My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 6 Martabak Ciken


__ADS_3

Esok paginya ...


Seperti biasa, setiap pagi aku selalu beres-beres, yang biasanya sama Rian, kini sama kak Baru, di mulai dari ngepel, nyapu, lap kaca etalase, semua pokonya.


Dan, setiap hari toko studio ini buka jam 6 pagi.


______


"Bang Zul mana kak? ko dari tadi nggak nongol-nongol," tanyaku sama ka Baru.


"Ya biasa lah belum bangun, di bangunin juga kagak bakalan bangun," katanya sedikit ketus.


"Ya ya, adik nya uni mah bebas, mau bangun siang kek, mau bangun subuh kek, bahkan kagak bangun-bangun juga boleh, bebass!!" cerocosku mendengkus yang juga ikut kesal.


"Sabarr."


"Sabar, stok nya masih banyak." Ketusku. Sepintas kak Baru melirik kearah ku dengan tersenyum tipis.


Tak tak tak


Suara langkah kaki-kaki manusia yang sedang turun dari tangga.


Ya ya, siapa lagi kalo bukan bang Yoga, Rian dan Riko.


Hidupku ini .emang penuh dengan drama kalo tiap pagi.


"Selamat pagi semuanya ..." sapa bang Yoga, dengan tersenyum manis nunjukin kempot nya yang dalam satu meter.


"Selamat pagi juga," Sahutku dengan masih berdiri memegang sapu.


"Uhh senyum nya manis banget kek gula basi," celotehku sama bang Yoga.


"So imut."Lirihku.


"Issh, Erna ini sirik aja deh sama abang,"


"Kagak ya."


Tiba-tiba Rian mendekati ku dan merangkulku dari sisi. Terus tersenyum padaku.


"Udah bisa ngoceh lagi ya sekarang?" tanya Rian padaku.


"Iya lah." Jawabku singkat.


"Erna hari ini cantik banget deh," timpal Riko.


"Jelas lah, Erna ini emang paling cantik," sahut bang Yoga.


"Haha, ya iya lah, orang semua disini cowok kok," balasku.


"Tapi sayang, pesekk. Hahaha" ledek Riko dengan terkekeh-kekeh.


"Terus, jidat nya lebar pula, kayak lapangan basket, " imbuh Riko lagi.


Aku menyunggingkan bibirku.Ya, bagiku pesek itu adalah kemancungan yang tertunda. Dan jidtaku juga adalah kelebihan ku. Jadi tidak ada masalah bagiku dengan kepesekan dan kejenongan ku, bukankah yang pesek itu imut-imut ya, kek marmut.


Sementara Rian malah asik ketawa ngakak.


"Apaan si lo! seneng ya lo?" ucapku sama Rian dengan memukul bahunya.


"Gak. Lucu aja." jawabnya. Masih di posisi merangkul pundak ku.


"Apaan si lo meluk-meluk si Erna!" ketus Riko.


"Ya emang kenapa?" tanya Rian polos.


"So ganteng lu!"


Setelah mengatakan itu, Riko melengos berjalan kedepan dengan menyenggol bahu Rian. Sementara Rian malah diem aja.


"Si Zul mana?" tanya bang Yoga padaku.


Aku sendiri mengangkat kedua bahuku, tanda tidak tau.


"Woii bang, bang Baru!!" panggil bang Yoga.


"Apa?"


"Mana si Zul?"


"Mana ku tau!"


"Ish, kompak amat jawabnya. Dah ah, kita capcus dulu ya!" pamit nya.


"Hmmm." sahut kak Baru.


"Baik-baik yaa," ucap Rian padaku dengan menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.


"Hmm." Jawabku singkat.


Kemudian mereka semua berjalan kedepan menunggu angkot lewat.


Ya gini deh aku, sampek lupa sama A Dani kalo udah ngumpul sama anak-anak TK.

__ADS_1


Bahkan hampir bisa lupa, kalo ayahku juga sudah tiada.


Aku berdiri menatap mereka yang sedang masuk kedalam angkot, mereka tersenyum padaku. Aku pun membalasnya.


"Jangan ngelamun! nanti juga balik lagi si Rian!" ucap kak Baru.


"Yee, apaan sih kak, si Rian itu cuma temen aja. Lagian aku sendiri udah punya pacar, Rian juga kenal sama pacarku!" sahutku, kembali membereskan toko sampai bersih.


Waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi, suara langkahan sepatu yang turun dari tangga pun kembali terdengar.


Ya, kali ini pasti si Boss. Uda.


"Selamat pagi,"


"Pagi boss," sahut kak Baru.


"Pagi uda," sahutku


"Mana Zul?"


"Dia bel..." seketika ucapanku terhenti.


"Di belakang," jawab bang Zul, di belakang uda.


Aku melirik dengan memiringkan kepalaku, karena pandangan ku terhalang badan uda yang kekar.


Ternyata udah bangun.


"Ahh, Zull, abang hari ini mau lihat ruko yang akan di buka besok. Kamu ikut ya,"


"Si Baru aja tuh, dia kan karyawan kesayangan abang. Kenapa nggak dia aja yang di ajak?"


"Oh, ya sudah, Ru, kamu ikut saya. Ayo sekarang!"


"Baik Boss!"


Aku hanya melihat drama itu tanpa bicara.


Tiba-tiba suara itu ....


"Baang, Eva ikut lah!!" teriaknya sambil berlari ke arah uda, kemudian langsung menggandeng tangan nya.


"Iyaa, ayo!"


Tak lama kemudian mereka semua masuk kedalam mobil. Aku terus menatap ke arah mereka, apalagi dengan tingkah kak Eva yang menurutku patut di curigai.


Masalahnya, aku sudah sangat sering melihat kak Eva kaya mesra banget sama uda. Kalo cuma sebatas hubungan kaka adik, rasa nya kagak begitu deh.


Aku melirik ke arah bang Zull. Dia malah asik-asik bunyiin musik, kenceng lagi.


"Biarin ah!"


"Isshh, rese banget deh."


Aku kembali duduk, di tempat biasa ku. Aku inbox si Mely, temenku, yaa baru kenal sih. Tapi dia lumayan nyambung kalo di ajak bicara.


"Mell, main sini ke toko!" isi pesan inbox ku.


Tidak di balas. Beberapa saat kemudian dia nongol, jalan kaki.


Aku tersenyum gembira melihatnya.


"Erna, mana si uni?"


"Di dalam."


Beberapa saat kami berbincang-bincang, tiba-tiba uni datang, dia berencana mau memperkerjakan Mely di toko.


"Mely, sudah siap kerja ya?"


"Siap uni,"


"Mel kamu kerja disini?" tanyaku dengan tersenyum padanya.


"Iya!" jawabnya singkat sembari cengar cengir.


Aku sangat bahagia, karena Mely bekerja disini. Jadi sekarang bukan cuma aku yang paling cantik. Bukan itu sih sebenarnya, yaa lebih ke ada temannya aja aku.


Kami terus bekerja melayani yang mau Fotocopy, mau Foto keluarga, bahkan Foto KTP juga banyak, sekedar membeli map atau yang lainnya juga ada.


Pokonya toko studio milik uda ini ramai pengunjung, bahkan sampe kewalahan kalo udah rame gini.


Malam menjelang, bang Zul sibuk merayu Mely. Ihh apaan sih mereka, garing banget deh. Kamseupay.


"Woii, apaan sih. Malah sibuk mesra-mesraan. Lah gue jadi obat nyamuk!"


"Haha,"


"Malah ketawa!!" Aku segera meninggalkan mereka yang sedang asik main komputer. Aku duduk di bangku, termenung memandangi layar poselku, menunggu balasan sms dari Dani.


Tiba-tiba ...


"Ssssstt sssttt,"

__ADS_1


"Suara apaan tuh?" Pikirku, dengan menengok ke kanan dan ke kiri.


"Aa, di sini !!" Teriak nya, dari sebrang jalan.


Aku menoleh ke arah suara itu, betapa terkejutnya aku.


"A Dani?" ucapku bahagia. Aku berjalan menyebrang, mendekati Dani yang masih duduk di motor.


"Pantesan sms ku nggak di bales. Aa lagi otw kesini ternyata," ucapku


"Iya, Aa kangen sama kamu," sahutnya, dengan mencubit pipiku manja.


"Ihh, baru aja kemaren ketemu." Aku tersenyum malu, mendengar perkataan Aa Dani yang membuat ku melayang-layang.


Lebay amaat deh aku. Hehe.


"Kamu sibuk?" tanya Dani.


"Enggak sih, kenapa?" Jawabku.


"Ikut sama Aa yu," ajaknya, dengan suara centil.


"Kemana?" tanyaku dengan mengerutkan dahiku.


"Jalan-jalan lah!"


"Nggak bisa A, nanti aja ya,"


"Hmm...besok ijin cuty lah yang, Aa mau jalan-jalan sama kamu!" titah Dani.


"Nggak bisa A, baru aja masuk kemarin. Uda sekarang ketat sama aku !"


"Hmmm, ya udah lah, sebisanya kamu aja, nihh untuk kamu, jangan lupa dimakan martabak nya," ucapnya, dengan memberikan kantong kresek makanan padaku


"Tapi ko bau nya ciken sih?" sahutku, mengambil alih kantong kresek yang berisi makanan.


"Sama ciken juga."


"Oo, makasih A, baik banget sih sama aku,"


"Biar cepet gemuk, gak kurus kering kaya gini. BB kamu berapa sih? jangkis banget perasaan?"


"Masa sih A? bb ku 48 kg ko,"


"Tinggi?"


"155, emang kenapa sih A? kaya baru kenal aja deh!"


"Pantesan, ya minimal 50 lah atau 55 semok, haha" ledeknya.


"Dihh, rese banget sih. Segini tuh udah ideal A, aku nggak suka gendut. Berat di bawa jalan nya!"


"Haha, alay ah. Ya minimal 50, naikin 2 kg lagi ya!"


"Iya dehh, Aa pulang gih, udah malam. Rumah Aa kan jauh. Takut ada begal dijalan!" titahku cemas, lagi musim begal juga soalnya.


"Ngusir nih?"


"Ihh, bukan. Udah malem, lanjut sms atau telpon aja, bentar lagi mau tutup!"


"Kiss Me please!!"


"Apaan sih!! gak ada ah!!" ketusku.


"Yaah pelit"


"Malu lah, deket jalan ini!!"


"Ya udah ya udah. Aa pulang yaa, jangan lupa di makan, kalo kurang telpon Aa lagi!"


"Emang aku keliatan rakus ya?" Tanyaku


"Sedikit." jawabnya dengan menyipitkan matanya.


"Dihh, rese!!"


"Hahah..."


Aku terus memandangi dia yang asik tertawa.


Ihh ganteng banget sih, kaya Aktor Marcel Darwin haha. Persis kaya gitu.


Senyuman nya benar-benar mengalihkan duniaku.


Segera A Dani memakai helm nya dan menyalakan mesin motornya. Kemudian berlalu dari hadapanku dengan secepat kilat. Aku kembali ke toko, dengan menenteng sekantong kresek makanan. Dan menaruhnya di kamar.


Setelah beberapa jam, toko kembali tutup. Mely juga sudah pulang. Aku segera merebahkan tubuhku di atas kasur.


"Lelah sekali hari ini." gumamku.


Aku langsung beranjak duduk, membuka kantong kresek yang A Dani kasih tadi.


"Waah martabak manis keju, martabak telor sama ciken. Banyak amat. Dia benar-benar pengen aku gendut ya." celotehku. Tertawa terbahak-bahak, sambil memakan satu persatu hingga habiss tak bersisa, setelah itu ponsel ku kembali berdering.

__ADS_1


Segera aku mengangkatnya dan kembali mengobrol lewat telpon sama pujaan hatiku. A Dani.


Terimakasih 😊😊


__ADS_2