My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
64


__ADS_3

Ku senderkan tubuhku. ku pijit keningku. Ku pejamkan mataku, Meskipun aku sudah sangat ingin berganti celana dan membersihkan nya. Tapi aku sangat lelah lemas letih lesu dan ingin beristirahat sebentar sembari menunggu Bara kembali.


Tak berapa lama, Bara kembali dengan membawa kresek hitam dan putih.


"Nih. ganti dulu. sekalian mandi. " ucap Bara dengan memberikan kresek hitam padaku. Dengan lemas aku menerima kresek itu.


"Thanks ya Bar. "


"Iyaa. Mau gue bantu? "


"Nggak usah, gue bisa sendiri." aku beringsut perlahan berjalan ke kamar mandi. Tak lupa mengambil baju gantiku beserta handuknya.


Selesai mandi dan mengganti semua yang aku pakai, aku kembali duduk, sebelum itu aku membawa ember dan lap untuk membersihkan kursi dan jok motor Bara yang terkena darah nifasku.


"Mau apalu? " tanyanya padaku yang membawa ember dan lap.


"Bersihin darah gue." jawabku.


"Nggak usah. Udah gua bersihin, mending lu sekarang duduk dan ceritain semuanya sama gue! Ayoookk! "


"Thanks ya Bar. Kebetulan gue lagi lemes banget."


Gontai aku melangkah dan duduk disebelah Bara. Menyender di bahunya. Tak terasa air mataku menetes.


"Lu nangis? " ucap Bara dengan memegangi bahuku dan menatap ku penuh selidik. Sementara aku hanya tertunduk malu.


"Gue sedih Bar. " lirih ku


"Lu kenapa sih? Cerita sama gue cepet!! "


"Gue udah punya anak Bar, "


"WHAT?? ANAK? MAKSUDLU APA? " teriaknya kaget.


"Lu pengen tau ini kasur dan baju bayi milik siapa? ini semua punya anak gue Bar. Dan darah itu, bukan mens, tapi nifas. Gua baru aja ngelahirin anak Bar. " aku menangis. Entah kenapa dengan Bara sejak dulu aku tidak pernah bisa merahasiakan masalahku.


"Ya Allah... Lu serius! " Aku mengangguk.


"Berarti lu udah nikah dong? " Aku menggelengkan kepalaku.


"Ya Allah... Bangsaaaatttt!! Siapa yang udah bikin lu kaya gini hah!! jawab gue Na. JAWAB!! " bentaknya dengan memegangi pundakku dan menggoyangkan nya keras.


Aku diam menangis, sedikit kasar Bara menghempaskan tubuhku. Bara berdiri dengan mengusap wajahnya. "Sekarang mana anak lu. Gua mau ketemu."


"Dia di Bandung sama nenek nya. "

__ADS_1


"DI BANDUNG?" Yang bisa aku lakukan hanya mengangguk, "Astagfirullah! kenapa bisa??"


"Ceritanya panjang Bar, " ucapku dengan menangis pilu. "Duduk Bar. gue ceritain semuanya sama lu. Tapi lu janji jangan kasih tau keluarga gue Bar. please gue mohon... "


"Oke. sekarang lu ceritain. " Bara duduk didekatku, menatap wajahku penuh pertanyaan.


"Jadi gini.... " Dan akhirnya aku ceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Dari A sampai Z. Dari jam 3 sore sampe hampir mau maghrib.


"BRENGSEK!! ANDAIKAN KAKALU TAU. MEREKA SEMUA HABIS!! " dari suara nya, Bara sangat kesal kegeraman dengan tangan terkepal seperti ingin meninju.


"Lu tau kan Misca! Kaka lu, kalo tau soal ini pasti mereka akan di gantung nya hidup-hidup tanpa ampun karena sudah merusak bahkan menghancurkan masa depan adiknya! " ucapnya.


"Mangkanya, jangan kasih tua Bar. Gue masih mau hidup. Karena bukan cuma mereka, tapi gua juga. "


Bara terus mendengus, "Lu yang sabarr, masih banyak cowok yang bisa nerima lu apa adanya. "


"Bukan masalah itu Bar. Gimana caranya gue ngomong atau ngejelasin semuanya ke nyokap gue??"


Bara memejamkan matanya seperti kehabisan akal. "Lu yang sabar, ada Gue disini, kita bisa pikirin nanti. " Bara memelukku erat. Takdir itu terkadang memang sangat konyol. Setelah sekian lama, Akhirnya aku bertemu lagi dengan dia. Bara Al-ghifari. Teman kakaku, dan entah kenapa aku bisa dekat dengannya. Mungkin karena dia sering nongki sama kakak ku. Cuma, kami berpisah saat aku naik ke kelas 3 SMP, karena dia harus pindah, dan setelah nya kami langsung hilang kontek.


Bahkan saat abah pergi meninggalkan kami semua, dia tidak tau.


"Sekarang lu tinggal disini? "


"Iya."


"Bar. lu bisa jaga rahasia kan? " tanyaku tanpa peduli dengan ucapannya.


"Bisa, asal gue ketemu sama anak lu! "


"Oke, itu hal gampang. "


Lantas Bara berlalu pergi. Ku antar dia sampai depan pintu hingga menaiki motornya dan hilang dari pandangan. Aku berbalik masuk, belum sempat aku menutup pintu, seseorang kembali memanggilku.


"Erna!! " Aku menoleh. Setelah melihat siapa yang menemuiku. Segera aku berlari masuk dan menutup pintu nya tak lupa aku kunci.


Orang itu terus berteriak menggedor pintu rumahku. Menyebut-nyebut namaku.


"BUKA PINTU NYA!!!! " teriak orang itu.


"AKU TIDAK MAU BERTEMU DENGANMU!!! LEBIH BAIK KAMU PERGI!! " teriakku lagi. Ku buka gorden kaca sebelah. Terlihat dia memohon padaku, meskipun aku tak bisa jelas mendengar ucapannya. Tapi sama-sama aku bisa mendengarnya.


"Please buka pintu nya. "


"PERGI KAU!! JANGAN GANGGU HIDUPKU!! "

__ADS_1


SREEEEEKKKKK


Suara gorden yang aku tutup secara kasar.


"Aku tidak sudi bertemu dengan pria seperti mu! Jahatnya melebihi Dani!! " lirihku dengan mengepal kedua tanganku.


DORRR DOOOR DOORRR.


Suara pintu yang terus menggema membuat aku risih. Tanpa peduli aku masuk kamar dan menutup pintu nya. Berbaring mengistirahatkan tubuhku yang lemas.


Mataku berkeliling mencari benda pipih yang selama ini aku tinggalkan. Aku tersenyum saat mata ku melihat benda itu yang teronggok santai di atas kasur.


Lantas ku raih benda itu, "Yahhh. Abis batre! " Segera aku men charger nya. Dan aku tinggalkan rebahan. Ku pejamkan mataku, meskipun suara gedoran pintu masih terdengar, aku tidak peduli.


Karena tubuhku yang lelah, letih dan lesu. Akhirnya aku terpejam... Menyusuri alam mimpi dan berharap bisa bertemu ayahku meskipun hanya sekedar dari jarak jauh. Karena aku yakin, ayah saat ini pasti sedang menderita karena diriku...


"MAAFKAN AKU AYAH.... "


Bulir bening kembali menetes, ingatanku tentang ayah seketika muncul dalam benak hati dan jiwaku berkeliling didalam pikiranku.


"Ampuni aku ya Allah... Haramkan lah ayahku dari api nerakamu... " lirihku dengan isak tangis yang memilukan.


Lambat laun kantuk mulai menyerang ku, dan akhirnya aku tertidur lelap...


Allahu akbar allahu akbar.


Suara adzan dari mesjid depan membangunkan aku, karena aku tertidur sejak isya. Cukup lumayan lama aku tidur tanpa ada gangguan manusia-manusia rempong. Beranjak aku menurunu ranjang, mencoba untuk mandi membersihkan tubuhku.


"Udah lumayan enak sih nih, payudaraku udah nggak sakit lagi. " lirihku. Aku pun terkejut, saat sedang membersihkan area mis V ku, ternyata benang jahitan itu mulai copot dengan sendirinya. Syukurlah, itu tandanya aku mulai normal. Meskipun baru 7-8 hari.


Selesai mandi dan rapih. Tak lupa memakai beubeur kalo kata orang Sunda mah. Perutku mulai keruyukan minta makan.


"Masih subuh, mana ada warung buka. " gumamku. Ku cabut ponselku yang akuncaz sejak sore. "Baterai full. "


Lantas duduk di kursi. "Kresek apa nih? " tanganku yang serba kepo akhirnya membuka kresek itu, "Owww cemilan. Kayanya si Bara kupret deh yang beli. Kemaren kan dia bawa dia kresek. " gumamku dengan tawaan kecil. "Lumayan lah buat ganjel perut. "


Dengan memakan biskuit yang Bara beli, tanganku yang sebelah kiri asik memainkan ponsel. Dan ternyata banyak notifikasi dari Rian,


"Na, Lu kemana? Rumah lu kosong mulu dari kemaren! "


"Na, lu pindah? "


"Oii. Jawab. Telpon nya angkat dong. "


Pokonya masih banyak lagi pesan dari Rian.

__ADS_1


"Sorry yan. Sini lah kalo mau main aku ada dirumah. " SEND. pesan terkirim. lantas ku lanjutkan makan biskuit hingga habis satu pack.


__ADS_2