My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
63


__ADS_3

"LU NYAKITIN DIA WAHYU!! " teriakku dengan melemparkan gulungan kertas itu pada wajahnya.


Sementara Bayu hanya duduk diam tanpa bicara.


"Maksudnya apa? " Wahyu masih belum sadar rupanyaa.


"Baca surat itu bego! " umpatku, lantas berlalu dari hadapan Bayu dan Wahyu.


"May, tunggu May, " teriak Bayu mengikutiku.


BRAKKK


Suara bantingan pintu.


Teriakan Bayu tidak aku gubris aku sudah kesal. Aku harus mencari Erna sekarang. Dia pasti pulang kerumah. pikirku.


"May sabar May. "


"Gimana aku mau sabar mas. Ponakan ku semuanya gila! " umpatku, "Dani gila. sekarang Wahyu ikut-ikutan juga! Aku yakin Erna tau tentang perempuan itu. " ucapku dengan isak tangis namun penuh dengan emosi.


"Ya sabar, mending kita susul Erna sekarang! "


Aku mengangguk, langkah ku dan Bayu dipercepat. Biarkan saja urusan rumah sakit Wahyu yang tanggung.


"Cepat mas. " titah ku setelah masuk mobil. "Gas mas! " perintahku


"Iya May, sabar ya Allah."


Bayu pun akhirnya mengegas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menerobos jalanan yang sangat padat ini, bahkan nyaris menabrak orang yang ingin menyebrang. Tidak membutuhkan Waktu lama, setelah satu jam kami sampai. Kulihat pagar sudah terbuka, atau memang tidak terkunci.


Aku pun melangkah masuk, Pintu masih tertutup rapat. "Masih di kunci mas." ucapku dengan mendengus kasar.


"Kuncinya kan ada sama Wahyu, May. " kata mas Bayu.


"Kenapa mas nggak bilang! "


"Ya aku kan juga ikut panik,"


"Sial. kenapa aku bisa menyangka Erna akan pergi kesini. Tidak mungkin dia kesini. Karena pikirnya aku pasti akan menyusulnya." keluhku membuang nafas kasar.


"Ayo kita balik ke Rumah sakit." ajak mas Bayu. "Kita harus bicarakan ini dengan Wahyu May. "


"Bentar mas. aku rasanya lelah. " keluhku.


Setelah beberapa menit, akhirnya aku kembali ke rumah sakit. Untuk menemui Wahyu lagi. Aku harus meminta penjelasan darinya.


( Okeyyy... sedikit penjelasan ya kaka. Jadi Pas Maya ke situ itu , si Erna masih belum sampai dan dia masih dalam perjalanan. Jadi tepat dan nyariss. Si Maya kembali ke RS tidak lama setelah itu Erna dateng gaes, jadi begituuu ceritanya. Okee cukup jelas yaaa)


ini masih pov Maya ya gaess.

__ADS_1


Di sini senang disana senang di mana-mana hatiku senang. Andaikan begitu. Karena pada kenyataannya nya tidaklah sesenang itu kehidupan Erna.


okee lanjuuttttt gasssss


Singkat waktu.


"Wahyu! " panggil ku setelah aku sampai di kamar Erna. karena ternyata dia masih duduk melamun. Dia menoleh kearahku.


"Teh, Erna ada di rumah kan? "


"Untuk apa kamu tanyakan dia? "


"Wahyu hanya... "


"Hanya apa?"


"Wahyu hanya .... entahlah teh," ia membuang nafas berat.


"Sekarang jelaskan siapa gadis itu Wahyu? " tanya mas Bayu duduk di sebelahnya. Mungkin jika bicara pria dengan pria akan lebih enak. Biarkan mas Bayu yang bicara. Lebih baik aku duduk mendengarkan mereka.


"Dia cinta pertama ku waktu SMA mas, " tutur Wahyu, sejenak menghentikan ucapannya.


Aku yang mendengar itu langsung naik pitam, "Terus kamu mau kembali ke masa lalu begitu? " hardikku.


"May,,, biarkan Wahyu melanjutkan ucapannya. "


"Sudah jelas mas. Dia pasti mengingat kembali masa lalu nya. Ingat ya Wahyu masa lalu itu hanya akan membawamu ke arus yang lebih buruk. Masa lalu tetap lah masa lalu. Tidak akan pernah bisa menjadi masa depan! " pungkas ku dengan luapan emosi.


"Lu liat dong Dani. Hidupnya sekarang gimana? Itu akibat dari dia kembali ke masa lalu Yu! pikirin!! lu kan punya otak! " umpatku tanpa jeda dengan menunjuk-nunjuk otakku.


"Wahyu hanya teringat saja teh, "


"Oke baik. Semuanya pasti punya masa lalu. Dan itu suatu kewajaran jika kita mengingat nya. Tapi kamu harus tau satu hal Wahyu. Boleh mengingat asal jangan kembali! " setelah mengatakan itu aku kembali diam.


"Apa yang dikatakan Maya benar Wahyu. Masa lalu tidak akan pernah bisa menjadi masa depan." ucap mas Bayu.


"Aku hanya mengingatkan mu saja Wahyu. Kamu punya keputusan sendiri. " sambung mas Bayu dengan menepuk-nepuk pundaknya. Wahyu semakin tertunduk.


"Dan ingat, jangan sampai salah mengambil keputusan Wahyu. Atau penyesalan akan berakhir untukmu! Ayo mas kita pulang. Aku masih banyak kerjaan di Tangerang. Biarkan dia memikirkan sendiri! "


Segera aku membereskan barang-barangku. Membawanya dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Wahyu yang masih diam tak bergeming.


Namun aku menghentikan langkahku.


"Satu hal lagi Wahyu. Sepertinya tidak akan mudah mendapatkan maaf darinya. Karena kamu sudah mengumbar janji, tapi secara perlahan kamu menghancurkan jnjimu sendiri!" Kataku, lantas berlalu pergi meninggalkan nya.


BRAAKKK!


Kubanting pintu kasar.

__ADS_1


POV MAYA SELESAI.


🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓


"Buruan Bar, gue udah nggak tahan pengen pingsan! " rintihku dengan suara lemas.


"Sabar lah jangan pingsan dulu, Jeda dulu deh, nanti kalo udah sampe baru lu pingsan! " saut Bara dengan tawaan kecil.


"Dasar sinting! " umpat ku, " Bisa-bisa nya lu candain gue di saat kaya gini! " kesal aku memukuli pundaknya.


"Ya mangkanya sabar dong, lu pikir cari rumah yang nggak gua tau kaya cari toge di pasar. " ujarnya "Nyari rumah dengan cara beginituh, kaya nyari cinta gue ke elu Na, susah anjrit! " sambungnya.


"Serah lu deh." Setelah beberapa menit Bara berkeliling mencari kesana kemari, akhirnya ia menemukan juga.


"Yang ini bukan? " tanya Bara menghentikan motornya.


Aku beringsut dari punggung Bara, melihat rumah yang ada didepanku. "Pinter. Encer. ayok bantu gue turun maemunah! " tukasku.


"Etdahh sengkeh lu." tanpa membuka helm Bara turun dan membantuku untuk berjalan. "Darahku sampe tembus ke jok motor gua! " pekik Bara saat melihat darahku yang menempel banyak di jok motornya.


"Sory. gue tembus! " sautku ketus.


"Lu jangan marah ya. Nanti gue bersihin, " sambungku dengan suara lemas.


"Bukan masalah itu nya. Lu kok nggak malu sama gue? "


"Buat apa malu, lu kan bespren gue. Bodo amat gue sama lu! "


"Etdahh. Masih aja anggap gue bespren." dengus Bara menuntunku masuk.


"Dikunci bloon pintunya. " ucap Bara ketus.


"Ada di kantong gue, tolong ambil. " lirihku. Tak tahan Kepala ku sangat pusing. Lantas Bara merogoh kantong celanaku dan membuka pintunya.


Bara kembali menuntunku masuk saat pintu sudah terbuka. Ia tercengang menghentikan langkahnya.


"Napa brenti dodol? "


"Rumah ku bagus bener. Rapih, Tapi kok ada kasur Bayi + Baju-baju nya sih. " ucap Bara lirih namun aku masih bisa mendengar nya.


"Nanti gue ceritain. Lu antar gue duduk dulu. terus lu beliin gue pembalut di warung sana! " jawabku


"Merintah mulu lu kaya bos besar aja! "


"Jangan banyak cincong lu Bar. Bantuin gue! Gue kan bespren lo. "


"Iya! " dengusnya sembari mendudukan aku perlahan-lahan.


"Lu tunggu sini, gue mau ke warung dulu beli soptex buat lu. "

__ADS_1


"Hmmmm.... " Bara pun berlalu dari hadapanku. Dari derap langkahnya ia seperti berlari.


Ku senderkan tubuhku. ku pijit keningku. Ku pejamkan mataku, Meskipun aku sudah sangat ingin berganti celana dan membersihkan nya. Tapi aku sangat lelah dan ingin beristirahat sebentar sembari menunggu Bara kembali.


__ADS_2