lagi. Lebih simple, buanglah sampah pada tempatnya.


Yaa... aku ini seperti kepingan sampah.


Aku masih terdiam dengan jawaban Dani tentang arti dari nama anakku itu. Anaknya juga.


Aku kembali terisak, ingat akan almarhum ayah. Ingat akan ibu yang menantiku datang. Tapi tak kunjung aku menemuinya.


Semua telpon dari keluarga-ku aku rijek dan bahkan tidak aku jawab.


Aku hanya takut. Aku juga bingung. Harus bicara apa nanti. Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk mengelak mereka.


Ampuni aku bu... ampuni anakmu yang berdosa ini. Ibarat kertas putih, yang tersiram tinta hitam. Begitulah gambaran dosa-ku. Sudah tidak ada celah putih sedikit pun.


"Nama yang bagus." kata bidan menimpali.


"Bu bidan sejak kapan berada disini?" tanyaku.


"Sejak tadi. Ibu haya ingin memeriksa kondisi neng saja." Aku manggut-manggut mendengar penuturan bu bidan.


Sudah pasti, bu bidan bingung dengan semua ini. Apalagi setelah mendengar semua ucapan Dani padaku tentang Wahyu.


Huuhh....


Aku mulai diperiksa bu bidan, untuk mengecek kondisi tubuhku. Biar bisa dipastikan jika sore ini pulang.


Aku menoleh kearah jendela saat terdengar suara klakson mobil dari luar. Aku berharap dia adalah Wahyu.


Beberapa menit, langkah kaki mulai terdengar. Bu bidan juga sudah selesai memeriksaku.


"Maaf sayang Aa lama," katanya dengan menenteng beberapa paper bag. Berjalan ceria kearahku. Senyum manisnya selalu terpancar dari sudut bibirnya. Kubalas senyuman itu.


"Emang habis kemana aja A?"


"Belanja baju dan aneka pernak-pernik buat baby kita sayang," Wahyu berbicara sangat lancar dan tanpa hambatan seperti jalan tol. Dia tidak tau bahwa disudut kamarku dekat jendela ada laki-laki yang sedari tadi sudah tersulut emosi.


"Maksud lu apa hah? Baby kita?" sela Dani mendekat.


Wahyu menoleh keasal suara itu. "Ehh, kirain nggak ada elu A. Santai aja kali. Ampek merah gitu," santai Wahyu membalas ucapan Dani.

__ADS_1


"Bangsat!!"


BUGH.


Seketika Dani memukul Wahyu dibagian pipi kirinya. Sontak aku berteriak. Bu bidan juga keluar dengan mengambil alih anakku yang digendong Dani. Nyaris jatuh anakku itu.


"Siapa yang bangsat?" tanya Wahyu beringsut membenarkan bajunya yang berantakan.


"Apaan sih kalian?" Teriakku.


"Jangan pernah mimpi lu bisa hidup tenang Yu! Lu itu cuma orang ketiga yang datang tanpa diundang!"


"Apa? Orang ketiga? Lu yakin gue orang ketiga? Lu nggak mikir, cewe lu benci gara-gara lu yang nggak punya pendirian? Lu lebih milih keluarga lu ketimbang cewe yang udah nyerahin mahkota berharga nya buat lu. Lebih parahnya, lu mau aja di begoin sama cewek binal itu!" tunjuk Wahyu dengan mencecarnya.


Dani terdiam, nafasnya memburu penuh emosi. Sementara aku hanya bisa menangis tanpa berbuat apapun. Teriakanku tidak mereka hiraukan.


Aku sudah tidak lagi merasakan sakit bekas persalinan-ku. Semuanya tidak terasa lagi. Akibat ulah mereka berdua yang berdebat bahkan baku hantam didepan mata kepalaku sendiri.


Keterlaluan!


Apa mereka tidak ingat kondisiku?


Ingin aku berteriak sekeras mungkin dan menendang mereka berdua hingga keujung dunia. Tapi mana bisa? Buat jalan aja aku harus pake kursi roda.


"Astagfirullah... nanaonan ieu teh gusti...!!" Aku menoleh keasal suara lembut penuh keibuan itu. Nenek.


"Istighfar atuh jang... naha kos karieu kalakuan teh! Geura indit kaluar!! Teu baroga otak ieu budak teh!!" maki nenek, dengan leher berbalut syal rajut. Berjalan mendekatiku.


"Garelo emang!" Cela Maya yang tak kalah memasang wajah kesal.


"Dia duluan teh!" tuduh Dani dengan menunjuk dada Wahyu kasar.


"Jangan membalikan fakta!" Balas Wahyu.


"Sudah sudah! Kaluar-kaluar! Sikerok kabeh emang!" maki Maya lagi dengan mendorong mereka berdua keluar.


"Sabar geulis... Hampura nenek baru bisa datang," nenek merengkuhku yang tengah menangis. Aku tidak bangga di perebutkan seperti ini. Justru ini membuatku sakit.


Aku mengangguk kecil. Aku tak sanggup lagi menanggung derita ini ya Allah... aku tak sanggup. Disaat seperti ini bukannya tenang malah debat, berkelahi pula.


"Mana baby nya Na?" tanya Maya.


"Di bawa bu bidan teh," lirihku.


Maya segera keluar untuk mencari anakku. Setelah beberapa saat, dia kembali dengan menggendong anak gadisku.


"Bu, lihat deh cicit ibu. Masya Allah... kaya orang cina. Matanya sipit amat," Ujar Maya dengan menjembel pipi anakku.


Nenek meraih anakku dari gendongan Maya, menciumi dengan penuh kasih sayang. Terbesit bayangan ibu muncul diotakku. Dia tersenyum manis padaku. Airmataku berderai lagi.


"Kamu kenapa nangis?" Tanya Maya padaku, dengan mengelus lembut pundakku.


"Aku ingin pulang kerumah ibu teh, tapi..." Ucapanku terhenti, aku tak sanggup berkata-kata. Bibirku kelu, rasanya terkunci rapat.


Hanya isak tangis yang mampu aku keluarkan sekarang. "May, panggil Wahyu sekarang! Suruh masuk," kata Nenek, dengan masih menggendong anakku dan menimangnya.


"Kenapa Wahyu bu?"


"Panggilkan saja!"


"Iya bu," aku menatap Maya yang beringsut keluar untuk memanggil Wahyu.


"Sabar geulis, Kamu pantas memiliki laki-laki seperti Wahyu. Dia rela pergi meninggalkan orangtuanya demi kamu," jelas nenek.


Aku tertohok mendengarkan penuturan nenek. Maksudnya? Meninggalkan keluarga-nya demi aku itu apa?


"Maksud nenek?"


"Kamu nanti akan tau," jawabnya sambil merebahkan anakku ke kranjang bayi lagi.


"Mau dikasih nama siapa, Geulis?" Imbuhnya sembari duduk dikursi dekat ranjangku.


"Senja nek," jawabku singkat.


"Bagus."


"Ada apa nek?" sela Wahyu yang masuk bebarengan dengan Maya.


"Temani dia, nenek mau keluar dulu sebentar. Ayo May,"


"Iya bu,"


Maya dan nenek pergi lagi, entah kemana mereka aku tidak tau. Yang jelas teh Maya pergi dengan menutup pintunya rapat. Kini tinggal aku berdua bersama Wahyu.


Dia duduk diranjangku dan menghadapku. Kulihat sedikit memar dibagian pipi kirinya, bekas tinju Dani tadi.


"Kamu nggak apa-apa?"


"Engga atuh, segini doang mah kecil." Katanya dengan mencuil jarinya.


"Aku lapar A, pengen makan,"


"Oh iya. Aa lupa ngasih kamu makan. Ya ampuun kasian banget sih calon istriku," ucapnya, sembari mengambil paper bag kecil dan mengambil sebuah kotak lalu membukanya.


"Ini Aa beli buat kamu," imbuhnya, dengan memperlihatkan isi dari kotak itu. Komplit banget.


Ada sayur, buah, ikan, dan daging beserta lauk pauk lainnya.


"Banyak amat A?"


"Ini buat kita berdua, biar Aa suapin ya,"


"Ngga usah, aku bisa sendiri."


"Nggak apa-apa," dengan sedikit memaksaku, akhirnya mau tidak mau aku nurut padanya, setelah selesai makan sekotak berdua, dia kembali menggendong anakku dan mengAdzani anakku lagi.


"Nggak apdol kalo Aa nggak ikut mengAdzani baby kita," katanya setelah selesai mengAdzani anakku sambil tersenyum khas ala-ala dia. Aku hanya tersenyum menanggapi ocehannya.


Rasanya aku sangat bahagia, bisa kenal dengan laki-laki seperti dia. Lembut, penyayang, penyabar, baik, pengertian.


Aku berharap, semoga dia tulus mencintaiku selamanya, sampai mau memisahkan...


Tamat apa lanjut yaaa ??


😁😁


Maafkan baru up. Soalnya kemarin aku sakit kak 😅😅. Jadi istirahat total hampir 5 hari 🙏🙏

__ADS_1


Yang mau lanjut, like komen yang buanyaaaaaakkkk ✌️✌️😅😅


Edisi maksaaa 🤣


__ADS_2