My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab47


__ADS_3

Suara Adzan itu terdengar sangat menyayat. Suara yang dibumbui isak tangisnya membuat hatiku ambyar. Luluh lantah menghembus karang yang selama ini berdiri kokoh.


Ahh... author, lu so puitis banget 🤣


Aku beralih menatap satu wanita yang kemarin ingin menghabisiku. Katanya.


Nanar kutatap wanita yang berpakaian serba mini itu.


Amiit deh, baju kurang bahan gitu dipake! Wajar aja Dani nempel terus. Sexi.


Rasanya aku tidak rela dan tidak sudi melihatnya mencuil-cuil pipi lembut anak gadisku. Menimang dengan kata manjanya, bahkan dia juga mencium kening putri kecilku yang aku saja sebagai ibunya belum sama sekali menciumnya.


Adegan satu keluarga itu benar-benar membuat aku dongkol. Ingin rasanya ku timpug mereka satu persatu dengan ucapannya yang dulu ia lemparkan padaku dengan sebegitu hinanya.


Wanita tua yang selalu menyebutku wanita jalang, laki-laki tua yang selalu merendahkan hargadiriku, wanita cantik berhati busuk yang selalu berniat mencelakaiku dan parahnya ingin melenyapkan aku dan anakku, megancam bahwa hidup aku dan anakku tidak akan dibuat tenang oleh dirinya. Yang terakhir, laki-laki yang selalu menyebut kata sayang padaku ia jadikan sebagai lalab makanannya setiap hari namun tetap saja dia lebih memilih stik daging untuk dimakan.


Ahh... Persetan mereka semua.


"Jangan sentuh anakku!! Kalian semua pergi dari sini!!" Berucap dengan menatap mereka nanar, agar mereka tau bahwa aku tak suka mereka datang.


"Sayang... terimakasih..." Wanita tua itu beralih pandangan menatapku. Dengan gampangnya mengucap kata sayang padaku. lalu mendekati-ku. Apa maksudnya coba??


Apa dia juga tidak melihat wajahku yang sudah horor begini?


Apa mungkin kupingku ini kongslet atau emang dia yang asal ceplos?


Wanita itu hendak membelai rambutku, namun ku enyahkan tangannya menyingkir agar tak menyentuhku.


Aku tidak sudi.


Kuraih tangan Wahyu, kutatap matanya yang mulai terlihat sangat kesal. Sorot matanya mengandung kebencian dan kekesalan.


"A. Tolong tetap disini apapun yang terjadi." ucapku, saat Wahyu akan beranjak keluar.


"Sudah ada bapaknya!! kayanya Aa nggak dibutuhkan disini." Ujarnya. Namun tatapan itu tetap fokus pada lelaki yang mengais anakku.


"Aku membutuhkan mu A. Aku hanya butuh kamu. Aku juga mencintaimu. Jadi mohon... jangan pergi," lirihku. Meskipun aku sedikit berbohong dengan mengucap kata mencintaimu. Biarlah... lambat laun juga aku pasti akan mencintainya.


Wahyu tersenyum padaku. Membalas genggaman tanganku. "Beneran??"


Aku mengangguk, dengan melambangkan senyuman manisku.


Wahyu membuang nafas lega, membelai rambutku lagi. Tapi, wanita itu mendekati kita berdua.


"Wahyu... nuhun kasep. Sudah bantuin Erna, nungguin sampe brojol." Ucap wanita itu. Tak lain adalah tante Nesi. Ibunya Dani.


Wahyu hanya diam menanggapi ucapan bu Nesi. Alih-alih memasang wajah geram.


"Sayang, lucu banget anak kamu..." Jelas kudengar wanita berpakaian mini yang kurang bahan itu memuji anakku. Paling cari muka sama Dani.


"Jelas. Mirip aku."


Aku semakin kesal mendengar obrolan mereka.


"Jadi?? Siapa bapaknya?" Tanya bidan itu pada kami semua. Pertanyaan bidan itu juga mengundang perhatian para tamu tak diundang ini.


"Saya bapaknya, bu." sela Dani sembari menyerahkan lagi anakku pada suster untuk ditimbang dan di ukur.


Bidan itu hanya mengangguk, lalu menatap Wahyu aneh.


"Sayang... terimakasih sudah memberikan aku bidadari yang manis dan cantik." Paparnya. Kupalingkan wajahku.


Tanganku tetap memegangi pergelangan Wahyu. Aku takut dia kecewa dan pergi dariku.


Laki-laki ini sama sekali tidak bisa diandalkan. Tidak tau malu.


Wahyu dan Dani saling tatap. Mata mereka seakan saling menusuk. Genggaman tanganku tak akan pernah aku lepaskan, Wahyu. Aku hanya butuh kamu.


"Ah. Sudah sudah. Tenang dulu ya semuanya. Tugas saya belum selesai. Saya harus menjahit mis v nya dulu. Lebih baik suaminya saja yang menemani disini, dan biarkan yang lain tunggu diluar." Jelas bidan itu.


Mereka semua beringsut keluar dari ruangan sempit ini. Maklum lah, kliniknya dirumah. Jadi semuanya serba ala-ala. Alakadarnya.


"Biar saya yang menemaninya, bu." Kata Dani.


"Tidak!! Aku ingin tetap suamiku yang menemaniku disini!!" Lirihku, sambil menahan sakit yang masih sangat terasa luar biasa.


Kugenggam erat tangan Wahyu, menatap dia dengan penuh arti.


Meskipun dia bukan suamiku.


Iya lah bukan. Aku kan belum nikah, mana ada suami.


"Silahkan... bapak tunggu diluar. Biar suaminya saja yang disini. Ayoo, dipercepat ya pak. Kasian ibunya nanti kelelahan."


Perlahan Dani beringsut keluar, menutup pintu dengan sedikit membantingnya. Dasar tak punya otak.


"Mau di injeksi atau nggak neng?" Bidan itu memberi pilihan padaku.


Aku tatap Wahyu, meminta dia untuk memberiku pilihan.


Dia sendiri mengerti arti dari tatapanku.


Ahh.. emang kita ini jodoh kali ya...


Ngarepp!! Ngimpi kali lu Na. Cowok kaya Wahyu mana mungkin suka beneran sama lu!! dia sarjana, seorang fotografer profesional. Kaya pula. Ganteng lagi.


Nah lu??


Apaan? Cuma tahu bulat di goreng dadakan.


Sekolah aja cuma sampe SMP. lanjut SMA aja macet di tengah jalan gara² biyaya.

__ADS_1


Sama sekali nggak sepadan sama Wahyu yang berpendidikan jelass.


Ngaca deh lu Na... Wahyu cuma ekting sama lu. Dani aja cuma manfaatin lu doang. Abis manis sepah dibuang.


Ngayal aja lu.


Apaan coba??


Hati kecil gue aja maki² gue ampe segitunya.


Tapi iya juga sih, aku nggak pantes.


Mana mungkin, Pizza bersanding dengan bala² yang dijual gopean.


Halaaahhh... NGAREPPP.


"Jangan dok, biar langsung jahit saja."


"Tapi A, nanti sakit nggak?"


"Enggak sayang. Biar cepet kering dan cepet sembuh ya,"


"Benar. Suami kamu pintar neng. Sudah paham dengan hal beginian. "


"Sayang. Kamu gigit bajuku." Wahyu membuka kaosnya agar aku bisa menggigitnya. Tujuannya supaya bisa tahan dengan jahitan bidan itu yang tanpa suntik baal.


Entahlah... aku hanya menurut saja.


"Suami yang siap tanggap. Pertahankan." Ujar bidan itu sembari menepuk bahunya. Kini wahyu hanya memakai kaos dalam saja, dengan bawahan yang masih memakai kolor.


Maklum lah. Pagi-pagi banget. Nggak sempet liat pakaian yang kita pakai.


Tak ada persiapan apa².


Perlengkapan anakku aja belum beli. Semuanya serba DADAKAN.


Jahitan demi jahitan mulai menusuk nusuk dibagian mis v ku yang di gunting tadi.


Rasanya, sereseeett. Sentuhan benang nya juga sangat terasa. Ahh... Aku sampe merinding.


Kugigit baju Wahyu kuat-kuat. Menahan sakitnya jahitan pada mis v ku.


Hingga beberapa menit selesai lah sudah perjuangan terakhir ku.


"Jangan nangis dong. Nggak sakit kan?" kata Wahyu, dengan melebarkan gurat tawa.


Kupukul tangannya, "Nggak sakit gimana? Sampe nangis gini aku tahan."


"Ini cuma sebentar doang neng. 6 jahitan didalam dan diluar. Seminggu juga sembuh. Benang nya nanti juga copot sendiri ya... Asal kalo nyuci yang bersih. In sya Allah, cepat sembuh." Jelas bidan itu padaku yang masih meringis.


Pintu kembali terbuka... ternyata suster itu membawa anakku yang sudah rapih dengan selimutnya.


"Beratnya 2,8 ons tanpa selimut. Kalo pake selimut dan baju jadi 3 kg."


Aku beringsut dibantu Wahyu untuk menyender. Bu bidan juga sibuk membersihkan darahku. Bekas aku bersalin dibantu susternya.


"Ini ari-arinya mas."


Wahyu menerima ari-ari anakku yang sudah terbungkus.


"Mau digimanain temennya baby kita sayang?" tanya Wahyu padaku.


Aku tau, Wahyu bicara romantis begitu untuk menghindari kecurigaan bidan dan susternya. Begitu juga aku yang harus ikut berpura-pura.


"Terserah kamu saja. Kamu kan bapaknya."


"Okee..."


"Apa harus sekarang dok?"


"Iya mas. Sekarang. Lebih cepat lebih baik."


"Biasanya diapain ya dok?"


"Bisa dikubur, atu dibuang ke kali tapi di wadahin sama pelapah pisang mas," jelas bu bidan itu.


"Oh gitu... baik dok. Terimakasih.


Sayang, Kamu tunggu sini dulu ya, Aa akan mengurus ari-arinya sebentar saja oke."


"Okee. Hati-hati jangan lama-lama."


Wahyu pun pergi, meninggalkan aku sendiri dikamar bersalin ini. Badanku terasa sangat lemas selemas lemasnya.


"Ini bayi nya bu," kata susternya.


"Terimakasih suster. Bu boleh ditetein kan?"


"Haha... Ya boleh atuh neng. Kamu kan ibunya. Emang asinya udah keluar?"


"Udah bu. Ini ngucur terus malah dari tadi."


"Ya ampunnn. Subur berarti. Cepet tetein aja neng. Bagus itu asi pertama."


Aku tersenyum, lantas segera menyusui anakku. Aku juga menyuruh suster untuk mengunci pintunya, biar mereka jangan pada masuk. Melihat mereka benar-benar membuat mood ku turun.


🌸🌸 POV MAYA 💮💮


"Iya sabar teh. Ini Maya lagi dijalan! Emang Dani parah banget?" kujawab telpon teh Nesi, suaranya juga terdengar gusar.


"Iya May, cepetan. Sekalian ajak Erna juga ya." Titahnya padaku.

__ADS_1


Boro-boro mau ikut. Kelakuan kalian bikin dia jera. Hadeuhh, pusing deh gue.


"Iya-iya. Maya lagi nyetir nih. Udah dulu."


Sambungan terputus...


Segera aku menancap gas, agar segera sampai ke Bandung untuk melihat ponakanku yang katanya lagi sakit perut itu.


Kutekan lagi nomor Wahyu saat jalan tol mulai sedikit longgar.


"Hallo, Assalamualaikum." Pas banget si Erna yang jawab.


"Waalaikumsalam, Na cepet kamu kesini sama Wahyu ya. Teteh masih di jalan, lagi nyetir. Please bujuk Wahyu supaya nganterin kamu ke Bandung."


TUT TUT TUT


Sengaja aku menutup panggilan itu. Agar tidak banyak pertanyaan dan makian darinya. Aku mengerti perasaanmu, Na. Tapi... aku bingung. Wahyu juga salah paham dengan sikapku ini.


Aku sama-sama menyayangi mereka... sulit berada diposisi-ku ini. Dua ponakanku yang sekaligus mencintai satu wanita. Erna memang tidak cantik. Bahkan jauh dari kata cantik. Tapi, kebaikan dan kelembutan nya membuat dua pria itu memperebutkannya.


Beberapa jam aku sampai di Bandung, segera aku berlari untuk melihat keadaan ponakanku itu.


"Astagfirullahhalladzim... Dani!!" Mataku membulat saat melihat Dani sedang jungkir balik dan berteriak kesakitan.


Wajahnya pucat, badannya juga penuh dengan peluh keringat dingin yang bercucuran...


"Tolongin aku teh, perut-ku muless," rintih Dani padaku.


"May... Teteh bingung, dari tadi Dani begini terus. Teteh pusing harus gimana! Dia bolak-balik ke kamar mandi, tetep aja kaya gini." Jelas tetehku, Nesi.


"Iya teh, A Dani dari tadi nggak mau diem. Mengeluh, terus mules." Fitri ikut menjelaskan.


"Ini semua karena ulah dia sendiri. Lebih baik cepat dibawa kerumah sakit aja. Diperiksa." Jawabku ketus.


"Dia nggak mau. Dia mau si Erna aja May."


"Erna nggak mau ikut teh. Tuh gara-gara menantu teteh kemarin ngacak-ngacak rumahnya!" Ketusku lagi dengan menyudutkan Fitri. "Eh Fit. Lu itu sadar diri lah. Mandul juga so banyak gaya lu. Lu begini akibat karma tau nggak!" Makiku dengan mencecar Fitri.


Di hanya diam dengan menundukan wajahnya. Sementara Dani terus jungkir balik kesana kemari seperti bola bekel, ngancul sana ngancul sini.


Makin mumet aja nih otak gue.


Sengaja aku membiarkan Dani berguling kesana kemari. Mungkin dia sedang kontraksi.


Semua panik dengan keadaan Dani yang seperti sedang sekarat ini. Aku juga kasihan liatnya. "Lebih baik kalian ke karawang aja lah, susul Erna. Siapa tau sembuh." Saranku. Abis, bingung mau gimana lagi.


"Erna pasti nggak mau ketemu teteh May. "


"Ya iya lah. Kelakuan teteh sama menantu teteh ini bikin dia geleuh. Aku aja geleuh sama wanita itu."


"Kamu jangan kaya gitu atuh May,"


"Udah cepet kalian kesana aja. Aku mau lanjut ke tanggerang! Susul ibu. Takut Erna lahiran. Perasaanku nggak enak!"


Aku beringsut pergi lagi ke Tangerang menyusul ibu. Aku ingin dia menemani Erna saat lahiran nanti.


Aku juga membiarkan Dani ajol-ajolan.


Ya mau gimana lagi. Aku bukan dokter.


Aku kembali menaiki mobil, lanjut nyetir nyusul ibu ke Tangerang.


Hingga beberapa jam aku sampai, kulihat waktu sudah sepertiga malam. Bahkan hampir subuh.


"Assalamualaikum, bu."


"Waalaikumsalam... kamu baru sampai May? Masuk dulu. Istirahat dulu sebentar. Meremin dulu matanya. Baru kita lanjut ke Karawang ya."


"Iya bu, Maya masuk dulu."


Aku langsung masuk kamar untuk merebahkan tubuhku. Kenakalan Dani benar-benar membuat aku pusing setengah mati.


Wahyu... maafkan teteh, Yu. Teteh sayang sama kamu.


Sekejap saja mataku langsung terpejam. Mungkin efek lelah.


Hingga beberapa jam aku tertidur, dan mataku mengerjap mendengar suara ponselku.


"Wahyu? Ada apa pagi-pagi telpon?"


Segera ku angkat panggilan dari Wahyu.


"Halo, aya naon Yu?"


"Teh, Erna udah lahiran, sekarang dia lagi jalan-jalan muterin taman teh. Soalnya tadi pagi air ketubannya pecah, ini Wahyu lagi diwarung beli minuman ion tubuh buat Erna, katanya badannya lemes."


"Alhamdulillah... Oke, teteh segera nyusul ya..."


"Cepet ya teh. Erna lahiran dirumah bidan yang deket pabrik beras teh. Namanya bidan Aisyah. Cet rumahnya warna biru muda. Yang ada tamannya teh."


"Oke oke. Kamu terus dampingi Erna ya. Jangan jauh-jauh sama dia."


"Oke teh."


Kututup panggilan itu. Berlari mendekati ibu dikamar. Lantas memberi taunya agar segera bersiap-siap untuk menyusul Erna.


Aku juga sempat mengabari teh Nesi. Memberi tau bahwa Erna sedang proses lahiran.


Dan ternyata mereka sudah berangkat sejak awal. Namun mereka juga baru tau kalau Erna ternyata sudah mulai proses lahiran.


Aku juga segera memberi tau letak rumah bidan yang menangani Erna.

__ADS_1


Maafkan tulisan tetehku yang kurang jelas ini ya kakak 🤣🤣


Dia bingung sendiri. So so'an mau bikin pov 😅😅


__ADS_2