My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 57


__ADS_3

Aku kembali bersenandika. Sembari menatap wanita pujaan ku tidur. "Apakah selelah ini yang. Apa kamu benar-benar capek dan tidak mau bangun lagi? " gumam-gumamku... hingga tak terasa mata ini ikut terpejam. Tapi sekejap aku kembali terjaga saat seseorang mencuil-cuil pundakku.


"Yu, mama merestui hubungan kalian, " kata


seseorang itu tiba-tiba.


Aku terkesiap, ku kucek mataku perlahan saat melihat mamah berada didepanku, dengan mata membulat dan mulut sedikit menganga ku menyaut ucapan mamah, "Mama bilang apa? "


"Mamah merestui mu, jika memang kamu menginginkan dia, " katanya lagi. Tanpa terkecuali, senyuman mengembang tipis di bibirnya.


"Apa? " terkejut bukan main.


"Yakin mah? " tanyaku meyakinkan ucapannya. "Ini nggak becanda kan? "


"Yakin nak, mamah tidak tega melihatmu seperti ini. Segera lah nikahi dia, sebelum di rebut orang lain." tuturnya lagi, lembut keibuan. Mengusap pundakku manja.


Aku menohok. Benarkah ini mama? atau dia hanya hayalan ku semata?


Aku masih tertegun dengan apa yang aku dengar. Hidungku kembang kempis menahan senyuman bahagia. Perasaan ku seperti melayang terbang ke udara.


"Yu. Wahyu! bangun woy! " pukulan keras tangannya yang mendarat di pundakku membuat aku benar-benar terjaga.


Aku kembali menohok saat melihat wanita berpakaian minim itu muncul tepat didepan mataku.


"Ngigo lu ya? " tanya nya padaku dengan berkacak pinggang.


what? cumi? cuma mimpi?


sial sial sial sial!!! jeritku dalam batin.


"Sampe segitunya lu menginginkan wanita ini? " ujarnya lagi dengan wajah berpaling sombong dan tersenyum kecut.


"Mau apa sih lu? " tanyaku dengan mengusap wajahku perlahan


"Gue cuma mau nganterin ini, dari nenek. " sembari menodongkan bingkisan kecil padaku.


"Taro sana lah di meja. Ngapain kasih ke gue! "


"Dasar ya, masih untung gue mau nyempetin dateng kesini nganterin ni makanan buat lo! Nggak tau Terimakasih lo! " makinya, sambil berdecak menaruh bingkisan itu di meja.


Aku mendengus, melihat wanita ini. Kulirik dan ku teliti pakaian yang ia kenakan. Sungguh kurang bahan.


"Woy, baju lo sobek! " teriakku, ketika wanita itu mulai membuka pintu keluar. Ia menoleh heran padaku.


"Apa yang sobek? "


"Baju lo! Punggung lo kemana-mana. Nggak berasa lo ya? Atau sengaja lagi lo obral? " ledekku berdecih kecut.

__ADS_1


"Sialan! " desisnya. "Makanya, jangan udik lo! "


BRAKKK


"Dasar wanita gila! Mau maunya tante Nesi punya mantu macam klepon, " lirih ku.


"Kenapa bisa-bisa nya gue ngayal kalo cewek itu mamah! hidihhh... " aku bergidik ngeri. Ngeri jika melihat wanita seperti itu


Semalaman aku terus memikirkan wanita yang bernama Nura itu, aku harus benar-benar memastikan bahwa dia tidak akan membuka mulutnya dan ngoceh sama keluarga Erna. bisa gawat.


Aku yang mulai bosan menunggu wanitaku tersadar akhirnya lebih memilih memesan kopi didepan rumah sakit yang terdapat warung. Sengaja kopi itu aku bawa dan meminumnya didalam ruangan, siapa tau harum kopi yang aku minum akan membangunkan dia dari tidur panjang nya....


Flashback off


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


"Ya Allah, Kira-kira berapa hari aku tidak ketemu sama nasi? Perutku semakin keroncongan... " rintihku, mengusap perut.


Ceklek


plup


Suara pintu itu membuat ku beringsut menyender.


"Erna... " panggil seorang wanita dari balik pintu. Aku sangat hapal dengan suara itu, suara nya sangat khas.


"Kamu kemana aja Na? Ibumu sakit, kenapa kamu tidak pulang. " ujarnya masih dalam pelukan. Menangis tersedu.


Bersamaan dengan pertanyaan nya aku beringsut melepaskan pelukan nya.


"Ra, aku bisa jelasin. Please, jangan bilang sama siapapun tentang aku! " mohon ku, dengan tatapan penuh harap.


"Sudah beberapa hari ini aku menjadi incaran suamimu, Na. Sebenarnya apa yang terjadi? "


"Suami? Su-suami siapa? " aku mengerntiykan dahiku.


"Kamu tau, awalnya aku mengira pasien yang disini bukan kamu, tapi setelah aku menanyakan nya pada pria yang selalu menemanimu siang dan malam, dan ternyata ini benar-benar kamu, " jelasnya.


"Coba jelaskan semuanya padaku, kau seperti habis melahirkan, Na? apa benar? " tanyanya tanpa jeda. membuat aku gelagapan harus bicara apa dan bagaimana menjelaskannya.


"A-aku, aku hanya... "


"Dia hanya sakit biasa! " Wahyu, membuat aku dan Nura menoleh kearahnya. "Akhirnya aku ketemu juga sama kamu! " imbuhnya lagi, dari balik pintu dengan membawa sebungkus makanan yang baunya sangat menyengat hingga membuat perutku semakin lapar.


"Ternyata mudah untuk mendapatkan mu, " kata Wahyu lagi dengan seringai licik. Aku semakin bingung dengan mereka berdua. sebenarnya apa yang terjadi.


"Kalian kenal? " tanyaku, dengan melirik kearah Wahyu dan Nura.

__ADS_1


"Kenal, dia suster yang sedang magang disini. " saut Wahyu. "Aku baru tau, ternyata dia ini teman sekampung mu, " imbuhnya, dengan berjalan kearahku lantas duduk di kursi dekat denganku.


Sementara Nura hanya diam menunduk tanpa bicara.


"Saya harap kamu mengerti dan tidak akan memberi tau pada keluarga Erna atau yang lainnya. " kata Wahyu sembari membuka bungkusan nasi dan meletakannya di piring,


BRUGG


"Kalau kau membocorkan rahasia ini, pada siapapun itu. Kau akan tau akibatnya! " kata Wahyu lagi tanpa menatap ku atau Nura, alih-alih menggebrak meja seakan memberi isyarat.


"Ta-tapi-- saya tidak tega sama... "


"Sudah kukatakan atau kau akan celaka! " potong Wahyu dengan menuding Nura memakai garpu. Mataku melotot melihat sikap Wahyu yang menurutku sangat kasar dan menyeramkan.


"I-iya pak. Saya permisi dulu! " sautnya gelagapan, " Erna, aku pergi dulu. Semoga lekas sembuh! " ujar nya beranjak pergi meninggalkan aku dan Wahyu dengan langkah cepat dan masih menunduk.


"Ingat pesan ku, karena aku tidak pernah main-main dengan perkataan ku! " teriak Wahyu dengan menatap punggung Nura yang hampir saja berlalu.


Plup.


Kini Nura sudah tidak terlihat lagi, pintu yang tertutup rapat membuat aku kembali diam. Ya,,, aku diam tak bergeming, kutatap lekat pria yang sedang sibuk dengan makanan nya itu.


"Kenapa sayang? Apa kamu merindukan aku? " katanya dengan menancap makanan itu memasukkan nya kedalam mulutnya, masih seperti tadi, tanpa melihatku.


"Kamu kenal A sama dia? " tanyaku tanpa basa basi lagi. Wahyu mengangguk perlahan. Dengan terus mengunyah makanan nya tanpa menawari aku yang sudah sangat kelaparan.


"Sebenarnya apa yang terjadi A? " tanyaku lagi.


Meskipun liur ku sudah hampir menetes melihatnya makan dengan begitu lahapnya.


"Kamu tau nggak sayang, aku tuh udah lama nggak makan enak kaya gini. Ini tuh rasanya mantep banget. " jawabnya. Dengan menunjukan bibir yang dibuat-buat.


"Aku tidak menanyakan soal makananmu!"


"Hmmm. Lalu? "


"Ada hubungan apa kamu sama Nura? Kenapa Nura sangat takut melihatmu?"


"Mana ku tahu, tanya aja sama tempe, "


"Aku tidak bercanda, sunggokong! " teriakku dengan melemparkan guling padanya.


"Aku sunggokong. Kau anak kutu, ku pites mati deh dipelukan aku, Haha" kelakar nya dengan mencuil-cuil rambutku yang entah sejak kapan tidak disisir bahkan dicuci.


Maafkan aku 😭😭😭 aku sibuk mengurusi pemakaman suamiku


Mohon do'a nya untuk suami ku ya kakak terimkasih 🙏🙏🙏🙏 in sya Allah bakal up terussssssssss.....

__ADS_1


__ADS_2