
PLAKK
Aku mengusap pipiku yang terkena tamparan keras dari Sinta.
"Aku pikir kamu ini wanita baik-baik, ternyata benar kata Fitri, kamu ini sangat murahan!" Makinya padaku dengan. Menunjuk-nunjuk pundakku dengan jarinya. Segera aku gibaskan tangannya.
PLAKK
Aku balas menamparnya, memang nya dja siapa berani menamparku seenak udelnya. Dia tertohok karena aku berani menamparnya, dengan mengusap-usap pipinya.
"Jangan sembarangan bicara Sinta! Aku tidak punya urusan denganmu!" tunjukku tak kalah emosi.
"Kurangajar!! Kau berani menamparku!"
"Jelas aku berani! Mulai detik ini aku tidak akan membiarkan harga diriku terinjak-injak lagi oleh wanita sepertimu!"
"Heh!! Cewe murahan kaya elo nggak pantes dapetin Wahyu ataupun Dani! Mereka sangat berbanding jauh dari kamu! Seharusnya kamu mawas diri. Lihat dirimu, belum menikah sudah hamil duluan! Lantas apa kalo bukan murahan!" cecarnya padaku. Sungguh amarahku sudah memuncak sampai ubun-ubun. Ingin rasanya aku menerkam wajah cantik berhati busuk itu. Tapi kata-katanya membuat aku mati kutu. Sial.
"Kenapa diem? Nggak bisa jawab ya? "
"Aku memang murahan, tapi aku tidak pernah merebut Wahyu dari kamu!"
"Alahh... jangan belaga **** deh, Wahyu mutusin aku pasti gara-gara kamu kan?"
"Buka telinga kamu lebar-lebar, aku tidak pernah menyukai dia! Apalagi merebutnya!" Lantas aku menutup pintu, namun Sinta mendorong pintu itu sehingga aku terjatuh.
"Aww... perutku," pekikku.
"Erna!! Kamu nggak apa-apa kan? Maafin aku Na, aku nggak sengaja," Sinta terlihat panik.
Rintihan dan jeritanku terdengar oleh Maya, sehingga ia terbangun.
"Masya Allah..." Jerit Maya membuatku menoleh kearahnya.
"Tolongin aku teh, perutku sakit," rintihku sambil memegangi perutku.
"Kenapa bisa begini! Sinta, kamu ngapain disini? Pasti ini semua gara-gara kamu ya?" maki Maya pada Sinta yang terlihat gugup dan ketakutan.
"Si-sinta ng-nggak sengaja teh... maaf,"
"Cepet bantu angkat dia masuk mobil, aku nggak mau ya anaknya kenapa-napa, awas aja kalo sampe terjadi sesuatu!" hardik Maya.
Mereka pun mengangkatku hingga masuk mobil, dan mengantarku ke klinik terdekat.
Setelah sampai, aku langsung ditangani oleh Dokter kandungan. "Bagaimana kandungannya dok?" tanya Maya panik.
"Tidak apa-apa, kandungannya baik. Ini resep untuknya, silahkan ditebus di apotek depan," ujar sang dokter.
__ADS_1
"Syukurlah..." Aku dan Maya menghela nafas lega. Namun Sinta tak terlihat.
"Teh, Sinta mana?"
"Di luar. Dok apa boleh pulang?"
"Boleh, karena memang kandungannya baik-baik saja."
"Terimakasih dok,"
"Sama-sama. Silahkan " ujar sang Dokter mempeesilahkan.
Maya menuntunku, setelah berada diluar ruangan, aku duduk dikursi tunggu yang terjejer rapih, menunggu Maya menebus vitamin untukku. Memang, selama 5 bulan ini, aku tidak pernah memeriksa kandunganku. Bukannya tidak mau, tapi aku merasa malu pada diriku sendiri.
"Erna, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk mendorongmu, aku benar-benar tidak sengaja," ucap Sinta tiba-tiba. Lantas duduk didekatku.
"Iya nggak apa-apa!"
"Aku melakukan ini kesal, karena waktu itu Wahyu memutuskan aku karena aku posesif, tapi nyatanya dia sama kamu!"
"Jadi semuanya karena Wahyu?" sela Maya dengan meneteng kresek berisi vitamin. Berjalan kearahku.
"Sinta tidak sengaja teh," Terlihat dari raut wajahnya bahwa ia memang menyesal, mungkin dia memang benar-benar tidak sengaja.
"Alaah,gue nggak percaya. Eehh lagian pagi-pagi lu malah bikin keributan di rumah orang? Nggak punya urat malu lu ya?"
"Sinta, denger ya, Wahyu mutusin kamu karena dirimu sendiri, kenapa kamu malah menyalahkan orang lain? Apa karena dia datang dengan Wahyu?"
"Maaf teh, tapi kata Fitri..."
"Cukup, jangan sebut nama dia didepanku! Lebih baik kamu pergi dan jangan pernah menggangguku!! Silahkan bawa Wahyu pergi jauh, bila perlu ikat dia biar nggak kabur! Ayo teh kita pulang!"
Aku menarik paksa Maya, sebenarnya perutku masih sakit, tapi aku malas melihat wajahnya. Berjalan sedikit cepat. Masuk mobil dan langsung cuss... meninggalkan Sinta yang masih bergeming ditempat.
_________
Beberapa menit kemudian sampai di rumah.
"Mely kemana Na? Ko batang idungnya nggak keliatan dari tadi?" Duduk sambil memakan kue pemberian Rian semalam.
"Dia udah berangkat teh, pagi banget. Nggak sempet pamitan sama teteh, habis teteh keliatannya capek banget sih." sangkalku, karena memang Mely juga pergi tanpa pamit padaku. Entah kenapa akupun tak tau. Mungki di lain waktu aku akan menanyakannya lewat sms nanti.
"Hmmm, pantesan. Na sini dulu deh duduk, teteh mau bicara penting!" Menepuk kursi sebelahnya.
Mendengar ucapan Maya, lantas aku segera menghampirinya dan duduk di dekatnya. "Bicara apa teh?"
"Kamu tau, rumah ini yang beli adalah Dani."
__ADS_1
"Terus?"
"Dia membeli rumah ini khusus buat kamu!"
"Lantas?"
"Ya... karena memang rencananya dulu dia akan menikahimu secara sirih. Tapi, nyatanya kalian malah berdebat." Maya mencoba menjelaskan yang sebenarnya. Aku diam menunggu Maya melanjutkan ucapannya yang terpotong helaan nafas.
"Dani juga yang membiyayai mu, semuanya dia yang tanggung. Mungkin teteh tau, seberapapun dia membayar kesalahannya, tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan seperti dulu. Tapi setidaknya dia bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab?? Kalo dia bertanggung jawab dia harusnya nikahin aku teh! Bukan orang lain! Bahkan dia berani menghinaku, di juga bilang, andaikan waktu itu aku bukan perawan mungkin dia nggak akan cape-capek tanggung jawab!"
"What?? Dia bicara seperti itu?"
"Iya lah, setelah puas menghinaku, dia malah pergi, bukannya meminta maaf padaku. Membujukku ke, apa kek."
"Mungkin dia hanya sedang emosi, Na!"
"Entahlah...,"
"Na, asal kamu tau. Dia terpaksa melakukan ini. Kemarin, waktu teteh di Bandung, dia bercerita banyak tentang penyesalan nya, dia sangat menyesal sudah melakukan itu padamu. Bahkan dia juga sangat mencintaimu. Tapi paman Aldi memang sakit setruk. Dia tidak bisa menolak."
"Aku tidak percaya! Pembohong seperti dia, aku tau wataknya seperti apa!" Aku beranjak berdiri, berbicara membelakangi Maya yang masih duduk.
"Dengan keadaanku yang seperti ini, apakah akan ada laki-laki yang mau sama aku? Yang mau menerimaku? Bahkan aku tidak bisa pulang, dan aku juga takut untuk memberi kabar sama ibu dikampung. Dia yang enak, aku yang menanggung malu, aku yang menanggung derita, hatiku sakit teh, apalagi melihat dia bersanding dengan wanita lain. Remuk sudah hatiku teh. Jujur aku juga takut melahirkan seorang diri. Aku takut!" cerocosku dengan lirihan yang menyayat dan tangan bergentayangan memperagakan.
Terdengar Maya hanya menghela nafas berat.
"Aku ingin layaknya sepasang suami istri. Ditemani, dimanja, dibelikan ini dan itu. Apalagi aku ini masih muda teh, masa depanku masih panjang. Kalo udah seperti ini, masa depanku akan seperti apa? Hancur teh! Apakah teteh tau itu? Dani bahkan memaksaku melakukan nya berkali-kali, aku rasa itu bukanlah penyesalan!" Sambungku, lantas meraup wajahku dengan sejuta emosi. Menatap jauh, membayangkan jika aku melahirkan nanti.
"Iya, teteh tau. Teteh hanya ingin memberitau hal ini saja padamu. Oh iya, beberapa bulan kedepan teteh ada kerjaan di Tanggerang, mungkin teteh tidak akan kesini untuk beberapa bulan. Tolong kamu jaga diri kamu baik-baik ya."
"Kerjaan?"
"Iya." Merengkuh tubuhku dari belakang, mengusap pundakku lembut.
"Tapi, aku takut nanti suatu hari ada yang mencelakaiku gimana teh?"
"Maksud kamu?"
"Itu hanya kekawatiran ku saja teh, selama ini pirasat ku selalu benar."
"Jangan berpikir nu aneh-aneh ah. Ya udah, maafin teteh ya. Lebih baik kamu mandi, kita akan makan di luar." Ujarnya, seraya berlalu masuk kamar.
Tanpa menjawab aku berjalan santai ke kamar mandi membersihkan diri.
Jan lupa tinggalkan like komen yaa 🙏🙏🙏
__ADS_1
terimakasih 😘😘