
Aku lari terbirit-birit menaiki tangga, takut uni bertanya, apa yang aku bawa ini. Bisa-bisa mati aku.
Deg deg deg
Jantung hampir mau copot. Untung kagak nanya aku bawa apaan... Fiuhhh.
Aku sengaja beli 2, takut-takut, eror tuh alat tes.
Mumpung sepi, aku langsung mengetes alat tes itu. Dengan mengendap kaya maling aku langsung masuk kamar mandi.
Sejenak aku mikir.
Ini gimana cara make nya ya? Aku terus membolak balikan benda kurus tipis macam lidi itu.
Tapi, aku tak kehabisan akal, aku langsung search di mbah ku, alias google.
Setelah ketemu, langsung aku cobain tuh.
Nunggu hampir 10 menit, ternyata hasilnya negatif.
Kata nya kalo positif, garis merah muncul dua. Ini mah masih satu. Aku terus berpikir, sampe aku kehabisan akal. Aku nyerah.
Bingung mau cerita ke siapa, aku nggak yakin kalo itu bener-bener negatif.
Singkat cerita...
Toko sudah tutup, telpon ku langsung berdering.
"Halo. A, ini gimana cara pake tespek ya?"
"Apa? Tespek? Kamu..."
"Iya, aku telat, gimana ini?" aku panik, sediki gemetar.
"Jangan panik yang, Aa tanya mamah dulu ya,"
"Jangan!!"
"Kenapa?"
"Malu,"
"Aa ini yang nanya, bukan kamu!"
"Baiklah, terserah!"
Sambungan terputus.
Sampai malam menjelang, hingga berganti pagi, Dani hilang tak ada kabar.
Waduhh, pasti dia dilarang ngontek aku lagi. Nyesel aku !!
Pagi ini aku males ngapa-ngapain. Aku mulai merasakan gak enak di badan, pusing, dan mual.
"Kamu kenapa Na?" tanya bi Timah.
"Ehh, bibi bikin kaget aja, Erna pikir, uni!"
"Si ibu mah udah pergi ngajar,"
"Ohh."
Aku langsung naik ke lantai tiga, niat mau nyuci baju, ehh si bibi malah ikut naik.
Jangan-jangan...
"Erna," panggil bi Timah. Dengan sedikit menyelidik.
"Apa bi?"
"Kamu..." sambil menyodorkan tespek ku yang ketinggalan di westafel.
Aku terbelalak kaget bukan main, ternyata bi Timah naik ke atas karena ini.
"Bibi." Segera aku merebut tes itu.
"Kamu hamil?" tanya bi Timah dengan penuh rasa curiga. Keliatan banget dari raut wajahnya.
"Enggak bi enggak!" Jawabku.
__ADS_1
"Tapi itu negatif," selorohnya, sambil berlalu dari hadapanku.
"Bibi tunggu!!"
Bi Timah menoleh, dengan tersenyum tipis. Sangat berisyarat. Selama ini aku cukup dekat dengannya, kemarin-kemarin aku sering menanyakan tentang hubungan seks dan hamil padanya.
Mungkin sekarang terjawab semuanya, semua yang dia curigakan padaku.
Ahhh... biarlah. Sudah terlanjur.
"Kenapa?"
"Sini dulu bi, duduk yang baik!"
Aku menuntun bi Timah untuk duduk di kursi panjang yang berada di lantai tiga.
Aku gugup, berkeringat dingin.
Ya tuhan, harus mulai darimana ini!
"Kamu mau bicara apa Na?" tanya bibi sekali lagi.
"Bi, tes ini punya Erna!" aku mulai bicara, meskipun gugup bukan main.
"Lalu?"
"Bi, Gimana cara makenya ya, supaya hasilnya akurat, semalam aku cek, dan ini hasilnya."
"Haha... kamu ini lucu banget sih!" Kelakarnya, membuat merinding.
"Sekarang kamu sudah minum dan makan belum?"
"Belum bi, Erna belum makan apapun! Erna males mau ngapa-ngapain bi!" aku tertuduk lemas.
"Coba kamu tes lagi sekarang! Gih!"
"Iya bi."
Aku segera masuk kekamar mandi yang berada di lantai tiga, dan langsung mengetes alat itu dengan urine ku.
Deg deg deg.
Jantungku berdetak lebih cepat dari semalam, ternyata hasil yang keluar bergaris dua warna merah.
Airmataku menetes begitu saja. Kakiku lemas, badan ini serasa tak berdaya.
Aku keluar kamar mandi dengan berderai airmata. Terlihat bibi menatapku sendu.
Aku langsung menyodorkan alat itu pada bi Timah.
Perlahan bi Timah menerima alat itu dari tanganku, tiba-tiba saja, Mely merebut alat itu dari tangan bi Timah.
"Mely!" ucap kami kompak.
Aku membulatkan mataku. Menatap takut pada Mely.
"Ini punya lo Na?" tanya Mely, sambil memperlihatkan alat itu.
Aku mengangguk pelan.
"Ya Allah, apa yang sudah kamu lakukan Na!" teriak Mely, seketika aku membungkam mulutnya dengan telapak tangan ku.
"Jangan kenceng-kenceng Mel," ucap bi Timah.
"Ma-maaf, keceplosan."
"Oke oke, sekarang kalian sudah tau rahasiaku selama ini. Jadi apa yang kalian akan lakukan? Apa akan menyebarkan aibku? Apa akan melaporkan ku sama uda dan uni? Atau yang lain?" Cerocosku tak pakai rem.
Mereka hanya diam menatapku yang terlihat gusar dan bimbang.
"Kenapa kalian diam? Pasti kalian menganggap aku wanita murahan? Iya kan?
Yaa, aku memang wanita murahan, murahan akibat cinta buta. Kalian pasti mau menertawakan ku kan? Bi, bibi sekarang sudah tau, kenapa aku kemarin-kemarin terus menanyakan hal-hal tentang hubungan suami istri. Dan inilah ternyata, " pungkasku.
Aku terus nyerocos tanpa henti. Mau gimana lagi, aku memang wanita bodoh, beg* dan to***.
"Aaaarrggghhh..."
Aku menghempaskan tubuhku di kursi panjang itu. Aku benci diriku sendiri yang bodoh ini.
__ADS_1
Aku terus menangis menyesali perbuatanku, mencengkram kuat kepalaku yang sangat terasa pusing.
"Na, tenangin diri lo, gue tidak akan melakukan semua yang lo katakan tadi, gue sayang sama lo Na, lo yang sabar, kita akan cari jalan keluarnya, iya kan bi?" jelas Mely memelukku dan mengusap punggungku.
Bi Timah mengangguk pelan, Aku terus menangis dipelukannya...
"Aku harus gimana sekarang?" Aku berusaha berbicara di sela isak tangisku, namun perutku kembali mual. Segera aku berlari ke kamar mandi.
"Hari ini lo istirahat ya, biar gue bicara sama uda dan bang Zul,"
"Bi, tolong rahasiakan semua ini ya, Mely nggak tega liat Erna kaya gitu bi," imbuh Mely, sambil berjalan menjauh dariku.
"Iya Mel, tenang aja."
Akhirnya Mely turun kebawah. Dia yang akan menghandle semuanya. Biarlah aku ingin menenangkan diriku, dan mengobrol sama bi Timah.
"Erna, coba kamu berbaring, bibi mau ngecek perutmu, kira-kira udah berapa minggu,"
Aku nurut merebahkan tubuhku di kursi panjang itu, membuka kaosku setengah, agar perut ku terlihat dan bi Timah leluasa memeriksa perutku.
"Emang bibi bisa?" tanyaku penasaran.
"Bibi kan dukun beranak Na, jelas bibi bisa dong," jawabnya sambil memeriksa perutku, dan menekannya pelan.
"Kayanya udah satu bulan deh Na," ucapanya.
"Apa? Satu bulan?"
"Iya, lebih tepatnya, 5 mingguan!"
"Hah?"
Ya tuhan... Apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Kita cek aja ke bidan Na, biar bibi temenin ya,"
Aku hanya mengangguk menuruti semua ucapan bibi. Aku terus melanjutkan rebahan di atas kursi panjang itu.
Dengan segenap jiwa dan perasaan, aku terus memikirkan bagaimana dengan keluargaku nanti.
Kini aku benar-benar telah membuang kotoran kewajah ibu dan kakak-kakak ku.
Sial. Aku segera menghubungi Dani, tapi nihil. Telpon nya malah tidak aktiv. Aku semakin kesal dibuatnya!
Apa jangan-jangan semalam ia ingin bertanya pada mamanya hanyalah alasan semata?? Karena dia ingin menghindar dariku??
Dasar bodoh !!!
Aku terus memukuli diriku sendiri, aku menyesal, sangat menyesal.
Betapa aku sangat frustasi, bi Timah hanya bisa menenangkan ku. Tapi aku takut.
🌱🌱🌱
"Erna... kata Mely kamu sakit ya?" tanya uni saat sore sudah menjelang. Dan melihatku masih rebahan di atas kursi lantai tiga.
"Ah, uni. I-iya uni." jawabku gugup.
"Hari ini Erna akan menginap di rumah saya bu," sela bi Timah, yang sedang asik menyetrika.
"Lho, kok gitu?"
"I-iya uni, biar disana Erna bisa lebih rileks dan santai, tau sendiri kan, di sini banyak yang usil," kataku.
"Tapi..." dengan sedikit berfikir uni terdiam melihatku, berganti melihat ke arah bi Timah.
"Saya akan tanggung jawab bu," timpal bi Timah.
"Hmm. Baiklah terserah kalo gitu."
"Kamu baik-baik ya Na, uni tinggal dulu, kalo ada apa-apa hubungi uni ya," sambungnya.
"Iya uni, terimakasih."
Uni berlalu dari hadapanku, aku dan bi Timah saling tatap. Waktu semakin singkat.
Sore ini aku ikut pulang bersama bi Timah.
"Na, nanti gue nyusul elo ya," kata Melly, saat aku sudah mulai mau menyebrang jalan dan ikut pulang bersama bi Timah.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk, kulihat bang Zul menatap nanar padaku, aku tak mengiraukannya. Biarlah dia berpikiran yang tidak-tidak tentangku, aku sudah tidak peduli lagi.
🙏🙏🙏🙏😁😁😁😁😁