My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab 45


__ADS_3

"Kebiasaan, apa-apa masuk! Apa-apa kunci!!" Gerutu Maya yang aku dengar.


"Kamu ngga kasian sama Dani?" Tambahnya dengan suara berteriak.


"Buka pintunya, Na!!"


"Ini semua gara-gara kamu, lho. Dia yang kontraksi. Kasiaaan!!"


Apa? Gara-gara aku?


Yang bener aja! Masa aku yang disalahain sih!


"Ayo ikut dulu!! Kita liat keadaan-nya !" Maya terus mengoceh dari luar. Bahkan tak henti-hentinya menyuruh-ku untuk ikut melihat Dani yang sedang sekarat kadal.


Pake acara menyudutkan aku lagi. Dasar! Tidak tau malu!


"Udah teh, jangan paksa Erna kenapa sih!" Kudengar Wahyu berbicara dengan nada kesal.


"Diem!" Ketus Maya "Buka Na. Ayo ikut teteh ke Bandung!!" Teriaknya lagi, tanpa peduli dengan cegahan Wahyu.


"Teteh pikir Bandung itu deket apa? 10 menit sampe!" Protes Wahyu lagi. "Ini udah jam 9 teh malam teh! Belum lagi dijalan nanti macet. Rawan juga buat ibu hamil!"


Aku diam, biarkan saja A Wahyu yang ngomel. Aku malas sama Maya! Terlebih tentang tuduhannya! Bikin aku empet aja!!


"Teteh nggak ngomong sama kamu, Yu! Diem aja napa sih! Mulutnya dikunci. Nggak usah ikut campur!"


"Iya! Wahyu tau, kok. Tapi kalo urusannya sama Erna, maaf,Wahyu akan membantah dan ikut campur teh. Lagian, mana bisa dia ikut ke Bandung! Jauh lho! Apalagi ini udah malem! Gila aja kalo teteh tetep maksa dia buat ikut!"


"Apaan sih, Yu! Kamu jangan memperkeruh keadaan."


"Astagfirullah... siapa yang memperkeruh keadaan teh! Teteh juga harus pikirin calon bayi si Dani. Ponakaan kesayangan teteh itu!"


"Kok kamu gitu ngomongnya?"


"Iya lah. Bukannya Dani ponakan tercinta nya teteh. Tersayang, ter teran lah pokonya! Sakit sedikit aja langsung kaya kebakaran jenggot!" sindir Wahyu, aku yang mendengarkan hanya manggut-manggut saja. Sepertinya Wahyu sedang cemburu soal Dani yang terlalu dihawatirkan sama teh Maya.


Tapi iya juga sih. Mereka sama-sama keponakannya. Tapi kenapa Maya kaya sedikit membedakan rasa sayangnya ya?


"Terus, waktu aku kecelakaan kemarin. Mana?? Teteh nggak ada tuh yang namanya nengok aku, terus nungguin aku. Nggak ada! sekali mampir malah memaki Erna yang nggak-nggak." tambahnya lagi, dengan terus memojokan Maya.


"Teteh juga sayang ko sama kamu, Yu!"


"Hallaaaah. Bulsyit teh. Lebih baik teteh pergi sendiri aja! Kasian Dani. Takut mati konyol!"


"Kok kamu gitu Yu ngomongnya?"


"Gitu apa sih teh? Aku nggak gitu, kok. Bukannya teteh mau nengokin Aa Dani yang lagi sekarat karena mules yang luar biasa itu kan? Ya udah sana pergi... "


Hening....


Tak ada jawaban dari Maya.


Sementara aku terus mendengarkan.


"Udah sana teh. Pergi aja. Percuma! Erna nggak bakal mau menengok. Erna juga punya otak teh. Kemarin aja si Fitri hampir menyakitinya. Apalagi kalo dia ikut kesana! Teteh nggak mikir apa! Apa yang bakal terjadi nanti!" Maki Wahyu terus membelaku.


Aku tersenyum kecil mendengar penuturan Wahyu yang sangat sederhana namun mampu membuat hatiku bangga.


"Kamu ini pinter ngomong, Yu!!"


"Lho, siapa yang pinter ngomong? Aku bicara fakta sesuai kenyataan kok,"


"Serah kamu aja!"


Aku beringsut mengintip dari balik jendela setelah suara Maya menghilang dari balik pintu, ternyata Maya beneran pergi naik mobil sendirian malam-malam begini.


'Hati-hati ya teh. Maaf aku nggak bisa ikut.' gumamku.


Aku kembali melangkahkan kakiku, membuka pintu kamar dan melihat Wahyu yang menjatuhkan dirinya dikursi depan TV.


"Ko keluar? Udah nggak ngambek lagi?" tanya Wahyu, ia langsung beringsut duduk dengan benar. Aku tersenyum kecil, mendekati-nya perlahan. "Duduk sini ndut. Deket Aa." Imbuhnya, sembari menarik tanganku dan akupun ikut duduk disampingnya.


"Kamu kenapa senyum-senyum? Baru nyadar kalo Aa ini lebih ganteng dari Dani ya?" Mendengar ucapan Wahyu, senyuman ku semakin lebar... Ternyata kalo diperhatiin dengan seksama, dan lebih dekat. Wahyu memang lebih ganteng dari Dani.


"Woii, napa sih senyum mulu? Kamu kesambet ya?" katanya lagi, dengan tanggannya menempelkan dikeningku. Memeriksa suhu badanku.


"Kamu sakit?" katanya lagi padaku yang sedang asik senyam-senyum tanpa peduli dengan ocehan Wahyu.


Astagfirullah... sadar Na sadar. Lo jangan terhanyut dengan wajah teduhnya! Kebaikan-nya. Kelembutannya.


Jangan sampai lo menyukai pria yang ada didepan mata lo ini.


Atau, lo akan tersiksa lagi.


Tapi, sepertinya mataku tau mau berhenti menatap pria ini.


"Na. Aa mau bicara sesuatu sama kamu! "


"Bicara aja!" Reflek menjawab. Namun tetap dengan memandangi wajahnya.


"Aa suka sama kamu!"


Lamunanku seketika ambyar mendengar penuturan Wahyu, "Hah?? Maksudnya gimana?"


Apa ini yang namanya nembak?


Wahyu nembak gue?? apa kuping gue nggak salah denger?


Nggak! Nggak! Dia bukan nembak. Dia hanya ekting biasa. Atau dia hanya sekedar suka. Wajarlah...


"Maksud Aa apa? Suka gimana?" tanyaku memastikan.


Terlihat dia menelan ludah, membuang nafas perlahan sembari menggenggam erat tanganku dan menatapku tajam.


Jelas, aku ikut grogi ditatap seperti itu. Biar bagaimanapun, aku belum pernah digituin sama Dani atau pria lain.


"Apa?" Tanyaku mengulang dengan halis kiriku terangkat keatas.


"Aku suka sama kamu! Aku mau menikah sama kamu! Aku akan menggantikan Dani dihati kamu. Aku juga akan menjadi ayah yang baik buat anak-anak kita kelak. Aku juga rela menjadi ayah sambung dari anak kamu dan Dani. Aku sayang sama kamu. Kamu mau kan setelah anak ini lahir menikah dengan aku?" Paparnya panjang kali lebar.


Aku diam terpaku sembari menatap wajah itu. Tutur kata yang dia ucapkan tadi kenapa serasa sangat singkat begitu?


Aku takut jika ini adalah hayalan ku saja.


"Kamu becanda ya, A?" Dia menggeleng cepat. Aku mendelik. Apa iya? Dia suka sama wanita murahan kaya aku?


Nggak murahan sih. Lebih tepatnya aku terjebak cinta nafsu dan akhirnya aku menyesal.


"Bohong ah!!" Aku hempaskan genggaman tangannya. Memalingkan wajahku dari wajahnya.


Sebenarnya jantungku juga serasa mau copot. Degap degup degap degup. Untung saja buatan gusti Allah itu kuat-kuat. Aweet lagi.


Tanganku juga berkeringat dingin.


"Na. Aa serius!!" Sembari meraih tanganku.


"Nggak ah. Kamu cuman ngeledek aku doang kan? Ngetes aku doang kaaan? Iya kaann?" kataku lagi sambil nunjuk idungnya sembari tersenyum jenaka.

__ADS_1


"Astagfirullah... sumpah Na. Aa nggak bohong!"


"Halaaah...!! Udah ah. Jangan becanda mulu. Aku mau bikin susu anget ya buat kamu. "


Tapi, tiba-tiba dia mencekal tanganku saat aku ingin beranjak berdiri.


"Aa serius. Aa suka sama kamu!"


Aku tersenyum lebar. "Iya. Aku juga suka ko sama kamu. Terimakasih ya A. Sudah mau jadi kakak aku!"


"Kaka?? Bukan lah!! Aku suka sama kamu sebagai wanita-ku. Wanita yang akan menua bersamaku, Na." ujarnya dengan nadanya sedikit tertahan namun terpengaruh memaksa.


"Serius ini teh?"


"Iya lah!!"


"Tapi... mana mungkin kamu suka sama wanita murahan kaya aku. Lagi hamil lagi!"


"Jangan rendahkan harga dirimu, Na. Mari kita mulai dari awal." ajaknya seperti mau kondangan aja.


Aku terdiam. Kerongkongan-ku rasanya sangat kering, bibirku kelu, tak mampu berucap sepatah katapun. "Khhmmm... aku mau minum dulu, " Ucapku, sambil mengusap leherku perlahan.


"Diem di sini, biar Aa yang ambilkan, oke." pintanya. lantas beranjak masuk dapur.


Aku mengangguk, menatap dia yang beringsut pergi kedapur. Tapi, tiba-tiba punggung itu berbalik dan berjalan cepat lagi kearahku, dengan singkat Wahyu mengecup keningku.


CUP.


Lantas berbalik lagi menuju dapur.


Aku menganga lebar. Tak percaya dengan apa yang terjadi padaku hari ini. Sungguh, ciuman itu meninggalkan bekas. Aku tak berani mengusap bibir Wahyu yang sudah dia tempelkan dikeningku.


Drrttt Drrrtt


Getaran ponsel Wahyu yang teronggok di meja seketika membuyarkan lamunanku. Ku ambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon.


"Teh Maya?" gumamku seraya melihat ke arah dapur, Wahyu pun tak kunjung datang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.


"Halo, Assalamualaikum." Salamku.


"Waalaikumsalam, Na cepet kamu kesini sama Wahyu ya. Teteh masih di jalan, lagi nyetir. Please bujuk Wahyu supaya nganterin kamu ke Bandung."


TUT TUT TUT


"Men matiin aja! Seberapa parah sih Dani? Sampe harus geger seluruh jagat raya begini!" Rutukku.


"Siapa?" tanya Wahyu yang membawa segelas air hangat ditangan kirinya. Melangkah kecil ke arahku.


"Maaf A, tadi teh Maya telpon. Aku angkat," jawabku sambil tersenyum paksa.


"Oh, apa katanya?"


"Dani sekarat A."


"Biarin aja lah."


Aku menerima gelas yang Wahyu sodorkan padaku. Lantas meminumnya hingga habis. Kerongkonganku terasa sangat kering bak di gurun pasir. Apalagi ciuman Wahyu masih terasa sedikit basah dikeningku.


"Waduh... gelasnya bocor ya?" kata Wahyu seraya mengangkat gelas bekas minumku tadi.


"Bocor?? Nggak kok?"


"Bocor. Perasaan tadi Aa bawa masih penuh deh! Ko ini udah kosong aja? Pasti bocor kan?" Selorohnya sambil tersenyum jenaka padaku.


Aku mendengkus. "Garing! Nggak lucu ngelawak nya!"


"Haha... nggak apa-apa. Kamu kan udah lucu. Gendut kaya..."


"Kayaaa... bayi beruang. Haha..."


Aku menyunggingkan bibirku keatas.


"Nggak ada yang lucu juga ih!"


"Kamu lucu. Lucu banget. Apalagi bibirnya itu. Pengen gigit!"


"Dih. Apaan sih! Udah ah aku mau bobo dulu ya A." Beringsut dari dudukku. Berusaha menghindar dari Wahyu, sejak tadi jantungku tak mau berhenti loncat-loncat. Rasa grogiku tak bisa aku elakkan. Sial!! Kenapa gugup begini sih.


"Have a nice dream, dear..."


Seketika langkah kakiku terhenti mendengar ucapan Wahyu barusan. Aku menoleh ke belakang, menatap Wahyu aneh.


"Kenapa? Kamu nggak bisa bahasa Inggris, ya?"


Senyuman itu manis banget.


Perlahan aku membalikan badanku.


"Iya! Aku mana tau artinya apaan?" Kilahku dengan mengangkat kedua bahuku.


Aku hanya ingin tau saja. Apa Wahyu akan mengulang perkataannya barusan.


"Oh... katanya di sekolah selalu dapat rengking 1. Ko gitu doang nggak bisa!"


Aku menyipitkan kedua mataku. Menatap Wahyu dengan tatapan penuh selidik


"Aa tau darimana kalo aku selalu rangking?"


"Tau lah. Semua orang juga tau, kok."


Aku terus berfikir keras. Dari mana Wahyu tau tentang aku. Jangan-jangan dia mencari tau seluk bulukku lagi.


"Tapi aku tetep nggak tau arti dari bahasa Inggris tadi!"


"Masa?"


Aku mengangguk kecil.


"Artinya... semoga mimpi indah sayang." Ucapnya enteng.


Aku diam sejenak. Mencerna perkataan Wahyu. "Ucapan buat siapa?"


"Buat kamu lah. Kita kan udah jadian!"


"Hah!! Jadian? Kapan? Kamu nembak aku aja nggak. Kenapa bisa langsung jadian."


"Mau aku ulang?"


Aku diam. Diamku bukan karena kesal. Tapi diamku ini menahan jantungku yang terus bergetar hebat terus jedag jedug juga.


Nafasku sesak, saat Wahyu mulai mendekat ke arahku. Dengan mengembangkan garis melengkung manis dengan sedikit lensung didagunya.


Ya Allah... aku kenapa gemetar begini.


Batinku terus mengoceh, bibirku kelu, kerongkongan ku seakan tercekat. Ya ampuun. Aku belum pernah begini.


"Kamu mau kan jadi pacarku? Dan setelah bayi yang kamu kandung lahir. Aku akan menikahimu!"

__ADS_1


Sungguh aku nggak bisa jawab. Jangankan bicara. Mangap aja aku kaya ikan yang keluar dari air. Megap-megap.


"Diam tandanya mau."


"Aku masuk dulu!" Kataku gugup.


Secepat kilat aku masuk kamar dan langsung menutup pintu tanpa menguncinya.


Kusenderkan punggungku pada pintu. Berusaha mengatur ritme nafasku menjadi stabil lagi.


Setelah cukup teratur. Aku melangkah mendekati ranjang dan merebahkan tubuhku.


Bergulang-guling mencari posisi yang nyaman. Perut besarku benar-benar membuat aku sulit mencari posisi wenak. Nafasku terasa sesak. Perutku juga kadang sakit kadang mules, tapi nggak heboh. Cuma kaya sedikit doang.


Setelah beberapa kali tak kunjung menemukan posisi nyaman. Dan akhirnya aku memilih menyender pada tembok dengan beralaskan bantal.


Kupijat-pijat kakiku yang terasa pegel. Makin lama kakiku makin bengkak, sudah sangat mirip dengan gajah.


"Oh... Andaikan saja Dani punya pendirian yang kuat. Aku tak akan begini sekarang." lirihku


Airmataku seketika menetes. Teringat bayang-bayang nanti jika aku akan melahirkan bayi yang aku kandung ini.


Melahirkan tanpa seorang suami. Melahirkan tanpa seorang ibu dan keluarga dekat.


Aku benar-benar sendiri. Betapa setresnya aku ini menjalani hari-hari ku yang selalu dirundung kesedihan dan air mata.


Apalagi saat anakku lahir nanti.


Pokoknya akan sulit aku gambarkan.


Malam ini aku nggak bisa tidur, tidur sebentar terbangun akibat perutku kadang mules kadang nggak. Hingga tak terasa sudah menjelang sepertiga malam. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan tahajud.


Melangkah keluar untuk mengambil air wudhu.


"A Wahyu kemana?" Gumam-ku


Suara percikan air membuat aku beringsut ingin melihat siapa yang berada didalam kamar mandi.


Ternyata Wahyu. Dia sedang Wudhu.


"Astagfirullahhalladzim. Aa pikir hantu yang diem di tengah-tengah pintu." ucap Wahyu. Dia kaget saat melihatku yang tiba-tiba muncul.


"Mau pipis??" tanyanya padaku.


Aku menggeleng, "Mau ambil air wudhu juga."


"Oh, silahkan. Aa tunggu diluar."


Aku mengangguk, lantas masuk kamar mandi setelah Wahyu berada diluar. Kututup pintu kamar mandi. Segera mandi sebentar dan langsung berwudhu.


"Sudah A. Aa duluan aja. Aku mau ke kamar lagi. Aku mau sholat didalam." Kataku setelah keluar dari kamar mandi, dan melihat Wahyu yang masih stay didepan pintu.


"Sholat berjamaah lebih bagus lho." Ujarnya.


"Tapi aku mau sendiri aja."


"Ya udah terserah, kamu duluan. Biar Aa dibelakang kamu." Aku mengangguk dan berjalan mendahului Wahyu. Masuk kamar kembali dan langsung memakai mukena untuk segera melakukan sholat tahajud.


Jam sudah menunjukkan pukul 4:38. Sudah adzan subuh. Akupun melanjutkan sholat subuh. Setelah selesai. Aku kembali merebahkan tubuhku. Tapi, tiba-tiba saja aku teringat Dani, apa dia masih sakit perut atau nggak ya?


Pikiranku tentang Dani membuat aku terlelap dalam mimpi. Tak terasa waktu terus berselancar...


Aku mengerjapkan mata-ku saat aku merasakan basah dibagian mis V ku.


"Aku ngompol?" Segera aku beringsut. Tapi air itu terus keluar dari mis V ku. Aku bingung dan panik.


Aku hampir mau nangis. Aku takut.


Aku berjalan perlahan keluar mencari Wahyu. Namun air itu terus mengalir tak bisa di tahan. Ini bukan air kencing atau aku nggak ngompol. Lantas ini air apa?


Kalo kencing pasti bisa ditahan. Ini kenapa terus mengalir.


Aku segera mendekati Wahyu yang tengah menonton TV.


"A. Aku ngompol. Tapi nggak bisa aku tahan. Air ngalir terus."


"Maksudnya?" Dengan merubah posisi dari duduk menjadi berdiri.


Wahyu terlihat sangat panik saat melihat aku mulai menangis karena takut.


"Aku nggak tau A. Perutku sedikit mules, tapi ada air yang terus keluar dari mis V ku. Apa ya ini a. Aku takut."


"Astagfirullah..."


Sigap Wahyu menggotong-ku keluar rumah. Dan segera mendudukan aku di mobil. Secepat kilat Wahyu membuka pagar dan masuk duduk dibelakang stir mobil.


"Sabar ya. Kamu masih mules?"


"Iya a. Tapi nggak terlalu sih. Biasa aja. Cuman air ini terus mengalir," rintihku sambil memegangi pinggang yang terasa panas.


"Kayanya air ketuban kamu pecah. Kita segera kebidan terdekat."


Aku mengangguk. Airmataku terus menetes. Aku sangat takut untuk melahirkan.


Wahyu terus mengucapkan kata sabar pada aku. Ia juga membawa mobil dengan kecepatan standar.


Setelah beberapa menit akhirnya kami sampai di bidan terdekat. Wahyu kembali menggotong tubuhku, dan membawa masuk ke dalam rumah bidan itu.


Setelah memencet bel beberapa kali akhirnya bidan itu keluar, "Kenapa istri ya pak?" Tanya bidan itu. Dan langsung menyuruh-ku masuk.


Cepat, Wahyu merebahkan tubuhku di atas ranjang.


Aku cekal tangan Wahyu saat dia mau beringsut keluar. "Aku mohon jangan pergi A. Temani aku disini." Pintaku dengan air mata yang terus menetes.


Ia mengusap air mataku, mengangguk tersenyum dan mengusap pucuk rambutku.


Beberapa menit bidan itu masuk. "Kenapa istrinya pak?"


"Kayanya air ketubannya pecah Dok." jawab Wahyu.


"Biar saya periksa dulu ya."


Tubuhku dibalut selimut, bidan itu pun merogoh kamaluanku untuk melihat pembukaannya.


"Baru pembukaan dua pak. Masih jauh untuk melahirkan, tapi air ketubannya sudah kering."


"Berikan yang terbaik untuk istri saya Dok."


"Kita tunggu ya pak. Jika sampai siang istri bapak tidak ada kemajuan pembukaan. Terpaksa harus kami bawa kerumah sakit untuk operasi."


Mendengar kata operasi membuat aku semakin takut. Perutku juga semakin mules.


"Sabar ya sayang. Aku akan tetap disini mendampingi-mu."


Aku mengangguk. Aku tak tau lagi harus menjelaskan apa. Perutku yang mules kadang enggak membuat aku prustasi.


Kulihat jam sudah pukul 7 pagi. Aku disuruh berjalan-jalan agar cepat dapat pembukaan, ditemani Wahyu yang selalu menghiburku dengan cara-nya yang sangat membuat aku bahagia.

__ADS_1


Kami seperti sepasang suami istri. Wahyu... terimakasih sudah menemani aku.


Aku nggak bisa ngomong lagi 😅😅


__ADS_2