
Nenek dan tante Nesi masih stay diruangan PIV MERAH 2, dimana wanita little ku dirawat, hingga malam menjelang. Mereka berniat ke Bandung esok pagi. Entahlah.
"Kamu tidur lah dulu Yu, kamu keliatan capek. kamu butuh tidur, " nenek, dengan mengusap pundakku yang masih asik duduk didekat tepian ranjang yang Erna tiduri. "Apa kamu nggak capek? wajahmu pucet Yu, nanti sakit lho," Imbuhnya lagi. Benar apa yang dikatakan nenek. Aku capek dan lelah. Tapi aku tidak bisa enak-enakan tidur sementara wanita didepanku tak bergeming. Suara nafas nya saja tidak terdengar sama sekali. Aku tidak tenang, pikiran ku melayang.
"Wahyu belum ngantuk kok, nek, " dengusku, ya...terdengar lelah.
"Nenek mu benar Wahyu, kita sengaja bermalam disini biar kamu bisa istirahat tanpa perlu hawatir dengan keadaan Erna nanti, " saut tante Nesi.
"Ayo nak, tidur dulu ya. " pinta nenek lagi, dengan nada menyuruhku agar aku cepat tidur dan beristirahat. Tidak bisa aku pungkiri, bahwa aku juga sangat ingin merebahkan tubuhku.
Aku mengangguk perlahan dengan meraup wajahku dan menggosok nya perlahan, agar tidak terlalu kaku. Beringsut berdiri menggeser kursi yang aku duduki, lantas melangkah gontai menuju sofa panjang yang sudah tersedia di ruangan ini. Sengaja aku memesan ruangan mewah dan mahal ini. Aku ingin wanitaku nyaman, tidak hawatir berisik orang-orang lalulalang atau yang lain nya.
Kurebahkan tubuhku sejenak, membuang nafas kasar kulihat jam di tanganku, sudah pukul 22:00. Nyaman yang aku rasakan saat ini, hingga aku terlelap.
______
Suara tangisan bayi mungil membuat aku terjaga, remang saat mataku mulai terbuka. Nenek sibuk mengais Senja yang asik menangis. Sementara tante Nesi duduk didekat Erna dengan bahu menyender pada kursi, dengan tangan kanan menopang tangan kiri yang sibuk mengurut keningnya, meski aku melihat sesekali tante Nesi menguap. Mungkin dia mulai ngantuk.
"Jam berapa ini? " tanyaku pada diriku sendiri sambil melihat jam yang menempel di tanganku. Pukul 01 : 25 dini hari.
"Sudah dibuat kan susu nek? " tanyaku, dengan berjalan mendekati wanita tua kesayanganku ini.
"Cuci muka dulu sana." titah nenek.
"Iya." kembali aku melangkah ke kamar mandi, untuk mencuci mukaku yang kusut bagaikan benang. Tidak aku lewatkan mataku ini melirik wanita yang masih asik tertidur.
Wanita little, apa kau tidak ingin bangun dan melihat anakmu yang sedang menangis? dia ingin kamu yang menggendong nya dan ingin kamu memeluk nya! bangun lah. Batinku. Lantas ku lanjutkan langkah kakiku menuju kamar mandi. Segera aku membasuh wajahku.
"Nek, Senja ko nangis nya nggak mau berenti? Apa nggak coba telpon bapaknya aja suruh kesini, " ucapku memberi saran. Dengan mencoba menggendong Bidadari jiwa ku ini. Siapa tau bisa berhenti menangis.
"Tante mu sudah mengubungi Dani sejak tadi, Yu. Tapi susah di hubungi,"
"Apa dia sama sekali tidak menghawatirkan Senja? Bapak macam apa dia! " makiku geram
"Sudah-sudah, Tante mu masih berusaha menghubungi Dani, "
Aku mendengus, dengan mencoba menenangkan bayi mungil yang sudah aku gendong ini.
"Kasihan sekali kamu nak, Daddy akan selalu ada untukmu dan mama mu, Daddy akan merawat kalian, Daddy janji sayang, " lirih ku, tak terasa air mataku menetes. Membelai pipi lembut nan mungil ini.
Dani. apa kamu tau betapa sangat berdosanya kamu mengacuhkan bayi ini. Apa kamu tidak merasa bahwa bayi ini sangat mirip denganmu! mulutnya, bibirnya, matanya, hidungnya, semuanya mirip denganmu! tapi kenapa kamu acuh Dan!
Hiishhh aku kesal melihat sikap dan tingkahnya, makin kesini makin nggak waras tuh anak. Apa dia sama sekali nggak ada rasa lagi buat Erna? Apa dia benar-benar sudah lupa tentang nya? Senja yang anaknya saja seperti tidak dia pedulikan. Bener-bener nggak ada akhlak.
Senja masih terus menangis, sudah dibuatkan susu bahkan aku gendong, aku ayun kesana kemari tetap saja menangis.
Nenek apalagi, sudah dilantunkan sholawat pun tetap saja menangis, apa bidadari kecil ini merasakan sakit yang diderita ibunya?
Apa dia bisa merasakan apa yang ibunya rasakan?
"Keterlaluan! " teriak tante Nesi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Membuat aku dan nenek menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Kenapa Nes? " tanya nenek mendekat.
"Si Fitri ini ya, kurang ngajar sama aku bu! " jawabnya dengan menunjukkan kekesalannya, "Aku SMS dia supaya memberi tau Dani cepat kesini! ehh, katanya. Mama bilang aja sendiri, ngapain nyuruh-nyuruh aku. Pikir saja bu, menantu macam apa dia ini! " lanjutnya dengan penuh emosi
"Kamu yang menanam, kamu juga yang akan menuai, dan inilah hasilnya."kata nenek.
"Aku tidak tau kalo ternyata Fitri mempunyai sifat yang seperti ini, bu, " Elak tante Nesi dengan menghempaskan tubhnya dikursi.
"Tidak tau? Kamu ini sebenarnya tau Nes, tapi karena dia kaya, kamu pura-pura nggak tau! "
"Bu. Ibu tau sendiri Aldi bagaimana! Aku mana bisa melawan nya! "
"Sudahlah! ini sudah malam. Senja juga sudah diam kok, sudah tidak menangis lagi. Sudah Wahyu tidurin. Lebih baik kalian istirahat saja. Bukannya besok kalian akan pulang ke Bandung? biar Senja Wahyu yang jaga, " selalu melerai.
"Tante hanya kesal dengan Fitri, Wahyu."
"Itu kan menantu pilihan tante, Ya syukurin aja lah, tante yang mememilih kan? Padahal Dani sama sekali tidak mau menikahi dia, tapi tante sama om Aldi memaksanya. Ya, Wahyu sih sangat bersyukur, dengan tindakan kalian, Erna bisa Wahyu miliki, tanpa harus bertarung, "ungkapku.
"Perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik. " sela nenek. "Jadilah laki-laki yang baik Wahyu, agar kamu mendapatkan perempuan yang baik lagi, "
"Pasti nek, "
Perlahan aku mendarat kan bayi mungilku di kasur empuk miliknya, kasur yang aku belikan kemari n saat ia lahir. Suara nafas beratnya sangat membuat hatiku tenang dan nyaman.
______
Hari ke empat. Pagi ini nenek dan tante Nesi berniat untuk pulang ke Bandung. Sementara mereka sibuk mengepak barang, ku gendong bayi mungil ini yang tengah terjaga.
"Siapa yang menyetir? " tanyaku.
Aku mengangguk dengan dagu mengerut, ku elus lagi pipi lembutnya, tapi mataku selalu saja tertuju pada ibunya. Berharap bahwa dia akan terjaga.
"Wahyu, jaga Erna ya, nenek pulang dulu, "
"Siap nek, " dengan menyerahkan Senja kepelukan nenek. "Maaf, Wahyu hanya bisa mengantar kalian sampai pintu saja, Wahyu... " seketika ucapanku terhenti.
"Tante mengerti Wahyu. Baiklah, jaga Erna ya... "
"Terimakasih tante. Jangan ngebut nyetir nya kalo sudah sampe SMS Wahyu ya, "
"Oke."
"Dadah sayang, jangan rewel sama omah ya... Nanti daddy sama mama jemput Senja, " timangku dengan mencium pipi lembut bayi mungilku itu. "Nanti uangnya Wahyu transfer ya nek, buat acara ngayun nya,"
"Nggak perlu Wahyu, kamu disini lebih membutuhkan. Senja masih ada bapaknya, nanti kalo kamu yang biyayain semuanya, yang ada Dani marah, "
"Okelah tante. Hati-hati ya..."
"Baybay daddy... sampai ketemu lagi... " ucap nenek dengan suara kecil manjanya yang dibuat-buat.
Aku menghela nafas berat, menatap kepergian gadis kecilku. Dan kembali masuk setelah mereka hilang dari pandanganku. Aku kembali duduk Dan kembali menunggunya. Ya, aku masih menunggunya untuk segera bangun dan tersenyum kembali padaku.
__ADS_1
Getar ponselku kembali membuyarkan lamunanku yang sejak semalam hanya beberapa jam saja aku merebahkan otot-otot ku. Lantas aku meraih ponselku dan menerima panggilan itu.
"Halo teh, Assalamu'alaikum, " salam ku dari balik telpon.
"Waalaikumsalam. Yu, teteh dua hari lagi pulang, kamu masih nungguin Erna kan?"
"Iya teh, Wahyu masih tetap di sini. Wahyu takut teh, Erna sama sekali tidak bergerak barang sedetikpun. Wahyu takut kalo dia tidak akan bangun lagi." keluh ku. Untuk saat ini, hanya Maya yang mengerti aku.
"Iya sabar, nanti teteh temani kamu ya, "
"Oke. Senja juga sudah dibawa nenek ke Bandung, "
"Iya teteh tau. Ya udah lah gitu aja sih. Kamu juga harus menjaga kesehatan kamu Yu, "
"Iya teh iya, "
"Ya udah assalamu'alaikum. "
"Waalaikumsalam."
Panggilan berakhir, bertepatan dengan masuknya suster yang ingin mengecek keadaan wanita little ku.
"Selamat pagi pak,"
"Pagi sus,"
"Saya periksa dulu istrinya ya, "
"Silakan."
Tanpa beringsut dari dudukku, ku biarkan mereka memeriksa Erna. Tapi... entah mengapa aku merasa ada yang janggal dengan suster yang baru aku lihat ini. Dari pakaiannya yang masih serba putih, mungkin dia ini pelajar yang sedang magang?
Jelas sekali aku melihat dia menyenggol sikut temannya, dengan berbisik-bisik. Membuat mulut ku reflek bertanya.
"Kenapa Sus? apa ada yang aneh? " tanyaku penasaran.
"Ini beneran istri bapak? " pertanyaan apa yang dia lontarkan padaku.
"Iya, memangnya kenapa? "
"Saya boleh tau nama lengkap istri bapak? "
"Buat apa? bukannya didata itu sudah lengkap? "
"Erna dwi astari? betul? "
"Iya betul, kenapa ya? "
"Astagfirullah... " aku semakin bingung dengan sikap suster ini. Dia menganga dengan menutup mulutnya.
"Kenapa Sus? "
__ADS_1
"Tidak apa-apa pak. Kami sudah selesai, permisi, " pamitnya dengan tergesa-gesa, benar-benar mencurigakan. Siapa suster itu? aku juga baru melihatnya. Aneh.
Tanpa aku pedulikan suster aneh itu. Aku kembali fokus dengan menunggu wanita little ku terjaga, meskipun aku sudah sangat lelah menunggunya, yang entah sampai kapan akan berakhir.