My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
78


__ADS_3

"Firman. Kita mau kemana?" tanyaku sedikit berteriak, efek helm.


"Kesuatu tempat. Kamu ikut aja, aku nggak bakal macem-macem ko," jawabnya juga teriak.


"Ohh gitu? Iya dehh."


Aku kembali diam, mengikuti arah motor yang dia kendarai. Entah mau kemana dan mau apa aku tak tau, yang jelas aku percaya padanya.


Sudah satu jam setengah, pinggang ku hampir mau copot, perjalanan jauh dengan menaiki motor besar membuat sakit pinggang. Sama sekali tidak nyaman.


Akhirnya aku bertanya lagi, "Firman. Masih jauh, ya?"


"Bentar lagi sampe."


Aku kembali diam, mataku terus berkeliling, karena motor berbelok kearah perkampungan, jalanan yang berliku, banyak pohon jati, kelapa, pisang. Serasa aneh banget buat aku.


Mulai perlahan dia mengegas motornya, rumah pun terlihat jarang dan berjarak jauh-jauhan. Tak lama dia berhenti.


"Sampai. Ayo turun."


"Ini dimana?" tanyaku, saat sudah tepat berada disuatu tempat yang aku tak tau dimana. Karena sebelumnya aku belum pernah ketempat seperti ini. Ini sebuah rumah, tapi, ditengah hutan. Dan rumahnya aneh, kotor, kaya tidak berpenghuni. Tapi di depan rumah itu ada satu motor doyok yang diatas jok nya ada satu cangkul dan cetok pelindung kepala.


"Ini rumah bapak. Aku ingin mengenalkan kamu sama, bapak," jawabnya


Aku terpaku. Terkejut sih enggak. "Maksud kamu?"


"Iya. Ayo, " ajaknya sembari menarik tanganku, sedikit aku lepaskan pegangannya. Aku paham apa maksudnya.


"Tunggu." Dia menoleh, "Firman, maaf, aku nggak bisa. Aku pikir, hubungan kita nggak lebih dari teman."


"Maksud kamu?"


Aku menghela nafas berat, ternyata dia salah paham dengan sikapku. "Hmm... ya, seperti yang kamu dengar barusan. Kita, hanya teman,"


"Kamu bercanda?" dia tertawa nyeleneh "Bapak, sudah nungguin kita,"


"Serius, Fir, maaf aku--"


Dia membuang nafas berat, "Ya, aku paham." ujarnya dengan melepaskan pegangan nya. "Kalo gitu, kita balik. Kamu juga mau kerja, kan?"


"Nggak diajak masuk, dulu?"


"Nggak perlu, buat apa juga, kan?"


"Ya, seenggaknya kamu mengenalkan aku sebagai teman kamu,"


"Nggak ada yang penting dari teman."


"Nggak ada yang penting?"


"Ya. Kita balik."


Aku mengangguk, "Hmmm, oke."


Aku kembali menaiki motornya, serasa berbeda. Lebih banyak diam, nggak seperti biasanya, diatas motor pun selalu bercerita. Mungkin hatinya sakit, aku paham. Tapi lebih baik seperti ini, jujur. Daripada nanti harus menyakitinya lebih jauh lagi. Karena aku sangat paham, gimana rasanya disakiti oleh orang yang kita sayang. Aku benar-benar tidak tau, ternyata dia menganggap bahwa aku mempunyai rasa lebih padanya. Padahal, hatiku sudah terbawa oleh Wahyu yang sekarang menghilang tanpa kabar.


Bukannya aku pasrah, alih-alih aku selalu berdo'a agar bisa berjodoh dengannya. Aku yakin, rencananya jauh lebih indah.


"Fir, ini kan--"


"Jangan bicara diatas motor. Aku gk kedengeran!" Aku mengangguk paham. Tak lama akhirnya sampai didepan cafe dimana aku bekerja. Aku segera turun, dan membuka helm.


"Kita--"


"Ya. Aku banyak urusan!" Selalu dia potong. Apa sesakit itu? tanpa menatapku, dia selalu bicara dingin. Ya, nada bicara nya dingin.


"Oh... gitu? ya udah. Makasih ya, udah anterin."


"Hm." tanpa menoleh padaku, membuka helm kacanya pun tidak. Dengan tergesa-gesa dia memutar gas motor nya. Aku terus menatap dia yang berlalu tanpa melihatku. Menjauh, semakin jauh hingga tak terlihat lagi dimataku.


"Hmmmm..."


Aku berjalan perlahan, sampe nggak ngeuh, kalo ternyata cafe masih tutup. "Hah?" kulihat jam ditanganku, pukul sepuluh pagi.

__ADS_1


"Tuh bocah belum bangun apa, ya?" pikirku. Kurogoh ponselku. Lanjut menelpon pemilik cafe yang agak selek itu.


Tuuuuuutt


Tuhan kirimkanlah aku, kekasih yang baik hati


yang mencintai aku apa adanya.....


Tuhan kirimkanlah aku kekasih yang baik hati


yang mencintai aku apa adanya......


tut.


"Lebay banget sih nada tunggu nya!"


"Kayanya masih molor dah tuh bocah!" lanjut telpon yang satunya.


Nama kontak "Debrit" kenapa Debrit? karena dia nggak gembrot alias ceking.


Tuuuuuut


Mama mama mama aaaaaaaa tolonglah aku yang sedang bingung


kurasakan virus-virus cinta... ku butuh dokter cinta


papa papa papaaaaa inikah yang--------


mama mama mama aaaaaa tolonglah aku yang sedang bingung


kurasakan virus-virus cinta... ku butuh dokter cinta


papa papa papaaaaaaa inikah yang------


Tut


"Hadeuhhh.. makin alay aja sih nada tunggu nya. Udah pasti masih molor juga. Soalnya kalo melek, anti sih buat nolak telpon atau chat. Secara, HP nya kan udah nempel ditangannya."


Tuuuuuut.


Hati membeku mengingatkan, kata janji manismu...


kudilembung angan-angan belayan kasih sayang suci darimu


ohh kejamnya... haaaa lidah tidak bertulang, ucapan cinta-----


tut.


"Hadeuhh. kompak amat kaya Warkop DKI. Udah mah alay-alay lagi, nada tunggunya!"


Aku berdecak, duduk tepat didepan cafe. Menunggu keajaiban dari sang Maha Kuasa. Bagaimana tidak, nggak mungkin aku harus jalan kaki, pulang kerumah buat bangunin tuh bocah-bocah.


Satu menit


Satu jam


Dua jam


Allahu Akbar Allahu Akbar....


Dzuhur. Kepanasan, keringetan. "Emang bener-bener ya tuh bocah! parah sih!" decakku, berdiri mengelap keringat yang bercucuran akibat kegerahan karena kepanasan. "Dahmah perut laperrrr. Aaahhh."


Di cafe Faiz, kerjaan ku bukan cuma nyanyi aja sekarang. Tapi, bersih-bersih juga. Yaaa, kalo buat nyanyi doang, jujur nggak cukup.


Kulihat dari jauh, motor Faiz dibawa sama Hada, "Ko, sendirian?"


"Hay... " sapanya dengan membuka kaca helm dan mematikan motor setelah berada didepanku.


Aku mengumpat kesal, mencabik-cabik manusia yang masih duduk di motor itu, "Hay hay hay palalu semplak. nggak tau apa sekarang gue udah jadi ikan asin!"


"Adeuh deuh deuh. Sakit atuh, Na!" rintihnya. Dengan mengusap tangan dan badannya. Lantas membuka helm dan memarkirkan motornya.


"Gitu doangan sakit. Belum gue bac*k, lu!"

__ADS_1


"Idiiihh, ngomongnya. Kaya berani aja lu, berani, lu?"


"Hah! Ya jelas kagak lah! mana tuh bocah duaan?"


"Di belakang, bentar juga sampe. Lu tunggu aja." sambil senyam senyum


Aku mengangguk, "Mana kuncinya?"


"Nih."


Seperti biasa aku membuka cafe, dan menaruh tasku di tempat biasa.


Sementara Hada mengekor di belakangku.


"Biar Gue yang turunin bangku, Lu ambil lap aja." kata Hada dengan sedikit berteriak.


"Iya.... "


Tak berapa lama, aku melihat beberapa orang berjalan menuju cafe ini, yang aku tau diantara mereka ada Faiz dan Dedi. Wajah mereka terlihat bahagia, Tapi... Siapa yang berjalan dibelakang mereka, dengan mendorong kereta bayi. Tapi, itu laki-laki yang sangat aku kenal.


Aku kembali berjalan keluar cafe, sambil menarik tangan Hada, "Had, Faiz sama siapa tuh?"


Dia tersenyum, tumbenan sih, senyumnya manis banget si Hada. "Hari ini hari yang paling lu tunggu, Na." ujarnya.


"Maksud lu?"


"Kita liat, siapa yang datang hari ini."Aku meringis tersenyum menanggapi ucapan Hada.


Aku nggak ngerti sama ucapan Hada, yang jelas jarang-jarang dia ngomong sepuitis ini.


Mereka semakin dekat, jantungku serasa berdebar, aneh, panik, nggak karuan. Mataku terpaku pada satu orang.


Tuhan mendengar do'aku...


Air mata menetes, pria yang aku tunggu selama ini ada dihadapanku.


Siapa? siapa bayi kecil yang ada dikereta bayi itu?


"Na, Wahyu---" ujar Dedi terhenti. Aku menangis mengangguk,


"Apa di-aa anakku?"


Wahyu mengangguk, tersenyum. "Iya. Dia senja."


Gadis mungil itu tertawa melihatku, tak tahan aku memeluknya, "Sayang, ini mama."


"Waah, nggak nangis digendong sama lu, sama gue nangis kejer." ujar Dedi


"Lu mah mirip orang jahat." saut Hada.


"Karena dia ibunya, dia yang mengandung, dia yang melahirkan nya juga," ucap Wahyu, mengelus pucuk rambutku.


"Hari yang sangat lu tunggu-tunggu, gue seneng liat lu kaya gini." kata Faiz, aku mengangguk menanggapi ucapan Faiz.


"Terima kasih, Terima kasih banyak, sudah membawa gadis kecilku, " Aku tersedu, kebahagiaan yang tak pernah aku bayangkan selama ini. Tapi yang selalu menjadi bayangan dalam hidupku, kini terjadi, hari ini, tahun ini, tepat diusiaku yang menginjak 19 tahun.


"Setelah ini, aku tidak akan lagi menghilang dihidup kamu. Setelah ini, kamu harus ikut dengan aku ke Jakarta. Merawat senja sama-sama." ucap Wahyu. Kulirik tiga temanku, sahabat ku yang selama ini menemaniku, tersirat raut wajah sedih pada wajah mereka.


Air mataku tak henti mengalir, kuciumi anak gadis ku, "Ini mama sayang, Senja sudah bisa jalan, nak?"


"Teteh, teteteh teteh." ucap gadis mungil ini.


Semua tertawa, mendengar suara mungil lucu yang baru bisa bicara itu.


Tapi, ini awal dari penderitaan ku yang selanjutnya.....


########


maaf ya lamaaa bet up nya, sibuk banget. maklum lah bumil, harus banyak istirahat 😁😁😁😁


semoga kalian sehat selalu yaaa,, Terima kasih yang selalu menunggu 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


ini setengah aku lewati, agak singkat, soalnya lupaaa 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2