My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab 44


__ADS_3

Dan mereka pun bertengkar hebat. Hingga Wahyu pun ikut melerai, sementara aku kembali masuk kamar.


Merenungi nasibku yang penuh dengan drama...


Sengaja Wahyu menyuruhku masuk, dia tidak mau hal buruk terjadi nanti. Karena Fitri seperti sedang kesetanan.


Pekerjaan Dani juga terbengkalai, sudah sering dia mengambil cuti libur, kadang, dia juga tidak masuk hanya karena takut aku melahirkan dia tidak ada dirumah.


Yaa... begitulah.


Dan, sepertinya, Fitri benar-benar ngamuk. Hinaan dan cacian dia padaku sampe terdengar di telingaku.


Wanita murahan


Wanita jahanam


Perebut suami orang


Tidak tau diri


Tidak tau malu


Lont**


Jabla***


Masih banyak lagi.


Biarkan saja dia menghakimiku sesuka mulutnya. Toh, dosa dia tanggung sendiri.


Untung saja rumah ini jauh dari tetangga. Andaikan dekat dengan para tetangga dan pada tau kalo aku ini serumah tanpa ikatan, mungkin aku akan terusir lagi seperti dirumah bi Timah dulu. Apalagi sekarang Fitri sedang mengamuk. Entahlah ...


Ya Allah ya Robbi Ilahi gusti nu agung...


Andaikan ini adalah uji nyali, aku sudah melambaikan tanganku pada kamera. Karena aku sungguh tak sanggup.


Sekuat-kuatnya aku. Tetap saja, aku ini hanyalah wanita yang mudah rapuh. Wanita yang mudah menangis, wanita yang butuh perlindungan, sandaran dan pujaan hati yang juga ikut menopang kehidupan-ku.


Andaikan ayahku masih ada, aku tidak akan kacau seperti ini. Dani juga tidak akan berani merusak masa depanku jika ayahku masih ada.


Ayah... maafkan anakmu ini.


Aku merintih-rintih... nasib bukan untuk diratapi, tapi dinikmati.


Ya kali, kalo gini mah semua orang juga pada ogah nikmatinya.


Kutundukan wajahku, rasanya aku malu pada diriku sendiri.


Belum lagi ibu. Mendengar ibu sakit membuat aku semakin tidak menentu.


Perasaan berkecamuk dalam angan.


Bayang-bayang wajah sendu ibu, memutari otakku. Teringat jelas, lambaian tangannya saat beberapa bulan yang lalu, dimana kandunganku baru seumur jagung. Beliau tersenyum manis melepas anaknya pergi, nasihatnya selalu aku ingat.


Tetesan bulir beningnya ia seka dengan lembut.


Ibu mana yang rela anaknya pergi jauh, padahal usianya masih sangat muda. Masa remaja yang seharusnya dinikmati, kini malah berbalik mencari sesuap nasi.


Mungkin itu arti dari tetesan bulir bening yang membanjiri pipinya yang mulai termakan usia.


Andaikan saja ibu tau, bahwa kepergianku karena aku berbadan dua, ada nyawa dalam perutku. Mungkin.... aku tak tau lah... semua sudah kehendak Allah.


Dan inilah garis takdir hidupku...


Ayah...


Ibu...


Maafkan anakmu... maafkan lah...


Pasti, ayah sedang menerima siksaan yang amat pedih karena aku, anak perempuannya tak bisa menjaga diri, tak mampu mempertahankan kesuciannya.


Ya Tuhan... jangan engkau siksa ayahku.


Haramkan ayahku dari pedihnya api NERAKA.


Kumenangiiiiissssss.......


Bahkan waktu itu, aku rela memberikannya tanpa imbalan pada dia... laki-laki yang amat aku sayang, yang telah merenggut masa depanku.


DANI Anjasmara...


Keluarga nya yang kaya. Tapi, memiliki sifat sombong dan angkuh... kenapa aku harus mencintai laki-laki dari keluarga seperti itu?


Dia... laki-laki yang telah menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping, bahkan tak mampu lagi dirangkai dengan rapih. Tak bisa lagi ditata dengan benar...


Biarlah Tuhan yang membalas, tuhan punya caranya sendiri untuk mereka...


Aku hanya bisa mengikhlaskan.


Lamunanku tersentak, saat suara pukulan dan tendangan pintu terdengar.


"Wanita sialan!! Buka pintunya!!" Maki Fitri padaku.


Ya, padaku. Siapa lagi. Hanya aku yang bermasalah dengannya.


Ya Allah... kenapa nggak ada berentinya dia mengejarku?


Jelas, jika Dani masih mengejarmu, diapun akan turut serta.


Lantas, bagaimana aku harus menjauh darinya? Sedangkan, hanya dia yang sanggup membayar semua biyaya persalinanku nanti.


Haaahhh...


Aku mendengkus membuang nafas kasar.


Seperti biasa, jika pikiranku kacau, berantakan bak kapal kecebur, selalu saja, aku dan hatiku berdialog.


Sial banget idupku...


Aku menggaruk-garuk kepalaku yang gatal dengan permasalahan. Ku acak-acak rambutku yang panjang dan kriting. Hitam dan lemas. Itulah karakter rambutku. Meskipun demikian, sangat mudah disisir, aku juga nggak tau kenapa? Dari semua keluargaku hanya aku yang berambut seperti ini..


Alih-alih, Dani sangat menyukai rambut kriboku. Hahhh, dasar pria aneh.

__ADS_1


"Erna! Keluar lu! Dasar pengecut!" Makinya padaku.


"Ayo kita pergi dari sini. Malu Fit, malu!!" Suara Dani terdengar gusar.


"Kau yang membuat dirimu malu, Dan. Hatiku hancur diperlakukan seperti ini! Wanita itu harus menanggung semuanya! Aku benci dia! Aku benci!!"


"Kebanyakan nonton sinetron istri lu A. Jadinya kaya gini deh!" Ejek Wahyu.


Maki, caci Fitri padaku sudah tidak bisa dibendung. Andai jika ucapan itu terlihat dan berwujud, mungkin rumah ini akan penuh dengan hinaan dan caci maki dia padaku.


"Bawa pergi istri lu A. Kasian Erna nanti setres... dia lagi hamil besar!"


"Lu aja!! Gua pusing sama wanita ini!"


"Lah ko gue?"


"Diam!! Aku nggak akan pergi sebelum wanita sialan itu keluar dari kandangnya!!" Tangisan-nya masih terasa berat.


Lah, dia kira gue macan. Emang macan sih. Mama Cantik


"Cepetan bawa dia A." Titah Wahyu menekan.


Dani mendengkus kesal, aku tetap stay didalam kamar. Tak berani menyentuh pintu. Suara mereka begitu kentara dikupingku.


"Astagfirullah..." Aku mulai takut, tak henti-hentinya aku ber'istigfar dan menyebut nama Allah. Fitri seperti kesetanan.


BRUGG


PYARR


BRRAAKK


"Hentikan Fit!! Kamu merusak barang-barang yang aku beli!!"


Suara mereka sangat jelas aku dengar, tanpa harus menguping lagi.


Aku tertohok dengan ucapan Dani. Ko bisa ya, masih memikirkan barang-barang yang sudah dia beli?


Manusia macam apa dia ini??


Bukannya membujuk istrinya agar dia pergi. Malah mikirin barang-barang. Dasar gila.


"Cukup teh, cukup! Jangan salahkan orang lain! Justru kamu yang merebut cinta-nya!" bela Wahyu. Sejak kapan dia puitis begini?


"Wanita sialan ini harus aku kasih pelajaran! Perebut suami orang! Dia itu hanya ingin hartamu saja Dani!" tuduhnya.


Tuduhan itu sungguh menyayat hatiku. Seakan disayat pisau berkarat. Sangat sakit dan berbekas. Akan parah jika sudah infeksi.


PLAAAKKK


Uhhh... suara tamparan itu membuat darahku berdesir-desir, hingga bulu kudukku merinding. Pasti rasanya gurih-gurih enyoy.


"Kau keterlaluan!!" Fitri. Entah siapa yang sudah menamparnya hingga begitu terdengar nyaring.


"Aku akan membuat dia dan anakmu menderita seumur hidupnya!!" Ancam Fitri.


BRUGG


BRUGG


BRUGG


Sepertinya amukan Fitri tak terkontrol, suara pecahan kaca dan bantingan barang-barang sudah menjelaskan bahwa dia sedang membuat tragedi.


Suaranya yang parau diiringi isak tangis, dengan terus menyalahkan dan menyudutkan aku sebagai wanita perebut suami orang.


Hingga beberapa jam, tangisan Fitri masih menderu. Sesakit itukah dia melihat suaminya yang mengacuhkannya?


Ah... aku tak tega.


Tenang saja Fit, setelah anakku lahir, aku akan meninggalkan suamimu untuk selamanya. Aku akan menghilangkan diriku dikehidupan-nya.


Namun, yang sedang aku pikirkan saat ini adalah ibu dan anakku nanti.


Aku sangat ingin pulang, tapi... bagaimana bisa? Tidak mungkinlah aku pulang sekarang.


Kruyuuukk


Suara perutku yang protes minta diisi. Tidak bisa dikompromi anakku ini. Disaat situasi genting begini malah minta makan.


Kuambil benda kecil yang teronggok dikasurku, mencet-mencet kipet untuk mengirim pesan singkat pada Wahyu.


[ A, aku lapar. Tapi aku takut keluar. ]


Belum sampai 1 menit, sms ku dibalas.


[ Sabar, Aa pergi dulu beli nasi padang, jangan keluar dulu sebelum Aa pulang ya... masih ada Fitri. ]


[ Oke ] balasku, setelah membaca pesan dari Wahyu.


Senyap...


Hening...


Apakah wanita itu sudah berhenti mengamuk??


Aku beringsut, yaaah... seperti biasa, menguping lagi.


Terdengar Dani sedang menenangkan istrinya yang masih sesegukan.


Seketika aku membayangkan bagaimana cara Dani membujuk istrinya.


Sebenarnya hatiku sakit, tapi mau gimana lagi. Aku dan dia tak berjodoh.


Malam itu....


"Na, kamu nggak apa-apa kan?" tanya teh Maya, yang baru saja datang dan langsung duduk didekatku. Memeluk tubuhku dan menenangkanku. Aku tak menangis, aku hanya diam.


Sejak sore tadi, A Misca terus menelponku. Aku harus menjawab apa. Dan sekarang, ponselku aku matikan.


Hatiku sakit, terlihat sangat egois memang aku ini. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Menghindar dari kenyataan pahit yang harus aku lewati.


Aku hanya bisa mendoakan ibu.

__ADS_1


Ibu... ampuni aku bu....


"Kumaha ieu teh Yu?" tanya Maya lagi pada Wahyu.


"Ya gitulah teh, si Fitri ngamuk. Ngacak-ngacak semua barang-barang." Jelas Wahyu.


"Si Dani kemana?" tanyanya lagi.


"Pulang, bawa istrinya. Teh, lebih baik Dani nggak usah ganggu Erna dulu deh, Fitri cemburu teh. Wahyu takut, jika lahiran nanti, dia akan melakukan hal aneh," papar Wahyu memberi saran.


Aku sih, yesss.


"Nggak bisa Yu, dia bapaknya anak ini."


"Teh, perutku mules..." Lirihku yang menyela obrolan mereka, seraya mengusap perutku dan mencengkram pinggangku.


Maya dan Wahyu pun panik, "Mules??"


"Iya, kayanya aku mau berak deh teh,"


"Iya, iya. Yu... siapin mobil." Titah Maya. Wahyu mengangguk tanda mengiyakan.


"Aku berak nya di wc aja teh, nggak usah dimobil." Selorohku.


"Astagfirullah... disaat genting kaya gini kamu masih bisa becanda!" Kata Maya dengan menepok jidat.


"Nggak ko teh. Ya kali aku berak di mobil."


"Bukan itu, Na. Maksud teh Maya, takut kamu mau lahiran."


"Nggak ko, aku cuma mules pengen berak doang."


"Udah Yu, jangan banyak omong. Siapin aja. Biar teteh yang temenin Erna di wc."


Wahyu mengangguk lagi, lantas Maya pun menuntunku yang sedang muless...


Saat berjalan perlahan menuju kamar mandi. Seketika mulesku ilang.


"Ko, berenti??" Tanya Maya padaku yang mendadak diam.


"Mulesku ilang teh, nggak jadi deh." Jawabku. Melepaskan papahan tangan Maya, dan akupun langsung bisa berjalan sendiri lagi, duduk lagi didepan TV.


Namun, tiba-tiba Wahyu yang didepan mendapatkan telpon dari bu Nesi, katanya Dani sedang sakit perut ampe guling-guling. Entahlah...


"Masa sih Yu??"


"Iya teh, aku juga denger teriakan Dani ko. Dia mengerang kesakitan. Perutnya mules kaya mau berak. Ampe bolak-balik ke wc katanya." Papar Wahyu dengan mimik wajah serius, tapi heran tapi panik.


"Ko bisa?" Aku menimpali. Namun tetap dengan fokus memencet remote.


Sejenak Maya terdiam. Mengamati aku dengan jari mengusap-usap dagunya, dan tangan kiri berkacak pinggang.


Akupun balas menatap Maya. "Kenapa teh?"


"Kamu udah nggak sakit??"


"Iya. Aku nggak sakit dan nggak mules. Emang kenapa?"


"Fix. Ini mah si Dani yang kena!" Kata Maya.


Aku dan Wahyu hanya menanggapi nya diam. Tak mengerti maksudnya apa.


"Kena apanya teh?" tanya Wahyu seraya duduk disebelahku.


"Erna yang hamil, Dani yang ngerasain kontraksinya... Haha" kelakar Maya tertawa terbahak-bahak.


Aku menyunggingkan senyuman tipis-ku, "Masa ah. Emang ada yang begitu??"


"Adalah. Kata-ny, kalo kaya gini berarti waktu tidur, si istri suka melangkahi suaminya." Maya menjelaskan. Lantas cengengesan sembari melihat-ku.


"Nggak mungkin teh, ada-ada aja!" Elak Wahyu.


"Kenapa teteh ketawa liat aku? Ada yang lucu?"


"Jangan-jangan... waktu serumah berdua kalian bobo bareng teria kikuk-kikuk ya...." ucap Maya sembari memadukan kedua tangannya. 👉👈


Wahyu juga ikut memandangku.


"Apa?? Jangan so tau deh!"


"Jawab aja!" kata Wahyu dengan nada sedikit menekan.


"Aku udah jawab. Aku nggak pernah kikuk-kikuk seperti yang dituduhkan teh Maya!!"


"Alaah... nggak usah boong. Nggak apa-apa kok Na."


"Nggak apa-apa gimana teh? Jelas apa-apa lah! Mereka kan belum resmi menikah!" Timpal Wahyu berdiri dan membuang nafas berat.


Aku hanya menatap Wahyu.


Kenapa dia jadi sensi gitu??


Emang kalo misalkan iya aku kikuk-kikuk, apa urusannya sama dia?


Tak berapa lama, Wahyu keluar rumah, dengan mebanting pintu.


BRAAKK


Aku dan Maya terjinggut kaget, lantas saling pandang dan mengangkat kedua bahuku dan bahunya.


Tiba-tiba Maya juga mendapat telpon.


Katanya Dani makin parah sakit perut dan mulesnya. Bahkan bu Nesi menyuruh-nya untuk datang bersamaku.


Aku sih ogah!


"Ayoo ikut!"


"Ogah!!"


"Ikut Na!"


"Nggak!! Sekali enggak ya nggak!!" Tegasku sedikit membentak Maya, aku beringsut masuk kamar dan mengunci pintu. Meninggalkan Maya yang berdiam diri.

__ADS_1


Komeennya dong komenn like 😅😅🤣🤣🤣


__ADS_2