My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab25 Persetan dengan Cinta


__ADS_3

Aku dan Dani pun membuang nafas panjang, merasa lega, karena dia nggak apa-apa.


______


Sudah seharian aku mengurung diri di kamar, mencoba menetralisir asumsi yang masuk didalam otakku.


Berpikir jernih, mencari ide bagaimana caranya mendapatkan uang dengan waktu dekat ini.


"Yang... buka pintunya, ini sudah sore! Kamu belum makan!" teriak Dani dari luar kamar.


"Iyaa!"


Aku beranjak membuka knop pintu, memasang wajah lesu, meskipun sudah seharian terlelap.


"Kamu kenapa yang?" tanyanya, saat melihatku memasang wajah lesu.


"A, aku mau minta sesuatu sama kamu," pintaku, seraya berjalan duduk dikursi yang terpajang diruang tengah.


Dani mengekor tanpa menjawab pertanyaan ku. Duduk santai disebelahku. Memandangi wajahku yang sangat lesu seperti hilang gairah.


"A, aku mau cari kerja, tapi pengen uang dimuka," jujurku, tanpa basa-basi.


"Kerja?" ucapnya mengulangi, dengan kekehan kecil.


"Iya..."


"Kamu lagi hamil, mana boleh kerja. Biar aku yang penuhi kebutuhan kamu, yang!" tuturnya


"Aku butuh uang banyak A,"


"Berapa yang kamu butuhkan?" sela Maya yang baru keluar dari kamar mandi. Menyusul kami duduk bertiga dikursi panjang ini.


Sementara Dani menatap Maya, mengangguk, kemudian menatapku lagi.


"Berapa yang? Dan untuk apa?"


"Tadi... ibu menelponku A, dia butuh uang, Dian juga pengen dibelikan sepedah baru. Mereka taunya aku kerja disini." Jelasku.


"Maksud kamu?" tanya mereka kompak.


"Maksud aku... dulu dua--bulan yang lalu, saat aku meninggalkan kalian di klinik, aku langsung berhenti bekerja, dan aku langsung pamit sama ibu, kalo aku mau bekerja di kota S sama Mely, nyatanya batal. Dan aku terpaksa tinggal sama bi Timah selama dua--bulan kemarin." jelasku panjang kali lebar.


"Oo... kasih dia uang Dan!" titah Maya. Santai kek di pantai.


"Berapa yang kamu butuhkan yang?"


"Yang penting, cukup untuk beli sepedah sama uang bulanan ibu A,"


Aku terpaksa harus melakukan ini, bukan niatku untuk memeras mereka, tapi sungguh aku sangat terpaksa melakukan ini.


"Baiklah, minta nomer rekening ibu, biar Aa Transfer sekarang juga." kata Dani, enteng banget.


Segera aku menyerahkan nomer rekening milik tetanggaku yang sengaja aku simpan.


Setelah Dani mencatat nomor rekening itu, dia langsung fokus dengan ponselnya.


"Udah Aa transfer. Kamu hubungi ibu, biar uangnya bisa di ambil!" kata Dani, mereangkulku dari sisi.


"Terimakasih banyak A,"


"Sama-sama sayang." Mencium pipiku.


Melihat tindakan Dani, Maya langsung melempar bantal kewajah Dani.


"Mesum!!" celetuk Maya.


"Bodo!!" Menjulurkan lidahnya.


Pas. Mereka ini seperti tom and Jerry. Debat mulu. Sampek aku pusing sendiri.


"Emang kamu ada uang Dan?" tanya Maya.


Itu nanya apa meledek? Aku tersenyum simpul

__ADS_1


"Ada teh, ngeremehin aku banget sih, mentang-mentang aku kere,"


"Ya kirain, buktinya kemarin, bayar cicilan mobil, minjem sama aku!" celetuk Maya, "Wajar dong kalo teteh nanya kaya gitu, iya nggak Na!"


Aku hanya menyunggingkan senyuman. Menatap Dani yang kena skakmat sama Maya.


"Apaan sih teh, yang pentingkan nanti aku bayar!"


"Kamu tau nggak Na, berapa cicilan dia selama sebulan?"


Aku menggeleng pelan.


"5 juta. Pikir aja. So kaya dia, nyicil sekaligus 2, cicilannya gede-gede lagi. Sekarang apa, mobilnya asik dipake sana sini sama calon istrinya, lah kamu yang nemenin dia bolak-balik ngelamar kerja, nggak dapet apa-apa!" Cecar Maya.


"Udah deh teh, jang..." ucapan Dani kepotong Maya.


"Kalo aku jadi kamu. Udah aku cabik-cabik laki-laki macam dia ini! Buaya buntung!" imbuhnya. Sampek aku susah untuk menjawab.


"Lagi, kamu tau nggak, waktu kamu pingsan selama dua-hari di klinik waktu itu. Dia mohon-mohon ampek guling-guling di teras, gila kan dia! Sampek orang sekitar, nyangka teteh menyiksa anak usia dini katanya. Gila aja, udah bangkotan masih aja ada yang bilang baru usia dini. Lu mh bukan usia dini, tapi usus buntu. Haha" cerocosnya kaya kaleng rombeng.


"Untung yang denger nya dia teh, kalo yang lain, puas aku diledekin!" ketus Dani. "Yang, jangan percaya, teh Maya tukang ngibul!"


"Yee, enak aja lo, elo tuh tukang ngibulin cewe, ampek bareuh etah." celetuk Maya. Menunjuk perutku dengan ekor matanya.


Aku tak bergeming, memperhatikan setiap ocehan Maya dan Dani.


Agak nyeredet dina hate, saat Maya bilang 'ampek bareuh etah'


Seketika hening...


"Teteh mau beli makan, kamu mau makan apa Na?"


"Apa aja teh, Erna mah nggak rewel ko. Yang penting kenyang!"


"Ok, Dan sini!" ujar Maya, menyodorkan telapak tangannya ke depan wajah Dani.


"Apa?"


"Jangan pupube deh!" Sambungnya lagi, sambil mengambil uang yang disodorkan Dani.


"Teh, sekalian beli pisang, ya!"


"Pisang??" tanya kami kompak.


"Kenapa emang? Ko wajah kalian kaya yang aneh gitu? Pisang juga buah-buahan yang sehat kan?"


"Haha... maaf Dan, teteh lupa, kalo kamu ini semacam yang bergelayut dipohon." ujarnya dengan tertawa terbahak-bahak.


Akupun ikut terbahak juga. Ternyata Maya itu gokil.


"Masya Allah teh, monkey maksudnya?"


"Teteh nggak bilang ya, kamu sendiri yang bilang, haha" ujarnya sambil ngeloyor pergi.


Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Maya yang seharusnya dewasa dan elegan diusianya yang sudah 25tahun itu.


Berbalik kekanak-kanakan, ceplas-ceplos, gokil juga.


Pip pip


Pertanda suara mobil Maya sudah pergi.


"Aku kekamar dulu A!" ujarku, lantas aku segera bangkit dari duduku. Namun, dengan cepat Dani kembali menarik tanganku sehingga aku terduduk dan merasakan sakit dalam perutku.


"Aw... kamu ini apa-apaan sih!" bentakku karena sudah menarikku sehingga membuat perutku sakit, seperti terjadi perubahan janin yang ada didalam perutku.


"Maaf yang, Aa nggak sengaja!"


Aku merintih kesakitan, sementara Dani terlihat panik. Aku juga baru sadar jika pintu belum ditutup sama Maya. Sehingga orang yang lewat terpacu untuk melihat kami.


Aku juga belum tau, sebenarnya ini rumah siapa, langsung kusuruh Dani untuk segera menutup pintu dan menguncinya.


"Masih sakit yang?" tanyanya padaku yang masih merintih kesakitan memegangi perutku.

__ADS_1


"Kamu ini kasar banget A."


"Maaf yang, nggak sengaja sumpah."


"Yang, aku mau lanjut yang tadi yang," bisiknya.


"Aku nggak mau! Melayani otak mesummu itu!!" bentakku.


"Yang, besok kan kita akn melaksanakan nikah sirih!"


"Kamu pikir nikah sirih itu gampang? Kaya beli gado-gado, ulek ulek ulek ulek, langsung sah gitu?"


"Terus kamu nggak mau??"


"Aku mau A, tapi aku nggak mau melayani nafsumu!!"


"Apa salahnya melayani calon suami??" masih memaksa juga rupanya, benar-benar tidak bisa dimengerti ni orang.


"Salah!! Pusing aku sama kamu! Kalo tau gini, lebih baik kamu ngga usah mucul sekalian!!"


Lantas aku beranjak dari duduku, kembali berjalan masuk kamar, Dani tak bergeming, bahkan dia hanya menatapku, tanpa membantuku untuk berjalan masuk.


"Ya udahlah terserah! Aku capek ngeladenin kamu!! Capek harus pura-pura baik sama kamu! Padahal kamu tau kalo aku cuma manfaatin kamu doang! Andai aja dulu kamu nggak perawan, mana mau aku bertanggung jawab capek-capek kaya gini!" cerocosnya. Aku yang hendak masuk seketika terhenti, mendengar ocehan Dani yang sangat menyayat hati.


Aku bener-bener nggak nyangka bahkan nggak habis pikir, Dani bisa bicara seperti itu. Jadi selama ini aku hanya boneka mainan nya? Jadi apa yang dikatakan si fitri itu benar, kalo aku ini cuma boneka nya dia.


Ingin rasanya aku menonjok wajah nya, mencabik-cabik tubuhnya. Merobek-robek mulutnya. Luapan emosiku seakan membuncah, ingin meledak seperti gunung berapi yang siap meletus menyemburkan laharnya.


Rasanya aku tidak tahan lagi hidup seperti ini. Apa lebih baik aku mati. Ya... lebih baik aku mati. Daripada harus dihina seperti ini.


Tanpa menjawab aku langsung masuk, tak lupa menutup pintu, terdengar suara Dani berteriak karena kesal. Aku sendiri menangis, ucapan Dani seakan terus memutar di naluri otakku. Terngiang di telingaku.


Hatiku benar-benar sakit, remuk redam.


Brakkk.


Suara bantingan pintu, suara motor Dani juga terdengar, dia mengegas kencang, sehingga membuat kebisingan.


Setelah beberapa saat, suara knalpot motor itu menjauh, semakin jauh. Mungkin Dani sudah pergi.


Aku menyesal, telah percaya bahwa dia sangat mencintaiku. Aku menyesal telah menjadi wanita bodoh seperti ini. Dimanfaatkan hanya dengan iming-iming cinta.


Persetan dengan cinta!! Sampai matipun aku tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Semuanya bulsyiiittt!!


Cinta hanya bisa membuatku menderita!


Cinta hanya bisa membuatku sengsara!


_______


Hari sudah malam, Maya belum juga kembali. Kemana dia??


Apa dia juga pergi??


Apa dia sudah tidak peduli lagi dengan aku??


Aaarrgghhh... brengsek, sial!!


Kini aku seorang diri dirumah ini. Berteman sepi.


Diluar juga terdengar suar petir, sepertinya akan turun hujan.


Angin bertiup kencang, cuaca berubah dingin, benar-benar menusuk sampek tulang.


Hidungku kembali berdarah, mengalir deras, sebenarnya aku ini mengidap penyakit apa sih??


Kenapa hidupku hancur seperti ini, mumet, rumit, seperti benang kusut.


Didepan juga pintu terbuka karena angin, aku sungguh lemas tak sanggup berjalan. Tapi angin yang kencang membuat aku memaksa untuk menutup pintu utama.


Dengan menyeret kaki, aku berusaha kuat, tapi kepalaku pusing, hingga semua menjadi gelap, dunia ini seperti berputar. Dan lagi-lagi aku tidak tau setelah nya apa yang terjadi.


Next lagi nggak ??? 😊😊

__ADS_1


__ADS_2