My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab37


__ADS_3

Suara motor yang membentur tiang sangat begitu kentara ditelingaku...


Sontak aku menjerit-jerit sambil berlarian mendekatinya. Wahyu.


"Astagfirullah halladzim..." teriaku dan Faiz. Seraya berlari.


Kulihat Wahyu terkapar di pinggir jalan, dan sangat jauh dengan motornya yang membentur tiang. Entah kenapa bulir bening ini mendarat di pipiku saat melihat Wahyu tergeletak tak sadarkan diri.


Sayangnya ini bukan film ikan terbang yang cowok nya kecelakaan terus si cewenya merengkuh kepala cowoknya lalu nangis sambil teriak-teriak minta tolong.


Sayang nya ini bukan.


Justru, semua warga berdatangan melihat atraksi yang di lakukan Wahyu. Salah satu warga berinisiatif untuk memanggil ojek, aku dan Faiz menunggu Wahyu yang tak sadarkan diri. Kepalanya yang membentur trotoar jalan dan kaki sebelahnya masuk ke got. Dengan posisi Nangkuban. ( maaf lupa bahasa Indonesia nya 🤣🤦 )


Sementara menunggu ojek datang, aku masih diam berdiri agak sedikit jauh, sambil menunggu polisi datang. Karena warga melarangku untuk mendekati korban, alias Wahyu.


Tubuhku gemetar, perasaanku hawatir, pikiranku kacau. Masalah Dani saja belum kelar. Ini datang masalah baru!


Tau gitu, aku nggak akan telpon dia untuk jemput aku. Nyesel aku ya Allah.


Aku meraup wajahku dan mengusapnya pelan. Kulihat lagi Wahyu yang masih tergeletak tanpa ada yang menyentuh.


Darah yang mengalir di kepalanya membuat aku semakin prustasi. Sungguh aku tak bisa berkata-kata lagi.


Aku hanya bisa menangis melihat Wahyu yang terkapar di kerumuni manusia-manusia bumi.


Banyak yang mengira kalo Wahyu ini meninggal karena semenjak jatuh ia tak bergerak atau usik barang sedetikpun. Aku terus beristighfar. Menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Aku yakin tuhan masih sayang padaku, ia tidak mungkin menjemput Wahyu di saat-saat seperti ini. Dan aku juga yakin Wahyu masih hidup, mungkin dia hanya pingsan.


Andaikan Wahyu benar-benar tiada, Tuhan benar-benar hebat dan tidak tanggung-tanggung mengujiku.


Entahlah... aku hanya ingin berfikir positif tentangnya. Menenangkan diriku sendiri.


Air mataku terus berderai, Faiz juga merengkuhku dari samping mencoba menguatkan aku yang sudah tidak sanggup berdiri. Kakiku serasa sangat lemas seperti tak ada tulang.


"Siapa dia Na, lu kenal?" Faiz. Membuka ucapannya. Masih sempat-sempatnya dia bertanya ini siapa! Otaknya taro di dengkul kali ya! Kagak tau ini suara sedang mengeluarkan tangisan yang sayu-sayu.


Jelas aku mengabaikan pertanyaan konyol dia, ingin rasanya aku merengkuh tubuh itu. Memeluknya jika memang dia telah tiada.


Semua orang sibuk mengerumuni Wahyu, dan setelah beberapa saat, polisi dan petugas RS datang untuk mengevakuasi-Nya, setelah beberapa saat ia segera di bawa ke RS terdekat dengan ambulan, karena tukang ojegnya pada nolak. Dengan alasan takut ojeknya kagak laku. Katanya.


Wahyu sudah di bawa lebih dulu. Aku pun menyusul dengan Faiz naik motornya. Namun sebelum aku pergi, telingaku yang tajam mendengar recokan warga sekitar. Yang katanya,


"Kasian, pria itu kecelakaan pasti karena liat istrinya bersama laki-laki lain!"


"Iya, lihat aja tuh. Selingkuhnya sama anak pemilik toko kelontong yang dekat toko kosmetik itu lho," Begitulah kira-kira yang aku dengar.


Gampang sekali mereka mengambil kesimpulan seenak dengkulnya. Bahkan ada juga yang bilang, "Lagi hamil, nggak tau diri punya laki ganteng masih aja selingkuh, sama berondong lagi!" Begitu katanya lagi.


Emosiku membludak hingga ubun-ubun. Siap mengeluarkan api panas.


Untung saja si jago merahku nggak keluar. Kalo aja, bisa-bisa mereka semua hangus aku bakar.


Dasar warga biang gosip, main tuduh main Fitnah, apa mereka nggak tau kalo fitnah itu lebih kejam dari ibu tiri.


Kesal, geram, sedih, takut, bahkan paranoid. Semua bercampur menjadi satu. Aku sempat menyalahkan takdir. Bahkan menyalahkan Tuhan. Dan pernah menyalahkan ayah dan ibuku. Kenapa mereka harus melahirkan aku yang seperti ini. Kenapa Tuhan harus menciptakan aku yang seperti ini.


Kenapa Tuhan menakdirkan garis hidupku seperti ini??


Apa ayah dan ibuku punya dosa hingga menjadi karma untukku??


Jelas bukan. Ini semua karma diriku sendiri. Bukan ulah ayah ataupun ibu. Berbuat nista sebelum menikah. Aku yang menanam dan aku pula yang menuai hasilnya.


Nasib hamil diluar nikah bukanlah keinginanku. Wanita manapun tidak ingin seperti aku. Masa depan yang masih panjang, menjulang tinggi. Cita-cita ku yang ingin menjadi penyanyi terkenal. Semua sirna karena nafsu yang di sebut cinta. Sial! Aku memang sial!!


Aku bergeming, menahan emosiku.


"Na, udah ya. Lu kagak usah dengerin recokan warga. Mereka emang begitu, biang gosip." Ujarnya mencoba menenangkan ku. Aku menganggukan kepalaku, ku acuhkan semua ucapan para warga kepo. Masih ada yang lebih penting, yaitu Wahyu.


Segera aku menaiki motor matic milik Faiz. Melaju ke arah rumah sakit yang menangani Wahyu.


______________


Bolak balik kaya setrikaan yang aku lakukan saat ini. Dokter juga belum keluar dari ruang ICU.


Semua karena aku. Karena ulahku dia kecelakaan hingga separah ini.

__ADS_1


Sudah hampir 5 jam aku menunggu di luar. Namun tidak ada tanda-tanda juga. Segera ku kabari Maya yang masih di Tangerang agar cepat menyusul ke RS ini.


Sempat ada tanya jawab dengan Maya, setelah itu, ia segera menyusulku ke Karawang.


Aku sudah mewanti-wanti Maya agar tidak memberitahu keluarganya. Bukan apa-apa, aku hanya takut. Bahkan aku juga pasti tau apa yang akan terjadi jika orang tua Wahyu tau dan mendengar anak nya kecelakaan akibat ulahku. Bukan seudzon tapi hanya firasat saja.


Aku duduk diam menunggu, setelah beberapa saat Dokter keluar dan menyuruhku untuk masuk, karena Wahyu sudah siuman dan menyuruhku untuk segera menemui-Nya.


Aku sangat bahagia, perasaanku sedikit lebih tenang. Aku juga tidak menanyakan keadaan dia pada Dokter. Lebih baik aku tanyakan langsung sama Wahyu.


Perlahan aku membuka knop pintu, memutar dengan ragu-ragu tapi pasti.


Setelah pintu terbuka, aku segera menghampiri Wahyu yang berbaring lemah dan mengembangkan senyuman tipis di bibirnya. Dengan kepala di perban, kaki juga di olesi Betadine, wajahnya sedikit membiru di ujung bibir dan kepala.


Segera aku duduk di sebelah ranjangnya, tak henti-hentinya dia tersenyum padaku. Aku semakin merasa bersalah dibuatnya.


"Kamu nggak apa-apa kan A?" tanyaku dengan gurat wajah hawa-hawa cemas.


Dia malah tersenyum, dan mengabaikan pertanyaanku. "Siapa dia?" tanyanya dengan menunjuk Faiz yang berdiri di tengah pintu.


Aku pun turut menoleh ke arah Faiz. Lantas menganggukan kepalaku dia sendiri pun mengerti dengan kode yang aku berikan dan berjalan pelan.


"Dia temenku A, namanya Faiz." Jawabku memperkenalkan.


Kulirik Faiz, sangat acuh. Wahyu juga. Dasar lelaki.


"Iz, dia Wahyu. Bukan Dani!" jelasku. Yaa aku tau Faiz pasti mengira kalo dia ini Dani. Karena memang wajahnya mirip-mirip bawang gitu.


"Oh, gue pikir si brengsek itu! Awas aja kalo lo macem-macem sama temen gue!" Ancamnya dengan melipat kedua tangannya.


Dasar biker ( biang kerok ). Aku mengurut keningku yang sangat pusing dan lelah. Lelah berfikir.


"A, maafkan aku. Karena aku kamu seperti ini."


"Tidak apa-apa. Aa rela ko seperti ini demi kamu!"


Deg...


Jantungku mulai berdetak tak beraturan, ku atur ritme nafas ku. Menghela dengan berat. Mencoba menyaring ucapan Wahyu biar aku kagak keGRan.


Aku mengangguk, sangat pengertian brother gue yang satu ini.


Sengaja aku mengusir Faiz secara halus, karena aku takut Maya datang dan keluarganya juga datang. Meskipun aku sudah mewanti-wanti Maya agar tidak bilang pada keluarga Wahyu, bukan berati Maya memenuhi ucapanku kan. Hanya jaga-jaga, cukup aku yang menerima nya nanti. Faiz tiada urusan dengan masalahku ini.


"A, kamu nggak apa-apa kan?" tanyaku sekali lagi, karena tadi dia tak menjawab tanyaku.


"Kamu nggak liat? Aa sekarang berbaring lemah, kaki pincang kepala pake bando. Masih nanya kalo Aa nggak apa-apa?"


"Ko ketus gitu jawabnya?"


"Maksud aku, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih ada yang sakit!" Kini sedikit lebih sabar dan ngenna.


Terlihat dia menarik nafas mendengar pertanyaan ku, lalu menghempaskan-Nya dengan kasar. "Kalo nanya tuh yang bener ndut! Jelas masih sakit lah! " Ketus. Kini lebih tajam dari tikungan teman.


Dan kini aku yang menghela nafas berat. Apa pertanyaanku ini salah atau dia yang sedang sensi?


"Oke, aku mau minta maaf. Gara-gara aku Aa jadi celaka kaya gini. Mungkin emang aku ini pembawa sial kali ya?"


"Maksud kamu?"


" Mulai sekarang mending kita nggak usah kenal lagi ya A. Aa jangan hubungi aku. Aku minta maaf atas peristiwa hari ini. Aku tidak mau Aa celaka lagi karena aku. Aku sadar sekarang, aku hanyalah wanita sial yang mencari perlindungan, dan bahkan parahnya perlindungan itu celaka karena aku!" Cerocosku panjang lebar.


"Kamu marah?"


"Siapa yang marah?"


"Tadi?? Aa cuma bercanda lho."


"Iya tau. Tapi emang Aa tuh kaya gini karena aku kan?"


"Haha.. dut...duut. Aku seperti ini bukan karena kamu. Tapi karena tadi menerima telepon dari Sinta."


"Jadi??"


"Iya begitu. Ini kesalahan Aa sendiri ndut. Bukan karena kamu. Udah deh sore nanti kita pulang, kasian calon anak kita."

__ADS_1


"Kita??"


"Iya kita? Kenapa ada yang salah??"


"Jelas salah!!" Ujar seorang wanita yang baru masuk. Tak lain adalah Maya.


"Salah besar. Wahyu, Erna ini hanya milik Dani. Sekarang Dani sedang frustasi memikirkan cara supaya bisa menikah dengan Erna. Seharusnya kamu dukung dong, bukan malah merayunya!" Papar Maya yang baru datang langsung menyalahkan Wahyu.


Sontak aku berdiri mendengar ucapan Maya. Aku muak dengan semua permainan ini.


"A Wahyu tidak salah teh! A Wahyu benar. Aku akan menikah dengan nya setelah bayi ini lahir." Selaku, aku sangat geram sama perempuan yang satu ini. Selalu membela Dani.


"Erna, kamu nggak kasian sama Dani?"


"Teh!! Bisa-bisa-Nya teteh berbicara keras didepan pasien yang baru saja kena musibah! Bukannya menanyakan keadaannya, kenapa ini malah menyalahkannya ? Teh Maya, terimakasih atas segala kebaikan teteh sama Erna selama ini. Tapi teteh tidak punya hak untuk mengatur aku teh. Aku punya jalanku sendiri. Aku tidak bisa menikah dengan Dani. Cukup untuk hari ini keluarganya menghinaku teh! Aku tidak mau lagi di injak-injak!" pungkas ku


Aku tak menyangka Maya ternyata egois seperti ini. Wahyu dan Dani ini sama-sama keponakannya. Kenapa dia hanya membela Dani saja?


"Jaga ucapanmu Erna! Kamu nurut sama teteh, atau kamu tau akibatnya!" Ancam Maya padaku, tapi sayang aku sama sekali tidak takut dengan ancamannya.


"Apa akibatnya teh?" Kini Wahyu ikut bicara.


Tanpa menjawab, Maya langsung mengambil ponsel-Nya. Ketik ketik ketik ketik. Itu lah yang dia lakukan. Aku tau dia pasti menghubungi orang tua Wahyu.


Baiklah, aku hadapi dengan tegas kali ini.


"Selesai!!" Ujarnya dengan memasukan lagi ponselnya kedalam tas kecil yang iya bawa.


"Wahyu. Kamu baik-baik ya. Teteh mau pulang." Imbuhnya seraya pergi meninggalkan ruangan ini.


Aku dan Wahyu saling pandang, merasa ada yang aneh sama sikap Maya yang berubah drastis.


"A, kamu liat kan? Teh Maya seperti itu padaku. Aku tidak mau menikah dengan Dani. Aku sudah cukup menderita telah mengenalnya A." Lirihku dengan air mata kembali mengalir.


Nasibku yang malang. Orang yang aku harapakan kini berubah padaku. Dan mulai saat ini aku harus berdiri di atas kakiku sendiri.


"Sabar Na. Aa tau, mangkanya kita hadapi sama-sama ya."


Aku tertunduk, tak mampu menahan airmata untuk jatuh lebih deras lagi. Aku benar-benar rapuh sekarang. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Wahyu bukanlah harapanku, keluarganya pasti akan menentang sama seperti Dani. Belum sepuluh menit, pintu kembali terbuka.


Dugaanku benar, orang tua Wahyu datang dengan di temani Sinta.


Seketika rambut panjangku di tarik kebelakang, hingga aku terjungkal terbalik.


"Aaaa..." jeritku.


"Kau pantas menerima ini!" Hardik ibunya Wahyu.


Manusia macam apa mereka. Bahkan Sinta dan Ayahnya Wahyu diam hanya Melihat aksi jahat wanita itu padaku.


"Astagfirullah halladzim mamah! Di sedang hamil mah!" Bentak Wahyu.


Aku menjerit kesakitan. Perutku sangat keram. "Anda sangat keterlaluan!!" Makiku beranjak berdiri berusaha kuat. Dengan memegang perutku yang terasa sakit bukan main.


"Wanita jahat!! Aku tidak akan pernah memaafkan kalian semua!!" Makiku, beringsut pergi keluar dari ruangan neraka itu.


Ya Allah, teguran mu sangat keras padaku. Hingga aku diperlakukan seperti ini oleh mereka semua. Apa wanita miskin dan hina tidak layak hidup bahagia??


Apakah orang miskin di ciptakan untuk menanggung derita??


Tuhan sangat kejam padaku...


"Kau pantas mendapatkna nya. " saut Sinta dengan melipat kedua tangannya


"Kau jangan ikut campur Sinta!" maki Wahyu masih berbaring. Bahkan kali ini dia tak mampu menolongku.


Dengan gemetar aku membuka knop pintu. Dan segera keluar dari ruangan itu.


Aku berjalan limbung, mencari pertolongan. Aku tidak peduli lagi dengan teriakan Wahyu yang memanggilku berkali-kali. Aku tau dia tidak akan bisa menolongku, mangkanya ibunya bertindak kesetanan seperti ini.


"Tolong bantu saya..." teriakku, membuat semua penghuni rumah sakit berlarian kearahku. Memberiku kursi roda dan di dorong hingga ke klinik khusus anak dan ibu.


Maaf, itu sedikit aku skip ya, masa lalu bukanlah untuk di ungkit. Ini hanya berbagi pengalaman 😊😊


Terimakasih kaka sekalian 😘😘

__ADS_1


__ADS_2