My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 42


__ADS_3

Mereka pasti bingung dengan kejadian ini. Masih untung A Misca hanya seorang diri, gimana kalo ka Eni juga tau. Aku bisa mati berdiri.


Akupun berjalan mengikuti langkah kaka iparku yang sudah lebih dulu keluar dari minimarket ini.


Tanganku juga terus digandeng pria yang sangat aku...... ahh lupakan.


"A, kamu yakin?" Gusar aku menanyakan pada Dani.


"Iya udah ayo. Kakamu sudah naik motor. Kita susul. Nanti keburu marah dia!"


"Hmm." Aku mengangguk, melihat kaka iparku sudah berada diatas motornya dan memakai helm.


Aku dan Dani turut naik mobil mengikuti jalur kakak ku. Gemetar yang aku rasakan saat ini. Aku seperti mati kutu. Skak matt!!


Mampuss deh gue!!


Didalam mobil.


Hening...


Dani hanya melirik-lirik saja padaku. Tatapanku tetap lurus kedepan, aku terus memikirkan cara bagaimana aku bicara nanti?


Alasan apa yang akan aku katakan pada kakak ipar kepercayaan Alm abahku ini. Aku pasti akan digantungnya hidup-hidup.


"Yaang... kamu jangan takut, ya. Ada aku." Katanya memecah keheningan didalam mobil. Aku terus diam mengabaikan ucapan Dani.


20 menit perjalanan. Motor kakak iparku berbelok arah kesebuah Cafe'kecil, namun terlihat sangat sepi tak ada orang satupun. Aneh juga sih. Dani pun ikut berbelok mengekor dibelakang kakakku.


Tak ada tempat parkir khusus mobil. Dengan terpaksa Dani memarkirkan nya dipinggir jalan.


Sebelum kami keluar, Dani sempat menguatkan aku. Digenggamnya erat telapak tanganku yang dingin dan berkeringat.


"Kuat kan??" tanyanya.


"Kuat, kok." jawabku singkat.


Kulihat A Misca sudah mulai membuka helmnya, ia masuk kedalam dengan langkah yang sangat cepat dan kasar.


Dengan gaya khas premannya. Memakai kaos hitam di lapisi jaket kulit hitam. Celana pensil hitam dan rambut sedikit acak-acakan. Dengan sepatu hitam juga.


Kakak iparku yang satu ini memang rock n roll. Gaul. Wajahnya garang. Macam kak Ros.


Aku semakin takut, meskipun aku hanya melihat dari balik kaca mobil. Tiba-tiba Dani membuyarkan lamunanku.


Ia mengetuk-ngetuk kaca mobilku.


'Sejak kapan dia keluar mobil?' pikirku makin aneh.


Dani seakan memberi isyarat agar aku segera keluar dari mobil. Kutatap dia dan mengangguk pelan.


"Jangan takut yang, kakakmu juga manusia. Dia tidak akan membunuhmu. Paling yang akan dia bunuh adalah aku."


"Huss... kakakku bukan pembunuh!"


"Nah itu kamu tau!"


Sebelum aku menemuinya. Kutarik nafas dalam-dalam. Hempaskan secara perlahan. Kulakukan itu berkali-kali, hingga Dani terus mendengkus kesal padaku yang banyak gaya.


Bukan gaya, tapi aba-aba. Sedia payung sebelum hujan. Karena pasti didalam aku akan disambar petir dan gledek. Terus mati deh.


"Udah??" Katanya memastikan.


Aku mengangguk.


Lagi, Dani kembali menggenggam erat tanganku. Kulangkahkan kakiku ini, meskipun berat untuk melangkah, tapi aku harus menghadapinya dengan baik dan tetap tenang.


Kakak iparku sudah duduk dikursi pojok dekat jendela, aku dan Dani sangat gugup, kulihat Dani juga mengeluarkan peluh dipelipisnya. Mungkin dia yang lebih gugup dariku, karena dia pasti yang akan paling tersalahkan disini.


"Duduk!!" Kata kaka iparku dengan wajah terangkat cepat. Saat aku dan Dani sudah berada dihadapannya.


Aku dan Dani saling pandang, seraya menggeser kursi secara bersamaan dan duduk manis seperti sedang menghadapi ulangan FISIKA. Sangat rumit dan membuat pusing. Kepala pun ikut cenat-cenut. Banyak rumus yang harus dipecahkan.


BRUGGHHH


kepalan tangan A misca yang menggebrak meja membuat aku dan Dani terjinggut kaget. Untung jantungku buatan gusti Allah. Aman.


"Jadi ini yang disebut kerja?? Kerja buat anak? Hah?!!" ujar kaka iparku, matanya melotot melirik aku dan Dani secara bergantian, dengan wajahnya didekatkan pada kita berdua. Sereem.


"Terus, dari mana kamu mengirim ibu uang setiap bulan??" Katanya lagi. "Apa dari cowok kayamu ini?" Imbuhnya dengan menunjuk dada Dani kasar.


Aku dan Dani terus diam. Bibirku rasanya kelu. Tak bisa mangap, apalagi bicara.


"JAWAB!!" Bentaknya dengan menggebrak meja lagi.


Mataku merem karena takut. Kakak iparku ini memang sangat galak dan arogan. Tapi aslinya dia sangat penyayang, apalagi sama aku dan dia juga menganggapku sebagai adik kandungnya sendiri.


"Itu, saya yang mengirim uang, A!"


Mataku membulat saat Dani menjawab dengan lancar dan tidak terbata-bata.


"Maafkan atas kekhilafan kita berdua A. Aku akan bertanggung jawab dan menikahi Erna," imbuhnya dengan tegas dan menatap A misca secara jantan.


Widihhh...


Kakak iparku tetap diam dengan tatapan yang sangat tajam dan menusuk ulu hati.


"Kamu mencintai adik saya?" tanya kakakku dengan nada menekan.


"Aku sangat mencintai adik Aa,"


"Terus, kenapa kamu tidak menjaganya?? Malah kamu membuat hidupnya menderita. Hah? JAWAB!!"


"Aku khilaf A."


BUGH

__ADS_1


Lagi, tinju kakaku mendarat ke ujung bibir Dani yang masih terlihat memar.


Tubuhku gemetar takut, airmataku menetes deras...


"Berapa kali kau melakukan hubungan terlarang ini kepada adikku?" Teriaknya.


"Aku ngggak tau A. Maafkan aku." Jawabku dengan isak tangis yang memilukan


"DIAM!! Aku tidak bicara denganmu!!"


"Cepat katakan berapa kali?" Dengan kaki menendang Dani yang tersungkur.


Amarah kakakku sudah tidak bisa dikatakan lagi. Mungkin hatinya hancur melihat aku yang seperti ini, mungkin dia juga merasa gagal dalam mendidik anak kesayangan mertuanya itu, abahku.


Dengan beringsut perlahan Dani kembali beranjak duduk. Karena bogem mentah dari kakakku membuat dia jatuh tersungkur. "Sering kak." Jawabnya dengan mencuil ujung bibirnya yang sudah sangat biru.


"CUKUP!!" teriakku, membuat kakakku berhenti memukuli Dani yang sudah babak belur.


"Malu A, malu!!" Aku berdiri lantas berlalu pergi meninggalkan mereka semua.


Namun suara Dani terus memanggilku.


"Yang..."


"Yaang..."


"Yang... bangun. Yang, bangun yang. Ini udah soree lho! Udah lewat asar tau!" Suara Dani membuat mataku mengerjap.


Badanku mendadak sakit semua.


Tadi itu...??


Aku tersentak saat diriku berada didalam kamar. Aku celingak-celinguk kaya orang linglung. Kuraba wajah Dani yang tepat berada didepanku. Memastikan bahwa dia baik-baik saja.


"Kamu kenapa sih?" tanya Dani heran yang melihat sikap anehku setelah bangun dari tidur siang bolongku.


Aku mendengkus lega, "Alhamdulillah... cumi ternyata."


"Cumi apa?"


"Cuma mimpi."


"Mimpi apa kamu?"


Aku diam tak menjawab.


Keringat bercucuran, padahal kamarku ini pake AC. Ini yang namanya mimpi disiang bolong. Kenapa cepet begini nyampenya. Padahal tadi baru aja belok ke minimarket.


Aku bingung sendiri, akhirnya aku langsung menanyakan hal ini sama pria didepanku. "Kamu jadi ke minimarket?"


"Jadi lah, tuh cemilan kamu!" Jawabnya dengan menunjuk makanan ringan yang dibungkus beberapa plastik didekat pintu.


"Ko aku bisa nggak tau kamu belanja??"


"Kamu tidur, baru aja kita belok ke parkiran, ehh kamu udah pules aja tidurnya kaya kebo. Yaa aku mana tega bangunin kamu. Jadi aku belanja sendiri sampe selesai, dan pas sampe rumah kamu juga belum bangun. Aku gendong sampe kamar. Ternyata bobo kamu lanjut sampe sore tau nggak. Aku ciumin kamu juga nggak bangun-bangun. Apa jangan-jangan kamu sengaja ya mau aku ciumin terus??" Paparnya sambil cengar-cengir kuda.


"Yaang. Nggak usah malu gitu lah! Meskipun iler kamu panjang kaya kereta api dan tidur kamu mangap. Aku tetep sayang ko," ledeknya dengan teriak-teriak dan terkekeh-kekeh.


"Anjayyyy... dasar sinting!!" Gumamku sesekali mengelap ilerku, sambil ngaca.


"Nggak ada iler ko. Edann!" Rutukku. "Tapi alhamdulillah wasyukurillah, semua ternyata hanya mimpi bolong belaka." Gumamku lagi sambil menyender dibalik pintu dan mengusap dadaku perlahan.


"Tapi... apa bener Dani nyiumin aku tadi? Masa aku nggak berasa gini sih?" dengan mondar-mandir di dalam kamar mandi memikirkan ucapan Dani.


Dasar gendeng. Kenapaaaaaaaa aku ini semenjak hamil jadi ***** gini coba?


Nempel molor!


"Cepetan mandinya!! malam ini si Wahyu tunangan lho!" Dani, memberitauku dengan teriakan alay. Kaya sengaja gitu.


Aku berdecak dibawah guyuran air. "Aku nggak mau datang!!" Jawabku dengan teriakan lagi.


Gedoran pintu terus menggema, Dani mulai bertingkah lagi sama gue, untung kamar mandinya gue kunci.


"Yang, buruan. Teh Maya nelponin terus nih. Kita suruh dateng!" Masih memaksaku.


"Sampai botak pun aku nggak bakalan dateng. Titik." terdengar Dani menggerutu. Entah apa.


Secepatnya aku membersihkan diri, langsung kupakai baju bekas tadi. Karena aku tidak mau ganti baju saat Dani masih dikamarku. Bisa gawat.


"Lama banget sih?" Ujarnya dengan memelukku dari belakang. Doyan banget meluk gue dari belakang.


"Apaan sih! Lepas ah!"


"Nggak. Kamu wangi banget yang. Bikin aku... Aww... Kamu kasar banget sih!"


Terpaksa aku menyikut perutnya, biar dia nyaho.


Mimpi siang bolongku benar-benar membuat aku takut. Mimpi itu seperti nyata. Ya Allah, mungkin jika itu bukan mimpi, lantas apa yang akan terjadi padaku?


"Biar kamu diem dan menjauh!!" Ketusku berlalu pergi.


"Ya nggak gitu juga kali. Kamu kasar. Masa cewe kaya gitu sih?"


"Kamu juga kasar!! Kita seri!!"


"Kamu dendam??"


"Nggak!"


"Terus tadi apa??"


"Kamu ada otak kan??" Dani diam tak menjawab. "Diem tandanya iya! Otakmu taro dimana? Didengkul apa dipantat?"


"Apaan sih?? Kamu berubah gini?" Nadanya terdengar kesal.

__ADS_1


"Lu yang buat gue jadi berubah!! Masih untung gue nggak berubah jadi srigala atau macan yang siap memakan mangsanya!"


"Astagfirullah halladzim..." Mengusap dada, "Aku nggak nyangka kamu kaya gitu!"


"Bomat!!"


"Dah lah, serah!! Cepet pake baju. Kita pergi ke rumah Wahyu!" Titahnya.


"Nggak! Pergi aja sendiri. Aku mau nonton TV SANTAI KE DI PANTAI!!"


"Apaan sih? Mau aku cium lagi??"


"Cium aja tuh tembok!!"


Dani mendengkus menatapku sambil berkacak pinggang, "SERAH deh!! mending mandi!!" Tukasnya, lantas berlalu pergi dari hadapanku.


Akupun lanjut selonjoran didepan tv, sambil ngemil cantik ala horang kaya. Kaya utan maksudnya.


"Pokonya, kali ini gue kagak mau dateng! Titik" gerutuku sambil mencet-mencet remot dengan kesal.


Suara Adzan sudah berkumandang, saking asiknya nonton tV aku sampe nggak berasa udah magrib.


Aku beringsut untuk mengambil air wudhu, Dani juga baru bangun dari tidurnya. Karena tadi dia juga langsung tidur pas kelar mandi.


"Aku jadi imam." Ujarnya dengan mendahului aku masuk kamar mandi.


Aku diam, menatapnya. Memandangi pria yang sedang berwudhu itu sambil menyilangkan tanganku, setelah selesai, kini aku yang mengambil air wudhu.


Terlihat sudah rapih sajadah dan mukenahku yang teronggok dilantai. Tv juga sudah dimatikan.


Dan akhirnya aku berkhayal. Andaikan dia imam nyataku, maksudnya imamku beneran gitu. Ya Allah... aku nggak bisa berkata-kata lagi.


"Woii. Jangan bengong! Cepetan pake. Habis ini kita berangkat ke Bandung!"


"Aku nggak mau!"


"Kamu kudu ikut!! Nggak boleh bantah!!"


"Mau sholat nggak sih??"


"Iyaa!!"


Akhirnya kita berdua menunaikan ibadah sholat Maghrib bersama.


Setelah selesai, aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu.


"Yang kamu nggak ikut??"


"ENGGAK!!"


"Ya udah. Aku pergi."


"Pergi aja!!"


Senyap...


Suara Dani tak lagi terdengar, bodo amat deh, mau pergi kek, mau enggak kek. Serah dia.


Sayup-sayup kudengar suara Dani sedang menelpon seseorang. Jiwa ngupingku meronta-ronta. Kira-kira dia nelpon siapa ya??


"Teh, aku nggak bisa datang. Erna susah diajak kompromi!" Kata Dani dari balik telpon.


"........"


"Iya teh, dia baik kok. Bentar lagi Dani bakal jadi ayah teh."


"......."


"Iyaa, Dani seneng banget. Ya udah. Assalamualaikum."


Setelah tak mendengar apa-apa lagi, aku kembali rebahan, sambil pencat-pencet hp. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mendengarkan lagu pakai headset. Karena perutku sangat keroncongan, kuambil makanan ringan yang teronggok dipojok dekat lemari. Mengambil makanan ringan kesukaan ku. Good Time 😂


🌱🌱🌱


Sudah berhari-hari Dani tinggal bersamaku, seperti layaknya sepasang suami istri. Aku tinggal bersama dan serumah, makan bersama, aku juga selalu membuatkan dia bekal makanan setiap kali dia berangkat kerja. Kecuali tidur bersama, enggak ya!


Setiap lagi perutku mulai mules, kadang enggak. Aku hanya merasa-rasa rasa sakit dan mulesku ini. Siapa tau ini tanda-tanda lahiranku.


Aku juga sering melakukan olahraga Yoga di saat sinar matahari pagi memancar kan sinarnya.


Aku juga mengurangi tidurku dan tidak diam dikamar.


Aku lebih banyak duduk diluar dan melakukan hal yang membuat aku cepat lahiran. Aku ingin cepat-cepat melahirkan dan setelah itu pulang kampung bertemu ibu. Sudah 9 bulan aku tak bertemu keluargaku, selama 9 bulan juga aku berbohong padanya, pada mereka semua.


Aku kembali merebahkan tubuhku di atas kursi dengan kaki selonjoran. Kulihat kakiku juga bengkak, tubuhku gendut, aku bahkan nggak tau berapa BB ku sekarang. Mungkin sekitar 70kg.


Dirumah aku hanya sendirian, Dani sudah berangkat kerja. Kubawakan dia bekal Nasi goreng dan telor ceplok. Tak lupa saos saset merek ABCDEFG yang harga 1000an kuletakan diatas tutup Tupperware bersama dengan sendok yang aku tempel dengab pita perkat.


Persis anak TK bekal si Dani itu.


Tiba-tiba


TIDT TIDT


Sura klakson mobil, aku beranjak berdiri dan mengintip dibalik jendela. Kusingkap sedikit gorden jendelaku. "Mobil siapa tuh??"


Setelah aku perhatikan lamaaaaa..."Hah?? Wahyu??"


Sontak aku mengunci pintunya dengan cepat. Jantungku bedegup kencang, tubuhku gemeteran. Dia hanya seorang diri. "Mau apa dia??" Gumamku.


Kuintip lagi, dia mulai melangkah


mendekati pintu ini. Segera aku kembali duduk dan diam tak bersuara...


🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


Siapa yang kena prank ??


__ADS_2